Di sudut hangat Dakota Society,
kita duduk tanpa perlu banyak alasan,
secangkir kopi mengepul pelan,
membawa rindu yang tak pernah benar-benar pulang.
Lampu-lampu redup seperti sengaja mengerti,
bahwa ada hati yang ingin bersembunyi,
di balik tawa yang kita bagi,
di antara diam yang lebih jujur dari kata-kata.
Kursi-kursi menjadi saksi,
tentang percakapan yang tak selesai,
tentang mimpi yang kita titipkan
pada malam yang enggan beranjak pergi.
Dan di sana,
di antara hiruk yang tak terlalu bising,
aku belajar satu hal yang paling sunyi—
bahwa kebersamaan kadang lebih rapuh dari sepi.
Namun tetap saja,
aku ingin kembali ke tempat itu,
bukan untuk mengulang cerita yang sama,
tapi untuk memastikan
bahwa pernah ada “kita”
yang sederhana,
namun begitu bermakna. (*)




