Di hadapan liang lahat, manusia kehilangan semua atributnya. Jabatan ditinggalkan, harta tak lagi bernilai, dan relasi duniawi berhenti pada batas tanah yang menutup tubuh. Yang tersisa hanyalah amal dan jejak hidup yang pernah ditorehkan.
Talqin mayit hadir sebagai suara terakhir dari dunia yang sementara. Ia bukan sekadar rangkaian kalimat, melainkan pengingat yang sarat makna—bahwa perjalanan manusia belum selesai saat nafas berhenti. Di situlah dimulai fase yang tak lagi bisa ditawar dengan logika dunia.
Ketika nama seseorang dipanggil dalam talqin, sejatinya yang diingatkan bukan hanya yang telah pergi, tetapi juga yang masih berdiri di sekeliling kubur. Bahwa suatu hari, posisi itu akan berganti. Yang membaca akan dibacakan. Yang mengantar akan diantarkan.
Perdebatan tentang hukum talqin mungkin tidak akan pernah selesai. Namun yang sering luput adalah esensinya: talqin adalah cermin. Ia memantulkan kesadaran bahwa hidup ini singkat, rapuh, dan penuh ketidakpastian.
Maka yang paling penting bukan apakah talqin dibaca atau tidak, tetapi apakah kita sudah menyiapkan jawaban atas “pertanyaan besar” dalam hidup ini. Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Apa yang kau lakukan selama hidupmu?
Karena pada akhirnya, bukan suara talqin yang menentukan, melainkan kejujuran hidup yang pernah kita jalani.
Tulisan ini dibantu oleh AI sebagai alat, namun substansi dan refleksinya kembali kepada kesadaran manusia sebagai makhluk yang akan pulang. (*)










