Lima Legacy BPPD NTB untuk Pariwisata yang Mendunia

Sebuah Sumbangsih Pemikiran Anggota BPPD NTB

Oleh: Abdus Syukur, MH

Ada satu pertanyaan yang menurut saya patut kita renungkan bersama menjelang berakhirnya masa kepengurusan BPPD NTB pada 2027. Apa yang ingin kita tinggalkan?

Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya memiliki makna strategis. Sebab, sebuah organisasi tidak semestinya hanya dinilai dari berapa banyak kegiatan yang telah dilaksanakan, berapa banyak agenda promosi yang diikuti, atau berapa banyak destinasi yang diperkenalkan.

Lebih dari itu, sebuah organisasi seharusnya meninggalkan sesuatu yang dapat dilanjutkan setelah orang-orang yang berada di dalamnya tidak lagi menjabat.

Bagi saya, itulah makna legacy.

Sebagai anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, saya berpandangan bahwa akhir masa kepengurusan pada 2027 sebaiknya tidak sekadar menjadi akhir sebuah periode administratif. Momentum tersebut harus menjadi kesempatan untuk meninggalkan gagasan, sistem dan jejaring yang dapat memperkuat pembangunan pariwisata NTB dalam jangka panjang.

Apalagi NTB sedang berada dalam arah pembangunan baru melalui RPJMD NTB 2025–2029, yang menempatkan pembangunan pariwisata berkualitas, industri kreatif, seni budaya dan olahraga sebagai bagian penting dari agenda pembangunan daerah.

Hal itu juga sejalan dengan visi Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal untuk membawa NTB menuju provinsi kepulauan yang makmur dan mendunia. Namun, pertanyaan berikutnya, apa arti “mendunia” bagi pariwisata NTB?

Menurut saya, mendunia tidak cukup hanya berarti semakin banyak wisatawan asing yang datang. Mendunia harus berarti NTB memiliki daya saing destinasi, brand yang kuat, pasar yang jelas, konektivitas yang semakin baik, kualitas pelayanan yang meningkat, industri yang tumbuh, ekonomi kreatif yang berkembang, serta manfaat pariwisata yang semakin dirasakan masyarakat.

Karena itu, promosi pariwisata tidak boleh berhenti pada kegiatan memperkenalkan destinasi. Promosi harus menjadi instrumen untuk membangun daya saing pariwisata daerah. Dari perspektif tersebut, saya menawarkan lima gagasan yang menurut saya layak dipertimbangkan sebagai legacy BPPD NTB 2027.

Pertama, NTB membutuhkan arah promosi yang berkesinambungan.

Selama ini promosi pariwisata kerap berjalan mengikuti momentum. Ada event, ada promosi. Ada pameran, kita hadir. Ada pasar tertentu, kita berangkat. Semua itu penting. Tetapi, NTB membutuhkan sesuatu yang lebih besar. Arah promosi jangka menengah yang konsisten dan terukur. Karena itu, BPPD perlu mendorong lahirnya NTB Tourism Promotion Master Plan 2027–2030.

Dokumen ini bukan untuk menggantikan RPJMD atau mengambil alih kewenangan pemerintah daerah. Ia lebih tepat ditempatkan sebagai strategi promosi dan pemasaran yang menerjemahkan arah pembangunan pariwisata ke dalam perspektif pasar.

Di dalamnya harus jelas. Siapa pasar utama NTB, produk apa yang kita tawarkan, bagaimana positioning NTB, ke mana promosi diarahkan, media apa yang digunakan, bagaimana strategi digital dibangun, dan bagaimana keberhasilannya diukur. Dengan demikian, promosi NTB tidak lagi bergantung pada siapa yang sedang menjadi pengurus.

Inilah legacy pertama, meninggalkan arah promosi yang dapat diteruskan.

Kedua, sudah saatnya promosi NTB berbasis data

Kita tidak mungkin memenangkan persaingan pariwisata global hanya dengan mengandalkan keindahan alam. Destinasi di dunia sangat banyak. Wisatawan memiliki banyak pilihan. Karena itu, kita harus mengetahui dengan tepat siapa calon wisatawan kita.

Dari negara mana mereka datang? Apa yang mereka cari? Berapa lama mereka tinggal? Berapa besar pengeluaran mereka? Destinasi apa yang mereka sukai? Apa yang membuat mereka datang kembali? Bahkan, mengapa sebagian calon wisatawan memilih destinasi lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan data.

Karena itu saya memandang perlu dibangun NTB Tourism Market Intelligence, sebuah sistem informasi pasar pariwisata yang dapat menjadi dasar pengambilan keputusan promosi. Dengan sistem tersebut, BPPD tidak lagi bertanya. “Kita mau promosi ke mana?” Tetapi pasar mana yang paling potensial untuk produk pariwisata NTB dan promosi seperti apa yang paling efektif untuk mengubah pasar tersebut menjadi kunjungan.

Perubahan cara berpikir ini sangat penting. Promosi yang baik bukan promosi yang paling ramai, tetapi promosi yang paling mampu menghasilkan konversi dan nilai ekonomi.

Inilah legacy kedua: meninggalkan budaya promosi yang berbasis data dan bukti.

Ketiga, Mandalika harus menjadi pintu gerbang seluruh NTB

NTB memiliki aset strategis bernama Mandalika. Keberadaan event internasional seperti MotoGP dan berbagai kegiatan olahraga lainnya telah memberikan eksposur luar biasa bagi daerah kita. Namun, ada satu hal yang harus kita pikirkan bersama. Apakah wisatawan yang datang ke Mandalika juga mengenal NTB secara keseluruhan?

Jangan sampai wisatawan datang untuk menonton event, menginap beberapa hari, lalu pulang tanpa memperoleh pengalaman tentang destinasi lain di Lombok dan Sumbawa. Karena itu, menurut saya, kita perlu mengembangkan konsep: Mandalika Tourism Gateway

Mandalika harus menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan pengalaman NTB yang lebih luas. Wisatawan yang datang ke Mandalika dapat ditawarkan perjalanan ke Sembalun, Rinjani, Gili, Senggigi, Mataram, Lombok Timur, Lombok Utara hingga Sumbawa, Moyo dan Tambora.

Event tidak berhenti sebagai tontonan. Event harus menjadi mesin distribusi wisatawan. Sebelum event, wisatawan ditawarkan paket perjalanan. Saat event berlangsung, mereka diberikan pengalaman destinasi. Setelah event, mereka didorong memperpanjang masa tinggal.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan sebuah event tidak hanya berapa banyak orang yang hadir. Kita harus mulai mengukur. Berapa lama mereka tinggal, berapa besar mereka berbelanja, destinasi apa yang mereka kunjungi dan berapa besar manfaatnya dirasakan masyarakat.

Inilah legacy ketiga: menjadikan Mandalika sebagai gateway ekonomi pariwisata Lombok dan Sumbawa.

Keempat, BPPD harus meninggalkan jejaring kolaborasi

Pariwisata tidak mungkin dibangun oleh satu institusi. Pemerintah memiliki kewenangan dan kebijakan. Industri memiliki produk dan investasi. Masyarakat memiliki budaya dan pengalaman lokal. Akademisi memiliki pengetahuan. Media memiliki kemampuan membangun opini dan citra. Sementara BPPD memiliki ruang untuk mempertemukan berbagai kepentingan tersebut dalam konteks promosi dan pasar.

Karena itu, saya memandang perlu dibangun NTB World Tourism Partnership. Sebuah jejaring yang mempertemukan pemerintah, pemerintah kabupaten/kota, hotel, restoran, travel agent, tour operator, maskapai, bandara, pelabuhan, desa wisata, UMKM, ekonomi kreatif, media, perguruan tinggi, komunitas dan mitra internasional.

Tujuannya bukan sekadar membuat forum. Forum harus menghasilkan business matching, paket wisata, promosi bersama, kerja sama media, pembukaan pasar baru dan peluang investasi. BPPD dalam konteks ini tidak harus menjadi pelaksana seluruh kegiatan. BPPD justru harus menjadi penghubung, pembuka pasar dan katalisator kolaborasi.

Inilah legacy keempat: meninggalkan jaringan yang tetap bekerja meskipun kepengurusan berganti.

Kelima, NTB membutuhkan satu identitas promosi

Saya melihat NTB memiliki kekayaan destinasi yang luar biasa. Tetapi kekayaan tersebut juga menghadirkan tantangan. Masing-masing daerah ingin menonjolkan identitasnya. Mandalika memiliki brand sendiri. Sembalun memiliki daya tarik sendiri. Gili memiliki kekuatan sendiri. Sumbawa memiliki Moyo dan Tambora.

Semua itu tentu harus dipertahankan. Namun, di pasar global kita juga membutuhkan satu payung besar. Karena itu, BPPD dapat mendorong konsep:

ONE NTB TOURISM BRAND

Dengan gagasan: NTB – One Destination, Many Experiences.

Di bawah payung tersebut, NTB dapat menawarkan beragam pengalaman. Adventure, marine tourism, culture, sport tourism, wellness, halal tourism, culinary tourism, MICE dan creative economy.

Brand daerah tidak perlu dihapus. Sebaliknya, seluruh brand destinasi menjadi bagian yang memperkuat master brand NTB. Dengan cara itu, wisatawan tidak hanya mengenal Mandalika, Gili atau Sembalun. Mereka mengenal NTB.

Dan ketika seseorang mendengar NTB, yang terbayang adalah destinasi dengan banyak pengalaman dan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan.

Inilah legacy kelima: Membangun ekuitas brand NTB di pasar nasional dan internasional.

Legacy bukan tentang kita. Pada akhirnya, lima gagasan tersebut bukan tentang siapa yang menyusun, siapa yang melaksanakan, atau siapa yang mendapatkan apresiasi. Legacy justru akan memiliki nilai ketika orang lain dapat meneruskannya.

Kita mungkin tidak lagi menjadi pengurus BPPD pada 2027. Tetapi jika setelah itu NTB memiliki strategi promosi yang jelas, sistem data pasar yang kuat, Mandalika yang benar-benar menjadi pintu gerbang seluruh NTB, jejaring industri yang aktif dan brand NTB yang semakin kuat, maka menurut saya kita telah meninggalkan sesuatu yang bermakna. Sebab, jabatan memiliki batas waktu. Tetapi gagasan yang baik tidak mengenal batas periode.

Di sinilah saya melihat pentingnya menempatkan BPPD bukan hanya sebagai pelaksana promosi, tetapi sebagai katalisator perubahan ekosistem pariwisata.

BPPD tidak perlu mengambil alih kewenangan pemerintah. BPPD juga tidak perlu menjadi pelaksana semua urusan pariwisata. BPPD cukup mengambil posisi yang tepat. Menghubungkan pemerintah dengan industri, industri dengan pasar, destinasi dengan wisatawan, dan promosi dengan nilai ekonomi.

Dari Promosi Menuju Transformasi

Saya percaya bahwa pariwisata NTB ke depan harus bergerak dari paradigma “berapa banyak wisatawan yang datang” menuju pertanyaan yang lebih substantif. Berapa besar nilai ekonomi yang tercipta? Berapa banyak masyarakat yang mendapatkan manfaat? Berapa lama wisatawan tinggal? Berapa besar mereka membelanjakan uangnya di NTB? Seberapa banyak UMKM dan ekonomi kreatif terlibat?

Dan yang tidak kalah penting. Apakah pariwisata kita tetap menjaga alam, budaya dan jati diri masyarakat NTB?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi ukuran, maka promosi bukan lagi sekadar memperkenalkan destinasi. Promosi menjadi bagian dari strategi pembangunan. Itulah sebabnya saya mengusulkan agar lima legacy BPPD NTB dirumuskan dalam satu semangat:

“Dari Promosi Menuju Transformasi Pariwisata NTB.”

Sebab, pada akhirnya, NTB mendunia bukan hanya ketika dunia mengenal NTB. NTB baru benar-benar mendunia ketika kehadiran dunia memberikan manfaat bagi masyarakat NTB. Itulah sumbangsih pemikiran yang ingin saya titipkan sebagai anggota BPPD NTB. Bukan untuk kepengurusan kami semata. Tetapi untuk NTB yang kita harapkan terus tumbuh, semakin berdaya saing, semakin dikenal dunia dan semakin sejahtera masyarakatnya.

NTB Makmur Mendunia.

Pariwisata Berkualitas, Masyarakat Sejahtera.

 

Abdus Syukur

Anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB Periode 2023-2027

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *