Ada satu kata pendek yang mungkin tidak pernah kita pikirkan sejarah perjalanannya. Kata apa itu? Kata: Siap!” Suku kata pendek. Tegas. Tidak banyak basa-basi.
Dulu, ketika mendengar kata itu, bayangan kita mungkin langsung kepada tentara. “Siap, Komandan!” “Siap!” Selesai.
Tidak perlu penjelasan panjang. Tidak perlu emotikon jempol. Tidak perlu “oke, baik, insya Allah akan segera saya laksanakan.” Cukup satu kata. Siap.
Tetapi menariknya, kata yang sangat dekat dengan dunia komando itu sekarang sudah berjalan jauh meninggalkan barak.
Ia masuk ke sekolah.
Masuk ke kantor.
Masuk ke organisasi.
Masuk ke forum-forum rapat.
Bahkan akhirnya masuk ke grup WhatsApp.
Atasan bertanya.
“Besok rapat jam sembilan, ya?”
Jawabannya:
“Siap.”
Teman meminta bantuan:
“Tolong kirim datanya sebelum siang.”
“Siap.”
Istri meminta sesuatu:
“Jangan lupa nanti beli gula.”
“Siap.”
Anak diminta membereskan kamar:
“Siap.”
Walaupun setelah itu belum tentu benar-benar dikerjakan.
Di sinilah menariknya bahasa.
Sebuah kata bisa berpindah rumah.
“Siap” yang dahulu sangat kuat nuansa komandonya, perlahan menjadi bahasa kesanggupan, persetujuan, bahkan sekadar tanda bahwa pesan sudah dibaca dan dipahami.
Sejarah Indonesia memang membuat kita akrab dengan budaya kemiliteran.
Setelah Proklamasi 1945, bangsa ini berada dalam suasana mempertahankan kemerdekaan. TKR lahir pada 5 Oktober 1945 dan kemudian berkembang menjadi TRI dan TNI. Dalam situasi perang dan perjuangan, kesiapsiagaan bukan sekadar kata, melainkan kebutuhan.
Maka tidak mengherankan kalau bahasa militer ikut mempunyai pengaruh dalam kehidupan masyarakat.
Apalagi militer bukan hanya hadir di medan perang.
Ia hadir dalam pendidikan kedisiplinan, upacara, organisasi kepemudaan, pramuka, birokrasi, bahkan film dan televisi.
Bahasa pun ikut bergerak.
Yang awalnya mungkin berarti:
“Saya siap melaksanakan perintah.”
Bergeser menjadi:
“Saya mengerti.”
Lalu:
“Baik.”
Kemudian:
“Oke.”
Dan sekarang kadang hanya berarti:
“Pesan sudah saya baca.”
Lucunya, kita sering memakai kata itu tanpa lagi memikirkan dari mana kebiasaan tersebut datang.
Bahasa memang begitu.
Ia tidak suka tinggal diam.
Ia berpindah dari satu ruang ke ruang lain. Dari barak ke sekolah. Dari sekolah ke kantor. Dari kantor ke rumah. Dari rumah ke telepon genggam.
Sampai akhirnya seorang teman mengirim pesan: “Besok datang, ya.”
Kita menjawab:
“Siap.”
Padahal yang diminta bukan perintah militer.
Hanya ngopi.
Mungkin begitulah perjalanan sebuah kata.
Ia bisa lahir dalam suasana serius, kemudian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dan barangkali, di situlah kita belajar bahwa bahasa bukan hanya kumpulan kata.
Bahasa adalah sejarah yang berjalan.
Kadang kita mengucapkannya setiap hari, tanpa sadar bahwa di belakang satu kata pendek terdapat perjalanan panjang sebuah bangsa.
Siap?
Siap.


