Tag: Umat Hindu

  • PHDI Pusat Tegaskan Pelaksanaan Nyepi 2026: Tawur Saat Tilem, Nyepi Keesokan Hari

    PHDI Pusat Tegaskan Pelaksanaan Nyepi 2026: Tawur Saat Tilem, Nyepi Keesokan Hari

    DENPASAR (LE)— Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Pusat menegaskan kembali pakem pelaksanaan Hari Suci Nyepi Tahun 2026. Melalui Focus Group Discussion (FGD) yang digelar di Universitas Hindu Indonesia (UNHI), Denpasar, Minggu (11/1/2026), Sabha Pandita PHDI Pusat menyimpulkan bahwa upacara Tawur Kesanga dilaksanakan pada Tilem Sasih Kesanga, sementara Hari Raya Nyepi jatuh keesokan harinya.

    FGD tersebut menghadirkan berbagai unsur kompeten, mulai dari akademisi, pakar wariga, penyusun kalender Bali, penekun lontar, hingga para pandita yang tergabung dalam Sabha Pandita PHDI Pusat. Forum ini digelar untuk memastikan ketepatan penentuan waktu pelaksanaan Tawur Kesanga dan Nyepi berdasarkan rujukan sastra, kosmologi, tradisi, serta arsip sejarah Bali, di tengah berkembangnya polemik di tengah masyarakat.

    Ketua Umum Pengurus Harian PHDI Pusat, Wisnu Bawa Tenaya, dalam forum tersebut menegaskan adanya batas kewenangan yang jelas antara negara dan lembaga keagamaan Hindu. Ia menyampaikan bahwa urusan keagamaan menjadi kewenangan pemerintah melalui Kementerian Agama, sementara urusan ritual keagamaan merupakan kewenangan Majelis keagamaan, dalam hal ini PHDI.

    “Ritual keagamaan adalah kewenangan PHDI sebagai majelis umat Hindu,” tegasnya.

    Sementara itu, Ketua Sabha Walaka PHDI Pusat, I Nengah Dana, menjelaskan mekanisme pengambilan keputusan di tubuh PHDI. Ia menyebutkan bahwa seluruh kajian terlebih dahulu dilakukan oleh Sabha Walaka sebelum keputusan akhir ditetapkan oleh Sabha Pandita sebagai pimpinan tertinggi PHDI.

    “Sabha Pandita yang beranggotakan 33 sulinggih dari seluruh Nusantara menjadi penentu akhir. Keputusan apa pun yang diambil merupakan keputusan para Pandita,” ujarnya.

    Dalam kesempatan yang sama, Ketua PHDI Bali, Jero Nyoman Kenak, melaporkan hasil Pesamuhan Madya PHDI Bali yang digelar pada 9 Januari 2026 dan dihadiri oleh seluruh elemen umat Hindu di Bali. Pesamuhan tersebut secara bulat memutuskan bahwa pelaksanaan Tawur Kesanga dan Hari Raya Nyepi tetap mengikuti pakem yang telah diwarisi dan dipraktikkan secara turun-temurun.

    FGD ditutup dengan persetujuan secara aklamasi oleh seluruh peserta yang dipimpin langsung oleh Dharma Adhyaksa PHDI Pusat, Ida Pedanda Gde Bang Buruan Manuaba. Dengan kesimpulan final tersebut, Sabha Pandita PHDI Pusat menetapkan bahwa Tawur Kesanga dilaksanakan pada Tilem Sasih Kesanga dan Hari Suci Nyepi jatuh pada keesokan harinya.

    Ketetapan ini selanjutnya akan disampaikan secara resmi kepada pemerintah serta kepada umat Hindu di seluruh Nusantara melalui PHDI di semua tingkatan.

    Sementara itu, Ketua PHDI NTB, I Wayan Karioka, dalam kunjungannya ke Kantor PHDI Bali pada Minggu (11/1/2026), berkesempatan berdiskusi langsung dengan Ketua PHDI Bali terkait dinamika pembahasan Nyepi yang berkembang. Ia memperoleh penjelasan bahwa ketegasan pelaksanaan Nyepi 2026 telah diputuskan oleh Sabha Pandita PHDI Pusat melalui FGD tersebut.

    Sebagai tindak lanjut, Pengurus Harian PHDI Pusat disebutkan akan segera mengeluarkan Surat Edaran resmi terkait Hari Raya Nyepi 2026 sebagai rujukan bagi daerah dalam menyikapi dinamika pelaksanaan Nyepi tahun ini. (nang)

  • Ribuan Umat Hindu Lombok Tengah Hadiri Puncak Ngeroras Bersama Puskor Hindunesia: Dipuput Oleh Tri Sadhaka

    Ribuan Umat Hindu Lombok Tengah Hadiri Puncak Ngeroras Bersama Puskor Hindunesia: Dipuput Oleh Tri Sadhaka

    LOMBOK TENGAH (LE)–Upacara Puncak Ngeroras Massal (Bersama) yang diikuti Korda Lombok Tengah dan Korwil NTB Puskor Hindunesia di Dusun Jenggala, Desa Bilabante, Kecamatan Pringgarata, pada Minggu (23/11/25), berlangsung khidmat dan dipadati ribuan umat Hindu. Lokasi upacara yang berada di tengah areal persawahan itu sejak pagi dijejali kedatangan keluarga peserta Ngeroras, yang penuh antusiasme mengikuti rangkaian Pitra Yadnya ini.

    Pantauan di lapangan menunjukkan suasana penuh sesak hingga banyak hadirin tidak ke sebagian tempat duduk. Namun demikian, seluruh rangkaian acara tetap berjalan lancar sesuai harapan panitia. Sejumlah tokoh umat Hindu, perwakilan organisasi kemasyarakatan Hindu, serta Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah turut hadir memberikan dukungan.

    Ketua Dekorda Lombok Tengah sekaligus Ketua Panitia Karya, Made Sudarma, tampak memimpin kegiatan dengan sigap. Ia memastikan seluruh tahapan berjalan tertib melalui koordinasi intensif dengan Ketua Dekorwil NTB dan Dewan Korwil Nasional. “Sebagai gawe rintisan yang pertama diadakan di desa kami, saya merasakan kepuasan batin melihat semuanya sejauh ini berjalan dengan sangat baik,” ungkapnya.

    Di tengah kelelahan akibat persiapan yang panjang, tim panitia mengaku bangga karena kegiatan besar pertama ini dapat terlaksana. Berkat dukungan penuh Ketua Dekorwil NTB Ni Komang Puspita, para pengayah bekerja kompak dan saling melengkapi.

    “Riak-riak kecil pasti ada,” ujar Puspita. “Tetapi tan hana wong swasti anulus, tidak ada manusia tanpa kekurangan. Semua catatan menjadi pelajaran untuk lebih baik ke depan. Beruntung kami selalu mendapat semangat dari Tuaji Ketum, sehingga kami kuat menjalankan tugas pelayanan dharma ini.”

    Dalam berbagai hal, Ketua Umum Dekornas Puskor Hindunesia, Dr.(HC) Ida Bagus K. Susena, S.Kom, kembali menekankan pentingnya menjalankan upacara berbasis ning lan lascarya atau ketulusan hati. Ia menekankan bahwa gotong royong adalah kunci agar umat dapat menjalankan yadnya tanpa beban biaya besar.

    “Inilah wujud nyata slogan aksi Puskor Hindunesia: peka, tanggap, solusi, ketika umat terbebani bila melaksanakan upacara secara individu.Melalui karya massal seperti ini, kita kuatkan persatuan. Sekaligus mengajarkan pemahaman yang benar tentang konsep Tri Sadhaka, agar tidak disalahartikan menjadi Sarwa Sadhaka yang berpotensi ditunggangi kepentingan kelompok tertentu,” tegasnya.

    Upacara Ngeroras sendiri merupakan ritual lanjutan setelah Ngaben, yang bertujuan menyucikan Atman agar mencapai status Dewa Pitara. Persiapan upacara telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari program Dekorwil NTB untuk mencerahkan “hutang” (Rna) keluarga kepada para leluhur.

    Upacara resmi dimulai sejak 20 November 2025 dengan pelaksanaan Pecaruan dan pembersihan lokasi. Tahun ini, sebanyak 117 Sekah dari Lombok Tengah dan Lombok Barat mengikuti Ngerora Massal. Panitia mengungkapkan bahwa jumlah pendaftar sebenarnya lebih banyak, namun dibatasi karena keterbatasan tempat dan tenaga pengayah.

    Acara puncak hari ini juga turut dihadiri Kabid Hindu Kemenag NTB I Gde Suberata, SE, M.Ag, Ketua Dewan Pembina Dekorwil NTB JM Gede Wenten, Sm.Hk, serta dermawan dharma I Nengah Sudiartha yang secara tulus meminjamkan lahannya sebagai lokasi upacara.

    Yang membuat upacara kali ini istimewa adalah pemuputan karya yang dilakukan secara lengkap oleh Tri Sadhaka lintas soroh/wangsa, sebuah hal bersejarah bagi Lombok.

    Para pemuput tersebut adalah:

    Ida Pedanda Istri Ketut Rai Manuaba (Siwa)

    Ida Pandita Mpu Jayendra Dhaksa Yoga Santi (Siwa)

    Ida Pedanda Made Jelantik Dwija Putra (Sogata/Buda)

    Ida Rsi Bujangga Waisnawa Surya Adnyana (Bujangga/Waisnawa)

    Besok, rangkaian Ngeroras akan ditutup dengan Nyegara Gunung di Pura Batu Bolong, dilanjutkan dengan Nilapati dan Nyebit, sebelum masing-masing Sekah kembali ke pemerajan atau pelinggih keluarga.

    Dengan pelaksanaan yang meriah, tertib, dan penuh rasa kebersamaan, Ngeroras Massal Puskor Hindunesia di Lombok Tengah hari ini menjadi momentum bersejarah bagi umat Hindu di NTB—sebuah wujud nyata persatuan, ketulusan, dan kekuatan dharma dalam bingkai Tri Sadhaka. (nang)