Category: Keagamaan

  • Dana Punia Umat Dikelola Baik, Pura Gunung Baleku Berhasil Miliki Aset Tanah untuk Akses Jalan

    Dana Punia Umat Dikelola Baik, Pura Gunung Baleku Berhasil Miliki Aset Tanah untuk Akses Jalan

    LOMBOK BARAT (LE.ID)— Pengelolaan dana punia dari umat Hindu yang dilakukan secara baik dan transparan kembali menunjukkan hasil nyata. Pura Gunung Baleku kini berhasil memiliki aset berupa tanah yang diperuntukkan bagi kepentingan pura, termasuk mendukung akses jalan menuju kawasan pura.

    Keberhasilan tersebut disampaikan dalam rangkaian pelaksanaan Pujawali di Pura Gunung Baleku, pada Purnamaning Sasih Ketiga, Kamis (27/8/2026). Pujawali tersebut dihadiri umat Hindu dari berbagai wilayah Lombok Barat dan Kota Mataram.

    Antusiasme umat terlihat dari banyaknya pemedek yang datang dengan berjalan kaki dari bawah jalan utama Gunungsari menuju Pura Gunung Baleku. Jarak sekitar dua kilometer ditempuh dengan penuh semangat dan ketulusan sebagai bagian dari perjalanan bhakti.

    Ketua Pura Gunung Baleku, I Wayan Muliawan, SE, menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh umat yang selama ini telah hadir tangkil serta menyisihkan sebagian rezekinya melalui dana punia untuk kepentingan pura.

    Menurutnya, dana punia yang terkumpul selama ini dikelola dengan sebaik-baiknya. Selain digunakan untuk mendukung pelaksanaan pujawali dan berbagai kebutuhan pura, dana tersebut secara bertahap dapat dikumpulkan untuk membeli aset tanah.

    “Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh pemedek yang sering tangkil atau hadir ke Pura Gunung Baleku. Kami berharap umat tetap bisa menyisihkan rezekinya untuk dana punia. Dana punia ini kami kelola dengan baik, sehingga selain dapat digunakan untuk kegiatan pujawali, kami juga bisa mengumpulkan dana untuk membeli aset tanah,” ujar I Wayan Muliawan.

    Ia menjelaskan, pembelian tanah tersebut dilakukan setelah pengurus pura bersama tim dan kumpulan pengamong banjar melakukan pembahasan dan mencapai kesepakatan. Langkah tersebut dinilai penting karena sebelumnya Pura Gunung Baleku belum memiliki aset atau pelabe pura yang memadai.

    “Kami membentuk tim dan bersama pengamong banjar melakukan pembahasan. Hasilnya disepakati untuk membeli tanah, karena Pura Gunung Baleku sebelumnya tidak memiliki aset atau pelabe. Tanah ini nantinya untuk kepentingan pura, termasuk mendukung akses jalan menuju Pura Gunung Baleku,” katanya.

    Sementara itu, Sekretaris PHDI Lombok Barat, Wayan Bagiarta, mengapresiasi langkah pengurus Pura Gunung Baleku dalam mengelola dana punia umat hingga dapat diwujudkan menjadi aset.

    Ia menilai keberhasilan tersebut patut menjadi contoh bagi pengurus pura lainnya, khususnya dalam mengelola dana punia secara baik, bertanggung jawab, dan berorientasi pada kepentingan umat serta keberlangsungan pura.

    “Saya sangat bangga melihat pengurus Pura Gunung Baleku bisa membeli aset tanah dari hasil pengelolaan dana punia umat. Ini menunjukkan bahwa dana punia yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat jangka panjang. Mudah-mudahan ini bisa menjadi contoh bagi pengurus pura-pura lainnya di Lombok,” ujar Wayan Bagiarta.

    Pujawali Pura Gunung Baleku tahun ini juga menjadi momentum mempererat kebersamaan umat Hindu. Semangat umat yang hadir menunjukkan bahwa jarak dan rasa lelah bukan menjadi penghalang ketika dilandasi ketulusan dalam menjalankan dharma dan mempersembahkan bhakti.

    Setiap langkah menuju pura menjadi bagian dari perjalanan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan semangat kebersamaan dan pengelolaan dana punia yang baik, diharapkan keberadaan Pura Gunung Baleku ke depan semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi umat.

    Dalam kegiatan tersebut turut hadir pengurus Pura Gunung Baleku, tokoh-tokoh umat Hindu wilayah Gunungsari, serta perwakilan PHDI NTB dan unsur umat Hindu lainnya.

    Semoga Pujawali Pura Gunung Baleku senantiasa berjalan lancar, aman, dan penuh kedamaian. Semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa senantiasa memberikan kerahayuan, kesehatan, keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan kepada seluruh umat Hindu. (nang)

  • Penasihat FSKR H. Muhibbah Ajak Peserta Safari Dakwah Tunjukkan Kekompakan Menuju Ganjar

    Penasihat FSKR H. Muhibbah Ajak Peserta Safari Dakwah Tunjukkan Kekompakan Menuju Ganjar

    MATARAM (LE) – Forum Silaturahmi Keluarga Ranggagata (FSKR) Mataram terus mematangkan persiapan pelaksanaan Safari Dakwah ke Dusun Ganjar Desa Mareje, Kecamatan Lembar, Lombok Barat, yang dijadwalkan berlangsung pada Ahad, 21 Juni 2026. Selain menjadi agenda dakwah, kegiatan ini juga diharapkan menjadi syiar Islam yang mempererat ukhuwah dan kebersamaan seluruh anggota.

    Penasihat FSKR Mataram, H. Muhibbah, mengajak seluruh pengurus dan peserta untuk menjaga kekompakan sejak keberangkatan menuju lokasi kegiatan. Menurutnya, kebersamaan merupakan salah satu nilai penting yang ingin ditampilkan dalam Safari Da’wah tersebut.

    “Semoga Allah SWT memudahkan seluruh rangkaian kegiatan Safari Dakwah FSKR Mataram ke Dusun Ganjar dan memberikan keberkahan bagi semua yang terlibat,” ujarnya.

    H. Muhibbah mengimbau seluruh peserta, baik yang menggunakan kendaraan pribadi, kendaraan sewaan, mobil bak terbuka (open cup), maupun sepeda motor, agar berkumpul di satu titik keberangkatan, yakni di rumah almarhum H. Dirawat di Gomong.

    Dari titik kumpul tersebut, seluruh rombongan direncanakan berangkat secara konvoi melalui satu jalur yang sama, yakni Mataram–Ranget–Pengga–Kabol–Montong Sapah–Dusun Ganjar, sehingga seluruh peserta dapat tiba secara bersamaan di lokasi kegiatan.

    Untuk menambah semarak syiar Islam, H. Muhibbah juga mengusulkan agar kendaraan paling depan dan kendaraan di tengah rombongan memasang spanduk bertuliskan:

    SAFARI DAKWAH

    FSKR MATARAM

    KE DUSUN GANJAR

    AHAD, 21 JUNI 2026

    Menurutnya, konvoi yang tertib dan kompak akan menjadi simbol persatuan serta memperkuat citra positif organisasi di tengah masyarakat.

    “Kekompakan dan kebersamaan yang kita tunjukkan diharapkan menjadi contoh yang baik sekaligus menginspirasi masyarakat untuk terus memperkuat silaturahmi dan semangat berdakwah,” katanya.

    Safari Dakwah FSKR Mataram merupakan agenda rutin yang tidak hanya menghadirkan kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi wadah mempererat ukhuwah Islamiyah, membangun kepedulian sosial, serta memperkuat hubungan antara anggota FSKR dan masyarakat di berbagai daerah di Nusa Tenggara Barat. (red)

  • Wayan Muliawan, SE Fokus Perkuat Semekrama Umat Hindu

    Wayan Muliawan, SE Fokus Perkuat Semekrama Umat Hindu

    LOBAR (LE)– Pengurus baru Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Gunung Sari periode 2026–2031 resmi dilantik dalam sebuah acara yang berlangsung di Br. Dharma Yatra, Bude Wage Warigaduan, Rabu (27/5/2026).

    Pelantikan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat peran organisasi keumatan Hindu di wilayah Kecamatan Gunung Sari, sekaligus menandai dimulainya kepengurusan baru yang diharapkan mampu membawa semangat pengabdian dan pelayanan kepada umat.

    Dalam susunan kepengurusan yang baru, I Wayan Muliawan, SE dipercaya sebagai Ketua PHDI Kecamatan Gunung Sari. Sementara posisi Wakil Ketua dijabat oleh I Gede Sika , dan Gede Eka Puja Dyatmika, S.Pd., M.Pd dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris.

    Ketua terpilih PHDI Kecamatan Gunung Sari, I Wayan Muliawan, SE, dalam sambutannya menyampaikan doa dan harapan agar kepengurusan yang baru dapat menjalankan visi dan misi organisasi demi kemajuan umat Hindu.

    “Om Swastiastu, Om Awignama Astu, Nama Sidam, Om Anubhadra, Kertel Yantu, Wiswata. Astung Kertel Waranugraha Sang Hyang Widhi,” ucapnya membuka sambutan.

    Ia menegaskan bahwa seluruh pengurus memiliki semangat yang sama untuk berbuat dan memberikan kontribusi nyata bagi organisasi serta umat Hindu di Kecamatan Gunung Sari.

    “Visi dan misi Parisada adalah bagaimana kita semua ingin berbuat sesuatu untuk organisasi dan umat. Semoga apa yang diagendakan dalam rencana kerja dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.

    Lebih lanjut, pada tahun pertama masa kepengurusannya, PHDI Kecamatan Gunung Sari akan memprioritaskan pelaksanaan *semekrama* atau silaturahmi kepada seluruh umat Hindu yang berada di wilayah Kecamatan Gunung Sari, baik di Gunung Sari Barat maupun Gunung Sari Timur.

    Menurutnya, langkah tersebut penting dilakukan sebagai upaya membangun komunikasi, menyerap aspirasi, serta memahami kondisi umat secara langsung di lapangan.

    “Setelah hasil semekrama itu kita peroleh, baru kemudian Parisada Kecamatan akan menyusun program kerja untuk tahun buku 2027–2031,” jelasnya.

    Dengan dilantiknya kepengurusan baru ini, diharapkan PHDI Kecamatan Gunung Sari dapat semakin aktif menjalankan fungsi pembinaan, pelayanan, serta memperkuat persatuan umat Hindu di wilayah tersebut.

    “Matur suksema. Om Santi, Santi, Santi Om. Salam Rahayu,” tutup Ketua PHDI Kecamatan Gunung Sari, I Wayan Muliawan, SE. (nang)

  • Tokoh dan Pejabat Sampaikan Duka, Ngaben Ibunda Ketua PHDI NTB Berlangsung Khidmat

    Tokoh dan Pejabat Sampaikan Duka, Ngaben Ibunda Ketua PHDI NTB Berlangsung Khidmat

    MATARAM (LE) – Suasana duka menyelimuti keluarga besar Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Nusa Tenggara Barat, Ir. I Wayan Karioka, MH, atas wafatnya sang ibunda tercinta, almarhumah Ibu Ni Kadek Musti. Prosesi upacara ngaben dilaksanakan pada Rabu (6/5/2026) di Setra Abian Tubuh, Cakranegara, Kota Mataram, dan berlangsung khidmat serta penuh penghormatan.

    Sejak kabar duka tersebar, ucapan belasungkawa terus mengalir dari berbagai kalangan. Karangan bunga tampak memenuhi lokasi upacara sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhumah. Ucapan duka datang dari berbagai tokoh penting, mulai dari jajaran pemerintah daerah NTB, pemerintah kabupaten/kota, tokoh masyarakat, tokoh nasional, jajaran kepolisian daerah hingga Kapolri, serta tokoh adat dan organisasi kemasyarakatan Hindu di NTB.

    Kehadiran para pejabat, sahabat, keluarga besar, dan umat Hindu memberikan dukungan moril kepada keluarga yang ditinggalkan. Banyaknya pelayat yang hadir menunjukkan besarnya rasa empati dan penghormatan kepada almarhumah serta keluarga besar Karioka.

    Dalam prosesi ngaben tersebut, sekitar 30 sulinggih dari berbagai latar belakang turut memimpin rangkaian upacara suci, termasuk sulinggih Buddha dan Siwa. Perwakilan Bimas Hindu juga hadir menyaksikan jalannya prosesi kremasi yang menjadi bagian penting dalam tradisi keagamaan Hindu.

    Almarhumah Ibu Ni Kadek Musti meninggalkan lima putra, satu putri, 15 cucu, serta lima cicit.

    Ketua PHDI NTB, Ir. I Wayan Karioka, MH, menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas segala perhatian dan dukungan yang diberikan kepada keluarganya.

    “Kami sekeluarga mengucapkan terima kasih atas doa, dukungan, dan ucapan belasungkawa dari sahabat, kerabat, serta umat sedharma. Kami tidak bisa menyebutkan satu per satu, namun semuanya sangat berarti bagi kami. Berkat doa bersama, prosesi ngaben ibunda kami dapat berjalan dengan lancar,” ujarnya.

    Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah meluangkan waktu hadir langsung dalam prosesi tersebut sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhumah.

    Upacara ngaben ini menjadi momentum kebersamaan dan solidaritas umat, sekaligus wujud penghormatan terakhir kepada almarhumah Ibu Ni Kadek Musti yang telah berpulang dengan meninggalkan kenangan mendalam bagi keluarga dan masyarakat. (nang)

  • Dharma Shanti Nyepi 2026: Perkuat Toleransi sebagai Pondasi Utama Wujudkan NTB Mendunia

    Dharma Shanti Nyepi 2026: Perkuat Toleransi sebagai Pondasi Utama Wujudkan NTB Mendunia

    MATARAM (LE)– Tokoh-tokoh umat Hindu bersama ribuan umat menghadiri perayaan Dharma Shanti Provinsi NTB Tahun Saka 1948 yang berlangsung khidmat di Ballroom Hotel Lombok Raya, Mataram, Minggu (12/4/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat nilai toleransi sebagai fondasi utama mewujudkan visi “NTB Mendunia”.

    Dalam sambutannya, Ketua PHDI Provinsi NTB, I Wayan Karioka menegaskan bahwa Dharma Shanti bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan ruang refleksi untuk saling memaafkan dan mempererat persaudaraan antarumat.

    “Tidak mungkin kita membangun narasi ‘NTB Mendunia’ jika pondasi internal kita rapuh. Toleransi yang kita rawat hari ini adalah karpet merah bagi investasi, pariwisata global, dan kepercayaan internasional,” ujarnya.

    Dharma Shanti sendiri merupakan rangkaian penutup Hari Suci Nyepi yang bertujuan mempererat silaturahmi, introspeksi diri, serta memperkuat kerukunan demi terciptanya kedamaian.

    Acara yang berlangsung sejak sore hari tersebut diisi dengan berbagai kegiatan seni dan budaya, seperti Pesantian Kusuma Ulangan, Bondres, Tri Sandhya, pertunjukan tari-tarian, hingga penyerahan bantuan dari Pemerintah Provinsi NTB.

    Dalam kesempatan tersebut, Ketua PHDI Provinsi NTB juga secara resmi melantik Badan Pembinaan Kerukunan sebagai langkah strategis dalam memperkuat harmoni sosial dan menjaga stabilitas kehidupan antarumat beragama di Nusa Tenggara Barat.

    Perayaan Dharma Shanti 2026 juga menegaskan beberapa poin penting, di antaranya:

    Pertama, toleransi sebagai aset strategis. Keberhasilan NTB menjadi tuan rumah berbagai event internasional seperti MotoGP dan MXGP menjadi bukti bahwa stabilitas sosial berbasis toleransi menjadi kunci daya saing global.

    Kedua, implementasi nilai Tat Twam Asi yang berarti “Aku adalah Engkau”, sebagai ajakan untuk menumbuhkan empati di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus informasi.

    Ketiga, kolaborasi lintas generasi.Kegiatan ini melibatkan pemuda lintas agama sebagai simbol keberlanjutan nilai-nilai perdamaian di Bumi Gora.

    Sementara itu, Ketua Panitia Dharma Shanti NTB, I Komang Tresna menyampaikan komitmen umat Hindu dalam mendukung program pemerintah melalui penguatan moderasi beragama.

    “Melalui kegiatan ini, kami ingin menyampaikan pesan kamtibmas agar toleransi yang telah lama terjalin di NTB terus diperkuat demi mewujudkan NTB Mendunia,” ungkapnya.

    Melalui semangat Dharma Shanti 2026, panitia ingin menyampaikan pesan kuat kepada dunia bahwa di Nusa Tenggara Barat, kemajuan modernitas berjalan seiring dengan nilai-nilai spiritualitas dan keharmonisan sosial yang tetap terjaga. (red)

  • PHDI NTB Audiensi dengan Gubernur, Dharma Shanti 2026 Siap Digelar 12 April

    PHDI NTB Audiensi dengan Gubernur, Dharma Shanti 2026 Siap Digelar 12 April

    MATARAM (LE)– Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), I Wayan Karioka, bersama rombongan Panitia Dharma Shanti Provinsi NTB Tahun 2026 yang dipimpin oleh I Komang Tresna, melaksanakan audiensi dengan Gubernur NTB di Kantor Gubernur NTB.

    Audiensi tersebut bertujuan menyampaikan rencana pelaksanaan kegiatan Dharma Shanti tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung pada 12 April 2026, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

    Dalam pertemuan itu, I Wayan Karioka memaparkan secara langsung konsep dan persiapan kegiatan Dharma Shanti, sekaligus menyampaikan harapan agar Gubernur NTB dapat hadir memberikan dukungan.

    “Kami sangat mengharapkan kehadiran Bapak Gubernur pada acara Dharma Shanti Provinsi NTB Tahun 2026 sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap umat Hindu serta simbol kebersamaan dan kerukunan di NTB,” ujarnya.

    Menanggapi hal tersebut, Gubernur NTB menyatakan kesediaannya untuk hadir dalam kegiatan tersebut. Kehadiran pemerintah daerah diharapkan mampu memperkuat sinergi antara umat Hindu dan pemerintah dalam menjaga kerukunan serta stabilitas sosial di daerah.

    Sementara itu, I Komang Tresna selaku Ketua Panitia menyampaikan bahwa seluruh persiapan telah dilakukan secara matang guna memastikan kegiatan berlangsung khidmat, tertib, dan memberi manfaat luas.

    “Kegiatan Dharma Shanti ini tidak hanya sebagai ajang silaturahmi pasca Nyepi, tetapi juga sebagai sarana memperkuat persatuan, toleransi, serta kontribusi umat Hindu dalam pembangunan daerah,” jelasnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Gubernur juga berpesan agar harmonisasi internal umat Hindu terus dijaga. Ia menekankan pentingnya persatuan, kebersamaan, dan komunikasi yang konstruktif sebagai fondasi kehidupan beragama yang damai.

    Lebih lanjut, Gubernur menegaskan komitmennya untuk menjadi pemimpin bagi seluruh masyarakat NTB tanpa membedakan latar belakang agama, suku, maupun budaya. Ia juga menyoroti bahwa masyarakat suku Bali yang telah lama menetap di Lombok merupakan bagian tak terpisahkan dari masyarakat NTB yang harus terus dirangkul dalam semangat kebhinekaan.

    Audiensi berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, mencerminkan hubungan harmonis antara pemerintah daerah dan umat Hindu di Nusa Tenggara Barat. (rls)

  • Gubernur NTB Hadiri Upacara Melasti, Ribuan Umat Hindu Perkuat Toleransi dan Moderasi Beragama

    Gubernur NTB Hadiri Upacara Melasti, Ribuan Umat Hindu Perkuat Toleransi dan Moderasi Beragama

    LOMBOK BARAT (LE)– Ribuan umat Hindu dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB) memadati kawasan Pantai Melase, Batu Layar pada Sabtu (14/3/2026) untuk mengikuti Upacara Melasti dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 / 2026 Masehi.

    Kegiatan sakral ini juga dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Barat, Lalu Muhamad Iqbal, tokoh adat, organisasi masyarakat Hindu, tokoh masyarakat, serta tokoh dari umat Muslim. Kehadiran berbagai elemen masyarakat tersebut menjadi simbol kuatnya toleransi dan kerukunan antar umat beragama di NTB. Salah satu tokoh Sasak sekaligus akademisi,Dr. H. Lalu Sajim, juga tampak hadir bersama para tokoh lintas agama yang turut memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.

    Dalam sambutannya, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa hubungan antara umat Hindu dan umat Muslim di NTB selama ini terjalin dengan sangat baik dan penuh rasa saling menghormati.

    “Saya yakin sahabat-sahabat saya, umat Hindu dan umat Muslim di NTB, sangat kuat menjaga toleransi dan kedamaian. Ini adalah modal besar bagi daerah kita,” ujarnya.

    Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada umat Hindu dan umat Muslim yang akan merayakan hari raya besar dalam waktu berdekatan.

    “Selamat menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Selamat menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah. Semoga momentum suci kedua hari raya ini membawa kedamaian, keharmonisan serta mempererat persaudaraan antar umat beragama. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan anugerah, kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan bagi kita semua,” ungkapnya.

    Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi NTB, I Wayan Karioka, menjelaskan bahwa Upacara Melasti merupakan ritual penting dalam rangkaian perayaan Nyepi bagi umat Hindu.

    “Melasti adalah ritual penyucian diri atau Buana Alit dan alam semesta atau Buana Agung. Upacara ini biasanya dilaksanakan 2 hingga 4 hari sebelum Nyepi di sumber mata air suci seperti pantai atau danau. Tujuannya untuk menghanyutkan kotoran batin dan benda-benda sakral ke laut agar umat dapat menyambut Tahun Baru Saka dengan jiwa yang bersih,” jelasnya.

    Ia juga mengucapkan terima kasih kepada ribuan umat Hindu yang hadir mengikuti prosesi suci tersebut serta menyampaikan ucapan selamat menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah.

    Sementara itu, Kabid Bimas Hindu Provinsi NTB, I Gd Suberata, menambahkan bahwa Melasti memiliki makna spiritual yang sangat mendalam bagi umat Hindu.

    “Tujuan Melasti adalah menyucikan diri dan energi negatif atau letuhing bhuwana, sekaligus memohon tirta amerta atau air kehidupan. Melasti merupakan rangkaian awal perayaan Nyepi yang akan dilanjutkan dengan Tawur Kesanga atau Mecaru sebelum umat Hindu menjalankan Catur Brata Penyepian,” jelasnya.

    Tokoh masyarakat sekaligus keturunan Kerajaan Cakranegara ke-IX, Anak Agung Made Jelantik Agung Barayang Wangsa, mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga nilai toleransi yang telah lama terpelihara di NTB.

    Menurutnya, momentum Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu dan Hari Raya Idulfitri bagi umat Islam menjadi pengingat penting bahwa nilai kedamaian, introspeksi diri, saling memaafkan, serta kebersamaan merupakan fondasi utama dalam menjaga persatuan di tengah keberagaman.

    “Semoga momentum suci kedua hari raya ini membawa kedamaian, keharmonisan serta mempererat persaudaraan antar umat beragama. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan anugerah, kesehatan, keselamatan, dan kebahagiaan bagi kita semua,” ujarnya.

    Upacara Melasti tahun ini mengusung tema “Melalui Melasti, Kita Tingkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama untuk Indonesia Damai.” Tema tersebut mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat NTB yang selama ini dikenal sebagai daerah dengan kehidupan antar umat beragama yang rukun, damai, dan saling menghormati. (nang)

  • PHDI Kota Mataram dan WHDI Gelar Aksi Donor Darah, Ajak Masyarakat Jadi Pahlawan Kemanusiaan

    PHDI Kota Mataram dan WHDI Gelar Aksi Donor Darah, Ajak Masyarakat Jadi Pahlawan Kemanusiaan

    MATARAM (LE)–PHDI Kota Mataram bersama WHDI kembali menunjukkan komitmennya dalam aksi sosial kemanusiaan dengan menggelar kegiatan donor darah pada Sabtu, 28 Februari 2026.

    Kegiatan bertajuk “Yuk, Jadi Pahlawan Kemanusiaan!” ini dilaksanakan di Aula Sekber PHDI Provinsi NTB, Kota Mataram dan terbuka untuk masyarakat umum. Aksi sosial tersebut bertujuan membantu memenuhi kebutuhan stok darah di wilayah Nusa Tenggara Barat sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya donor darah secara rutin.

    Panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kepedulian umat Hindu di Kota Mataram terhadap sesama, tanpa memandang latar belakang suku, agama, maupun golongan. Donor darah tidak hanya memberikan harapan hidup bagi penerima, tetapi juga bermanfaat bagi kesehatan pendonor karena dapat membantu menjaga sirkulasi darah dan merangsang pembentukan sel darah baru.

    Adapun persyaratan untuk mengikuti donor darah antara lain berusia 17 hingga 60 tahun, dalam kondisi sehat, serta memenuhi ketentuan medis lainnya sesuai standar yang berlaku.

    Ketua PHDI Kota Mataram, I Made Merta Arta, SH., MH., berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berpartisipasi dan menjadikan donor darah sebagai gaya hidup sehat sekaligus wujud nyata kepedulian sosial.

    “Mari bersama-sama menjadi pahlawan kemanusiaan dengan setetes darah yang sangat berarti bagi kehidupan orang lain,” ajaknya.

    Melalui kegiatan ini, PHDI Kota Mataram dan WHDI berharap solidaritas antarumat semakin kuat serta semangat gotong royong dalam membantu sesama terus tumbuh di tengah masyarakat Kota Mataram dan sekitarnya. (rls)

  • Cegah Bullying Digital, Prajaniti NTB Edukasi Warga Soal Etika Medsos

    Cegah Bullying Digital, Prajaniti NTB Edukasi Warga Soal Etika Medsos

    LOMBOK BARAT (LE) – Dewan Pimpinan Daerah Prajaniti Hindu Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (DPD Prajaniti NTB), Minggu (22/2/2026), kembali bergerak mendorong peningkatan kualitas umat Hindu lewat jalur edukasi di Wantilan Pura Suranadi, Lombok Barat. Kali ini, fokus diarahkan ke dunia digital melalui seminar bertema “Bijak Bermedia Sosial dalam Perspektif KUHP Baru: Pencegahan Bullying dan Pelanggaran Hukum”.

    Sekretaris DPD Prajaniti NTB, I Gusti Agung Bagus Dwipayana, S.H., menegaskan posisi Prajaniti sebagai organisasi kemasyarakatan Hindu, yang terbuka dan menjadi ruang perjuangan umat di berbagai bidang.

    “Prajaniti bertujuan meningkatkan kualitas dan peran aktif umat Hindu dalam pembangunan nasional, baik dalam dharma agama maupun dharma negara, serta perjuangan Hindu secara global,” ujarnya.

    Seminar itu hadir sebagai bagian dari penguatan pilar layanan sosial budaya dan sosial kemanusiaan lewat Bhakti Persada. Program tersebut menyentuh pelayanan sosial, ekonomi, budaya, kemanusiaan, hingga kepedulian lingkungan.

    Dwipayana mengatakan, perkembangan teknologi digital yang melaju cepat, dinilai perlu diimbangi kesadaran hukum. Media sosial, jika digunakan tanpa etika, rentan memicu konflik, perundungan, hingga perkara pidana.

    “Oleh karena itu, kami melaksanakan seminar ini untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, agar bijak bermedia sosial dalam perspektif KUHP baru, sehingga tercipta lingkungan yang bersih, damai, dan saling mengingatkan untuk tidak melakukan pelanggaran hukum,” jelasnya.

    Kegiatan berlangsung swadaya dengan semangat gotong royong dari pengurus serta anggota Prajaniti NTB.

    “Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi masyarakat umum, mahasiswa, serta pelajar, sehingga mereka dapat memahami pentingnya etika dan hukum dalam bermedia sosial,” katanya.

    Seminar menghadirkan sejumlah narasumber berkompeten. Psikolog RS Mutiara Sukma, Hellen Citra Dewi, M.Psi., membuka ruang skrining serta konseling kesehatan mental tanpa biaya bagi peserta. Dari sisi penegakan hukum, hadir Kasi Intel Kejaksaan Negeri Mataram, Ida Made Oka Wijaya, M.H., bersama Panit Subdit Siber Ditreskrimsus Polda NTB, Iptu I Putu Agus Andrie A.S., S.H., yang mengulas konsekuensi hukum aktivitas digital.

    Perwakilan Humas Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) turut mengikuti agenda tersebut. Banjar-banjar di Suranadi, muda-mudi banjar, tokoh masyarakat, serta organisasi Hindu se-NTB tampak memenuhi wantilan sejak pagi.

    Respons peserta terasa hangat. Sejumlah perwakilan banjar menyebut diskusi tersebut membuka wawasan baru, terutama soal batasan hukum serta cara aman berinteraksi di ruang digital.

    Lewat forum tersebut, Prajaniti NTB ingin terus menumbuhkan kesadaran hukum, memperkuat kualitas sumber daya umat Hindu, sekaligus mendorong lahirnya generasi digital yang cerdas, santun, dan bertanggung jawab. (nang)

  • Ratusan Umat Hindu NTB Gelar Segara Kertih di Pantai Melase, Wujud Nyata Pelestarian Laut dan Alam

    Ratusan Umat Hindu NTB Gelar Segara Kertih di Pantai Melase, Wujud Nyata Pelestarian Laut dan Alam

    LOMBOK BARAT (LE)-– Ratusan umat Hindu di Nusa Tenggara Barat menggelar upacara sakral Segara Kertih pada Senin sore, 16 Februari 2026, di Pantai Melase, Batu Layar, Lombok Barat. Kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian umat Hindu terhadap kelestarian laut serta menjaga keseimbangan alam semesta.

    Upacara Segara Kertih merupakan bagian dari rangkaian Sad Kertih, ajaran luhur dalam agama Hindu yang menekankan kewajiban manusia untuk menjaga sumber-sumber kehidupan, seperti laut, hutan, dan danau.

    Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat, I Wayan Karioka, menegaskan bahwa Segara Kertih bukan sekadar tradisi keagamaan, melainkan bentuk tanggung jawab spiritual sekaligus ekologis umat Hindu.

    “Sumber-sumber kehidupan dalam keyakinan umat Hindu harus dijaga dengan baik. Ada Danu Kertih di danau, Wana Kertih di hutan dan gunung, dan hari ini Segara Kertih di laut. Laut adalah sumber kehidupan yang wajib kita rawat,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, Segara Kertih merupakan implementasi ajaran Tri Hita Karana, khususnya aspek Palemahan, yakni menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan alam semesta.

    Rangkaian upacara dilaksanakan secara sakala dan niskala, dimulai dari prosesi mecaru, pementasan tarian sakral, topeng Sidakarya, persembahyangan bersama, hingga pelepasan pekelem berupa anak penyu dan bibit ikan kakap ke laut serta pengambilan amerta di tengah laut. Seluruh rangkaian tersebut mengandung makna pemulihan keseimbangan ekosistem serta penyucian alam dari berbagai bentuk kerusakan.

    “Tujuan mecaru dan persembahyangan ini adalah membersihkan dan menjaga keseimbangan alam semesta. Ini adalah kewajiban spiritual umat Hindu,” katanya.

    Segara Kertih sendiri merupakan kearifan lokal Hindu yang bermakna upaya penyucian dan pelestarian laut sebagai sumber kehidupan. Laut dipandang sebagai tempat peleburan segala kekeruhan sekaligus elemen alam yang memiliki nilai sakral dan ekologis. Melalui ritual ini, umat Hindu diingatkan untuk tidak mencemari laut dan menjaga kelestarian pesisir.

    “Ini bukan hanya upacara simbolik. Segara Kertih adalah panggilan moral agar kita merawat air, merawat semesta, dan menjaga keseimbangan hidup,” tegasnya.

    Upacara ini dilaksanakan secara rutin setiap tahun di berbagai lokasi, mulai dari laut, hutan, hingga danau, sebagai bentuk konsistensi umat Hindu dalam menjaga alam dan lingkungan.

    Kegiatan tersebut dihadiri tokoh-tokoh umat Hindu, berbagai organisasi keagamaan Hindu, serta mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat. Kehadiran Bupati Lombok Barat diwakili oleh Kasatpol PP Lombok Barat, I Ketut Rauh.

    Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh hadirin memanjatkan puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas anugerah-Nya umat dapat berkumpul di tepi pantai suci untuk melaksanakan Upacara Segara Kertih.

    “Atas nama Pemerintah Kabupaten Lombok Barat, kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi NTB atas terlaksananya Upacara Segara Kertih, sebagai wujud nyata menjaga kelestarian lingkungan dan harmonisasi kehidupan berdasarkan ajaran Tri Hita Karana,” ujarnya.

    Kehadiran ratusan umat yang memadati kawasan Pantai Melase menunjukkan tingginya komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam dan nilai-nilai spiritual.

    Di akhir kegiatan, Wayan Karioka juga menyampaikan pesan kebangsaan menjelang momentum ibadah umat agama lain.

    “Kami mengimbau seluruh umat Hindu untuk terus menjaga kedamaian dan toleransi, terutama menjelang saudara-saudara Muslim menjalankan ibadah puasa. Mari kita rawat kebhinekaan ini dengan damai dan bahagia,” tutupnya. (nang)