Senja yang Hampir Padam

Langit sore di atas kota kecil itu berwarna jingga pucat. Seperti jantung yang tak lagi menyala.

Raka, 17 tahun, duduk di bangku taman belakang sekolah. Seragamnya masih rapi, tapi pikiran kusut. Di grup kelas, namanya kembali jadi bahan dipanaskan. Nilai matematikanya jeblok. Ayahnya sudah tiga bulan tak bekerja. Ibunya hanya diam tiap kali ia pulang membawa rapor.

Ia merasa gagal—sebagai anak, sebagai siswa, bahkan sebagai dirinya sendiri.

“Apa gunanya aku ada?” gumamnya pelan.

Raka bukan anak nakal. Ia hanya lelah. Lelah dibandingkan-bandingkan. Lelah mendengar kalimat, “Lihat tuh si A, juara terus.” Lelah melihat wajah ayah yang muram setiap malam.

Hari itu, ia berjalan tanpa tujuan. Ponselnya bergetar—pesan dari Naya.

“Rak, kamu kenapa? Dari tadi diam.”

Raka tak membalas. Ia merasa tak ada yang benar-benar mengerti. Semua orang hanya melihat hasil, bukan proses yang ia perjuangkan dalam keheningan.

Ia berhenti di jembatan kecil dekat sawah. Angin sore menandakan pelan. Untuk sesaat, pikiran-pikiran gelap itu datang seperti bisikan yang mengerikan.

“Kalau aku hilang, mungkin semuanya lebih ringan,” pikirnya.

Tiba-tiba, notifikasi kembali berbunyi. Kali ini bukan pesan. Sebuah foto lama muncul di fitur kenangan—ia dan ayahnya, tersenyum lebar saat ia juara lomba lari kelas 5 SD. Ayahnya mengangkatnya tinggi-tinggi, penuh bangga.

Raka pengoreksian.

Ia lupa, pernah ada masa ketika ia merasa cukup.

Air mata jatuh satu-satu.

Tak lama kemudian, terdengar suara sepeda berhenti. Naya muncul, terengah-engah.

“Kamu bikin aku panik, Rak,” sambil menatap Raka lekat-lekat. “Aku tidak tahu kamu lagi perang apa. Tapi jangan sendirian.”

Raka tertawa kecil, pahit. “Aku capek, Nay.”

“Capek itu istirahat, bukan berhenti,” jawab Naya pelan. “Kamu pikir aku tidak pernah ngerasa gagal? Semua orang lagi belajar. Termasuk kamu.”

Sunyi sebentar. Angin kembali berembus.

Raka menatap langit. Senja memang hampir padam. Tapi di kejauhan, satu per satu lampu rumah mulai menyala.

Mungkin hidup juga begitu. Saat satu cahaya redup, cahaya lain menunggu menyala.

Ia menarik napas panjang.

“Aku tidak mau hilang,” bisiknya.

Naya tersenyum. “Bagus.Karena dunia belum selesai sama kamu.”

Raka berdiri. Masalahnya belum selesai. Nilainya tetap harus diperbaiki. Ayahnya masih belum bekerja. Ejekan mungkin belum berhenti. Tapi untuk pertama kalinya, dia merasa sedikit lebih ringan.

Putus asa memang sempat mengetuk. Namun ia memilih untuk tidak membuka pintu.

Senja tenggelam perlahan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah lama, Raka pulang dengan satu keputusan sederhana: besok ia akan mencoba lagi.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal sedang merasa sangat putus asa atau memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri, penting untuk tidak menghadapinya sendirian. Cerita ini fiksi, tetapi terasa nyata dan serius. Berbicara dengan orang terdekat atau profesional bisa menjadi langkah pertama yang menyelamatkan.

Penafian:

Cerpen dan ilustrasi ini dibuat dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu penulisan, sementara ide, tema, dan arah cerita tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kreativitas penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed