Di pasar itu ia dikenal bukan karena namanya, melainkan karena gerak tangannya. Cepat, presisi, dan tanpa basa-basi. Orang-orang memanggilnya Sang Pengupas Bawang, sebutan yang terdengar seperti gelar kehormatan sekaligus hinaan kecil. Ia duduk di bawah kanopi kusam, meja kayu yang sudah miring, dan sebilah pisau yang tidak pernah tampak mengilap—karena minyak dan bekas potongan menempelnya seperti medali yang tak pernah dicantumkan pada daftar gaji.
Setiap pagi ia membawa keranjang bawang, timun, dan secuil harapan. Bawang-bawang itu tidak punya cerita lain kecuali menunggu dikupas. Pembelinya berdatangan dengan dompet tipis atau hatinya penuh tuntutan. Mereka hendak membeli bahan untuk pesta kecil di rumah, untuk acara formal yang menuntut rasa sopan, atau sekadar lauk makan siang yang tak ingin dihabiskan pikir. Mereka menginginkan bawang yang “bersih” dan irisan yang “rapih”, lalu membayar dengan senyum yang setengah tulus, setengah heran mengapa orang bisa menikmati pekerjaan semacam itu.
Ia mengupas. Kulit pertama terlempar seperti janji yang sudah dipakai. Kulit-kulit berikutnya menumpuk, bercampur debu pasar, ucapan-ucapan ringan, dan dusta sehari-hari. Dengan setiap kupasan, ia membaca keseharian orang-orang yang lewat: pilihan pemimpin yang dibungkus wacana, proposal proyek yang dilipat rapi tapi kosong isinya, aturan yang dibuat untuk menutupi ketidakmampuan. Bawang adalah metafora kerja; lapisan demi lapis yang harus dibersihkan biar rupa di permukaan tampak pantas.
“Potong tipis,” kata pembeli berpakaian rapi, sambil menatap jam tangan bertingkat emas yang entah diwariskan dari siapa. “Jangan buang banyak.” Ia mengangguk dan mengiris, memperhalus sampai semua yang tak perlu tampak tidak ada. Tiap irisan jatuh ke piring plastik, dan pembeli pergi dengan kantong plastik berisi solusi yang tampak sederhana.
Seorang pemuda datang kemudian, membawa selebaran warna-warni tentang rapat warga. Ia membolak-balik kertas, raut wajahnya separuh bingung, separuh puas. “Bagaimana kalau potongan sedikit lebih besar? Biar terasa,” usulnya. Ia tersenyum, merasa seperti pemberontak kecil. Sang Pengupas Bawang mengangkat bahu, lalu mengiris. “Biasa saja,” katanya. “Kalau terlalu tebal, makan pun merepotkan.” Pemuda itu tersenyum sinis, seperti orang yang baru belajar bahwa revolusi juga butuh kesabaran.
Ia melayani semuanya dengan bahasa yang sama: cekatan, tanpa curahan luka, menyisakan aroma yang membuat mata orang jadi berkaca-kaca. Mereka bercakap ringan tentang korupsi yang terjadi di ruangan tertutup, tentang proyek yang tiba-tiba lenyap, tentang janji untuk memperbaiki jalan yang berubah menjadi papan nama baru. Mereka bercerita dengan mata yang rata, seolah cerita-cerita itu hanya bumbu dalam percakapan pasar. Sang Pengupas Bawang mendengarkan sambil mengupas, membiarkan setiap kata menempel seperti kulit bawang yang sukar dibersihkan.
Kadang, anak kecil berlari lewat, membawa uang jajannya yang terkadang cukup, terkadang tidak. Mereka menunjuk bawang dan bertanya, “Berapa, Pak?” Ia menatap anak itu, menghitung bukan pakai jari tetapi memori: berapa banyak lapis yang harus ia kupas untuk membuat cukup untuk hari ini. “Satu saja,” katanya. Anak itu memilih yang paling kecil, dan ketika orangtuanya tidak melihat, Sang Pengupas Bawang menyelipkan seiris suasana lega ke dalam kantong kecil itu—lebih tipis dari yang diminta, namun cukup untuk menghangatkan rumah.
Suatu hari datang seorang pejabat muda dengan jaket yang masih berbau pabrik. Ia berjalan seolah-olah jalanan pasar itu adalah karpet yang mesti dihormati. Paket pekerjaannya besar: program bantuan, distribusi pangan, pidato tentang keadilan. Ia menatap tumpukan bawang dan berkata, “Bantu saya pilih yang terbaik. Saya akan membuat pengumuman.” Sang Pengupas Bawang menyodorkan bawang paling mulus. Pejabat itu mengangguk puas, lalu menambahkan, “Potong saja – untuk foto. Jangan sampai ada yang terlihat remeh.” Ia ingin citra yang bersih, lapisan yang sudah dilenyapkan agar kamera tak menangkap bekas kerja.
Ketika lampu kamera padam dan tamu-tamu pergi, Sang Pengupas Bawang membersihkan meja. Kulit-kulit bawang yang telah dipajang kepada publik kini bercecer di sudut. Ia tahu, perkara citra sering kali lebih penting daripada esensi. Bawang yang tampak mulus dipamerkan, sementara lapisan-lapisan kotor yang hilang itu jatuh ke tanah—diterangi lampu yang tak pernah menyala untuk para pekerja.
Ada yang mengatakan ia terlalu pasrah, bahwa ia rela menjadi tangan yang tak pernah disebut. Orang lain berbisik bahwa ia punya kebanggaan tersendiri: ia menguasai seni mengupas hal-hal yang tak mau dihadapi orang. Ia belajar melihat struktur: lapisan yang keras melindungi inti yang bernilai, dan kadang inti itu sendiri tak lebih dari kebiasaan. Ia menertawakan klaim besar yang mengira satu potong bawang bisa menyembuhkan luka negara.
Malam datang. Pasar sepi, hanya ada bunyi radio pedagang yang menyiarkan berita lokal—sebuah berita tentang kontraktor baru yang memenangi tender jalan, sebuah foto potong pita, senyum resmi. Sang Pengupas Bawang merapikan pisau, menaruh sisanya di dalam ember. Ia menatap kulit-kulit bawang yang berubah menjadi tumpukan—sebuah tumpukan yang tidak punya catatan anggaran. Di antara kulit-kulit itu ada sisa-sisa kertas, label harga yang hilang, dan satu struk pembelian yang entah siapa yang hilang. Ia menghela napas, lalu tertawa pelan; tawa yang lebih pada kebiasaan daripada kelegaan.
Di rumah, istrinya menyambut dengan panci beras yang masih terisi, dua piring, dan pertanyaan sederhana: “Berapa dapat hari ini?” Ia bilang angka yang cukup untuk menutup, sedikit untuk menabung, lalu menunjuk pada tumpukan kulit yang ditumpuk di sudut dapur—untuk kompos, katanya. Istrinya menggelengkan kepala, menaruh tangan pada bahunya, memberi pengertian tanpa kata. Mereka makan sambil berbincang soal anak-anak yang harus sekolah, soal listrik yang kadang padam, soal berita tentang janji manis yang kadang harus dipaksa untuk dipercaya.
Sebelum tidur, ia mengulang rutinitas: membersihkan pisau, mengasah sedikit, menata kembali bawang yang tersisa. Dalam gelap kamar, ia menatap langit-langit dan membayangkan sebuah negeri di mana lapisan-lapis itu diangkat dengan jujur—tanpa penghilang bau yang menutupi, tanpa penghapus yang merapikan bukti. Ia tahu itu tidak mungkin terjadi besok. Mungkin tidak akan terjadi sepanjang hidupnya.
Tapi esok pagi ia akan kembali ke meja itu juga. Bukan karena ia percaya pada perubahan besar, melainkan karena dunia tetap membutuhkan tangan yang mau mengupas, bukan sekadar memamerkan hasil bersih. Ada ironi pada pekerjaannya: ia mengungkap, lalu orang memilih untuk melihat atau menutup mata.
Di pasar, orang-orang akan tetap datang, menuntut irisan sempurna, berswafoto dengan piring yang tampak rapi. Mereka akan lupa tangan yang mengupas. Namun ketika bawang membuat mata pedih di rumah-rumah mereka, ketika rasa dan aroma mengikat dalam kenangan makan malam, mungkin, sebentar saja, ingatan mereka akan menoleh pada satu sosok yang duduk di kursi rendah—mengupas, menumpuk kulit, menahan bau—yang paham bahwa setiap irisan adalah cerita kecil tentang siapa yang bekerja, siapa yang menyantap, dan siapa yang hanya menonton. (ai/has)
Iustrasi foto: internet




