Tag: Prof. Zudan

  • Penerapan Manajemen Talenta ASN Melonjak 700 Persen, BRIN Jadi Instansi ke-337

    Penerapan Manajemen Talenta ASN Melonjak 700 Persen, BRIN Jadi Instansi ke-337

    JAKARTA (LE.ID) – Penerapan manajemen talenta Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Dalam setahun, jumlah instansi pemerintah yang menerapkan sistem manajemen talenta melonjak 700 persen, dari 42 menjadi 336 instansi. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diproyeksikan menjadi instansi ke-337 yang menerapkan sistem tersebut.

    Hal itu disampaikan Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN), Prof. Zudan, saat bertemu Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

    Dalam pertemuan tersebut, Zudan menegaskan bahwa penguatan kualitas 6,7 juta ASN menjadi faktor penting dalam mendukung keberhasilan kebijakan pemerintah dan pembangunan nasional.

    “Jumlah ASN kita saat ini 6,7 juta, pasukan terbaik Bapak Presiden di bidang sipil. Mereka inilah yang mengonstruksi kebijakan, APBN, dan APBD. Kalau konstruktornya tidak bagus, hasilnya berbahaya,” tegas Zudan.

    Manajemen Talenta ASN Meningkat Pesat

    Zudan menjelaskan, pertumbuhan jumlah instansi yang menerapkan manajemen talenta menunjukkan semakin kuatnya komitmen pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan ASN berbasis kompetensi, potensi, dan kinerja.

    Ia menyebutkan, apabila penetapan BRIN ditandatangani, lembaga tersebut akan menjadi instansi pemerintah ke-337 yang menerapkan manajemen talenta.

    “Dalam satu tahun, jumlah instansi yang sudah menerapkan manajemen talenta naik 700 persen, dari 42 menjadi 336 instansi. Kalau hari ini saya tanda tangani, BRIN menjadi yang ke-337,” ungkapnya.

    Menurut Zudan, manajemen talenta tidak boleh sekadar menjadi mekanisme untuk mengisi jabatan kosong. Sistem ini harus menjadi instrumen strategis untuk menempatkan orang yang tepat pada posisi yang tepat, sekaligus memastikan organisasi pemerintah memiliki sumber daya manusia unggul.

    Khusus di BRIN, penerapan manajemen talenta diharapkan mampu mendukung kebutuhan strategis riset dan inovasi nasional serta meningkatkan kualitas kebijakan pembangunan.

    BRIN Siapkan Talenta Unggul untuk Riset dan Inovasi

    Kepala BRIN, Prof. Dr. Arif Satria, menyampaikan bahwa manajemen talenta menjadi langkah strategis untuk menyelaraskan pengelolaan ASN dengan kebutuhan organisasi riset dan inovasi nasional.

    Melalui pemetaan kompetensi, potensi, dan kinerja pegawai, BRIN berupaya memastikan pengembangan karier serta penempatan ASN dilakukan secara tepat sasaran.

    “Kami sudah menyiapkan talenta-talenta unggul yang siap dipromosikan,” kata Arif.

    BRIN juga menyiapkan berbagai program pengembangan kompetensi dan karier periset. Program tersebut meliputi BRIN Integrated Learning Center, Degree by Research, program pascadoktoral, visiting researcher, fellowship, serta pelatihan kepemimpinan berkelanjutan.

    Berbagai program tersebut diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat ekosistem riset, dan mendorong kontribusi inovasi terhadap pembangunan nasional.

    Dari sisi capaian, rasio sumber daya manusia ilmu pengetahuan dan teknologi (SDM Iptek) BRIN mencapai 1.416 orang per satu juta penduduk. Angka tersebut melampaui target 1.265 orang, dengan baseline 1.151 pada 2024.

    Pemutakhiran Data ASN Jadi Kunci

    Pada kesempatan tersebut, Zudan juga meminta BRIN menyosialisasikan pemutakhiran data kepada seluruh ASN di lingkungannya.

    Data kepegawaian yang akurat dan mutakhir dinilai penting untuk mendukung pemetaan talenta, penilaian kinerja, perencanaan karier, hingga pengambilan keputusan kepegawaian yang objektif.

    Menurutnya, keberhasilan manajemen talenta tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan kandidat untuk mengisi jabatan. Lebih dari itu, sistem tersebut harus mampu mengidentifikasi pegawai potensial, mengembangkan kompetensi, mempercepat pengembangan karier, serta mempertahankan talenta sesuai kebutuhan organisasi.

    Penguatan manajemen talenta ASN di BRIN juga sejalan dengan agenda Asta Cita, khususnya dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan sains dan teknologi, serta pengembangan riset dan inovasi.

    Dengan pengelolaan talenta yang terarah dan berkelanjutan, pemerintah diharapkan mampu memperkuat kapasitas riset nasional sekaligus mendorong terwujudnya visi Indonesia Emas 2045. (rls)