Perguruan Tinggi dan Ilusi Masa Depan. Benarkah Kita Sedang Mencetak Pengangguran Terdidik?

Di banyak ruang obrolan, dari warung kopi hingga forum akademik, satu kalimat ini sering terdengar. Apa itu? “Kuliah tinggi-tinggi, ujungnya menganggur juga.” Kalimat itu sederhana, tapi menyimpan kegelisahan yang tidak sederhana. Ia lahir dari realitas yang kita lihat sehari-hari—lulusan sarjana yang kembali ke rumah, membawa ijazah, tetapi belum menemukan jalan hidupnya.

———

Pertanyaannya, apakah benar perguruan tinggi hari ini sedang menjadi “pabrik pengangguran terdidik”? Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak.

Perguruan tinggi sejatinya tidak pernah didesain untuk mencetak pengangguran. Ia dibangun sebagai ruang pembentukan nalar, tempat manusia belajar berpikir, memahami dunia, dan menemukan perannya di tengah masyarakat. Namun, dalam perjalanan waktu, harapan terhadap kampus mengalami pergeseran. Kuliah tidak lagi dipandang sebagai proses pendewasaan intelektual, melainkan sebagai “tiket” menuju pekerjaan.

Di titik inilah persoalan mulai muncul.Banyak mahasiswa masuk perguruan tinggi dengan satu tujuan. Lulus, lalu bekerja. Tidak salah. Tetapi ketika orientasi itu berdiri sendiri, tanpa diimbangi dengan kemampuan adaptasi, keterampilan praktis, dan keberanian menciptakan peluang, maka gelar akademik menjadi rapuh. Ia hanya menjadi simbol, bukan alat perjuangan hidup.

Di sisi lain, kampus juga tidak sepenuhnya tanpa cela. Kurikulum yang terlalu teoritis, minimnya pengalaman lapangan, serta hubungan yang belum kuat dengan dunia industri, membuat sebagian lulusan gagap menghadapi realitas kerja. Mereka cerdas di atas kertas, tetapi seringkali ragu ketika harus turun ke medan nyata.

Namun, menyalahkan kampus saja juga tidak adil. Kita hidup dalam struktur ekonomi yang belum sepenuhnya mampu menyerap tenaga kerja terdidik. Lapangan pekerjaan tidak tumbuh secepat jumlah lulusan. Di saat yang sama, budaya sosial kita masih menempatkan pekerjaan tertentu sebagai “lebih terhormat” dibanding yang lain. Akibatnya, tidak sedikit lulusan yang menunggu pekerjaan yang sesuai ekspektasi, sambil menolak peluang yang sebenarnya bisa menjadi awal perjalanan.

Di sinilah kita perlu jujur melihat kenyataan. Masalah pengangguran terdidik bukan hanya soal pendidikan, tetapi soal cara kita memaknai pendidikan itu sendiri. Ketika kuliah hanya dipahami sebagai jalan menuju pekerjaan, maka kita sedang menyempitkan makna belajar. Padahal, pendidikan seharusnya melahirkan manusia yang mampu bertahan dalam perubahan, bukan sekadar menunggu kepastian.

Mungkin yang perlu diubah bukan hanya sistemnya, tetapi juga cara pandangnya. Mahasiswa perlu disadarkan bahwa dunia tidak selalu menyediakan tempat yang siap diisi. Kadang, tempat itu harus diciptakan. Kampus perlu lebih berani membuka ruang praktik, mempertemukan mahasiswa dengan realitas, bukan hanya teori. Dan negara harus hadir memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

 

Di tengah semua itu, ada satu hal yang sering terlupakan. Tanggung jawab pribadi Ijazah bukan jaminan hidup, tetapi ia adalah bekal. Bekal itu bisa menjadi kekuatan, jika diolah dengan kerja keras, kreativitas, dan kemauan belajar yang tidak berhenti setelah wisuda. Tetapi ia juga bisa menjadi beban, jika hanya disimpan sebagai kebanggaan tanpa tindakan.

Maka, alih-alih saling menyalahkan, mungkin sudah saatnya kita saling memperbaiki.

Perguruan tinggi bukan pabrik pengangguran. Tetapi jika tidak berbenah, dan jika kita sebagai bagian dari masyarakat tidak ikut berubah, maka ia bisa kehilangan maknanya. Bukan karena gagal mendidik, tetapi karena kita keliru memahami apa itu pendidikan.

Pada akhirnya, masa depan tidak ditentukan oleh gelar yang kita miliki, tetapi oleh keberanian kita untuk berjalan—bahkan ketika jalan itu belum sepenuhnya tersedia. (abdus syukur)

Disclaimer: Tulisan ini merupakan opini reflektif penulis yang bertujuan sebagai bahan edukasi publik. Sebagian proses penyusunan dibantu oleh teknologi kecerdasan buatan (AI), tanpa mengurangi substansi dan tanggung jawab pemikiran penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *