Mengetuk Langit di Persimpangan Ilmu

Pagi itu, Kurnia duduk di beranda rumah dengan secangkir kopi yang mulai dingin. Angin berembus pelan, membawa suara daun yang saling bersentuhan. Di tangannya, sebuah catatan kecil terbuka—berisi rencana yang sudah lama ia simpan. Melanjutkan studi ke jenjang doktoral.

Bagi orang lain, mungkin itu sekadar langkah akademik. Tapi bagi Kurnia, ini adalah keputusan besar. Ia tahu, melangkah ke S3 bukan hanya soal gelar, melainkan tentang arah hidup yang akan ia pilih.

“Nina,” panggilnya pelan suatu sore, ketika mereka duduk berhadapan.

“Iya, Kurnia?”

“Bagaimana menurut Nina… kalau Kurnia lanjut S3?”

Nina tidak langsung menjawab. Ia menatap Kurnia, seolah membaca lebih dalam dari sekadar pertanyaan itu.

“Kalau soal ilmu, tentu bagus,” jawabnya akhirnya. “Tapi Kurnia juga harus pikirkan setelahnya. Kerja bagaimana? Mau jadi dosen?”

Kurnia terdiam sejenak.

“Apakah ada kampus yang mau terima Kurnia?” lanjut Nina. “Dan Kurnia tahu sendiri, gaji dosen di NTB… belum tentu cukup. Kadang tidak sebanding dengan pengorbanannya.”

Kata-kata itu tidak menyakitkan. Justru terasa jujur. Kurnia mengangguk pelan.

“Tapi…” Nina menambahkan, suaranya lebih lembut, “sebenarnya setelah S3 peluangnya juga banyak. Tidak hanya jadi dosen. Bisa di riset, konsultan, atau bidang lain. Hanya saja, sebaiknya Kurnia tetap punya satu kampus sebagai pegangan. Punya NIDN. Seperti ‘cangkang’—identitas akademik.”

Kurnia tersenyum kecil. Ia memahami maksud itu.

Malamnya, ia kembali sendiri. Catatan kecil tadi kini terbuka lagi. Namun kali ini, pikirannya tidak hanya dipenuhi angka, peluang, atau rencana karier. Ada sesuatu yang lebih dalam—pertanyaan tentang tujuan.

“Untuk apa semua ini?” gumamnya pelan.

Ia sadar, tidak semua keputusan bisa diselesaikan dengan logika. Ada bagian dari hidup yang membutuhkan keyakinan, bukan sekadar perhitungan.

Beberapa hari kemudian, Kurnia bangun lebih awal dari biasanya. Udara masih dingin. Langit belum sepenuhnya terang. Ia mengambil wudhu, lalu berdiri dalam diam yang khusyuk.

Di sanalah, dalam sujud yang panjang, ia memilih jalan yang berbeda. Bukan langsung memutuskan, tetapi memohon petunjuk.

Ia mengetuk langit.

“Ya Allah,” bisiknya lirih, “jika jalan ini baik, mudahkanlah. Jika tidak, jauhkanlah dengan cara terbaik.”

Selesai berdoa, Kurnia tidak langsung menemukan jawaban. Namun hatinya terasa lebih tenang. Seolah ia tidak lagi berjalan sendirian.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Namun ada yang berubah dalam diri Kurnia. Ia tidak lagi terburu-buru. Ia belajar menikmati proses, sambil terus membuka kemungkinan.

Karena kini ia mengerti, perjalanan ini bukan hanya tentang ke mana ia akan pergi, tetapi bagaimana ia melangkah.

Dengan ilmu.

Dengan kesadaran.

Dan dengan keyakinan bahwa setiap langkah yang diambil—akan selalu menemukan jalannya, selama ia tidak lupa mengetuk langit.

Disclaimer:

Cerpen dan ilustrasi disusun dengan bantuan AI berdasarkan ide, gagasan, dan arahan dari penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *