Blog

  • Pemprov NTB Jaga Ketahanan UMKM di Masa Pandemi

    Pemprov NTB Jaga Ketahanan UMKM di Masa Pandemi

    MATARAM – – Menjaga ketahanan UMKM di masa pandemi PR besar bagi semua pihak. Pemprov NTB misalnya selalu melibatkan UMKM lokal dalam setiap kegiatannya. Terlebih saat pembagian Bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS).

    Baik JPS Gemilang maupun JPS Gotong Royong yang belakangan disalurkan bagi masyarakat yang tengah berjuang melaksanakaan PPKM. Semua hal itu untuk menjaga agar rotasi perekonomian tetap berputar.

    “Kita terus berupaya agar UMKM kita bisa bertahan. Dibutuhkannya kegotongroyongan dan kecintaan kepada produksi kita sendiri, dan apa-apa yang ada di sekitar kita untuk mau memakai dan memanfaatkannya,” tutur Wakil Gubernur NTB, Dr Hj Sitti Rohmi Djalillah saat memberikan sambutan pada Webinar Dalam Rangka Kemerdekaan RI ke 76 dengan Tema ” Menjaga Ketahanan UMKM di Masa Pandemi ” yang diselenggarakan BKOW Provinsi NTB di Pandopo Wagub, Sabtu, (21/08).

    Selain itu, Ummi mengharapkan agar pendataan para UMKM dapat dilakukan secara lebih valid dan terupdate agar tidak ada terjadinya kekeliruan saat dilakukannya pendataan oleh pemerintah daerah maupun pusat.

    “Agar pendataan UMKM benar – benar valid dan terupdate terus sehingga pada saat ada program – program yang dibutuhkan data yg valid sehingga sudah siap,” tutur Ummi Rohmi.

    Ia juga mengatakan NTB memiliki keistimewaan luar biasa, tidak hanya pada satu sisi. Selain keindahan alam, kuliner jug banyak hal luarbiasa yang dapat ditemui di daerah tercinta ini.  (ser/has)

  • Peran Pranata Komputer Sangat Strategis

    Peran Pranata Komputer Sangat Strategis

    MATARAM–Dewasa ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi berkembang begitu pesat. Sehingga semua sektor kehidupan dituntut untuk terus mengikuti dan melakukan transformasi digital agar mampu memudahkan semua program pemerintah dan masyarakat maupun dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu aktivitas sehari-hari.

    “Tetapi transformasi digital tidak hanya melihat aspek teknologi dan data saja, namun juga kapasitas sumber daya aparatur negara. Disinilah peran strategis dan tanggung jawab pranata komputer,” kata Sekda Provinsi NTB Drs. H. Lalu Gita Ariadi, M.Si, yang diwakili Asisten 2 Setda, saat Diskusi Forum Koordinasi Pejabat Fungsional Pranata Komputer lingkup Pemrov NTB, Kamis, (19/8/2021) di Aula Gemilang Kantor Dinas Kominfotik NTB.

    Lebih lanjut Asisten 2 Setda Provinsi, Ir. Muhammad Husni M.Si., menyampaikan bahwa pranata komputer merupakan kunci utama dalam menjalankan roadmap dan arsitektur teknologi informasi dan komunikasi pemerintah. Sehingga, pejabat fungsional pranata komputer diharapkan dapat memastikan transformasi digital berjalan lancar, selaras dengan rencana pembangunan daerah.

    Melihat peran pranata komputer yang begitu strategis, maka dituntut untuk meningkatkan kapasitas keilmuan dan keterampilan di bidang teknologi informasi komunikasi (TIK). Karena kemajuan era ini harus diimbangi juga dengan pengetahuan dan penguasaanya agar kita dapat memanfaatkan teknologi tersebut dengan cara yang terbaik.

    “Pranata komputer harus mempunyai inisiatif untuk terus mengupgrade skill teknisnya melalui berbagai pelatihan, seminar, diskusi komunitas dan akan sangat bagus lagi jika bisa mendapatkan sertifikasi keahliannya,” harap Husni.

    Selain itu, kemajuan TIK juga sedikit banyak memunculkan residu, acaman kejahatan siber seperti serangan virus, mallware, pencurian data pribadi, penipuan online dan sejenisnya. Oleh sebab itu, disinilah kualitas pejabat fungsional pranata komputer harus mampu mengendalikan dan mengatasi berbagai ancaman siber tersebut.

    “Pejabat fungsional pranata computer, agar terus berkarya dan meningkatkan kapasitasnya demi daerah dan negara,” tutup mantan kadis ESDM Provinsi NTB.

    Sementara itu, Kadis Kominfotik Provinsi NTB Dr. Najamuddin Amy, S. Sos., MM menegaskan peran pejabat fungsional pranata komputer ini sangat strategis di era digitalisasi saat ini. Karena kebutuhan akan TIK menyasar semua sektor dan komponen dan sendi kehidupan.

    Menurut mantan Karo Humas dan Protokoler Pemrov NTB ini, bahwa revolusi industri 4.0 dan pandemi Covid-19 yang telah melanda hampir dua tahun ini menuntut percepatan proses transformasi digital di segala sektor dan aspek kehidupan.

    “Disrupsi yang terjadi merubah cara kita bekerja, cara anak-anak kita belajar, cara kita bertransaksi yang sebelumnya dilakukan secara luring, berubah menjadi daring melalui teknologi informasi,” kata Bang Najam sapaan akrabnya.

    Secara nasional, percepatan transformasi digital dilaksanakan melalui Pengelolaan Sistem Pemerintah Berbasis Elektronik dan Satu Data Indonesia. Hal ini sejalan dengan program unggulan NTB Gemilang yaitu SPBE NTB dan Satu Data NTB.

    “Transformasi digital tersebut kita kawal juga di daerah kita dengan menerbitkan Perda No. 3 tahun 2018 tentang Tata Kelola Pemerintahan Berbasis Sistem Elektronik dan Peraturan Gubernur No. 59 tahun 2019 tentang Rencana Induk Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik,” terang alumni ITS ini.

    Sehingga, sebagai leading sektor TIK di daerah, ia akan terus mengawal dan membangun komunikasi dengan pejabat fungsional pranata komputer lingkup Pemrov. NTB untuk mengawal dan melakukan percepatan demi terwujudnya pembanguna daerah menuju NTB Gemilang. (edy/has)

  • Pemprov NTB dan Kementerian PPPA Sinergi

    Pemprov NTB dan Kementerian PPPA Sinergi

    MATARAM– Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Pemerintah Provinsi NTB, bersinergi membangun penguatan psikososial anak di daerah rawan bencana.

    Kegiatan ini dilaksanakan di Provinsi NTB karena menimbang bahwa Provinsi NTB merupakan salah satu provinsi dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi.

    Menurut Asisten Deputi Perlindungan Anak Kondisi Khusus Kementerian PPPA, Dra. Elvi Handraeni, mengutip dari situs BPBD, setidaknya terdapat 5 sampai 9 potensi bencana yang ada di NTB. Sehingga untuk bisa mempersiapkan keadaan darurat terutama terkait perlindungan terhadap anak maka diperlukan upaya pencegahan, yang salah satunya dengan meningkatkan kewaspadaan.

    “Hari ini bapak ibu sekalian kita semua mendapatkan bimbingan teknis, bagaimana nanti kita jika ada bencana, bapak ibu sekalian dapat melakukan perlindungan terhadap kelompok rentan. Dimana salah satu kelompok rentan selain perempuan di dalam bencana adalah anak,” kata Elvi.

    Pada kegiatan pelatihan pemberian dukungan psikososial bagi lembaga layanan berbasis masyarakat di kawasan kebencanaan, Kamis (19-8-2021) di Hotel Golden Palace Mataram.

    Ia melanjutkan, bahwa di dalam suatu bencana anak mempunyai banyak sekali kebutuhan yang harus diperhatikan. Diantaranya masalah keselamatan, pendidikan dan psikologisnya. Selain itu Elvi juga menyinggung salah satu dampak bencana terhadap anak adalah masalah perkawinan anak dan trafficking.

    “Mereka mudah sekali trauma, dan kita lah yang akan mengurangi trauma mereka,” pungkas Elvi.

    Sementara itu, Kepala Dinas DP3AP2KB Provinsi NTB, Ir Hj Husnanidiaty Nurdin, MM, sebagai fasilitator kegiatan ini mengungkapkan bahwa Provinsi NTB selain sebagai daerah dengan tingkat kerawanan yang cukup tinggi, saat ini juga dihadapkan dengan kondisi pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap anak.

    Oleh karenanya, untuk mencegah penularan dan dampak kesehatan dari Covid-19 terhadap anak, pemerintah terus berupaya mempercepat serapan vaksin terhadap anak, terutama yang berusia antara 12 sampai 18 tahun.

    Ia melanjutkan, terdapat sekitar 533.491 anak yang harus di vaksin di NTB. Namun hingga saat ini baru 19.698 yang telah divaksin dosis I, dan 8.650 yang telah divaksin dosis II. Pemerintah Provinsi NTB akan terus berupaya melakukan sosialisasi dan edukasi termasuk akan melakukan kegiatan vaksin masal, sehingga seluruh pihak dapat ikut membantu memberikan pemahaman yang menyeluruh terhadap pentingnya vaksinasi Covid-19 kepada anak.

    “Sekitar awal bulan september, bekerjasama dengan Dikbud dan Pramuka kita akan mencoba melakukan kegiatan vaksin masal kepada para siswa,” ungkapnya.

    Kepala DP3AP2KB Provinsi NTB yang sekaligus membuka kegiatan ini juga berharap agar pelatihan ini dapat diikuti dengan baik oleh seluruh peserta dari relawan lembaga layanan berbasis masyarakat dan beberapa perangkat daerah terkait serta diikuti juga oleh peserta dari Provinsi Sulawesi Barat, Sulawesi Utara dan Maluku Utara. (has/rls)

  • Pers dan Refleksi Kemerdekaan Catatan Hendry Ch Bangun

    Pers dan Refleksi Kemerdekaan Catatan Hendry Ch Bangun

    Bagaimana kehidupan pers di usia 76 tahun Indonesia Merdeka? Kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Sebagai orang pers, saya merasa banyak sekali hal yang harus kita perbaiki. Itupun kalau ada kesadaran di kalangan pers itu sendiri.
    Dalam diskusi yang diadakan Dewan Pers pada Minggu malam dengan pihak-pihak di luar pers, tercermin bagaimana kondisi pers sekarang semakin jauh dari pers yang ideal. Banyak harapan terhadap pers, jauh dari kenyataan.
    Salah satu ungkapan dalam pertemuan itu menyebutkan, pers Indonesia sedang menggali kuburnya sendiri karena sikap dan perilakunya. Dalam hal ini cara pandang dan cara kerja dari media, khususnya terkait dengan pandemi Covid-19 yang melanda kita.
    Seharusnya semangat yang dibangun adalah bagaimana pers menggalang masyarakat untuk bersama-sama semua komponen bangsa membantu pemberantasan Covid. Media yang bagus dengan kedalaman wawasan, pengetahuan, dan ketrampilan berbahasa membuat persoalan rumit menjadi enak dibaca, ditonton, atau didengar. Berita lalu menimbulkan semangat dan gairah, untuk bangkit dari keterpurukan. Tetapi banyak sekali media yang justru sibuk dengan ini-itu, hal remeh temeh, sehingga audiens pun ikut permainan dan tidak melihat Covid ini sebagai hal serius. Mungkin seperti berita entertainmen. Padahal menyangkut masalah hidup mati.
    Pers juga seperti tidak peduli apakah pandemi ini cepat selesai atau tidak. Padahal negeri ini sedang kesusahan. Kondisi ekonomi umumnya sulit, banyak usaha gulung tikar, berbagai kegiatan berkurang. Yang berimbas pada perusahan pers—pendapatan anjlok, sulit beroperasi normal, terpaksa mengurangi atau memotong gaji, PHK—sehingga seperti bisnis lain, pers sejatinya ingin agar ekonomi kembali pulih. Semestinya ada strategi agar semua pemangku kepentingan bersama-sama bergerak ke arah pemulihan. Tapi kalau yang disampaikan semuanya mengarah ke bad news—membesarkan berita buruk, dan bukan membuat berita yang memberi harapan, bagaimana pasar mau optimistis?
    Kalau berkaca ke peristiwa beberapa tahun lalu terlihat sekali beda antara pers Indonesia dengan pers di Thailand, misalnya. Saat Bom Bali terjadi, turis berkurang drastis bahkan nyaris tidak ada karena agen perjalanan, kedutaan besar asing, menganjurkan agar membatalkan perjalanan ke Indonesia karena media membuat gambaran kengerian. Sementara ketika bencana sejenis menimpa Thailand, pers di negeri itu sempat euphoria memberitakan. Bad news is good news. Pariwisata hancur, wisatawan takut datang. Tetapi pers lalu sepakat bahwa pemberitaan buruk hanya akan menghalau turis, menciptakan pengangguran, menurunkan ekonomi, dan pada gilirannya membuat sengsara perusahaan pers.
    Begitu pula dengan bencana. Seorang yang bertugas di BNPB menyampaikan ketika dia berada di Jepang, saat terjadi gempa di Sendai, di hari-hari yang menyedihkan itu, media televisi praktis tidak ada yang mengambil kesedihan, mengumbar penderitaan. Yang tampil di media adalah liputan yang menunjukkan semangat dan kerja keras, gotong royong, kesiagaan menghadapi gempa yang mungkin terjadi, bahu membahu rakyat dan petugas bencana.
    Sementara di Indonesia, kebanyakan fokus mengggambarkan penderitaan. Orang yang sedang kesusahan, yang sengsara, kesulitan ini itu, kehancuran bangunan, rumah ibadah, dengan narasi mendayu-dayu. Lalu di televisi, seperti biasa, terdengarlah lagu Ebie G Ade, Berita Kepada Kawan..” mungkin Tuhan mulai bosan//melihat tingkah kita//yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa//…” sebagai pengiring. Orientasinya mencitakan kesedihan, bukan semangat untuk bangkit, berjiwa tegar menghadapi musibah, dst.
    Dalam survei atas berita Covid di media siber di bulan Maret 2020 sampai 2021, diadakan Dewan Pers bersama London School of Public Relation, ditemukan bahwa hanya 20,2% berita yang memenuhi kaidah jurnalisme bencana dan bernada empati dari 1.000 berita yang diteliti. Sekitar 78,9% berita ditulis biasa, datar-datar saja. Tanpa keprihatinan sebagai anak bangsa, sebagai bagian dari masyarakat yang sedang menderita. Hanya 27,1 % berita yang memberikan harapan, dan hanya 29,3% berita yang menjadikan pandemi Covid-19 sebagai pembelajaran, yang akan menjadi introspeksi bagi kita sebagai bangsa.
    Maka kalau ada yang mengatakan bahwa isi kepala banyak wartawan kita tidak memiliki kesadaran etis, ideologi dan wawasan kebangsaan, bisa jadi ada benarnya. Gejala ini menakutkan karena ketika nanti teknologi sudah maju, mereka akan mudah digantikan robot-robot penulis, yang sudah diajari menulis, mendeskripsikan, memasukkan angka-angka. Robot-robot itu kini sudah berhasil menulis berita pertandingan olahraga, bahkan lebih telaten dan komplet karena semua angka sudah tertanam di “otaknya”. Begitu pula berita bursa, yang sisi pentingnya adalah naik turun nilai saham, pergerakan keluar masuk modal, yang fokus pada angka.
    Teori mengatakan media, wartawan, adalah agen perubahan dengan karya jurnalistik yang memberikan wawasan, informasi yang inspiratif, semangat untuk maju, contoh keberhasilan, dan harapan bahwa sisi lain dari kesulitan adalah peluang. Untuk sampai di sana memang harus ada kesadaran pada diri wartawan dan pengelola media bahwa beritanya berdampak bagi audiensnya secara cepat atau pelahan. Dia harus punya ideologi bahwa dia bekerja untuk kepentingan masyarakatnya, bangsanya, bukan untuk dirinya sendiri, apalagi bossnya di kantor.
    Oleh karena itu kalau masyarakatnya sedang kesulitan maka dia harus ikut merasakan, lalu ikut mencari solusi. Minimal dengan menenangkan hatinya, dan kalau bisa mencarikan jalan keluar bersama-sama lewat berita yang memberi harapan, contoh orang atau pihak yang mampu lepas dari penderitaan dengan cara-cara tertentu. Keberhasilan pegawai kena PHK yang sukses menjadi wiraswasta mandiri, adalah contoh berita positif, yang membuat mantan karyawan menempuh upaya sejenis.
    Media memberikan pilihan-pilihan, alternatif, dari kebuntuan di masyarakatnya. Ketika Orde Baru berkuasa dan saluran aspirasi macet, banyak media di Indonesia yang memuat berita tentang praktik demokrasi di negara lain. Selain memberi harapan pada masyarakat yang tidak berdaya, berita itu sekaligus menyindir kekuasaan agar memberi kelonggaran pada warganya.
    Pertanyaannya sekarang, apakah wartawan kita memiliki kompetensi untuk membuat berita yang “solutif”, berita yang berempati terhadap penderitaan masyarakatnya, berita yang membuat pembacanya lega dan optimistis? Apakah wartawan masih membaca buku-buku di kepustakaan atau membaca hati masyarakat dengan sering terjun ke lapangan dan mendengar apa yang mereka keluhkan dan harapkan?
    Hanya wartawan dari media tertentu yang masih melakukannya. Wartawan pada umumnya makin malas membaca dan turun ke lapangan. Undang-Undang Pers, Kode Etik Jurnalistik dan turunannya saja mungkin hanya sekali dibaca yakni sewaktu ikut uji kompetensi. Apalagi buku-buku pengetahuan untuk mendukung tugas jurnalistiknya. Paling juga googling, atau bertanya, yang berakibat pemahaman tentang suatu hal hanya di permukaan saja.
    Ke lapangan menjadi sesuatu yang langka, kecuali kalau ke kantor humas dianggap lapangan. Press release dari humas pun kini sudah dikirimkan via emal, atau WA, jadi wartawan tinggal menyalinnya—kadang masih dengan judul yang sama—lalu menurunkan berita itu dengan mencantumkan namanya.
    Padahal sebelum menuliskan beritanya, seorang wartawan mestinya bertanya pada diri sendiri dulu, untuk apa berita ini saya tulis. Jawabnya tentu, untuk publik. Maka berita itu haruslah sebesar-besarnya diupayakan bermanfaat bagi publik. Publik mana? Tentu saja publik yang ada di sekeliling kita, dari lingkungan sampai ke seluruh masyarakat itu sendiri. Semangat menulis untuk publik ini akan memberikan darah segar, tapi juga empati, ketika wartawan menuliskan kata demi kata, kalimat demi kalimat. Karena dia tahu karya jurnalistiknya itu akan memberikan kesenangan, kegembiraan, inspirasi, bagi sasaran yang ditujunya.
    Wartawan tidak menulis untuk memuaskan dirinya sendiri. Tidak memuaskan orang perorang, untuk si narasumber atau kelompok tertentu. Atau entitas bisnis tertentu yang telah memberikan keuntungan, manfaat bagi wartawan atau per situ. Atau yang mengirimkan rilis demi rilis dan di akhir bulan memberikan bayaran tertentu.
    Kita patut bangga karena UU Pers telah menghilangkan bredel, sensor, dan menghapus pasal yang bisa memenjarakan wartawan karena karya tulisnya. Kita menjadi negara yang medianya boleh menulis apa saja, dan sanksinya hanya berupa hak jawab dan atau dengan permintaan maaf karena telah melanggar kode etik. Kemerdekaan pers hasil reformasi tahun 1998 itu patut disyukuri bukan hanya oleh pers tetapi masyarakat pada umumnya karena mereka lalu ikut menikmatinya karena pers bisa memuat apapun aspirasi mereka.
    Tidak usah jauh-jauh bertanya, apa yang sudah pers berikan bagi bangsa ini. Cukup kita bertanya apakah yang sudah saya lakukan untuk memperbaiki diri sendiri. Memperbaiki khazanah pers yang kini sering disebut kebablasan dan dibajak penumpang gelap? Pers yang asyik dengan dirinya sendiri dan seperti tidak peduli dengan sekelilingnya?
    Perusahaan pers harus mendefinisi ulang dirinya karena semakin besarnya peran media sosial dalam mensuplai informasi ke masyarakat. Semakin berubahnya pengertian media mainstream karena saat ini yang menjadi patokan, tidak lagi sekadar brand dan nama besar media, tetapi adalah topik-topik aktual yang dipetik dari mesin pencari? Terutama agar media massa tidak terjebak dalam urusan isi perut sehingga menjatuhkan dirinya dalam cengkeraman klikbait dan ikut-ikutan bermain di tataran judul.
    Yang juga harus dilakukan bersama adalah terus menerus meningkatkan kualiatas dan kapasitas wartawan agar semakin kompeten sehingga semakin berkurang keluhan atau pengaduan dari masyarakat, walau pada kenyataannya terus bertambah sebagaimana tergambar dari kasus yang dimediasi di Dewan Pers. Kesadaran itu harus ada pada diri wartawan, apabila dia menyatakan sebagai wartawan profesional, selain pada perusahaan medianya. Yang diwujudkan dengan karya-karya jurnalistik yang minimal sesuai standar dan taat pada kode etik jurnalistik, dan kalau bisa produk jurnalistik hebat dan memperoleh penghargaan nasional atau bahkan internasional.
    Kalau melihat produk jurnalistik di media internasional, kadang kita malu juga melihat apa yang dihasilkan wartawan di media kita. Seperti tidak ada upaya membuat karya jurnalistik yang bagus, seadanya saja, sehingga tidak malu kalau disandingkan dengan karya wartawan negara lain, seperti kalau meliput topik yang sama. Sering tanpa perspektif, kering dan kosong, melulu berisi kutipan narasumber, data yang disediakan, dan tidak ada upaya serius untuk memperkaya atau memberikan sudut pandang berbeda. Seperti tidak punya jati diri, tidak beridentitas. Semua mirip-mirip, atau malah sama.
    Padahal menjadi wartawan adalah pilihan pribadi. Mestinya menjadi maju dan profesional adalah sikap diri dan bukan kehendak perusahaan pers. Mau perusahaan bangkrut, saya harus maju dan terus maju. Karya tulis saya harus bagus dan semakin bagus. Saya tidak akan terganggu oleh berbagai “cengkonek” di sekeliling saya. Karena tulisan saya adalah jati diri saya, dan saya malu kalau sampai tulisan saya hanya begitu-begitu saja.
    Tetapi masih adakah wartawan masa kini yang bersikap seperti itu?

     

    Wallahu a’lam bishawab.
    Ciputat, 17-08-2021

  • PWI dan Imigrasi Mataram Gelar Layanan Eazy Passport

    PWI dan Imigrasi Mataram Gelar Layanan Eazy Passport

    MATARAM–Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Barat (NTB) bersama Kantor Imigrasi Kelas I Tempat Pemeriksaan Imigras (TPI) Mataram menggelar layanan Eazy Passport bagi kalangan wartawan di Mataram, Senin (16/8/2021).

    Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Tri Prasetya RRI Mataram tersebut diikuti puluhan wartawan dari sejumlah media massa, baik cetak, elektronik dan media online. Sinergi ini dalam rangka mempermudah kalangan pers mendapat layanan pembuatan passport secara kolektif.

    Ketua PWI NTB, Nasrudin Zein mengatakan, mobilitas kalangan pers di NTB belakangan ini keluar negeri cukup tinggi, termasuk untuk kepentingan liputan. Untuk itu, kehadiran Eazy Passport saat pandemi covid 19 seperti saat ini, sangat mempermudah pers baik untuk pembuatan passport baru maupun perpanjangan.

    “Kami apresiasi pihak Imigrasi Mataram yang memberikan layanan ini. Alhamdulillah kegiatannya berjalan lancar,” tambahnya.

    Sementara itu, Kepala seksi lalu lintas Keimigrasian, Made Surya Artha di sela-sela kegiatan layanan itu menjelaskan, eazy passport merupakan terobosan Direktorat Jendral Imigrasi dalam memberikan pelayanan paspor dengan sistem jemput bola.

    “Jadi melalui program ini kami dari Imigrasi tetap memberikan pelayanan di masa pandemi. Masyarakat tidak perlu datang ke kantor, tapi kami yang datang ke pemohon. Jadi harus ada perkumpulan atau kelompok yang mengajukan permohonan, seperti yang dilakukan PWI NTB ini,” jelas Surya.

    Menurut Surya, petugas akan mendatangi langsung kelompok masyarakat yang mengajukan permohonan pembuatan paspor di lokasi. Dalam prosesnya, Imigrasi juga tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

    “Ini bukti Imigrasi Mataram  memberikan layanan saat pandemi Covid-19. Prosesnya pun bisa dilihat dilaksanakan dengan prokes Covid-19 cukup ketat,” tambah Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian, Wisnu Ontoaji.

    Eazy Passport kata, Wisnu juga menjadi solusi dari Imigrasi untuk menghindari adanya kerumunan masyarakat yang melakukan pengurusan paspor di kantor imigrasi, seperti yang terjadi biasanya.

    “Pengajuan permohonan program ini bisa dilakukan oleh instansi pemerintah, BUMD, instansi swasta, instansi pendidikan, komunitas, yayasan. Bahkan bisa dari masyarakat yang ada di kompleks perumahan,” jelas Wisnu.

    Jenis permohonan paspor yang dilayani dalam program Eazy Pasport antara lain, permohonan paspor baru, permohonan penggantian paspor karena habis masa berlaku dan permohonan penggantian paspor karena halaman penuh. (rls)

  • Bale Wartawan’ Badminton Cup, Mulai Digelar

    Bale Wartawan’ Badminton Cup, Mulai Digelar

    LOMBOK TIMUR – Insan Pers di Lombok Timur punya kegiatan menarik dalam memeriahkan HUT RI dan HUT Lombok Timur.  Apa itu?

    Turnamen ‘Bale Wartawan Badminton Lotim Cup 2021’. Even itu mulai digelar Minggu (15/8). Peminatnya juga cukup lumayan. Pertandingan dengan sistem group itu diikuti 42 peserta dari sejumlah kalangan.

    Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, Drs HM Juaini Taofik, MAp yang membuka turnamen Bale Wartawan Badminton Cup berharap, kegiatan itu dijadikan kalender insan pers setiap tahun.

    Selain itu, Juaini Taofik berharap turnamen ini tidak sekadar menjadi ajang memeriahkan HUT RI ke-76 dan HUT Lombok Timur ke-126, tetapi lebih dari itu untuk menjalin silaturrahmi dengan kalangan jurnalis khususnya di Lotim.

    “Turnamen ini bisa diselenggarakan setiap tahun,” pinta Juaini Taofik di hadapan peserta Turnamen Bale Wartawan Badminton Lotim Cup 2021 di GOR Bale Wartawan, Selong, Lombok Timur.

    Sementara itu, Ruhaeli Ketua Panitia Bale Wartawan Badminton Cup mengatakan, ajang pertandingan bulu tangkis ini bukan untuk mencari siapa yang terbaik. Tapi lebih mengutamakan kebersamaan dan silaturrahmi semua pihak.

    “Gagasan turnamen ini spontan dari rekan-rekan wartawan di Lotim untuk memeriahkan HUT RI dan HUT Lotim,” ujarnya

    Dalam kesempatan itu pula, digelar pertandingan pembuka antara pasangan Sekda Lotim Drs Juaini Taofik – Kasi Intel Kejari Lotim LM Rasidi, SH melawan Hadi – Rosyid (wartawan Warta Rinjani).

    Pertandingan tersebut dimenangkan pasangan Sekda Lotim-Kasi Intel dengan kemenangan rubber set 16-21, 21-17, 21-16. (rls)

  • Gubernur: Pinjaman Daerah untuk Rumah Sakit dan Jalan

    Gubernur: Pinjaman Daerah untuk Rumah Sakit dan Jalan

    MATARAM–Gubernur NTB, Dr H Zulkieflimansyah menegaskan pinjaman dana sebesar Rp 750 miliar yang diajukan pemerintah Provinsi NTB kepada PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) diprioritaskan untuk dua item pembangunan prioritas.

    Yakni, perbaikan Infrastruktur jalan yang tersebar di sepuluh kabupaten kota sebesar Rp 250 miliar. Pengembangan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi NTB senilai Rp 500 miliar.

    “Dana ini kami prioritaskan untuk pengembangan rumah sakit dan perbaikan jalan,” tegas gubernur usai
    Penandatanganan Perjanjian Pinjaman Daerah bersama Direktur PT SMI melalui virtual di Ruang Rapat Utama Kantor Gubernur NTB, Jumat (13/08).

    Menurut Dr Zul sapaan akrabnya, pengembangan RSUP NTB bertujuan untuk meningkatkan layanan kesehatan kepada masyarakat serta mampu menghadirkan rumah sakit yang memiliki pelayanan standar internasional untuk mendukung penyelenggaraan MotoGP 2022 dan even internasional lainnya di NTB. Begitu juga dengan perbaikan infrastruktur jalan yang diharapkan dapat meningkatkan kegiatan ekonomi masyarakat dan membangkitkan destinasi pariwisata.

    Dengan dana pinjaman itu lanjut Dr Zul, pemerintah akan memaksimalkan pembangunan sebagai tanggung jawab pemerintah demi memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik kepada masyarakat serta memperbaikin infrastruktur jalan yang akan mendongkrak perekonomian masyarakat NTB.

    “Terima kasih banyak kepada PT SMI. Mudah-mudahan kami mampu melaksanakan amanah ini secara maksimal demi NTB yang kami cintai,” imbuh Dr Zul

    Penandatanganan perjanjian pinjaman tersebut turut disaksikan oleh Wakil Gubernur NTB, Dr Hj Sitti Rohmi Djaliala, Sekda NTB, Drs H Lalu Gita Ariadi, Ketua DPRD NTB, Baiq Isvie Rupaeda serta seluruh kepala OPD lingkup Provinsi NTB. (rls/has)

  • Komunikasi Penanganan Wabah Memburuk, SMSI Ingatkan Kemenkominfo

    Komunikasi Penanganan Wabah Memburuk, SMSI Ingatkan Kemenkominfo

    JAKARTA – Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat Firdaus optimistis tingkat kepercaayaan publik terhadap hasil kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan kembali pulih khususnya dalam kerangka penanganan wabah COVID-19 yang bermuara pada pemulihan ekonomi.

    Tentu ini dengan sejumlah catatan yang melandasinya. Kerangka pertama, adalah dengan memfokuskan komunikasi pada satu pintu. Tidak lagi menggunakan banyak pintu, sehingga pesan dan kebijakan yang ditetapkan Presiden Jokowi sampai dan tidak menimbulkan kegamangan dan berpotensi memunculkan polemik di masyarakat.

    Sebenarnya, sambung Firdaus, pintu komunikasi paling strategis melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). ”Sayangnya hingga hari ini, Kominfo tidak memainkan peran itu. Tidak ada capaian maksimal yang diraskan masyarakat dengan hadirnya Kemenkominfo. Direct message dari Istana tidak sampai ke publik,” terang Firdaus, Rabu (4/8/2021).

    Urusan data sebaran wabah COVID-19 di daerah hingga jumlah pasien yang terkontaminasi misalnya, semua bertumpu pada BNPB. Padahal, beban dan tugas BNPB bukan pada urusan menyebarkan data apalagi informasi. BNPB lebih pada proses penanganan kebencanan. Meski pun, kini COVID-19 juga masuk dalam urgensi kerja BNPB. Hingga saat ini, dari seribu lebih media yang tergabung di SMSI, satupun belum ada yang tersentuh. Ini mungkin karena beratnya tugas BNPB.

    Setelah BNPB, tugas yang berat dari sisi komunikasi kini ada di pundak Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Fakta ini begitu kasat mata, jika dilihat dari pola kerja yang dilakukan Menkes Budi Gunadi Sadikin.

    Hampir setiap hari, turun ke lapangan melakukan cross check information di daerah, baik yang berkaitan dengan program vaksinasi, hingga pengendalian wabah.

    ”Lihat saja urusan penanganan dan informasi sebaran vaksin sampai obat. Semua informasi tertuju di Kemenkes dan BNPB. Artinya, Kemenkominfo tidak akan mampu menjawab semua yang dibutuhan publik khususnya soal informasi data,” tandasnya.

    Lalu apa tugas Kemenkominfo? Mantan Ketua PWI Banten dua periode ini menilai, fungsi komunikasinya Kemenkominfo di bawah kendali Menteri Johnny G. Plate tidak berjalan. Sangat jauh dari harapan.

    ”Jangankan soal data sebaran wabah dan urusan informasi vaksin dan kebijakan yang dikeluarkan Presiden, untuk urusan bagaimana menyampaikan manfaat dari kebijakan PPKM saja, nyaris semua media terfokus pada informasi yang disajikan BNPB atau Kemenkes, bukan Kemenkominfo yang seharusnya bisa menyampaikan pesan ini,” terang Firdaus.

    Wajar, sambung dia, jika hasil survei yang dirilis Lembaga Survei Indonesia (LSI) 20-25 Juni 2021 lalu, menunjukan angka-angka demikian. Kepercayaan terhadap Presiden Jokowi terkoyak lantaran komando komunikasi tidak berjalan.

    Data LSI jelas terpampang. Maka wajar pula, jika Presiden segera mengganti Johnny G. Plate dari kursi menteri. Cari sosok yang ideal yang mampu bekerja sesuai dengan fungsi dan kedudukannya. Karena jelas-jelas pola kerja Kemenkominfo tidak dirasakan.

    ”Silahkan tanya rekan-rekan media atau pemerhati komunikasi, apa manfaat dari Kemenkominfo di saat seperti ini. Lalu mengapa demikian? SMSI yakin Presiden punya catatan sendiri,” jelas Firdaus.

    Jika fakta-fakta ini dibiarkan, tentu akan berdampak pada kinerja Presiden Jokowi. Kegamangan di masyarakat terhadap lankah kinerja Presiden tidak terlihat dan dirasakan. Sementara akar persoalan nasional terkait naiknya angka pengangguran, kemiskinan dan buruknya sisi kesehatan terus menjadi ’hantu’ di republik ini.

    ”Ya, bukannya membaik tapi semakin buruk. Jika ini dibiarkan berlarut-larut maka dampaknya terus meluas. Komunikasi dalam penanganan wabah akan terus memburuk. Publik resah hingga akhirnya, berita-berita negatif begitu deras berselancar di ponsel masyarakat. Karena pola komunikasi dan informasi tidak searah. Kemenkominfo tidak bisa memainkan peran strategisnya,” terangnya.

    Faktor kedua, Kemenkominfo harus mampu memainkan perannya sebagai jembatan penghubung dengan menggandeng lembaga atau asosiasi media, tokoh publik, tokoh agama baik nasional dan daerah dalam menyampaikan pesan-pesan Pemerintah Pusat yang diharapkan berimplikasi positif di masyarakat.

    ”Pola kerja dalam menggandeng media dan tokoh publik saja tidak terlihat yang dilakukan Kemenkominfo. Johnny G. Plate lebih asik bermain sendiri dengan konsep kerjanya. Jujur saja kami kecewa, Kemenkominfo tidak bisa berbuat banyak terhadap kondisi saat ini,” tegas Firdaus.

    Sebagai serikat media, sambung Firdaus, SMSI hanya mengingatkan, memberikan warning kepada Kemenkominfo untuk lebih lunak dan fleksibel dalam membuat terobosan dalam sisi komunikasi sebagai upaya membantu pemulihan kondisi bangsa.

    ”Kami berharap Johnny G. Plate sadar dengan kondisi dan fakta-fakta ini. Sadar pula bahwa Kementerian di bawah komandonya belum bisa berbuat banyak, lantaran sisi komunikasi tidak berjalan dengan baik. Mudah-mudahan Presien Jokowi juga bisa memaknai kritik ini sebagai landasan. Satu harapan kami, Indonesia lekas sembuh,” tutup Firdaus.

    Senada disampaikan Pengamat Kebijakan Publik dan kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakar Universitas Prof Dr Moestopo (beragama) Taufiqurokhman.

    Dalam penegasannya Taufiqurokhman melihat munculnya hasil Survei LSI terkait trend Presiden Jokowi menurun, sampai di bawah 50 persen karena ternyata pemerintah pusat tidak bisa mengendalikan penyebaran Pandemi Covid-19 di Pulau Jawa Bali dan seluruh Indonesia.

    ”Hanya beberapa negara secara sistemstis dan masif penyelesaianya. Baik dari testing, tracing treatment. Soal pelaksanaan PPKM Darurat yang dianggap gagal malah dilanjutkan oleh pemerintah pusat yang lagi-lagi aturanya sangat tidak siap dilaksanakan. Jadi wajar kalau lampu kuning masyarakat menyala kepada pemerintahan Presiden Jokowi,” terangnya.

    Bahkan sambung Taufiqurokhman, kini muncul bendera putih setengah tiang berkibar lantaran publik menyerah dengan kondisi saat ini. ”Lalu apa yang harus dilakukan? Presiden Jokowi sudah benar menggenjot agar bansos segera dibagikan ke masyarakat. Karena selama PPKM darurat hampir tidak ada bansos untuk masyarakat yang terdampak,” jelasnya.

    Terkait adanya permintaan dari masyarakat agar Rapid Test, PCR atau Swab digratiskan bagi masyarakat hal ini sangat relevan. ”Jangan seperti PPKM Darurat jumlah testing menurun lantas diklaim sebagai keberhasilan. Sungguh sangat bahaya mengambil kesimpulan dengan permasalahan yang kurang tepat treatmentnya,” jelasnya.

    Taufiqurokhman juga menilai Kemenkominfo harus mengampil peran-peran strategis dalam pemberitaan dan memberikan siaran beredukasi. ”Banyak televisi yang menyiarkan menakut-nakuti masyarakat. Lalu apa peran Kemenkominfo. Maka berikan informasi seperti yang diharapkan Presiden Jokowi yakni informasi positif yang menyebar optimisime,” imbuhnya.
    Selanjutnya, Kemenkominfo juga harus menggandeng perguruan tinggi yang masih mendapatkan kepercayaan tinggi dari masyarakat. Perguruan Tinggi swasta dan negeri harus digandeng dalam vaksinasi gratis buat mahasiswa fan dosen serta masyarakat sekitarnya.

    ”Perguruan tinggi porsinya diberikan lebih untuk tampil menyebarkn berita positif atau memberikan penyebar optimisme. Jangan terlampu banyak para politisi yang jelas berkepentingan utk menaikan citra partai atau hanya cari popularitas. Berikan kegiatan-kegiatan posotif pada perguruan tinggi agar mendukung menyebarkan nerita postif atau optimisme,” paparnya.

    Menanggapi kondisi saat ini, Praktisi media sekaligis pengamat sosial Dhiman Abror juga angkat bicara. Dikatakannya, dalam perspektif survei dan polling, tingkat kepercayaan terhadap seorang pemimpin yang naik turun adalah fenomena biasa.

    ”Para pemimpin dunia pun mengalami fenomena yang sama, ketika dia membuat kebijakan populer dan membuat senang masyarakat pasti popularitas dan kepercayaan publik naik. Sebaliknya kalau dia membuat kebijakan yang tidak populer maka kepercayaan publik akan turun,” jelas mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos ini.

    Dikatakan Dhiman, kebijakan PPKM yang diambil Presiden Jokowi kali ini tidak populer di mata masyarakat, selain itu, penanganan pandemi secara umum oleh pemerintah dianggap kurang efektif, karena itu kepercayaan masyarakat pun turun.

    ”Otomatis kredibilitas pemimpin itu turun di mata masyarakat, dia juga akan dianggap sebagai pemimpin yang kurang efektif. Kalau dikaitkan dengan perhelatan pilpres para ahli survei akan melihat angka di bawah 50 persen bagi petahana ini sudah masuk kategori lampu kuning yang harus diwaspadai,” urai Dhiman.

    Dirinya pun mengkrituisi sikap posisi Kemenkominfo. ”Ya Kemenkominfo tentu tidak bisa bekerja sendirian karena persoalannya kompleks. Tetapi kominfo seharusnya bisa memainkan fungsi yang lebih efektif dalam mendesain dan mengeksekusi komunikasi politik pemerintah. Dalam hal ini masih sangat banyak kelemahan yang ada di kominfo,” ungkapnya.

    Lalu apa yang harus dilakukan Kemenkominfo sebagai salah satu Kementerian yang memiliki tupoksi kamunikasi lintas sektoral, untuk meningkatkan kepercayaan publik ini?

    Dhiman berharap Kemenkominfo harus lebih bisa merangkul semua elemen masyarakat supaya komunikasi politik pemerintah lebih efektif. Kominfo bisa lebih mengintensifkan kerjasama dengan “opinion leader” dan “opinion maker” dari kalangan masyarakat.

    ”Kemenkominfo harus melakukan pendekatan lebih intensif dengan para pemimpin informal di kalangan masyarakat. Selain itu Kominfo harus lebih intensif bekerjasama dengan media yang bisa menjadi ujung tombak komunikasi massa dengan masyarakat,” jelasnya.

    Akademisi Untirta Boyke Pribadi juga menguraikan beberapa hal yang menjadi faktor menurunya tren kepercayaan publik terhadap Jokowi. Salah satunya disebabkan karena komunikasi yang tidak terarah.

    Kesimpangsiuran informasi dan adanya ketidak konsistenan informasi dari atas sampai bawah ditambah dengan kepanikan masyarakat di era pandemi yang cenderung menyimpulkan informasi dengan cepat sesuai selera pribadi ditambah dengan pesatnya teknologi informasi yang mempercepat tersebarnya.

    Kabar hoaks atau informasi bohong menyebar begitu deras. Padahal ini terkait kepercayaan kepada kepemimpinan Fulltrust society adalah kondisinya sangat sempurna bagi kepemimpinan, dan kondisi rawan ada pada tingkat low trust atau bahkan zero trust society.

    ”Kemenkominfo harus berperan optimal dalam menjembatani komunikasi antara atas dan bawah hanya saja kominfo disibukkan dengan mengatasi persoalan hoaks,” tandasnya.

    Johnny G. Plate harus meniru gaya Harmoko untuk menjembatani komunikasi antara Presiden dengan masyarakat. ”Pada masa Harmoko sangat dikenal komunikasi efektif dengan memanfaatkan media. Dalam kondisi sulit seperti ini, agar seluruh informasi tidak bias, jika kementerian tidak dapat berdiri di tengah, mungkin agar komunikasi dapat efektif dapat mengoptimalkan komunikasi milik pemerintah Seperti TVRI dan RRI,” urainya.

    Boyke Pribadi yang juga Ketua ICMI orwil Banten, meminta Kemenkominfo untuk membangkitkan modal sosial bangsa menuju fulltrust society, dengan mengurangi blunder-blunder berkomunikasi yang terjadi dan mampu memanfaatkan media media milik pemerintah agar menjadi media yang sangat terpercaya.

    ”Berikan masyarakat bukti bukan hanya janji. Janji-janji manis sangat tidak diperlukan pada masyarakat dengan kondisilow trust atau bahkan zero trust dengan demikian kita bisa keluar dari kondisi pandemi dengan baik,” timpal Boyke Pribadi.

    Dugaan ketidak-adilan Kemkominfo dalam penyaluran bantuan melalui program Diseminasi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), mengundang reaksi keras dari para pengusaha media siber di berbagai daerah.

    Para pengusaha media siber yang tergabung dalam Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menolak penyaluran KPCPEN yang disebut ”Berkah Presiden Jokowi”, karena mereka nilai pelaksanaannya tidak adil, diskriminatif, dan merendahkan martabat media siber. Protes ketidakpercayaan tersebut, terungkap dari berbagai media di daerah untuk Peninjauan ulang Pegiatan Desiminasi KPCPEN di Kemenkominfo.

    Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan atas surat dari SMSI dan konfirmasi dari kementerian. (ful/smsi)

  • Kepercayaan Terhadap Jokowi Menurun, Komunikasi Harus Langsung  Komando Presiden

    Kepercayaan Terhadap Jokowi Menurun, Komunikasi Harus Langsung  Komando Presiden

    JAKARTA–Survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang sikap publik terhadap vaksin dan vaksinasi. Salah satu yang ditanya ke publik tentang tingkat kepercayaan mereka pada kemampuan presiden dalam menangani pandemi meluncur hingga berada di angka 43 persen.

    Untuk lebih dekat pada memahami masalah, hingga kita dapat memahami mengapa hal tersebut dapat terjadi. Menurut
    Djayadi Hanan, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia LSI, trend kepercayaan publik pada Jokowi menurun hingga di bawah lima puluh persen.

    “LSI melakukan survei tanggal 20-25 Juni, 2021 tentang sikap publik terhadap vaksin dan vaksinasi. Salah satu yang ditanya ke publik tentang tingkat kepercayaan mereka pada kemampuan presiden dalam menangani pandemi. Survei ini menemukan tingkat kepercayaan terhadap presiden dalam menangani pandemi berada di angka 43%, menurun bila dibandingkan dengan dengan Februari 2021 (56,5%)” ujarnya pada wartawan.

    Mengapa kepercayaan tersebut menurun?

    Menurut Djayadi  besar kemungkinan karena dua hal: Pertama keadaan ekonomi memburuk dibanding awal tahun. Ini menurut masyarakat dan ditemukan dalam survei tersebut.

    Kedua, situasi kesehatan/pandemi juga memburuk terutama mulai awal Juni, kasus Covid meningkat tajam, rumah sakit kewalahan, oksigen susah didapat, kematian meningkat tajam, dan seterusnya. Tentu ini juga terkait dengan cara komunikasi pemerintah yang terlihat tidak sinkron satu sama lain. Ada yang bilang terkendali, ada yang bilang tidak, dan seterusnya.

    Masih menurut Djayadi, untuk meningkatkan kembali kepercayaan tersebut: Pertama, pemerintah fokus menangani pandemi terutama pembatasan sosial tapi harus disertai dengan pemberian bantuan sosial yang cepat dan tepat kepada masyarakat yang terdampak. Kalau masyarakat dibatasi tapi tidak disediakan makannya (terutama masyarakat menengah ke bawah) maka upaya menurunkan jumlah kasus dan menangani pandemi melalui pembatasan sosial akan mendapatkan perlawanan dari masyarakat. Bantuan sosial yang ada sekarang terlambat penyalurannya, PPKM darurat sudah berjalan sejak 3 Juli tapi bantuan sosial baru mulai diberikan sejak tanggal 19 Juli (terutama di Jakarta, daerah lain mungkin lebih terlambat).

    Kedua, pemerintah benar-benar menunjukkan ke masyarakat bahwa mereka mengikuti betul rekomendasi dari para pakar kesehatan dan bencana, seperti para epidemiolog dan unsur-unsur  kesehatan yang lainnya, sehingga masyarakat juga yakin bahwa pemerintah tidak coba-coba dan punya rencana yang jelas.

    Ketiga, komunikasi politik pemerintah harus terlihat padu, dibawah komando langsung presiden, tidak ada lagi simpang siur informasi dari berbagai pejabat terkait.

    Djayadi juga menyampaikan  kementerian Kominfo memastikan koordinasi dan sinergi komunikasi antarinstansi yang menangani penanggulangan pandemi dan ekonomi agar tidak terjadi tumpang tindih  komunikasi. Dan, itu semua harus berada di bawah komando presiden langsung,” ungkap Djayadi. (smsi)

  • Konstituen Perlu Punya Keterwakilan di Dewan Pers

    Konstituen Perlu Punya Keterwakilan di Dewan Pers

    JAKARTA- Konstituen Dewan Pers  perlu mempunyai keterwakilan di Dewan Pers (DP) agar setiap asosiasi  konstituen memiliki akses informasi dan kebijakan dalam mengantisipasi berbagai persoalan masyarakat pers yang semakin komplek.

    Dengan demikian, diharapkan setiap asosiasi konstituen memiliki kesempatan untuk terus berkembang bersama.

    Itulah gagasan yang muncul dari peserta rapat pleno Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), yang menaungi sekitar 1.300 media siber di seluruh Indonesia.

    Rapat pleno itu sendiri barlangsung Rabu sore (28/7/2021) via online yang diikuti oleh para ketua pengurus SMSI daerah dan pengurus lainnya yang tersebar di 34 provinsi.

    Rapat dihadiri juga Pengurus harian SMSI Pusat  antara lain, Bendahara Iwan Jamaluddin, Ketua Bidang Pendataan dan Verifikasi SMSI Wilson Bernardus Lumi, Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan Dr Retno Intani ZA, M.Sc, Ketua Bidang Luar Negeri Aat Surya Safaat, Wasekjen Heru.

    Sidang pleno yang dipimpin oleh Ketua Umum SMSI Firdaus memutuskan SMSI akan mengirimkan calonnya untuk turut mengisi posisi anggota DP untuk periode yang akan datang.

    Sistem penjaringan pencalonannya telah ditetapkan, semua peserta pleno mengusulkan empat nama. Nanti nama yang diusulkan, akan disaring kemudian diajukan menjadi calon anggota DP.

    “Dan, calon dari SMSI yang nanti terpilih yang merupakan utusan SMSI tersebut, tidak boleh hanya bekerja untuk SMSI, tapi harus memperhatikan semuanya, semua kelompok, dan semua konstituen DP, demi kemajuan dan kemerdekaan pers,” kata Firdaus yang didampingi
    Anggota  Penasihat SMSI Ervik Ary Susanto, dan Ketua Bidang Hukum, Arbitrase, dan Legislasi Hendra J. Kede.

    Pada kesempatan tersebut, disepakati untuk memberikan kesempatan kepada seluruh jajaran pengurus SMSI, dan Ketua Umum tidak diusulkan menjadi calon.

    “Agar adil, hanya pengurus yang kita usulkan dan Ketua Umum SMSI tidak perlu diusulkan untuk menjadi anggota dewan pers” ujar Firdaus.

    SMSI Usul Anggota DP 15 atau 3 Orang

    Sidang pleno SMSI yang juga membahas perkembangan pelaksanaan program Komisi Penanggulangan Covid-19 dan Percepatan Ekonomi Nasional (KPCPEN) yang mendapat kritik keras dari kalangan pengusaha siber anggota SMSI, menyepakati rencana usulan anggota DP berjumlah 15 orang.

    Usulan jumlah anggota itu sebenarnya telah disepakati oleh pengurus Pusat dan diusulkan oleh Ketua Umum SMSI Firdaus dalam rapat  online yang diselenggarakan DP yang dihadiri para konstituen DP 16 Juli 2021.

    Firdaus mengusulkan perlunya menambah anggota DP dari 9 orang seperti yang berlaku belakangan ini, menjadi 15 orang.

    Jika disepakati anggota DP hanya tiga orang, maka utusan konstituen dapat dibentuk Deputi DP, yang membawahi menggerakkan Pokja.

    Senada dengan Firdaus, Wilson Bernardus Lumi, Ketua Bidang Pendataan dan Verifikasi SMSI Pusat juga berpendapat, dua pilihan yakni lima belas atau tiga orang anggota DP tersebut, supaya urusan-urusan seperti pendataan dan verifikasi yang selama ini menunggu kehadiran anggota DP, dapat segera diselesaikan. “Ini penting. Di daerah masih banyak perusahaan pers yang belum didata,” kata Lumi menguatkan usulan para ketua SMSI  daerah.

    “Kita perlu perubahan komposisi anggota DP untuk menuntaskan banyak pekerjaan di berbagai daerah, terutama verifikasi media. Mau bertambah menjadi 15 atau dirombak cukup tiga anggota saja, supaya efisien dengan mengubah perangkat yang memadai, mungkin saja,” kata Firdaus yang juga didampingi Ketua Bidang Organisasi SMSI Pusat Cahyonoadi Raharyo Sukoco.

    Pada kesempatan yang sama, M. Nasir selaku sekretaris Jenderal SMSI juga mengatakan, rencana usulan jumlah anggota DP itu telah mempertimbangkan beban tugas DP seiring pertambahan jumlah media massa yang sekarang meningkat di seluruh Indonesia.

    Nasir juga berharap, dalam kondisi sulit di masa pandemi Covid-19 seperti ini, DP mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi terkini. “Bisa menggerakkan seluruh potensi konstituen dengan pola mengakomodasi untuk bergerak bersama,” kata Nasir.

    Rapat pleno yang dimoderatori oleh Wakil Sekjen SMSI Yono Hartono, memberi kesempatan seluruh peserta pleno untuk menyampaikan masukan dan usulan berbagai hal, terutama terkait pengembangan perusahaan media siber. (smsi)