Waktu yang Terhenti

Di antara detak yang lupa berdetak,

aku menemukan sunyi yang tak bergerak.

Jam dinding menggantung tanpa suara,

seolah enggan mengantar detik ke mana-mana.

 

Langit membeku di ujung senja,

warna jingga tak jadi pudar atau menyala.

Angin berhenti di sela daun,

membiarkan rindu tak lagi berlarian turun.

 

Aku berdiri di batas yang ganjil,

antara kemarin yang tak selesai,

dan esok yang tak pernah lahir.

Segalanya diam, kecuali ingatan yang terus mengalir.

 

Waktu, katamu, adalah perjalanan—

tapi di sini, ia seperti kehilangan tujuan.

Tak ada pagi, tak ada malam,

hanya aku dan kenangan yang terperangkap dalam diam.

 

Jika waktu benar-benar terhenti,

mengapa hatiku masih berjalan pergi?

——

Makna puisi “Waktu yang Terhenti” berpusat pada kondisi batin seseorang yang merasa hidupnya seolah berhenti, meski dunia di luar tetap ada.

Puisi ini menggambarkan:

Keterjebakan dalam kenangan — tokoh lirik berada di antara masa lalu yang belum selesai dan masa depan yang belum datang.

Kesunyian dan refleksi diri — ketika waktu “diam”, justru pikiran dan perasaan menjadi semakin aktif.

Konflik batin — meski waktu terhenti, hati tetap bergerak, menandakan bahwa emosi tidak bisa dibekukan.

Pertanyaan eksistensial — tentang arah hidup, tujuan, dan makna perjalanan waktu itu sendiri.

Kalimat penutup “Jika waktu benar-benar terhenti, mengapa hatiku masih berjalan pergi?” menegaskan pesan utama:

Secara fisik mungkin kita diam, tapi secara batin kita tetap berubah, merasa, dan terus “berjalan.”

Intinya, puisi ini bicara tentang perasaan stagnan dalam hidup, namun jiwa tetap bergerak mencari makna.

 

Disclaimer:

Puisi dan ilustrasi ini dibuat dengan bantuan AI berdasarkan ide penulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *