Di sebuah sudut kota yang gemerlap, di antara gedung-gedung tinggi dan jalanan yang tak pernah sepi, seorang wanita bernama Ratna (nama rekaan) menatap dirinya di cermin. Wajahnya yang dulu cerah kini tampak kuyu. Sinar matanya redup, tak lagi memancarkan harapan. Di balik riasan tebal dan pakaian ketat yang membalut tubuhnya, ia merasa kosong. Lima tahun menjalani kehidupan sebagai wanita tunasusila telah merenggut semua kebahagiaan yang pernah ia miliki.
Ratna tidak pernah membayangkan akan berakhir di dunia seperti ini. Ia dulu adalah gadis desa yang polos, penuh harapan, dan bercita-cita menjadi perawat. Namun, impian itu hancur ketika seorang pria yang ia cintai dan percayai tega meninggalkannya setelah menghamilinya. Keluarganya menolak kehadirannya, mengusirnya dari rumah dengan penuh hinaan. “Kamu sudah mencoreng nama keluarga! Pergi dari sini!” suara ayahnya masih terngiang di telinganya.
Ratna pergi ke kota dengan perut membesar, berharap menemukan pekerjaan untuk bertahan hidup. Namun, kehidupan tidak seindah yang dibayangkannya. Tanpa pengalaman dan pendidikan yang cukup, ia terseret ke dalam dunia kelam. Bayinya lahir dalam kondisi lemah, dan karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit, ia harus merelakan buah hatinya diadopsi oleh keluarga lain.
Sejak saat itu, Ratna menyerah. Ia tenggelam dalam gelapnya kehidupan malam, berpindah dari satu pelanggan ke pelanggan lain demi bertahan hidup. Tetapi semakin lama, hatinya semakin hampa. Setiap malam yang ia jalani hanya menyisakan rasa jijik pada diri sendiri.
Malam itu, Ratna duduk termenung di kasurnya yang dingin. Bayangan masa lalu terus menghantui pikirannya. Seorang pelanggan baru saja pergi, meninggalkan selembar uang yang kini terasa lebih berat daripada batu di dadanya. “Sampai kapan aku begini?” bisiknya pada diri sendiri.
Tiba-tiba, suara adzan Isya berkumandang dari masjid kecil di ujung jalan. Hatinya bergetar. Sudah lama ia tidak mendengar adzan dengan hati yang tenang. Biasanya, suara itu hanya berlalu begitu saja, tak berarti apa pun baginya. Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu yang menekan dadanya, seperti panggilan yang tak bisa ia abaikan.
Air matanya mulai mengalir. “Apakah Tuhan masih mau menerimaku?” tanyanya lirih.
Dengan tangan gemetar, ia membuka lemari kecil dan menemukan mukena yang sudah lama tersimpan. Kainnya masih bersih, meski sudah lusuh. Dengan ragu, ia menggelar sajadah, lalu berdiri dalam sholat. Begitu takbir pertama terucap, air matanya mengalir semakin deras. Dalam sujudnya, ia menangis sejadi-jadinya.
“Ya Allah, aku kotor… Aku penuh dosa… Tapi aku ingin kembali… Aku ingin pulang…”
Malam itu menjadi titik balik dalam hidup Ratna. Ia berjanji untuk meninggalkan dunia lamanya, apapun risikonya.
Hari-hari berikutnya, Ratna mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi stigma masyarakat begitu kuat. Tak ada yang mau menerima wanita dengan masa lalu sepertinya. Berkali-kali ia ditolak, tapi ia tidak menyerah.
Suatu hari, ia bertemu dengan seorang ibu paro baya di sebuah warung makan. Wanita itu melihat Ratna duduk termenung dengan wajah murung. “Kamu kenapa, Nak?” tanyanya lembut.
Ratna ragu sejenak, lalu dengan hati terbuka ia menceritakan kisah hidupnya. Ia sudah siap menerima tatapan hina atau cemoohan, tapi wanita itu justru tersenyum dan menggenggam tangannya erat.
“Allah Maha Pengampun, Nak. Jika kamu sungguh-sungguh ingin berubah, selalu ada jalan. Ayo ikut ibu ke panti asuhan, mereka butuh orang sebaik kamu,” katanya.
Ratna hampir tidak percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang tidak memandangnya dengan jijik. Dengan penuh harapan, ia mengikuti wanita itu ke panti asuhan tempat anak-anak yatim diasuh dengan penuh kasih.
Di sana, Ratna menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Ia mengabdikan dirinya untuk membantu anak-anak, mengajarkan mereka membaca dan merawat mereka dengan penuh cinta. Hari demi hari, ia semakin merasa hidupnya berarti.
Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Tubuhnya mulai melemah, sering kali ia merasa pusing dan kelelahan. Setelah memeriksakan diri ke dokter, Ratna menerima kabar buruk. Penyakit yang selama ini ia abaikan telah mencapai stadium akhir.
Ratna tidak takut menghadapi kematian. Ia justru merasa damai, karena ia tahu bahwa ia telah berusaha kembali ke jalan yang benar.
Di hari terakhirnya, ia duduk di taman panti asuhan, menikmati senja yang indah. Seorang anak kecil bernama Aisyah berlari ke arahnya dan memeluknya erat. “Kak Ratna, jangan pergi…”
Ratna tersenyum lemah, membelai rambut bocah itu. “Allah Maha Pengampun, Sayang. Kakak sudah menemukan jalan pulang.”
Air mata Aisyah mengalir deras, sementara Ratna menutup matanya perlahan. Senja menyambutnya dengan kehangatan terakhir, membawa taubat dan harapannya ke hadapan Sang Maha Pengasih. (**)
**Cerpen ini dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan.
Ilustrasi: bing.com



