Andai Orang Tahu
Andai orang tahu,
gelar itu bukan sekadar huruf di belakang nama,
bukan sekadar tepuk tangan di ruang wisuda,
atau foto tersenyum dengan toga dan selempang kebanggaan.
Ia adalah jejak panjang
yang kadang tak terlihat,
di balik mata yang kurang tidur
dan hati yang sering hampir runtuh.
Magister—
lahir dari malam-malam sunyi
yang disertai tumpukan jurnal,
kopi yang mendingin tanpa sempat diteguk,
serta doa lirih agar esok tetap kuat berdiri.
Di antara tuntutan keluarga,
pekerjaan yang tak menunggu,
dan tanggung jawab sosial yang terus memanggil,
ada mimpi yang diperjuangkan diam-diam—
agar ilmu tak berhenti di satu titik.
Dokter—
bukan merasa tentang paling tahu,
melainkan tentang semakin sadar
betapa luasnya samudra pengetahuan,
dan betapa kecilnya diri ini di hadapan-Nya.
Ia ditempa oleh revisi yang tak terhitung,
oleh kritik yang kadang terasa pedih,
oleh sidang yang menguji bukan hanya logika,
tetapi juga keteguhan jiwa.
Ada air mata yang jatuh tanpa saksi,
ada rasa ingin menyerah yang berkali-kali datang,
namun selalu ada satu kalimat yang menguatkan:
“Ilmu adalah amanah.”
Andai orang tahu,
gelar itu dibayar dengan waktu bersama keluarga yang terlewat,
dengan undangan yang tak sempat hadir,
dengan lelah yang disembunyikan di balik senyum profesional.
Ia bukan sekadar prestise,
Namun janji—
janji untuk mengabdi lebih luas,
Berpikir lebih dalam,
dan memberi lebih banyak.
Maka bila suatu hari kau melihatnya
seseorang menyandang magister atau doktor,
jangan hanya melihat hurufnya.
Lihatlah perjuangannya.
Kesabarannya.
Lihatlah doa-doa panjang yang mengiringinya.
Sebab di balik setiap gelar,
ada cerita tentang jatuh dan bangkit,
tentang sunyi yang dipeluk,
dan tentang kepercayaan diri
bahwa ilmu adalah jalan pulang
menuju kemuliaan hidup yang hakiki.
**Puisi ini dirangkai dengan bantuan AI sebagai alat bantu teknis. Ide dan makna tetap berasal dari penulis.






