Majelis Adat Sasak Ajak Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Pemuda Jaga Kamtibmas Saat Tradisi Nyongkolan

MATARAM (NTBNOW.CO) – Majelis Adat Sasak (MAS) Nusa Tenggara Barat mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, pemerintah daerah hingga aparat penegak hukum untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) saat pelaksanaan tradisi Nyongkolan di Pulau Lombok.

Ketua Majelis Adat Sasak NTB, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan, menegaskan bahwa MAS mendukung penuh pelestarian tradisi Nyongkolan sebagai salah satu identitas budaya dan warisan leluhur masyarakat Sasak. Namun, pihaknya juga menyoroti adanya pergeseran nilai yang terjadi dalam pelaksanaannya di beberapa daerah.

Menurutnya, Nyongkolan merupakan tradisi sakral masyarakat Sasak yang memiliki makna sosial dan budaya yang mendalam. Tradisi tersebut menjadi sarana pengumuman kepada masyarakat bahwa sepasang pengantin telah resmi menikah secara sah menurut agama dan negara, serta telah melalui prosesi adat Sorong Serah.

“Nyongkolan bukan sekadar arak-arakan pengantin, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi antara keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai perempuan atau yang dikenal dengan istilah bejago dalam masyarakat Sasak,” ujar Lalu Sajim.

Ia menjelaskan, dalam pelaksanaannya, Nyongkolan memiliki pakem adat yang harus dijaga. Mulai dari penggunaan busana adat Sasak seperti Pegon dan Lambung, hingga iringan musik tradisional seperti Gendang Beleq yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Sasak sejak dahulu.

Karena itu, MAS mengimbau masyarakat agar tetap mempertahankan kemurnian tradisi tersebut dan tidak menghilangkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya, seperti kesopanan, toleransi, kebersamaan, dan penghormatan terhadap lingkungan sekitar.

Soroti Pergeseran Nilai dalam Pelaksanaan Nyongkolan

Majelis Adat Sasak mengaku prihatin dengan sejumlah fenomena yang terjadi dalam pelaksanaan Nyongkolan belakangan ini. Beberapa kegiatan dinilai mulai menyimpang dari nilai-nilai adat karena diwarnai hiburan yang berlebihan, perilaku yang tidak sesuai dengan norma budaya, hingga aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.

Menurut Lalu Sajim, kondisi tersebut berpotensi mengurangi nilai sakral tradisi Nyongkolan serta memicu kemacetan, gesekan sosial, bahkan penolakan dari sebagian masyarakat.

“Tradisi Nyongkolan harus tetap menjadi ruang silaturahmi dan pelestarian budaya, bukan sebaliknya menjadi pemicu gangguan ketertiban maupun konflik sosial,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan di tengah masyarakat terkait pelaksanaan Nyongkolan perlu disikapi secara bijak agar tidak menimbulkan kesalahpahaman maupun gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Pentingnya Sinergi dengan Pemerintah dan Aparat Keamanan

Dalam upaya menjaga kelancaran pelaksanaan Nyongkolan, MAS mendorong adanya koordinasi yang baik antara masyarakat, pemerintah desa, tokoh adat, tokoh agama, aparat keamanan, serta pihak terkait lainnya.

Lalu Sajim menilai setiap kegiatan Nyongkolan sebaiknya dikomunikasikan terlebih dahulu dengan pemerintah desa dan aparat keamanan setempat agar pengaturan lalu lintas, keamanan, dan ketertiban masyarakat dapat berjalan dengan baik.

Selain itu, pemerintah desa juga diharapkan aktif melakukan sosialisasi terkait aturan dan tata cara pelaksanaan Nyongkolan yang sesuai dengan nilai adat maupun ketentuan yang berlaku di daerah masing-masing.

Generasi Muda Diminta Jadi Penjaga Marwah Budaya Sasak

MAS juga mengajak generasi muda Sasak untuk mengambil peran sebagai penjaga marwah budaya daerah. Di tengah arus modernisasi dan perkembangan zaman, generasi muda diharapkan tetap mempertahankan filosofi kebersamaan, sopan santun, dan penghormatan terhadap adat istiadat.

“Pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab tokoh adat, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh masyarakat, terutama generasi muda sebagai penerus budaya Sasak,” katanya.

Majelis Adat Sasak menegaskan komitmennya untuk terus mengawal pelestarian tradisi Nyongkolan agar tetap berjalan sesuai nilai-nilai adat yang diwariskan leluhur. MAS juga menekankan pentingnya menjaga harmoni antara masyarakat, pemimpin, dan adat istiadat agar budaya Sasak tetap lestari dan relevan di tengah perkembangan zaman.

“Menjaga tradisi berarti menjaga identitas. Karena itu, pelestarian Nyongkolan menjadi tanggung jawab bersama agar warisan budaya leluhur tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang,” tutup Lalu Sajim.  (nang)

Keterangan Foto:

Ketua Majelis Adat Sasak NTB, Dr. H. Lalu Sajim Sastrawan. (ist)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *