Blog

  • Polsek Sumbawa Sasar Tempat Hiburan Malam

    Polsek Sumbawa Sasar Tempat Hiburan Malam

    SUMBAWA BESAR, LOMBOKEXPRESS.ID–Polsek Sumbawa Polres Sumbawa melaksanakan Patroli Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) di Wilayah hukumnya, Minggu (30/04) malam.

    Pada pelaksanaan kegiatan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolsek Sumbawa Ipda Eko Riyono SH dan diikuti oleh Personil Polsek Sumbawa.

    Patroli ini dilaksanakan dengan sasaran seperti tempat-tempat hiburan malam seperti tempat karaoke dan cafe-cafe yang kerap di jadikan tempat nongkrong.

    Kapolsek Sumbawa mengatakan pihaknya melaksanakan patroli dan pengecekan di tempat – tempat yang di anggap rawan terjadi tindak kriminalitas berupa pemalakan, sajam, premanisme, protitusi, perjudian, dan narkotika serta melakukan pemeriksaan identitas pekerja malam.

    “Tujuan pelaksanaan patroli tersebut untuk menciptakan situasi harkamtibmas di wilayah hukum Polsek Sumbawa dan sekitarnya yang kondusif serta meminimalisir adanya praktek perjudian, minuman keras, premanisme, curas, curat, curanmor (C3) dan narkoba,” kata Ipda Eko.

    Dalam kesempatan tersebut personil menyampaikan iimbauan Kamtibmas kepada masyarakat agar kiranya dapat bersama-sama menjaga situasi Kamtibmas di wilayah Hukum Polsek Sumbawa. (hps)

  • Puluhan Personel Polresta Mataram Amankan Konser Mahalini di NCH

    Puluhan Personel Polresta Mataram Amankan Konser Mahalini di NCH

    MATARAM, LOMBOKEXPRESS.ID Sebanyak 60 personel gabungan Polresta Mataram dan Polsek Mataram melaksanakan pengamanan konser musik artis Mahalini, di Narmada Convention Hall (NCH), Kecamatan Mataram, Kota Mataram. Senin (30/04/2023).

    Hadir dalam pengamanan Kabag Ops Kompol I Gede Sumadra Kerthiawan SH, Kasat Intelkam Kompol Hatta SIP, Kasat Lantas Bowo Tri Handoko, SE, SIK, Kapolsek Mataram Tauhid, SH dan personel yang terlibat pengamanan.

    Kapolresta Mataram melalui Kabag Ops Kompol I Gede Sumadra Kerthiawan SH MH saat dikonfirmasi mengatakan konser artis Mahalini yang dimulai pada pukul 16.00 wita berakhir sampai pukul 22.00 wita itu, berjalan aman, lancar dan kondusif sesuai perencanaan pengamanan.

    Penonton konser diperkirakan hampir 1.000 orang, didominasi anak-anak muda. Memadati daripada areal pertunjukan konser musik.

    “Alhasil syukur kita sudah mengamankan sesuai standar operasional prosedur yang sudah ditentukan. Sehingga sampai berakhir tidak ada potensi gangguan keamanam,” katanya.

    Disamping itu ada beberapa penonton perlu diatensi untuk penambahan oksigen karena pingsan. Namun sudah teratasi oleh Tim Medis yang sudah disiapkan panitia. (ang)

  • Lebaran Ketupat di Makam Bintaro, Kapolresta: Mari Kita Jaga Kondusifitas Keamanan

    Lebaran Ketupat di Makam Bintaro, Kapolresta: Mari Kita Jaga Kondusifitas Keamanan

    MATARAM, LOMBOKEXPRESS.ID – Tradisi Lebaran Ketupat dijadikan  momentum mempererat tali silaturrahmi masyarakat Ampenan (Satu Sampan) menuju Mataram Harum dipimpin Walikota Mataram H. Mohan Roliskana, S.Sos, MH di Makam Bintaro, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan Kota Mataram. Sabtu (29/04/2023)

    Lebaran Ketupat tahun 2023 dengan tema “MA’RIPAT Mataram Religi Ketupat” itu, selain Walikota Mataram dihadiri juga Kapolresta Mataram Kombes Pol Mustofa SIK MH, Ketua DPRD Kota Mataram H. Didi Sumardi, Dir Lantas Polda NTB Djoni Widodo, SIK, Asisten 1 Kota Mataram Lalu Martawang. Camat Sekota Mataram, Lurah sekota Mataram, Para FKPD Kota Mataram, Tokoh Agama, Tokoh Adat dan Tokoh Masyarakat dengan keseluruhan berjumlah 300 orang.

    Kapolresta Mataram Kombes Pol Mustofa SIK MH mengatakan selain Makam Loang Baloq, Makam Bintaro sebagai lokasi utama perayaan Tradisi Lebaran Ketupat tahun ini bagi masyarakat Sasak Lombok.

    Kegiatan lebaran ketupat merupakan kegiatan rutin setiap tahunnya dilaksanakan di Makam Bintaro dirangkaian dengan berbagai kegiatan yaitu ngurisan. Menaiki Cidomo sampai pantai dilanjutkan menaiki speedbot ke ke pantai Bom.

    Perayaan Lebaran Ketupat dipusatkan di dua titik, yaitu di Makam Loang Baloq di Kecamatan Sekarbela dan Makam Bintaro di Kecamatan Ampenan yang dianggap sebagai dua makam keramat di Kota Mataram.

    “Mari saling menjaga kondusifitas keamanan dan untuk melestarikan tradisi serta budaya Islami yang tidak ada di daerah-daerah lain,” imbau Kapolresta.

    Kegiatan dilanjutkan dengan Belah Ketupat Agung dan Pemukulan Beduk oleh Walikota Mataram yang didampingi oleh Kapolresta Mataram dan Ketua DPRD Kota Mataram sebagai tanda lebaran ketupat dan Menaiki Cidomo sampai dengan pantai. (ang)

  • KMHDI Mengajar, Tenaga Pendidik Agama Hindu Kurang Merata

    KMHDI Mengajar, Tenaga Pendidik Agama Hindu Kurang Merata

    DOMPU, LOMBOKEXPRESSS.ID– Pimpinan Daerah Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia Nusa Tenggara Barat (PD KMHDI NTB) menggelar KMHDI  di Kabupaten Dompu. Temanya “Berkarma Yoga Cerdaskan Anak Bangsa”.

    Acara itu dibuka secara resmi di Bale Banjar Sila Dharma, Desa Anamina, Kecamatan Manggalewa, Kabupaten Dompu, Jumat (28/04).

    Ketua Panitia I Gusti Putu Subawa Putra menjelaskan kegiatan ini merupakan bentuk Program Kerja Pimpinan Daerah dalam bentuk pengabdian masyarakat.

    “Sesuai dengan mars KMHDI yaitu Pengabdian Masyarakat yang Utama, pemilihan tema pada kegiatan kali ini adalah bentuk ikhlas tanpa pamrih. Untuk memajukan bangsa melalui pendidikan dan pengetahuan anak bangsa,” tutur I Gusti Putu Subawa Putra.

    Ketua PD KMHDI NTB, Ni Putu Virgi Eka Ayu Rasta menambahkan KMHDI Mengajar yang dilaksanakan tidak sertamerta hanya membawa eksistensi organisasi. Melainkan menjadi babak baru tersampaikannya aspirasi masyarakat di bidang Pendidikan. Khsusnya Umat Hindu di Dompu kepada pemerintah setempat maupun hingga ke pemerintah daerah.

    Kegiatan KMHDI Mengajar kali ini lanjutnya berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang pelaksanaanya masih di daerah seputar pulau Lombok. Pelaksanaan KMHDI Mengajar di Dompu kali ini tergerak karena desas-desus kurangnya pemerataan pendidikan dan tenaga pengajar.

    “Masalah tersebut sudah kami sampaikan kepada pemerintah kabupaten dan akan kami lanjutkan dalam audiensi dengan pemerintah daerah. Selain itu, dengan adanya kegiatan ini harapannya dapat memberikan sedikit motivasi untuk terus meraih mimpi, ilmu dan pengalaman yang bermanfaat,” jelas Ni Putu Virgi Eka Ayu Rasta.

    KMHDI Mengajar PD KMHDI NTB Road To Dompu ini di buka dengan resmi oleh Ketua DPRD Kabupaten Dompu Andi Bachtiar, A.Md.Par.

    Ia sangat mengapresiasi teman-teman KMHDI yang menyelenggarakan kegiatan positif ini dan menyampaikan kepada masyarakat tentang pentingnya pendidikan dan peranan pemerintah akan pemerataan pendidikan di Kabupaten Dompu.

    “Saya sangat mengapresiasi teman-teman KMHDI karena bisa hadir serta memberikan ilmu dan pengalaman kepada anak-anak di Dompu,” katanya.

    Terkait dengan tenaga kependidikan menurutnya bukan hanya di Dompu yang kurang. Melainkan di berbagai daerah juga sangat minim.

    “Saya menekankan kepada adik-adik kejarlah mimpi dan raihah pendidikan setinggi-tingginya. Walaupun tidak ada kewenangan absolut dari pemerintah kabupaten untuk mengangkat tenaga pendidik menjadi PPPK. Tapi kita akan membantu dalam penyebaran tenaga pendidik di beberapa sekolah di Kabupaten Dompu. Ini sesuai dengan kondisi, keberadaan dan eksistensi dari siswa-siswi yang ada,“ pungkas Andi Bachtiar.

    Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Asta Prasetya, laporan, sambutan, doa, penutup dan foto bersama.

    Kemudian dilanjutkan dengan beberapa pemberian materi –materi kesenian seperti tari-tarian, aksara Bali dan chanting Bhagawad Gita untuk masyarakat Hindu di Desa Anamina khusus anak anak dan remaja.

    Diharapkan dari kegiatan ini dapat memberikan motivasi dan juga ilmu yang bermanfaat bagi anak-anak di Desa Anamina, Kecamatan Manggalewa, Kabupaten Dompu. (ang)

  • Wakapolres Loteng Pimpin Rapat Lintas Sektoral Hadapi Lebaran Ketupat 1444 H

    Wakapolres Loteng Pimpin Rapat Lintas Sektoral Hadapi Lebaran Ketupat 1444 H

    LOTENG, LOMBOKEXPRESS– Polres Lombok Tengah melaksanakan rapat koordinasi lintas sektoral terkait rencana pengamanan Lebaran Ketupat 1444 H di wilayah Kabupaten Lombok di Aula Polres Lombok Tengah pada Kamis (27/03/2023).

    Rapat dihadiri Waka Polres Lombok Tengah mewakili Kapolres Lombok Tengah,

    Kasiops Kodim 1620/Lombok Tengah, Perwakilan Kejari Praya, Perwakilan PN Praya, Kasat Pol PP, Perwakilan BPBD, Manager PT. Angkasa Pura I, Perwakilan PT. PLN Praya, PJU Polres Lombok Tengah, Kapolsek Jajaran Polres Lombok Tengah, Padal Pospam dan Posyan.

    Waka Polres Lombok Tengah Kompol Refindo Pradikta Rulando, SIK, MAP menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh peserta rapat yang hadir. Sehingga nantinya kegiatan rapat pengamanan Lebaran Ketupat 1444 H dapat berjalan lancar.

    “Rapat lintas sektoral dilaksanakan sebagai langkah dalam merencanakan pengamanan Lebaran Ketupat 1444 H di Wilayah Kabupaten Lombok Tengah,” ungkap Kompol Refindo Pradikta Rulando.

    Lanjut Kompol Refindo Pradikta Rulando mengatakan  kegiatan Lebaran Ketupat 1444 H merupakan tradisi masyarakat Pulau Lombok yang dirayakan dengan meriah serta merupakan moment yang ditunggu – tunggu oleh masyarakat muslim di Kabupaten Lombok Tengah yang memiliki nilai kultur dan sakral serta nilai yang amat luhur bagi masyarakat sehingga perlu dilakukan pengamanan.

    “Terdapat sekitar 58 lokasi yang perlu dilakukan pengamanan guna mencegah terjadinya hal – hal yang tidak diinginkan. Sehingga pengamanan di tempat – tempat wisata dan makam yang akan dikunjungi masyarakat menjadi prioritas,” jelas Kompol Refindo Pradikta Rulando.

    Tidak hanya itu pengamanan di pesisir pantai dan lokasi lainnya dilengkapi dengan pengeras suara sehingga apbila terjadi hal hal yang tidak diinginkan dapat digunakan dalam membantu pencarian.

    “Bagi Polsek yang kekurangan personil dan memiliki tempat wisata yang banyak akan dilakukan penambahan sementara sebagian personil Satuan Lalu Lintas akan di tempatkan di simpang jalan sekitar Masjid Agung Praya dan Alun – alun tastura mengingat kegiatan Lebaran Ketupat pemda Kabupaten Lombok Tengah dipusatkan di Masjid Agung Praya,” tutup Kompol Refindo Pradikta Rulando. (red)

  • Polsek Sandubaya Patroli Rumah Kosong Mudik Lebaran

    Polsek Sandubaya Patroli Rumah Kosong Mudik Lebaran

    MATARAM, LOMBOKEXPRESS.ID – Untuk menjaga keamanan di wilayah pemukiman rumah kosong yang ditinggal mudik lebaran, Polsek Sandubaya Polresta Mataram melaksanakan patroli Blue Light di wilayah hukumnya, Selasa, (25/04/2023)

    Kapolresta Mataram melalui Kapolsek Sandubaya Kompol Moh Nasrullah SIK mengatakan patroli dilakukan untuk memberikan rasa aman bagi yang mudik maupun warga yang tidak mudik. Terutama mencegah terjadinya potensi adanya gangguan keamanan.

    Satu persatu rumah warga dan tempat usaha tersebut didatangi petugas. Melakukan pengecekan mulai dari pagar rumah, kunci pintu, dan jendela rumah. Petugas memastikan bangunan yang ditinggal mudik oleh pemiliknya aman dari aksi kriminalitas.

    Selain itu melakukan pengecekan terhadap aliran listrik untuk mengantisipasi konsleting yang menyebabkan potensi kebakaran. Petugas juga memastikan apabila kendaraan bermotor agar dititipkan di tempat aman.

    Lebih lanjut Kapolsek juga berharap kerjasama aparat lingkungan agar tetap waspada dalam mengawasi rumah yang kosong ditinggal mudik lebaran.

    Patroli rumah kosong ini akan terus dilakukan sampai dengan penghuni balik Mudik untuk meningkatkan pengamanan di lingkungan. “Diharapkan para pemudik tidak lagi merasa khawatir dan pantauan untuk sementara situasi kondusif,” tutupnya. (ang)

  • Jagaraga Hebat Gelar Pawai Takbiran

    Jagaraga Hebat Gelar Pawai Takbiran

    LOMBOK BARAT, LOMBOKEXPRESS.ID – Pemerintah Desa Jagaraga Hebat, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Lombok Barat menggelar pawai Takbiran pada Jumat malam (21/4). Untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah atau Lebaran 2023.

    Kades Jagaraga M Hasyim mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk mendidik generasi muda menggunakan nilai yang positif.

    “Kami berharap generasi penerus khususnya di Desa Jagaraga Hebat dapat melakukan kegiatan-kegiatan positif yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

    Pawai Takbiran diadakan setiap tahun pada malam Idul Fitri , namun pemerintah desa Jagaraga Hebat menggelar Pawai Takbiran yang pertama kalinya. Para pemuda masjid di seluruh wilayah desa Jagaraga ikut serta dalam kegiatan itu. Pawai Takbiran

    “Jumlah Dari 7 dusun Terdiri dari 9 Kafilah dengan 10 miniatur,” ujarnya.

    Selain itu, untuk mencerminkan kerukunan dan toleransi umat beragama prajaniti kecamatan kuripan ikut mengamankan Pawai Takbiran JAGARAGA HEBAT. Hal itu dikatakan kepala desa Jagaraga saat memberikan sambutan kepada peserta pawai takbiran tersebut.

    Hasil dari liputan media ini, antusiasme peserta dan warga cukup tinggi dan semangat yang menggebu-gebu dalam ucapan Takbir, Tahmid dan Tahlil menyambut Hari Raya Idul Fitri 1444 Hijriah.

    Warga dan peserta pun tak lupa mengabadikan kegiatan ini dengan berfoto selfie dan video serta mengunggahnya di jejaring sosial masing-masing seperti Facebook, IG, Status Whatsapp.

    Anggota Polres Lombok Barat bersama aparat TNI, POL PP Kecamatan , Prajaniti dan BKD terlihat melakukan operasi pengamanan sehingga lalu lintas sepanjang jalan BIL menuju kantor desa Jagaraga tampak lancar, meski pengendara harus memperlambat lajunya. (gl 02)

  • Kepala BNPT Pastikan Keamanan Lapas Khusus Klas II B Sentul Jelang Lebaran

    Kepala BNPT Pastikan Keamanan Lapas Khusus Klas II B Sentul Jelang Lebaran

    BOGOR, LOMBOKEXPRESS.ID– Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) memastikan keamanan dan pencegahan gangguan ketertiban jelang lebaran di Lapas Khusus Kelas II B Sentul.

    Hal ini berkaca dari beberapa pengalaman dimana pada Hari Raya Idul Fitri terdapat kunjungan-kunjungan dari keluarga para nara pidana terorisme.

    “Hari Raya Idul Fitri, ketika keluarga datang jenguk pastikan semua yang dibawa aman di cek. Pastikan lapas aman,” jelas Kepala BNPT RI Komjen Pol. Prof. Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si. meninjau langsung Lapas Khusus Kelas II B Sentul, Kamis (20/4).

    Kepala BNPT RI berpesan agar setiap personel penjagaan baik yang berada di dalam maupun di luar lapas maupun perangkat pendukung dalam kondisi siap jika terjadi gangguan keamanan.

    “CCTV harus terus dimonitor, brimob dan petugas lapas harus siap saling berkoordinasi, cek alat – alat keamanan yang dibutuhkan,” tambahnya.

    Menurutnya, penjagaan keamanan di dalam lapas pada momen lebaran tahun ini sangat krusial karena Lapas Kelas II B Sentul memfasilitasi kunjungan tersebut sebagai salah satu pendekatan humanis kepada napiter yang masih menjalani masa hukuman.

    “Iya kami mengizinkan kunjungan keluarga. Semoga berjalan dengan aman dan tertib,” jelas salah satu petugas jaga Lapas Kelas II B Sentul, Ricky. (bnpt/red)

  • Pengurus SMSI Terima Bingkisan Lebaran

    Pengurus SMSI Terima Bingkisan Lebaran

    PALANGKA RAYA, LOMBOKEXPRESS.ID – Kegiatan Safari Ramadan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) tahun 1444 H/2023 M berlanjut dengan penyerahan bingkisan kepada pengurus dan wartawan media massa siber anggota SMSI.

    Penyerahan bingkisan dilaksanakan Selasa (18/4/2023), atau 3 hari jelang perayaan Idul Fitri. Kegiatan disaksikan Ketua SMSI Kalteng H Sutransyah, dihadiri Dewan Penasehat H Junaidi SH serta sejumlah pengurus lainnya.

    Secara simbolis bingkisan diserahkan Ketua Bidang Kesejahteraan Edy Suroso kepada perwakilan pengurus.

    Ketua SMSI H Sutransyah di sela kegiatan mengatakan, penyerahan bingkisan atau parsel lebaran ini merupakan bagian dari rangkaian Safari Ramadan tahun 1444 H/2023 M.

    “Safari Ramadan ini merupkan agenda rutin SMSI Kalteng di Bulan Ramadan setiap tahunnya. Untuk tahun ini agenda kegiatan kita isi dengan pembagian takjil dan makanan berbuka puasa bagi masyarakat, pendistribusian mushaf Alquran, dan jelang lebaran hari ini kita bagikan juga parsel untuk rekan-rekan,” sebutnya.

    Selain dibagikan kepada pengurus, bingkisan ini juga diberikan kepada wartawan dan karyawan media massa siber anggota SMSI.

    “Di samping bingkisan lebaran bagi rekan-rekan muslim, kita juga rutin membagi bingkisan bagi rekan-rekan kristiani jelang Natal setiap tahunnya,” tambah Sutransyah.

    Di kegiatan yang sama, Ketua Bidang Kesejahteraan SMSI Kalteng Edy Suroso menyampaikan terimakasih kepada para mitra dan semua pihak yang turut membantu kelancaran kegiatan Safari Ramadan hingga pembagian bingkisan ini.

    “Semoga kegiatan sosial ini menjadi amal ibadah dan membawa keberkahan, serta meningkatkan semangat kebersamaan kita semua. Kami mengucapkan selamat jelang Idul Fitri 1444 hijriyah kepada seluruh pengurus yang merayakan,” ujarnya. (red)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (26)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (26)

    Haji

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SESUBUH hari ini, hamba sudah tiga kali dipanggil “haji.” Pertama seketika hamba membuka pintu pagar rumah, mau berangkat sholat subuh ke mesjid, ada bebeberap tetangga yang kebetulan berjalan kaki, lewat depan rumah hamba, juga mau ke mesjid. Mereka menyapa hamba, “Pak Haji!”

    Hamba jawab,”Ya, assalamualaikum, pagi.” Lantas kami berangkat bersama-sama ke mesjid, meski saya agak di depan.

    Kedua, ketika hamba baru keluar dari dalam mesjid, setelah keluar sholat subuh di perkara mesjid mau mencari sandal, seorang jamaah yang berada dekat hamba menyapa saya,”Pak Haji Wina, apa kabar?”

    “Alhamdullilah, baik dan sehat,” jawab hamba.

    Terakhir, ketiga, pas hamba mau buka kunci pagar rumah, ada sepasang suami yang juga baru pulang sholat dari mesjid, dan berjalan pulang di belakang saya, suaminya menyapa,”Ayo dulan ya, Pak Haji!”

    “Iya ya,” jawab hamba sambil membuka kunci gembok pagar.

    Hamba diberi nikmat oleh Allah memperoleh kesempatan naik haji tahun 2002, atawa 21 tahun silam. Sejak itulah hamba sering dipanggil “Pak Haji” atau “Haji Wina.” Kadang-kadang cuma “Ji” saja.

    Pada awal-awal pulang naik haji, hamba sering tidak sadar jika ada orang memanggil “Pak Haji,” maksudnya diri hamba ini. Maklumlah sebelumnya tak terbiasa dipanggil dengan atribut “Haji.”

    Menariknya, pemakian dan penyebutan gelar haji hanya ada di Indonesia. Khas Indonesia. Tak ada di negara lain. Baik orang Timur Tengah maupun orang Barat tak ada tradisi penyebutan gelar haji, termasuk untuk mereka yang telah berkali-kali naik haji.

    Sudah lama penyebutan atau panggilan “Haji” kepada seseorang menjadi perkara. Kebetulan kini jelang beberapa bulan lagi waktu naik haji, kembali gaduh soal debat ini.

    Orang awam sekali pun, sebagian besar, sudah hafal, ada lima rukun islam : membaca dua kalimat syahadat, melaksanakan sholat, menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan pergi haji, jika mampu.

    Secara sederhana kata haji dari bahasa Arab ‘hajj’ yang betarti pergi haji .

    Secara ringkas pula, ada beberapa teori mengapa dan sejak kapan gelar haji ini dipakai di Indonesia?

    Teori pertama, berkeyakinan, gelar haji sudah muncul dan disebut dalam kebudayaan pra-islam di kerajaan-kerajaan nusantara , dan atau pada era Hindu-Budha. Pada masa itu, telah dipakai istilah “Haji” atau “Aji “ yang berarti “Raja”.

    Dalam sejarah Nusantara pra-Islam, “Haji “ atau “Aji” juga merupakan gelar untuk penguasa. Gelar ini dianggap setara dengan raja, akan tetapi posisinya di bawah Maharaja.

    Pemakian gelar ini terutama ditemukan dalam pratasi-prastasi bahasa Melayu Kuno, Sunda, dan Jawa. Contohnya,

    legenda Jawa Aji Saka. Nama Aji Saka bermakna “Raja Permulaan”.

    Teori kedua, menerangkan gelar haji secara formal berasal dari pemerintah kolonial Belanda. Gelar itu diberikan kepada orang-orang yang baru pulang naik haji. Waktu itu pemerintah kokonial Belanda menduga orang-orang yang baru pulang naik hajilah yang menjadi pelopor nasionalisme perlawanan terhadap pemerintah penjajah Belanda.

    Jadi, untuk memudahkan pengawasan orang yang baru pulang haji, oleh penjajah disebutlah mereka Haji. Tak tanggung-tanggung , untuk itu, tahun 1916, penjajah mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji, yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar haji.

    Memang jika disimak, pada sekitar priode itu

    sejumlah tokoh Islam Indonesia selepas menunaikan ibadah haji mendirikan berbagai organisasi islam.

    Tercatat Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam usai ibadah haji pada 1905.

    Lantas ada KH Ahmad Dahlan, seusai pulang ibadah haji, mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Pada tahun yang sama Oemar Said Tjokroaminoto mendirikan Sarekat juga selepas kembali dari ibadah haji.

    Ada pula KH Hasyim Asy’ari usai ibadah haji mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926.

    Jadi, oleh pemerintah penjajah Belanda, gelar haji lebih merujuk kepada orang-orang yang telah naik haji dan patut diawasi lantaran semangat nasionalismenya.

    Teori ketita menjekaskan, dulu naik haji tidaklah sesederhana kiwari. Selain lama dan harus berpisah dengan keluarga, mereka juga seperti mempertaruhkan nyawa.

    Tak hanya berbulan -bulan, mereka sampai dua tiga tahun baru dapat kembali dari menunaikan ibadah haji. Mereka harus pula menembus gelombang ombak yang besar dan berbagai kesulitan lainnya, termasuk mengeluarkan dana yang besar.

    Banyak yang melaksanakan ibadah haji sambil belajar atau bekerja di rantau. Mereka juga berinteraksi dengan warga bangsa-bangsa lain yang kebetukan juga sedang menunaikan ibadah haji, secara intens disana.

    Kalau kemudian jika sakit dan meninggal saat melaksanakan rukun haji, beritanya waktu itu , sampai ke tanah masih simpang siur karena komunikasi masih sulit dan orang yang kembali dari haji juga lama. Tak heran, orang yang dulu naik haji, terkadang tidak pula lagi dan hilang begitu saja.

    Oleh lantaran itulah, sebelum naik haji biasanya keluarga yang mau naik haji, pada zaman dulu melaksanakan upacara selamatan. Mereka mendoakan agar segalanya berjalan lancar dan selamat.

    Maka secara sosiologis, masyarakat yang telah kembali dari menunaikan ibadah haji, diberikan penghormatan dan kedudukan yang tinggi. Mereka ditandai dengan panggilan dan sebutan “Haji.”

    Nah, tradisi ini masih terus berlangsung sampai sekarang. Orang yang sudah berhasil melaksnakan rukun islam kelima, naik haji, status sosialnya diletakan pada tempat yang tinggi. Terhormat. Manefistasinya, mereka ditandai dengan sebutan atawa panggilan “Haji.”

    Dari uraian ini dapat disimpulkan beberapa hal.

    Dari aspek keagamaan, ibadah haji merupakan rukun wajib islam kelima, bagi yang mampu melaksanakannya. Dari sudut ini, haji bukanlah gelar, karena memang tak ada gelar buat itu.

    Bagi kalangan ini, secara normatif, haji adalah pelaksanaan ibadah rukun islam kelima dan bukan gelar bagi seseorang. Tak ada ketentuan yang mengharuskan orang telah menunaikan ibadah haji, diberi gelar “Haji” atau dipanggil “Haji,” mamang.

    Apalagi pihak ini menegaskan, arti “haji” adalah orang yang menjadi tamu Allah ketika menuaikan haji. Jadi, setelah kembali ke tanah air, sudah bukan tamu Allah lagi, sehingga sebutan “Haji” tidak cocok dan tidak relevan sama sekali.

    Tak heran sebagian ulaman dan kaum intelektual keberatan dan menolak adanya panggilan atau sebutan “Haji” kepada seseorang.

    Sebaliknya dari aspek sosiologis, dari sudut pandang kebudayaan, penyebutan “Haji,” sudah berjalan lama. Penyebutan gelar “Haji” yang sempat merujuk kepada kaum nasionalisme radikal, telah berubah menjadi sebuah penghargaaan. Sebutan atau panggilan “Haji “ merupakan suatu kehormatan.

    Secara sosial dahulu begitu sulitnya menunaikan ibadah haji. Penuh perjuangan dan bahaya serta memerlukan ketabahan luar biasa. Pada saat ini pun naik haji bagi sebagia rakyat sahaya atau para kawula tetap bukan perkara mudah. Selain membutuhkan biaya yang tak sedikit dalam ukuran masyarakat kebanyakan Indoensia, juga masih harus antri panjang bertahun-tahun.

    Berdasarkan hal itu, penghargaan terhadap orang yang akhirnya berhasil naik haji, sangat beralasan. Meletakan orang yang telah menunaikan ibadah haji dalam tempat terhormat, sama sekali tidak salah.

    Dengan demikian, dari sudut ini, panggilan atau penyebutan “Haji” atau “Pak Haji” (untuk perempuan menjadi “hajjah”) memiliki dasar sejarah dan alas pembenar yang kuat. Ini penghormatan terhadap perjuangan terhadap seorang umat islam yang telah berhasil menunaikan rukun islam kelima dengan selamat. Lantas apa salahnya jika kepada mereka diberikan panggilan atau sebutan kehormatan “Haji” atau “Hajjah?” Tak ada yang salah.

    Dalam konteks penyebutan dan panggilan “Haji” makna kata “Haji” secara sosiologis sudah mengalami penambahan atau pergeseran dalam kebudayaan Indonesia. Kata “haji” tak lagi semata-mata bermakna hariah, melainkan juga sudah menjelma menjadi bagian dari penghormatan masyarakat kepada orang yang berhasil menunaikan rukun islam kelima.

    Kalau begitu mana yang benar dong? Hamba berpendapat, dua-duanya benar. Dari tinjauan perpektif agama memang tak ada dasar penyebutan dan panggilan “haji,” meskipun tak ada pula larangan penyebutan dan panggilan “Haji.”

    Dari tinjauan sosiologis dan kebudayaan, sebutan atau panggilan penghormatan “Haji” merupakan hal yang wajar. Dan yang terpenting penghormatan panggilan dan penyebutan itu tidak bertentangan dengan aqidah agama islam. Dia tidak mesekutukan Allah, bahkan menghormati Allah melalui penghormatan terhadap sesama hamba Allah yang sudah berhasil menunaikan ajaran Allah, rukun Islam kelima.

    Islam agama sangat demokratis. Para pihak yang pro kontra terkait soal ini, silakan menjalankan pendpatnya masing-masing. Bagi yang tidak setuju dan keberatan terhadap sebutan dan panggilan “Haji” di masyarakat, tentu boleh menyatakan menolak terhadap sebutan dan pengilan itu. Sebaliknya bagi mereka yang masih merasa perlu dengan simbol-simbol penyebutan dan pangilan kehormatan “Haji” dalam kehidupan dan penghidupan keseharian, juga dipersilakan melanjutkan.

    Adapun yang tidak boleh adalah, saling menghujat. Saling menghina. Merasa paling benar sendiri. Merasa pemegang otoritas tunggal dalam menafsirkan agama di masyarakat, sedangkan yang lain tidak berhak, salah dan haram hukumnya.

    T a b i k.***

     

    Bersambung…..

     

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior dan Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.