Category: Budaya

  • Storyteller for the Earth Satukan Pendongeng Indonesia dan Inggris, Bangun Kesadaran Lingkungan Lewat Cerita Rakyat

    Storyteller for the Earth Satukan Pendongeng Indonesia dan Inggris, Bangun Kesadaran Lingkungan Lewat Cerita Rakyat

    YOGYAKARTA (LE.ID) – Pertunjukan mendongeng bertajuk “Storyteller for the Earth: Folktales for the Living Earth” sukses digelar di Amphitheater Tembi Historical Home, Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026). Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi seniman Indonesia dan Inggris dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan melalui kekuatan cerita rakyat.

    Program tersebut merupakan proyek seni lintas budaya yang didukung hibah Connections Through Culture 2025 dari British Council, sebuah program internasional yang mendorong kolaborasi kreatif antara seniman dan organisasi budaya di Inggris serta kawasan Asia-Pasifik.

    Mengusung tema “Folktales for the Living Earth”, pertunjukan ini menjadi pendekatan alternatif dalam menyampaikan pesan tentang krisis iklim global. Alih-alih hanya mengandalkan data ilmiah dan statistik, para seniman mengajak masyarakat memahami pentingnya menjaga bumi melalui nilai-nilai budaya, emosi, dan kearifan ekologis yang diwariskan dalam cerita rakyat.

    Pertunjukan tersebut mempertemukan Rona Mentari, pendongeng sekaligus pendiri Rumah Dongeng Mentari dari Indonesia, dengan Roi Galor, storyteller internasional sekaligus salah satu pendiri International School of Storytelling dari Inggris. Kolaborasi keduanya lahir melalui proses riset, diskusi lintas budaya, hingga residensi artistik di Yogyakarta untuk merangkai kisah-kisah yang mengajak masyarakat merefleksikan hubungan manusia dengan alam.

    Acara yang dihadiri lebih dari 100 penonton ini mendapat apresiasi positif. Salah seorang peserta, Arif Rahmanto, mengaku pertunjukan tersebut memberikan pengalaman yang mengesankan.

    “Performance yang sangat inspiratif dan luar biasa. Membuat saya sejenak tamasya ke alam imajinasi yang bermakna. Satu jam tak terasa,” ungkap Arif usai menyaksikan pertunjukan.

    Selain menyajikan dongeng, pertunjukan juga diperkaya dengan penampilan Wayang Suket, musik etnik secara langsung, serta sesi dialog interaktif yang mengajak peserta berdiskusi mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

    Pendiri Rumah Dongeng Mentari, Rona Mentari, berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti sebagai pertunjukan seni semata, tetapi mampu menjadi inspirasi lahirnya gerakan kolektif untuk menjaga bumi.

    “Melalui pertunjukan mendongeng lintas budaya ini, kami berupaya menyuarakan respons terhadap krisis iklim global. Semoga bahasa universal dari cerita rakyat dapat menyentuh hati banyak orang dan menjadi pemantik lahirnya gerakan bersama untuk menjaga bumi,” ujarnya.

    Bagi masyarakat yang tidak sempat menyaksikan pertunjukan secara langsung, seluruh rangkaian acara telah didokumentasikan dan akan ditayangkan secara daring melalui situs resmi Storyteller for the Earth, sehingga dapat diakses oleh masyarakat di Indonesia maupun mancanegara.

    Melalui proyek ini, Rumah Dongeng Mentari menegaskan bahwa cerita rakyat bukan sekadar warisan budaya masa lalu, melainkan media edukasi yang relevan untuk membangun kepedulian terhadap lingkungan serta memperkuat hubungan harmonis antara manusia dan alam di tengah tantangan perubahan iklim global. (rls)

  • Understanding “Tanding Mati” and “Mati Tanding” in Sasak Peresean Tradition

    Understanding “Tanding Mati” and “Mati Tanding” in Sasak Peresean Tradition

    In the world of Peresean, a traditional martial art of the Sasak people in Lombok, the terms “tanding mati” and “mati tanding” are often heard and sometimes misunderstood by the public and social media users. Many netizens mistakenly interpret both expressions as fights “to the death” or extremely brutal contests. However, this interpretation is incorrect.

    Although the terms sound similar, they carry different meanings within the cultural and technical context of Peresean.

    Tanding Mati

    Tanding mati refers to a match where two pepadu (traditional fighters) are directly paired and face each other in the arena. The confrontation takes place spontaneously in the arena setting, where both fighters meet and compete under agreed traditional rules of Peresean.

    Mati Tanding

    On the other hand, mati tanding refers to a match that has been pre-arranged or scheduled in advance. In this context, both pepadu have already agreed to meet at a specific time and location. The pairing is fixed and cannot be changed arbitrarily.

    Because it is formally announced ahead of time, mati tanding matches are often among the most anticipated events for Peresean enthusiasts and local audiences.

    Cultural Significance

    Despite their differences in meaning, both terms have become an integral part of the vocabulary and tradition of Peresean. They reflect the richness of Sasak cultural expression—not only in terms of physical performance and combat artistry, but also in the linguistic and social meanings developed within the community of pepadu and cultural observers.

    Peresean continues to stand as a living heritage of the Sasak people, blending sport, ritual, and cultural identity into a unique traditional performance that is still widely practiced and celebrated today. (lombokexpress.id)

  • Majelis Adat Sasak Ajak Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Pemuda Jaga Kamtibmas Saat Tradisi Nyongkolan

    Majelis Adat Sasak Ajak Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Pemuda Jaga Kamtibmas Saat Tradisi Nyongkolan

    MATARAM (NTBNOW.CO) – Majelis Adat Sasak (MAS) Nusa Tenggara Barat mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, pemerintah daerah hingga aparat penegak hukum untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) saat pelaksanaan tradisi Nyongkolan di Pulau Lombok.

    Ketua Majelis Adat Sasak NTB, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, menegaskan bahwa MAS mendukung penuh pelestarian tradisi Nyongkolan sebagai salah satu identitas budaya dan warisan leluhur masyarakat Sasak. Namun, pihaknya juga menyoroti adanya pergeseran nilai yang terjadi dalam pelaksanaannya di beberapa daerah.

    Menurutnya, Nyongkolan merupakan tradisi sakral masyarakat Sasak yang memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam. Tradisi tersebut menjadi sarana pengumuman kepada masyarakat bahwa sepasang pengantin telah resmi menikah secara sah menurut agama dan negara, serta telah melalui prosesi adat Sorong Serah.

    “Nyongkolan bukan sekadar arak-arakan pengantin, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antara keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai perempuan atau yang dikenal dengan istilah bejago dalam masyarakat Sasak,” ujar Lalu Sajim.

    Ia menjelaskan, dalam pelaksanaannya, Nyongkolan memiliki pakem adat yang harus dijaga. Mulai dari penggunaan busana adat Sasak seperti Pegon dan Lambung, hingga iringan musik tradisional seperti Gendang Beleq yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Sasak sejak dahulu.

    Karena itu, MAS mengimbau masyarakat agar tetap mempertahankan kemurnian tradisi tersebut dan tidak menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seperti kesopanan, toleransi, kebersamaan, dan penghormatan terhadap lingkungan sekitar.

    Soroti Pergeseran Nilai dalam Pelaksanaan Nyongkolan

    Majelis Adat Sasak mengaku prihatin dengan sejumlah fenomena yang terjadi dalam pelaksanaan Nyongkolan belakangan ini. Beberapa kegiatan dinilai mulai menyimpang dari nilai-nilai adat karena diwarnai hiburan yang berlebihan, perilaku yang tidak sesuai dengan norma budaya, hingga aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.

    Menurut Lalu Sajim, kondisi tersebut berpotensi mengurangi nilai sakral tradisi Nyongkolan serta memicu kemacetan, gesekan sosial, bahkan penolakan dari sebagian masyarakat.

    “Tradisi Nyongkolan harus tetap menjadi ruang silaturahmi dan pelestarian budaya, bukan sebaliknya menjadi pemicu gangguan ketertiban maupun konflik sosial,” tegasnya.

    Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan di tengah masyarakat terkait pelaksanaan Nyongkolan perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

    Pentingnya Sinergi dengan Pemerintah dan Aparat Keamanan

    Dalam upaya menjaga kelancaran pelaksanaan Nyongkolan, MAS mendorong adanya koordinasi yang baik antara masyarakat, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, aparat keamanan, serta pihak terkait lainnya.

    Lalu Sajim menilai setiap kegiatan Nyongkolan sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pemerintah desa dan aparat keamanan setempat agar pengaturan lalu lintas, keamanan, dan ketertiban masyarakat dapat berjalan dengan baik.

    Selain itu, pemerintah desa juga diharapkan aktif melakukan sosialisasi terkait aturan dan tata cara pelaksanaan Nyongkolan yang sesuai dengan nilai adat maupun ketentuan yang berlaku di daerah masing-masing.

    Generasi Muda Diminta Jadi Penjaga Marwah Budaya Sasak

    MAS juga mengajak generasi muda Sasak untuk mengambil peran sebagai penjaga marwah budaya daerah. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan zaman, generasi muda diharapkan tetap mempertahankan filosofi kebersamaan, sopan santun, dan penghormatan terhadap adat istiadat.

    “Pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab tokoh adat, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama generasi muda sebagai penerus budaya Sasak,” katanya.

    Majelis Adat Sasak menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pelestarian tradisi Nyongkolan agar tetap berjalan sesuai nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur. MAS juga menekankan pentingnya menjaga harmoni antara masyarakat, pemimpin, dan adat istiadat agar budaya Sasak tetap lestari dan relevan di tengah perkembangan zaman.

    “Menjaga tradisi berarti menjaga identitas. Karena itu, pelestarian Nyongkolan menjadi tanggung jawab bersama agar warisan budaya leluhur tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tutup Lalu Sajim.  (nang)

    Keterangan Foto:

    Ketua Majelis Adat Sasak NTB, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan. (ist)

  • Memarek, Menelusuri Jejak Cinta dan Tradisi yang Mengikat Janji

    Memarek, Menelusuri Jejak Cinta dan Tradisi yang Mengikat Janji

    DI TENGAH  gemerlapnya modernisasi, tak banyak yang tahu tentang tradisi unik yang telah mengakar dalam budaya masyarakat Sasak, terutama di Desa Ranggagata, Praya Barat Daya, Lombok Tengah. Namanya Memarek (Hantaran, pen). Sebuah tradisi yang mengikat janji dan cinta, tetap hidup meskipun waktu terus berjalan.

    Dalam tradisi ini, seorang lelaki menunjukkan keseriusan cintanya melalui tindakan yang penuh makna. Memarek sang kekasih dengan membawa serta rombongan wanita sebagai bentuk dukungan dan harapan bagi masa depan yang bahagia.

    Saya berkesempatan untuk berbincang dengan Ibu Rohini, seorang saksi hidup dari tradisi ini, yang dengan penuh semangat menceritakan pengalaman dan sejarah Memarek.

    Melalui wawancara ini, kita akan menggali lebih dalam tentang makna, perubahan, dan keistimewaan dari tradisi yang penuh cinta ini.

    Tradisi Cinta yang Diikat Janji dan Sejarahnya

    Penulis: Apa saja yang biasanya dibawa saat memarek?

    Rohini: Dulu, dalam jembak (wadah, pen), yang dibawa biasanya pisang lumut, Roti Marie, dan minuman Sprite. Sekarang, yang dibawa pisang, minuman Sprite, roti Jordan atau roti Kanguru, dan kini ada tambahan telur sebagai pelengkap.

    Penulis: Kapan tradisi Memarek biasanya dilakukan?

    Rohini: Tradisi Memarek biasanya dilaksanakan pada malam Lebaran Idul Fitri atau Idul Adha, atau sekitar seminggu sebelum janji kawin lari dijalankan.

    Penulis: Berapa banyak orang yang terlibat dalam tradisi Memarek?

    Rohini: Umumnya, sepuluh orang wanita terlibat dalam prosesi memarek, meskipun jumlah ini bisa lebih banyak tergantung pada status sosial keluarga si pria. Jika sang kekasih berasal dari keluarga yang lebih kaya, jumlah pengantar bisa mencapai dua puluh orang.

    Penulis: Apakah ada perjanjian sebelum memarek dilakukan?

    Rohini: Saat ini, biasanya memang ada janji atau komitmen dari sang idola wanita untuk siap menikah, baru pemarek dilaksanakan. Namun, menurut cerita orang tua, di masa lalu, tradisi memarek dianggap sebagai bukti cinta seorang lelaki yang tulus kepada calon kekasihnya.

    Sejarah Memarek

    Memarek adalah sebuah tradisi yang berasal dari masyarakat Desa Ranggagata, Praya Barat Daya, Lombok Tengah, yang menyimbolkan bentuk komitmen dan keseriusan seorang pria kepada wanita yang ia cintai. Secara historis, tradisi ini biasanya dilakukan ketika pasangan sudah ‘sepakat” untuk menikah.

    Memarek sebenarnya merupakan simbolik dari cinta yang tulus dan keseriusan dalam menjalin hubungan. Di zaman dahulu, tradisi ini menjadi cara untuk menunjukkan kesungguhan hati seorang pria yang ingin melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya.

    Dengan berjalannya waktu,  memarek kini semakin dipengaruhi oleh nilai-nilai sosial modern, di mana biasanya ada janji terlebih dahulu sebelum tradisi ini dilakukan, memastikan adanya komitmen yang jelas antara kedua pihak (pasangan kekasih, pen). **

    Keterangan Foto: Prosesi Memarek di Desa Ranggagata. (ist)

  • Nuswantara Fest 2025 Sukses Dorong Tenun Lokal Mendunia

    Nuswantara Fest 2025 Sukses Dorong Tenun Lokal Mendunia

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)– Nuswantara Fest 2025, yang digelar di Taman Mayura, Puri Agung Cakranegara, Kota Mataram, pada Sabtu (22/02/25), berhasil menjadi ajang yang tidak hanya mempromosikan seni dan budaya lokal..Tetapi juga mendorong tenun tradisional NTB tampil modern dan mendunia. Acara ini diinisiasi oleh Real Muda Creative dan mendapat apresiasi besar dari berbagai pihak.

    Kepala Dinas Perindustrian Provinsi NTB, Nuryanti, menyampaikan kebanggaannya atas suksesnya acara ini. Ia menilai Nuswantara Fest 2025 sebagai wadah yang mampu menampilkan kreativitas anak muda sekaligus membuktikan bahwa tenun lokal dapat diolah menjadi produk fashion modern yang sesuai dengan selera generasi muda.

    “Saya sangat mengapresiasi event ini. Ternyata tenun kita tidak hanya cocok untuk desain tradisional, tetapi juga dapat di-upgrade menjadi produk modern yang kekinian,” ujar Nuryanti, yang mewakili Wakil Gubernur NTB dalam pembukaan acara.

    Dinas Perindustrian NTB kini fokus meningkatkan daya saing produk lokal dengan memberdayakan para desainer. Nuswantara Fest 2025 diharapkan menjadi pemacu semangat bagi para desainer untuk menciptakan produk tenun yang tidak hanya menarik di pasar nasional, tetapi juga memiliki daya saing internasional.

    “Kami akan memberikan sertifikasi kompetensi kepada para desainer agar mereka mampu menghasilkan produk tenun yang sesuai dengan tren global. Harapannya, NTB dapat menjadi pusat tren fashion berbasis tenun,” tambahnya.

    Gelaran ini juga mendukung sektor pariwisata dan industri kreatif di NTB. Dengan tema besar ‘NTB Makmur Mendunia,’ acara ini diharapkan dapat menjadi event rutin yang terus berkembang, sekaligus memperkuat kolaborasi antara seni, budaya, dan industri pariwisata.

    “Pariwisata NTB yang kaya akan unsur etnik dan budaya membutuhkan desain tenun yang mampu bersaing di pasar. Dengan inovasi yang tepat, tenun NTB bisa menjadi salah satu unggulan dalam sektor fashion internasional,”* jelas Nuryanti.

    Nuswantara Fest 2025 juga dihadiri oleh Ketua Dekranasda NTB Anak Agung A.A Made Jelantik Barayawangsa, keluarga besar Puri Agung Cakranegara, perwakilan dari Find NTB, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram, IWAPI Kota Mataram, serta sejumlah tokoh penting lainnya.

    Event ini mendapat dukungan dari berbagai sponsor, termasuk PLN Icon Plus, Nong Auto Care (NAC), Tuwa Kawa Coffee, Skintific, serta partner event seperti LIM Models dan Inges Boutique. Dukungan ini menegaskan komitmen berbagai pihak untuk menjadikan tenun NTB sebagai ikon fashion mendunia.

    Dengan antusiasme yang tinggi, Nuswantara Fest 2025 membuktikan bahwa industri kreatif NTB memiliki potensi besar untuk terus berkembang, membawa seni dan budaya lokal menuju panggung dunia. (Nang)

  • Peran Budaya dalam Pengembangan Pariwisata

    Peran Budaya dalam Pengembangan Pariwisata

    BUDAYA memiliki peran strategis dalam mendukung perkembangan sektor pariwisata. Beragam tradisi, seni, dan warisan budaya suatu daerah menjadi daya tarik utama yang mampu menarik wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

    Budaya menjadi magnet utama bagi wisatawan. Tradisi khas, seperti Tari Kecak di Bali atau Festival Bau Nyale di Lombok, mampu memberikan pengalaman unik bagi wisatawan. Hal ini menjadikan budaya sebagai elemen penting dalam mempromosikan destinasi wisata.

    Keberagaman budaya memungkinkan terciptanya produk wisata yang bervariasi. Selain wisata alam, wisatawan dapat menikmati wisata budaya seperti kunjungan ke desa adat, museum, hingga festival budaya. Hal ini memperkaya pengalaman wisata sekaligus memperluas segmentasi pasar pariwisata.

    Pariwisata berbasis budaya turut mendukung upaya pelestarian tradisi lokal. Dana yang diperoleh dari sektor ini sering digunakan untuk melestarikan seni, musik, tarian, dan adat istiadat yang berpotensi hilang jika tidak didukung dengan baik.

    Budaya lokal yang dijadikan objek wisata memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat. Penjualan kerajinan tangan, kuliner tradisional, serta jasa pemandu wisata berbasis budaya membuka peluang pendapatan tambahan bagi warga setempat.

    Pengembangan wisata budaya membantu memperkuat identitas daerah dan menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap warisan leluhurnya. Hal ini juga meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keaslian budaya.

    Melalui interaksi antara wisatawan dan masyarakat lokal, terjadi pertukaran budaya yang mendorong saling pengertian dan toleransi. Pariwisata budaya juga menjadi sarana promosi nilai-nilai luhur yang dimiliki suatu daerah.

    Tantangan dan Solusi

    Komersialisasi yang berlebihan dapat mengurangi keaslian budaya dan mengganggu keberlanjutan. Solusi terbaik adalah mengembangkan konsep pariwisata berbasis budaya yang berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat lokal secara aktif dalam pengelolaan wisata.

    Budaya memiliki peran signifikan dalam memperkuat sektor pariwisata. Dengan memanfaatkan potensi budaya secara bijaksana, destinasi wisata dapat berkembang secara berkelanjutan. Selain memberikan pengalaman berkesan bagi wisatawan, pariwisata berbasis budaya juga mampu melestarikan warisan budaya dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. (red/*)

    Keterangan Foto: Salah satu budaya Sasak. (Foto: net)

  • Perang Topat 2024 di Lingsar Tetap Meriah Meski Diguyur Hujan Deras

    Perang Topat 2024 di Lingsar Tetap Meriah Meski Diguyur Hujan Deras

    LOBAR (LOMBOKEXPRESS.ID)-– Ribuan warga dari berbagai penjuru Lombok memadati area Pura Lingsar pada Minggu (15/12/2024). Meskipun hujan deras turun sepanjang acara. Tradisi tahunan Perang Topat tetap berlangsung meriah, memperlihatkan semangat masyarakat yang tidak surut untuk melestarikan warisan budaya yang sarat makna toleransi.

    Perang Topat merupakan tradisi unik yang diselenggarakan setahun sekali pada bulan ketujuh kalender Sasak. Tahun ini, acara tersebut kembali menjadi momen simbolis untuk mempererat hubungan antara umat Hindu dan Muslim. Tradisi ini diyakini muncul sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, sekaligus mencerminkan harmoni antaragama di Lombok Barat.
    Perang Tanpa Pertumpahan Darah

    Prosesi Perang Topat dimulai setelah serangkaian upacara adat dan Pujawali di Pura Lingsar. Pura ini menjadi ikon toleransi karena di dalam kompleks Kemaliq Lingsar terdapat pura berdampingan, simbol kehidupan damai masyarakat Lingsar yang berbeda keyakinan.

    Pj Gubernur NTB Hassanudin bersama Pj Bupati Lombok Barat M Ilham memimpin jalannya acara. Setelah upacara adat selesai, masyarakat Hindu dan Muslim saling melempar ketupat dalam suasana penuh keceriaan. “Perang tanpa pertumpahan darah” ini menjadi lambang toleransi dan pluralisme.

    “Kegiatan ini diawali dengan Kemaliq di Pura Lingsar, diakhiri dengan saling lempar ketupat antara umat Hindu dan Islam. Ini adalah wujud nyata kerukunan yang sudah berlangsung turun-temurun,” ujar Pj Bupati Lombok Barat, M Ilham.

    Warisan Budaya yang Dilestarikan

    Perang Topat kini telah diakui sebagai warisan budaya tak benda oleh pemerintah, sekaligus menjadi salah satu agenda Karisma Event Nusantara (KEN). Kepala Dinas Pariwisata NTB, Jamaludin Malady, optimistis tradisi ini akan terus menjadi daya tarik wisata unggulan.

    “Perang Topat adalah tradisi yang tidak ada di daerah lain. Bayangkan, dua suku yang berbeda agama mampu bersatu dalam harmoni melalui tradisi ini. Ini simbol kerukunan yang luar biasa,” katanya.

    Pj Gubernur NTB, Hassanudin, menegaskan pentingnya melestarikan tradisi ini sebagai bagian dari upaya menjaga keberagaman di NTB. “Tradisi ini harus tetap ada. Ini adalah cerminan toleransi yang menjadi identitas kita,” ujarnya.

    Ketua Panitia Pujawali, AA Ketut Agung Oka Kartha Wirya, menyampaikan apresiasinya atas keberhasilan acara tahun ini. “Masyarakat dari dua agama bersatu dalam satu acara. Ini adalah contoh toleransi yang harus terus kita jaga. Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung suksesnya Pujawali dan Perang Topat,” ucapnya.

    Meskipun diguyur hujan deras, semangat masyarakat yang hadir tetap membara. Perang Topat 2024 tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya, tetapi juga wujud nyata indahnya keberagaman dan toleransi di Lombok Barat. Tradisi ini terus menjadi kebanggaan masyarakat Lombok, sekaligus daya tarik wisata yang mendunia. (nang)

  • Simakrama Puri-Puri dan Umat Hindu NTB Bersatu

    Simakrama Puri-Puri dan Umat Hindu NTB Bersatu

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)– Dalam upaya mempererat tali silaturahmi dan menyatukan visi serta misi antar keluarga besar puri di Nusa Tenggara Barat (NTB), Puri Agung Cakranegara menggelar acara simakrama di Taman Mayura, Kamis (21/11).

    Acara ini sekaligus menjadi momen untuk sosialisasi Pilkada damai, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting umat Hindu di NTB.

    Anak Agung (AA) Made Jelantik Agung Barayang Wangsa, keturunan Kerajaan Cakranegara ke-IX, menyampaikan acara ini digelar bersamaan dengan pembubaran panitia Pujawali Pura Meru Cakranegara.

    “Simakrama ini menjadi ruang komunikasi antar keluarga puri maupun keluarga Sasak. Dalam komunikasi, kita bisa menyelesaikan persoalan bersama. Kami juga telah membulatkan tekad mendukung salah satu calon gubernur yang memiliki karakter kuat, mampu menyerap aspirasi masyarakat, dan memahami adat istiadat kita,” ujar Anak Agung Made Jelantik.

    Ia juga menegaskan pentingnya menghindari politik uang dalam Pilkada. “Memilih pemimpin karena uang membuat kita kehilangan harga diri. Harapan saya, masyarakat tetap memilih figur yang berkarakter dan peduli terhadap adat istiadat serta aspirasi masyarakat,” tambahnya.

    Ketua Majelis Agung Windu Sesukertaning Jagat, I Gede Gunawan Wibisana, S.H., M.Hum, turut mengajak umat Hindu di NTB untuk bersatu tanpa membedakan latar belakang politik. “Kami ingin mempersatukan tekad untuk mewujudkan Pilkada damai di NTB. Bersilaturahmi dan bercengkrama bersama adalah bentuk dukungan kita untuk menjaga harmoni,” jelasnya.

    Acara ini juga dihadiri tokoh senior Lombok Tengah, Lalu Wiraatmaja atau Mamiq Ngoh, serta perwakilan dari Puri Pajang Mataram, Puri Pamotan, Puri Memeling, Puri Kelodan Karang Tangkeban Cakranegara, dan Aliansi Pemuda Hindu. Sebanyak 33 pengemong sanggar Pura Meru turut hadir, menjadikan momen ini sebagai simbol persatuan umat Hindu di NTB.

    Kegiatan diakhiri dengan makan bersama dalam tradisi megibung, mencerminkan kebersamaan dan kehangatan antar peserta. Dengan acara ini, diharapkan umat Hindu di NTB semakin kompak dalam menjaga harmoni dan mendukung Pilkada damai demi masa depan yang lebih baik. (nang)

  • Lombok Keris Exhibition at Taman Mayura Cakranegara: Festive and Meaningful

    Lombok Keris Exhibition at Taman Mayura Cakranegara: Festive and Meaningful

    CAKRANEGARA (LOMBOKEXPRESS.ID)—The keris exhibition titled “Berajah Ngemunggahang Gegaman Nuswantara” is taking place festively at Taman Mayura, Cakranegara, Lombok, from June 28 to 30, 2024.

    Organized by Selaparang Mandalika Keris Lombok, the event features various activities, including a keris exhibition, a keris and SME market, a keris seminar, and traditional art performances.

    Lalu Kusnawan, Chairman of the National Secretariat for Keris (SNKI) NTB, stated that this event is an annual collaboration aimed at preserving the cultural heritage of keris. The exhibition showcases a variety of keris styles, including those from Bali, Malay, and Lombok. Kusnawan emphasized that keris is not only a cultural symbol but also a source of livelihood for many artisans. “Keris is a cultural heritage that we can promote through tourism, so it should not fade away. We continue to educate the younger generation about this,” he said.

    Anak Agung (AA) Made Jelantik Agung Barayang Wangsa, the ninth descendant of the Cakranegara Kingdom, also expressed his appreciation for the exhibition. He stated that the keris exhibition at Taman Mayura is an important effort to introduce keris as a historical heirloom to the people of NTB. “Keris is a sacred historical heirloom,” said Made Jelantik. He also thanked the organizers for their dedication in holding this exhibition.

    Over the three-day period, the exhibition not only showcases various unique keris but also strengthens the synergy between the tourism sector and SMEs, supporting the sustainability of keris craftsmanship in Lombok. (rls)

  • Wakapolresta Mataram Hadiri Rapat Kesiapan Pengamanan Parade Ogoh-Ogoh Tahun 2024

    Wakapolresta Mataram Hadiri Rapat Kesiapan Pengamanan Parade Ogoh-Ogoh Tahun 2024

    MATARAM, LOMBOKEXPRESS.ID– Menjelang Hari Raya Nyepi Saka 1946 Tahun 2024 mewakili Kapolresta Mataram, Wakapolresta Mataram AKBP I Wayan Sudarmanta SIK MH menghadiri Rapat Kesiapan Pengamanan Parade Ogoh-Ogoh bertempat di Taman Mayura Cakranegara, Kota Mataram. Kamis, (07/03/2024).

    Wakapolresta Mataram didampingi Kanit III sat Intelkam Polresta Mataram Iptu M. Rofi’i Suriadi, SH, Dewan pembina Ogoh-Ogoh Cakranegara Anak Agung Made Djelantik Barawangsa, Ketua Aliansi Pemuda Hindu Lombok sekaligus Ketua Panitia Ogoh-ogoh Caka 1946 tahun 2024 I Nyoman Loji Sagita, Ketua Panitia I Gusti Bagus Panji Sulaksana, para sekaa taruna-taruni, muda mudi hindu dan koordinator ogoh-ogoh masing Banjar dan lingkungan sekota Mataram yang berjumlah sekitar 100 orang.

    Kapolresta Mataram melalui Wakapolresta AKBP I Wayan Sudarmanta SIK MH usai rapat kesiapan mengatakan bahwa kami hadir mewakili Kapolresta Mataram yang tidak bisa hadir karena ada kegiatan pengamanan Rapat Pleno KPU di Hotel Lombok Garden.

    “Pada dasarnya ogoh-ogoh merupakan ritual, yang harus kita laksanakan dengan baik namun disisi lain juga akan ada pawai ta’aruf menjelang bulan Ramadhan bagi umat muslim sehingga bagaimana kegiatan ini diatur agar semua kegiatan dapat berjalan lancar “, ucapnya

    Wakapolresta Mataram juga menjelaskan bahwa Ogoh-ogoh adalah seni kebudayaan sehingga yang akan ditampilkan adalah yang terbaik sebagai rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Saka 1946 Tahun 2024.

    “Kami berharap panitia bisa memajukan pembukaan mulai pukul 11.00 wita dan selesai pukul 16.00 wita sehingga ada waktu untuk kita melaksanakan pecaruan dan antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan,” jelasnya.

    “Kami juga mengimbau untuk saling bersama-sama saling menjaga toleransi antar umat beragama dan Harkamtibmas,” tegasnya.

    Polresta Mataram akan melibatkan pengamanan sebanyak 811 personel yang akan disebar di 9 kecamatan.

    “Untuk seluruh umat Hindu, ” Selamat hari Raya Kuningan dan Nyepi semoga kita dapat melaksanakan Brata penyepian dengan sebaik-baiknya dan mendapatkan pahala dari Ida Hyang Widi Wasa,” tutupnya. (rls)