#Catatan Ramon Damora
Ada wartawan yang berlari mengejar zaman. Ada pula yang memilih berjalan, pelan tapi ajeg, setia pada lintasan yang ia yakini benar. Saibansah Dardani—yang lebih akrab disapa Cak Iban—termasuk dalam golongan kedua. Ia tidak pernah sibuk mencari sorotan. Ia justru bertahan, ketika sorotan datang dan pergi.
Ketika Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat menganugerahkan Kartu Pers Nomor Satu (PCNO) kepadanya, itu bukanlah perayaan sesaat. Ia adalah penanda kesetiaan. Sebuah pengakuan bahwa ada wartawan yang memilih untuk tetap berdiri, bahkan ketika berubah zaman dengan kecepatan yang sering melelahkan hati nurani.
Undangan resmi sebagai penerima PCNO telah diterima Cak Iban dari Panitia Pusat Hari Pers Nasional 2026. Dalam surat bernomor 476/PWI-P/HPN2026/I/2026 tertanggal 27 Januari 2026, ditegaskan penghargaan itu akan diserahkan pada 9 Februari 2026 di Banten. Momentum itu bukan sekadar seremoni, melainkan peneguhan rekam jejak profesi—bahwa pengabdian panjang masih memiliki tempat dalam sejarah pers.
“PCNO bukan penghargaan biasa,” kata Cak Iban. “Ini pengakuan organisasi profesi tertua di Indonesia atas dedikasi, kontribusi, dan kesetiaan pada profesi wartawan.”
Tiga puluh tiga tahun ia jalan bukan sebagai angka. Ia adalah jejak. Jejak dari satu ruang redaksi ke ruang redaksi lain, dari koran ke media siber, dari lapangan liputan ke ruang pengambilan keputusan. Sebuah perjalanan yang tidak selalu lurus, tetapi tetap berpijak pada satu kesadaran sederhana: wartawan adalah pembelajar seumur hidup.
Kesadaran itu ia bangun sejak masih menjadi wartawan muda di Harian Pagi Riau Pos, Pekanbaru. Belajar secara otodidak, belajar dari kesalahan, dan terutama belajar dari para senior. Nama-nama seperti Rida K. Liamsi, Kazzaini KS, dan Mostamir Thalib bukan sekadar tokoh, melainkan rujukan etika dan profesionalisme.
“Esensi profesi wartawan itu belajar tanpa henti,” ujarnya.
Namun bagi Cak Iban, belajar saja tidak cukup. Ada dua hal yang tidak pernah ia tawar: integritas dan kompetensi. Tanpa integritas, kepercayaan runtuh. Tanpa kompetensi, profesi kehilangan makna. Dari dua fondasi itulah, ia percaya wartawan akan menemukan cerminannya sendiri—tetap tegak di tengah perubahan zaman.
Dari Koran ke Klik
Cak Iban lahir dari dunia koran, awal tahun 1990-an. Dunia yang menuntut disiplin waktu, ketelitian berlapis, dan kesabaran. Ia pernah menulis dan menulis di Harian Riau Pos, spesifikasi dinamika ekonomi nasional di Majalah Warta Ekonomi dan Majalah Kapital di Jakarta, hingga memikul tanggung jawab redaksional dan manajerial di Harian Lantang, Batam.
Pengalaman itu membentuknya sebagai proses penjaga. Ia paham, pers bukan hanya soal berita, melainkan nilai ekosistem: akurasi, keberimbangan, dan keberanian berpikir.
Ketika gelombang media siber datang, ia tidak menepi. Ia beradaptasi. Sejak tahun 2014, ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi BATAMTODAY.COM. Lalu, pada 17 Agustus 2022, ia membangun J5NEWSROOM.COM—sebuah tanggal yang dipilih dengan sadar, ingin seolah-olah menegaskan bahwa kemerdekaan pers harus terus dijaga, bahkan di tengah tekanan klik dan algoritma.
Kepada wartawan generasi hari ini, yang bekerja di tengah tekanan ekonomi, polarisasi, dan gangguan digital, Cak Iban tidak menawarkan jalan pintas. Ia mengajak kembali ke dasar.
“Jadilah jurnalis yang profesional, berintegritas, dan kompeten.”
Ia mengibaratkan wartawan sebagai rajawali. Burung yang terbang sendiri, tidak menggantung ke arah pada kepadatan. Rajawali mengenal cakrawala, percaya pada sayapnya, dan tidak gentar menghadapi langit mendung—bahkan gelap sekalipun.
Dalam perumpamaan itu, tersimpan pesan yang jernih: wartawan yang jujur tidak kehilangan arah karena tekanan, tidak menukar hati nurani dengan kenyamanan, dan tetap setia pada kompas etiknya.
Yang Ingin Ditinggalkan
Di balik perjalanan panjang itu, harapan Cak Iban justru sangat sederhana. Jika suatu hari ia berhenti menulis, ia tidak ingin dianggap sebagai tokoh besar.
“Saya hanya ingin dikenang sebagai sahabat, teman ngopi yang menyenangkan, teman diskusi, dan hamba Allah SWT yang dhaif.”
Tidak ada ambisi meninggalkan monumen nama. Yang ingin ia tinggalkan hanyalah jejak kemanusiaan—di meja kopi, di ruang berdiskusi, dan dalam ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
Di tengah dunia pers yang semakin riuh oleh opini dan kepentingan, kisah Cak Iban mengingatkan kita pada satu hal yang sering terlupa: pers tidak dibangun oleh mereka yang paling keras bersuara, melainkan oleh mereka yang paling setia menjaga nilai—diam-diam, tapi konsisten. (*)
Penulis adalah Pengurus PWI Pusat, Budayawan Kepri dan Penerima PCNO






