Di Trawangan, Air, dan Meno—tiga pulau kecil yang namanya lebih dulu dikenal wisatawan dunia dibandingkan sebagian kota di NTB—sampah bukan perkara remeh. Ia bukan semata-mata urusan karung, truk, atau tempat pembuangan. Sampah di Tiga Gili adalah soal reputasi. Jadi bagaimana dunia memandang NTB sebagai destinasi pariwisata internasional.
Sebagai anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) NTB, saya melihat persoalan ini dari kacamata citra. Di era pariwisata global, satu foto pantai penuh sampah bisa lebih merusak dari sepuluh baliho promosi. Media sosial, platform ulasan wisata, dan pemberitaan internasional membuat isu lokal berubah menjadi persepsi global dalam hitungan menit.
Etalase NTB di Mata Dunia
Tiga Gili ada di etalase. Apa pun yang terjadi di sana, baik atau buruk, akan mempengaruhi pariwisata NTB secara keseluruhan. Oleh karena itu, keliru jika masalah sampah dipersempit sebagai masalah teknis semata. Mengangkut sampah memang penting, tetapi jauh lebih penting membangun sistem, kepemimpinan, dan narasi bersama.
Saat ini, pengelolaan sampah di Tiga Gili masih terasa terfragmentasi. Bergerak sendiri-sendiri. Bertumpu pada inisiatif lokal yang heroik, namun rapuh karena minimnya dukungan sistemik. Yang belum tampak adalah satu kepemimpinan terpadu dan satu cerita besar: bahwa kebersihan Tiga Gili adalah prioritas strategi provinsi.
Satu Kepemimpinan, Satu Cerita
Sudah saatnya pengelolaan sampah Tiga Gili diposisikan sebagai program prioritas destinasi strategis NTB. Bukan proyek sampingan. Bukan pula urusan satu dinas. Diperlukan forum koordinasi tetap lintas OPD, pengelola kawasan, dan pelaku industri pariwisata. Satu meja. Satu arah. Satu komitmen.
Tanpa itu, kita akan terus sibuk mengeluarkan api kecil, sementara kinerjanya terus terbakar.
Industri Bukan Objek, Tapi Reputasi Mitra
Industri pariwisata—hotel, pusat penyelaman, operator kapal—tidak boleh hanya diposisikan sebagai kawasan pengguna. Mereka adalah pemilik reputasi bersama. Nama mereka ikut tercoreng ketika Gilitakan diberitakan kotor. Oleh karena itu, pendekatan berbasis reputasi jauh lebih efektif daripada sekadar regulasi.
Bayangkan sebuah komitmen bersama: “Gili Bersih, Tanggung Jawab Bersama.” Sebuah gerakan moral, bukan sekadar kewajiban administratif. Insentifnya bukan selalu uang, melainkan pengakuan, pengungkapan, dan promosi bagi pelaku industri yang konsisten menjaga kebersihan. Reputasi adalah mata uang penting dalam pariwisata.
Wisatawan Juga Bagian dari Solusi
Wisatawan bukan musuh. Mereka bagian dari ekosistem. Yang dibutuhkan bukanlah larangan keras, melainkan pendidikan yang tepat dan berkelas. Pesan sederhana di pelabuhan, kapal, dan penginapan bisa jauh lebih efektif jika disampaikan dengan narasi positif:
“Anda sedang mengunjungi salah satu pulau paling rapuh di dunia. Bantu kami menjaganya tetap bersih.”
Kalimat seperti ini berbicara pada kesadaran, bukan ketakutan. Bagi wisatawan mancanegara, pendekatan ini terbukti lebih dihargai.
Peran Strategis BPPD NTB
BPPD tidak berada di garis depan operasional teknis. Namun BPPD mempunyai peran strategi: membangun narasi, memperkuat kampanye citra destinasi bersih, memfasilitasi jejaring dengan media dan industri, serta menyusun rekomendasi kebijakan berbasis reputasi pariwisata.
BPPD siap menjadi jembatan—antara kebijakan dan pasar, antara kerja lapangan dan persepsi global.
Investasi Reputasi Jangka Panjang
Pengelolaan sampah di Tiga Gili adalah investasi reputasi jangka panjang. Tanpa reputasi yang baik, promosi akan selalu mahal dan sering sia-sia. Sebaliknya, dengan pendekatan destinasi terpadu, partisipatif, dan berbasis citra, Tiga Gili tidak hanya bersih secara fisik, tetapi juga kokoh secara branding.
Destinasi yang bersih tidak lahir dari satu instansi. Ia lahir dari kesadaran kolektif bahwa reputasi pariwisata adalah aset bersama—dan menjaganya adalah tanggung jawab kita semua.
Abdus Syukur
Anggota BPPD NTB












