Blog

  • Ramadhan Berbagi ala DCab-ID NTB

    Ramadhan Berbagi ala DCab-ID NTB

    MATARAM, LOMBOKEXPRESS.ID– Double Cabin Chapter Nusa Tenggara Barat atau DCab-ID NTB, Rabu (12/4/2023), menggelar bakti sosial (baksos) Ramadhan 1444 Hijriyah/2023 Miladiyah, dengan berbagi sembako dan menu berbuka puasa.

    Ketua DCab-ID NTB Aditya Pandu Perdana ditemui di sela baksos Ramadhan mengatakan, kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian para pecinta mobil  double cabin (4×4).

    “Kami senang bisa berbagi dengan sesama. Kegiatan baksos Ramadhan kali ini kami laksanakan di dua lokasi, pusat arus lalu lintas di sekitaran Kantor Gubernur ini dan nanti lanjut ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir, red) Kebon Kongok,” ungkapnya.

    Sapaan Adit itu menjelaskan, dana dalam kegiatan baksos Ramadhan DCab-ID NTB bersumber dari swadaya (urunan) angota.

    “Jadi nasi bungkus dan sembako yang kami bagikan, adalah swadaya anggota yang berhasil kami galang. Semoga apa yang bisa kami berikan ini bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujarnya.

    Sementara Humas DCab-ID NTB Made Anang Sanakumara menyebutkan, agenda baksos Ramadhan ini tajuk Seduluran Saklawase (bersaudara selamanya).

    “Kami di DCab-ID bukan cuma sekedar senang-senang menyalurkan hobi saja, tapi organisasi kami ini juga memiliki kepedulian, atau dengan kata lain memiliki kesadaran sosial. Itulah kenapa tema yang kami usung seduluran saklase,” katanya.

    “Jadi kami memiliki kesetiakawanan sosaial, sesuai moto kami bersaudara selamanya,” imbuh Anang.

    Untuk diketahui, pengurus dan anggota DCab-ID NTB yang akan menggelar baksos Ramadhan, berkumpul di halaman Islamic Center (IC) NTB sekitar pukul 15.30 Wita. Dengan mengendarai mobil double cabin masing-masing, mereka beriringan menuju Kantor Gubernur NTB untuk membaikan nasi bugkus.

    Dari depan Kantor Gubernur NTB, rombongan baksos Ramadhan DCab-ID NTB melanjutkan kegiatan ke TPA Kebon Kongok. Usai membagikan paket sembako, rombongan bertolak kembali ke IC NTB di Mataram untuk buka puasa bersama dan dilanjutkan shalat Maghrib berjamaah. (ang)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Suhuh (21)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Suhuh (21)

    Dilema Sedekah Kepada Pengemis

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SEORANG kotib, setelah sholat subuh berjemaah di mesjid, dalam ceramahnya mengatakan, kita diwajibkan untuk menolong membantu anak yatim dan fakir miskin, termasuk pengemis.

    Menurutnya, doa dari para anak yatim itu makbul, atau besar kemungkinan bakal dikabulkan Allah.

    Dia menganjurkan, kalau di lingkungan kita, atau kita tahu, ada anak yatim yang potensinya bagus, tak usah ragu-ragu untuk dijadikan anak asuh. _Gak_ perlu takut kekurangan rejeki, lantaran justeru nanti rejeki bakal datang lebih banyak.

    Kalau perlu, katanya, tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Bantulah lebih dahulu di lingkungan keluarga atau sanak famili.

    Begitu juga dengan kaum miskin, terlebih para pengemis. Kalau ada uang, berapa aja, berikan saja. Kita tidak boleh “bermuka masem” kalau ada pengemis meminta-minta kepada kita.

    Namun kotib juga mengingatkan, sekarang ini agak susah membedakan mana “pengemis” asli dan “pengemis” palsu, atau “pengemis asli palsunya.”

    Dia mengungkapkan, realitas sosial yang sebagian orang mungkin sudah mengetahuinya: “para pengemis” kini sudah ada koordinatornya dan bekerja sistematis

    serta berjenjang pula. Misal di lampu-lampu merah lalu lintas, di semua bagianya ada pengemis. Nah, pengemis ini sudah diatur dalam manajemen yang profesional. Ada jam kerjanya. Ada shifnya.

    Di setiap sudut jalan di lampu merah itu, ada “pengawas” para pengemis. Mereka memantau kinerja para pengemis. Setelah jam kerjanya habis, mereka juga mengatur pergantian shift-nya itu.

    Para pengawas ini menyediakan pula makanan buat para pengemis yang selesai bekerja. Dan tentu saja mengambil uang hasil kerja memgemis, dan memberikan sedikit bagian buat para pengemisnya.

    Kendaraann antar jemput sudah diatur oleh “bos” atasan para pengawas.

    Jangan salah, baik para pengemis, apalagi “bosnya,” hidup mereka gak susah-susah banget, bahkan ada yang tingkat hidup ekonominya di atas rata-rata.

    Bagaimana tidak.

    Mereka di kampungnya punya rumah permanen. Dari kerangka beton. Ada yang bertingkat pula. Perabot dan dekorasinya juga bukan kaleng-kaleng. Sarana elektronik termasuk yang mutahir.

    Di garasi ada mobil. Bahkan ada yang dua sekaligus. Lebih hebat lagi, dari mereka ada yang ….punya isteri lebih dari satu.

    Tak heran, bisa saja mereka ekonominya justeru jauh lebih sejahtera ketimbang yang memberi sedekah kepada pemgemis.

    Padahal semua itu hasil dari mengemis. Ya usaha dari mengemis!

    Hasil yang luar biasa itu tak terlepas pula dari cara kerjanya mirip mafia. Rapi, penuh tipu daya, dan terkontrol. Pendeknya mereka juga manageble, atau dengan manajemen yang baik.

    Belajar dari pengalaman, mereka pun mulai mengenal pendekatan terhadap birokrasi. Jika ada pengemis yang kena rahasia dan ditangkap polisi “tibum” alias polisi ketertiban umum dari polisi pamong praja, sudah ada “petugas khusus” yang bakal melakukan lobi dan negosiasi dengan pihak Sapol PP dan pihak-pihak terkait lainnya. Jadi amanlah. Paling kalaupun tertangkap , beberapa hari saja sudah bebas lagi. Para “petugas khusus” sudah mengaturnya.

    Mereka sangat faham memanfaatkan empati dan

    dorongan masyarakat untuk menjalankan perintah agama . Walaupun tidak belajar, mereka pun nampaknya “menguasai psikologi sosial” ikhwal belas kasihan naluri kemanusiaan.

    Maka dibuatlah diri para pengemis menjadi dapat menghasilkan rasa iba.

    Ada pengemis yang wajah dan tubuhnya dibuat dekil dan seakan-akan ada luka di sana sini. Itu semua rekayasa. Bohong. Semua buatan.

    Ada pula pengemis yang membawa-bawa anak. Padahal anak itu bukan anak sendiri, tapi anak sewaan. Seharian si anak atau bahkan bayi disewa antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

    Lebih hebat, dan sekaligus sadis, anak-anak atau bayi-bayi itu sebelum “dikaryakan” diberikan sejenis obat tidur agar terus teler. Tujuannya untuk semakin membuat masyakarta iba.

    Para pengemis juga mengeksploitir kecacadan. Mereka menampilkan diri sebagai manusia dengan kaki atau tangan buntung sebelah.

    Asumsinya , semakin nampak menderita seorang pengemis, semakin bakal dikasihani oleh masyarakat, dan itu artinya cuan semakin besar.

    Padahal, sekali lagi, semua itu cuma sandiwara. Kaki dan tanganya aslinya tidak buntung sama sekali, tapi “disulap” dengan tipuan sedemikian rupa, seakan-akan memang benar buntung. Misal dilipat dengan celana berkapis-lapis sedemikian rupa, sehingga kelihatan satu kaki hilang.

    Tentu mereka tak ketinggalan belajar “akting.” Para pengemis ini “berakting” ngesot layaknya disablitas. Mereka juga belajar memakai tongkat untuk berjalan. Dan aktingnya memang menyakinkan, sehingga hati masyarakat banyak yang tersentuh dan memberika uang.

    Tidak boleh dilupakan, niat memberikan bantuan juga sering kali membahayakan diri kita sendiri. Pernah suatu ketika, sepulang dari pertemuan acara keluarga di rumah seorang kakak, hamba pulang malam bersama isteri naik mobil. Waktu itu sekitar jam 23.30. Kebetulan yang menyetir mobil isteri hamba. Sedangkan hamba sendiri duduk di kursi sebelah. Senderan kursinya hamba kebelangkangkan, sehingga dapat dipakai rebahan. Dari luar, seakan-akan dalam mobil cuma ada isteri hamba saja.

    Sesampai di lampu merah CSW, dari arah Jakan Wolter Mongunsidi-Trunojoyo, menju ke arah RSP, pas di lampu merah dan mobil berhenti, ada seorang pengemis ngesot karena kakinya “buntung.” Dia mendekati mobil kami. Begitu sampai di samping mobil kami, dia berdiri. Isteri dan hamba yang dari tadi memperhatikan ya terkejut bukan alang kepalang.

    Nampaknya si pengemis gadungan itu siap-siap bakal melakukan kejahatan kepada isteri hamba. Dia pikir, perempuan malem-malem, menyetir sendiri, menjadi makanan empuk.

    Begitu hamba menegakkan sandaran kursi, dan terlihat olehnya, balik dia yang sangat terkejut bukan alang kepalang. Dia tidak menduga di dalam mobil juga ada lelaki. Tanpa banyak cingcong dia mabur. Dia lupa kakinya tadinya “buntung.”

    Penipuan tak hanya dengan cara mengemis. Sering pula nemakai institusi sosial seperti yayasan untuk anak yatim atau buat pembangunan mesjid. Banyak “kotak amal” dari berbagai yayasan, ternyata hasilnya bukan dipakai untuk tujuan membantu kaum dhuafa atau membangun mesjid dan lain-lain, melainkan diambil untuk kepentingan pribadi. Yayasan-yayasan yang disebut sering cuma kedok, bahkan yayasannya tak ada.

    Terakhir orang memanfaatkan ketaat beragama dengan mengikuti perkembangan teknologi. Kiwari kita kalau mau mendonasikan uang kita cukup lewat proses QR dari HP. Praktis.

    Eh, belakangan, QR pun dipalsukan. Di mesjid-mesjid (antara kain mesjid Istiqal dan mesjid di Blok M), terminal, bandara dan tempat-tempat umum lain sudah terbukti terpasang QR palsu, QR yang duitnya masuk ke dompet digital pribadi para penipunya.

    Ajaran agama untuk memberikan bantuan kepada anak yatim dan fakir miskin, kini menjadi tak sederhana lagi. Niat baik dalam diri kita, belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik sesuai keinginan kita, bahkan sebaliknya malah dapat membantu kaum komplotan yang memanipulasi para pengemis palsu.

    Sebagian dari kita mungkin ada yang berpendapat, ”_Ah, yang penting niat kita baik, selebihnya kalau mereka jahat, itu tanggung jawab mereka masing-masing. dengan Tuhan._”

    Sikap ini secara tidak langsung telah membantu kebohongan, dan tentu yang membantu kebohongan tidak dapat dikatakan lagi berniat baik serta harus mempertanggungjawkan perbuatannya. Selain itu bukankah antara kebaikan dan kebodohan sebenarnya berbeda jauh, baik niat maupun dampaknya.

    Barangkali kita perlu memikirkan kalau ingin menolong atau berardekah kepada para pengemis, di tempat-tempat umum, lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya? Kalau memberi bantuan sembarangan kepada para pengemis di jalan, jelas lebih banyak mudaratnya. Pertama, tujuan membantu kaum miskin tidak tercapai. Kedua, kita membantu kelompok mafia pengemis. Ketiga, dapat membahayakan diri kita sendiri.

    Disinilah ada baiknya kita memberikan bantuan, sedokah, amal jariah, apapun namanya, kepada lembaga-lembaga resmi yang sudah jelas kridibilitas dan keberadaanya. Jika tidak langsung saja berikan kepada yang kita tahu benar-benar memang membutuhkan.

    Menghadapi hal seperti ini kotib sholat subuh mengingatkan,”Kalau pun kita tidak mau memberikan bantuan, kita sebaiknya diam saja. Tak usah mengumpat mereka.”

    Kita tidak boleh menyuburkan kemalasan dengan memberikan bantuan yang salah arah. Selain itu, bukankah dalam islam tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah?

    T a b i k***

     

    Bersambung…

     

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* -wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (20)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (20)

    Tausiah Minggu Subuh Dengan Hidangan Makanan Kecil

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    TELAH bertahun-tahun setelah sholat subuh di hari minggu, di mesjid kami dilanjutkan dengan ceramah atau tausiah oleh Pak Uztad Satari Mar’uf, ketua pengurus Dewan

    Mesjid kami. Setelah ritual sholat subuh, para jemaah mundur beberapa shaf, biasanya ke shaf kelima atau keenam. Sedangkan Pak Uztad kemudian duduk di kursi mimbar yang memang khusus dibuat untuk acara ini.

    Mimbar diletakan tiga shaf kosong di hadapan para jemaah. Atau shaf kedua dari depan. Mimbarnya pendek sehingga sesuai dengan tinggi badan yang duduk di kursi.

    Acara ini, menurut Pak Uztad sendiri, pertama-tama untuk silahturahmi para jemaah. Kemudian juga buat saling mengingatkan dan berbagi ilmu. Biasanya tousiah berlangsung sekitar kurang lebih 30 menitan. Para jemaah yang duduk santai menyimak dengan cermat yang dikemukakan Pak Uztad.

    Di luar materi tausihanya, ada hal yang yang juga menarik. Ketika Pak Uztad sedang menguraikan bahan pembicaraan, para jemaah dibagikan boks kertas kartun berisi kue. Biasanya isinya tiga macem. Sekali-kali, jika ada yang menyumbang, jumlah dapat menjadi enam macam.

    Selain dibagi boks panganan,kami juga disuguhi minum teh panas manis. Bagi jemaah yang tidak minum air teh manis, boleh pilih air putih.

    Selama pembagian makann dan minum, “ceramah” tetap berjalan. Tak ada yang saling mengganggu. Sekali-kali penceramah malah mengatakab,”Ayo kita minum dulu suguhanya!”

    Sebelumnya, dalam beberapa selingan tausiahnya, Pak Ustaz menjelaskan, selain urusan-urusan aqidah dan ibadah, umat Islam juga diajarkan untuk memperhatikan urusan-suruan dunia. Dan untuk urusan dunia ini, kata Pak Uztad, manusia diberikan pengetahuan apa yang baik bagi manusia itu , dan atau kelompoknya. Pembagian snack dan minuman adalah bagian dari urusan dunia agar kita juga dapat merasa senang.

    Demikianlah sudah berlangsung lama setiap minggu ba’da sholat subuh, di mesjid kami diadakan tausiah dengan juga menyajikan suguhan pangan snack. Biasanya jemaah hanya minum saja, sedangkan boksnya dibawa pulang.

    Jadi, ketika pulang sebagian besar jemaah membawa pulang “oleh-oleh.” Dari raut wajah dan gestur tubuhnya kentara para jemaah bersuka cita membawa makanan dari mesjid, termasuk hamba ini.

    Dalam kebudaayaan orang Indonesia, membawa “oleh-oleh” atawa “berkat” dari suatu acara, merupakan kebiasaan atau tradisi yang kuat. Walaupun “oleh-oleh” atau “berkat” yang dibawa sebenarnya juga dapat dibeli dengan mudah, baik kesediaan maupun harganya, tapi buah tangan itu mempunyai nilai yang khas yang menyenangkan keluarga yang menerimanya. Maka para jemaah pun membawa pulang boksnya demgan senang hati.

    Adapun minumnya ketika keluar dari mesjid, pengurus mesjid sudah menyediakan petugas yang membawa kantong plastik besar untuk tempat bekas minuman. Para jemaah membawa minumannya masing-masing waktu pulang dan nenempatkanya ke kantong plastik itu. Dengan demikian mesjid tetap bersih.

    Memang acara ini bukanlah bagian dari kewajiban atau sunah dalam sholat subuh, tapi merupakan kegiatan tersendiri yang memberikan kemanfaatan buat jemaah. Sifatnya juga sukarela dan elastis. Jika setelah sholat subuh, kita ada keperluaan lain, kita boleh tidak ikut acara ini. Bebas saja. Bahkan kalau kita tidak ikut acaranya , tapi mau bawa pulang berkatnya juga boleh….

    Oh ya, tentu ketika bulan puasa, kegiatan ibi sementara ditiadakan.

    T a b i k.***

     

    *Wina Armada Sukardi * _wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi._

  • Asyiknya Buka Puasa Bersama di Lesehan Green Asri

    Asyiknya Buka Puasa Bersama di Lesehan Green Asri

    MATARAM, LOMBOKEXPRESS.ID – Buka puasa bersama atau buka bareng keluarga dan kerabat juga rekan kerja atau teman sejawat, menjadi tren umat Islam di Nusa Tenggara Barat (NTB) selama buan suci Ramadhan penuh berkah. Bingung nentuin mau buka puasa bareng dimana? Lesehan Green Asri di Jalan Ahmad Yani (Lingkar Utara) Sayang-Sayang, Cakranegara Kota Mataram, NTB siap melayani Anda dan keluarga serta rekan sejawat.

    Ketua Serikat Media Siber Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (SMSI NTB) HM Syukur mengatakan, Lesehan Green Asri referesentatif dalam pelayanan.

    “Sebagai salah satu rumah makan di seputaran Kota Mataram khususnya area Sayang-Sayang, Lesehan Green Asri sangat referesntatif untuk memenuhi selera kuliner,” ungkapnya.

    Ditemui usai buka puasa bersama keluarga besar SMSI NTB, Selasa (11/4/2023) malam, salah satu wartawan senior NTB itu mengungkapkan kepuasannya, dengan kuliner dan pelayanan di Lesehan Green Asri Sayang-Sayang.

    “Selain lokasinya yang sesuai dengan namanya ‘Asri’, masakan dan pelayanan Lesehan Green Asri sangat memuaskan,” ujar HM Syukur.

    “Selain itu, harga juga sangat-sangat terjangkau. Pokoknya recommended dah,” imbuhnya.

    Hal senada juga dikatakan Hj. Khairun Nisa yang datang bersama keluarga dan cucunya. Menurutnya, menu atau masakan yang disajikan Lesehan Green Asri sangat khas dan mengundang selera.

    “Anak-anak dan cucu-cucu saya sangat menyukai masakan di sini. Kami sudah beberapa kali buka bersama keluarga di Lesehan Green Asri ini,” ucapnya.

    Untuk diketahui, Lesehan Green Asri Sayang-Sayang, adalah sebuah rumah makan dengan suasana yang asri dan nyaman dimana konsep bangunannya menyatu dengan persawahan. Selain itu juga menyediakan area atau spot untuk berswa foto.

    Lesehan Green Asri menyediakan berbagai menu masakan dan minuman seperti ayam pelecingan sambal terasi, ayam bakar pelecingan dan ayam goreng pelecingan. Ada juga udang dan cumi dengan berbagai varian mulai goreng tepung, asam manis, saus tiram, saus padang dan pelecingan pedas.

    Tidak hanya itu, Lesehan Green Asri Sayang-Sayang juga menyediakan menu ikan nila dan gurami dalam berbagai variasi seperti nila dan gurami bakar dan pelecingan, bakar pelecingan madu, nila dan gurami rajang, asam manis, goreng, nila dan gurami soup dan saus padang.

    Sebagai pelengkap dan penambah selera, Lesehan Green Asri Sayang-Sayang juga menyediakan telur gulung, pepes ikan laut, tempe dan tahu, teri sambal bawang, urap, sayur bening, lebui dan berbagai jenis penggugah selera lainnya seperti pelecing kangkung, pelecing jamur, pelecing terong dan beberok.

    Kalau soal minuman jangan tanya lagi, Lesehan Green Asri siap menyajikan berbagai jenis minuman kesukaan Anda dan keluarga, mulai es kelapa muda dengan gula merah dan sirup sampai berbagai jenis juice serta minuman lain. (red)

  • Bangun Ketahanan Masyarakat, BNPT RI Jalin Kerja Sama dengan BKKBN dan Pelindo

    Bangun Ketahanan Masyarakat, BNPT RI Jalin Kerja Sama dengan BKKBN dan Pelindo

    JAKARTA, LOMBOKEXPRESS.ID – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) melihat pentingnya membangun ketahanan masyarakat dari ideologi kekerasan yang berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

    “Kita membangun kesadaran dengan para pihak untuk mencegah masuknya ideologi itu di sendi-sendi kehidupan, bagaimana kita membangun ketahanan masayarakat,” kata Kepala BNPT RI Komjen Pol. Prof. Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si saat Penandatanganan Nota Kesepahaman bersama BKKBN dan Perjanjian Kerja Sama dengan PT Pelindo (Persero) pada hari Selasa (11/4).

    Kepala BNPT RI menyampaikan jika kerja sama dengan BKKBN akan difokuskan pada membangun ketahanan anak muda dari paham radikalisme.

    Selaras dengan yang dikatakan Prof. Rycko, Kepala BKKBN dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) menjelaskan kerja sama ini sangat strategis karena bertujuan memperbaiki kualitas generasi muda dalam mewujudkan Indonesia Emas pada 2045 mendatang.

    “Kerja sama ini sangat strategis karena memperbaiki kualitas generasi muda kita yang jumlahnya lebih banyak, kita harus bisa keluar dari jebakan itu (terorisme),” kata Hasto.

    Dalam hal kerja sama dengan PT Pelindo (Persero), asesmen terhadap aset perusahaan pelat merah tersebut akan dilakukan dalam rangka perlindungan terhadap tindak pidana terorisme. Selain itu, sosialisasi pencegahan juga akan diberikan kepada pegawai PT Pelindo (Persero) serta anak perusahaan dan afiliasinya.

    “Kami berharap Pelindo dijaga, edukasi bagi kami semua pegawai Pelindo, juga melakukan asesmen agar aset kami dapat berguna untuk Indonesia,” tutup Direktur Utama PT Pelindo (Persero) Arif Suhartono. (bnpt/red)

  • Polsek Gunungsari Cek TKP Penemuan Bayi di Desa Kekait 

    Polsek Gunungsari Cek TKP Penemuan Bayi di Desa Kekait 

    LOBAR, LOMBOKEXPRESS.ID-Polsek Gunungsari bergerak cepat. Mengecek TKP penemuan  bayi berjenis kelamin laki-laki pada Minggu, 09 April 2023 sekira pukul 20.40 wita di Jalan Raya Tanjung tepatnya di Pos Ronda sebelah barat jalan raya dusun Wadon Desa Kekait Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat.

    Kapolsek Gunungsari AKP Agus Eka Artha Sudjana SH beserta Kanit Reskrim Aiptu Josua PRG bersama 4 personel piket fungsi Polsek Gunungsari merespon cepat melakukan pengecekan TKP (Tempat Kejadian Perkara).

    Kapolresta Mataram melalui Kapolsek Gunungsari AKP Agus Eka Artha Sudjana SH membenarkan kejadian tersebut saat di lokasi bahwa pada hari Minggu, 09 April 2023 pukul 20.40 Wita. Terjadi penemuan bayi di TKP pinggir jalan raya Tanjung oleh masyarakat tepatnya di pos ronda yang berada di sebelah barat jalan raya dusun wadon desa Kekait Kecamatan Gunungsari. Minggu, (09/04/2023).

    “Sesampainya di TKP setelah dilakukan pengecekan dan pemeriksaan kondisi bayi dalam keadaan sehat jasmani dan rohani,” kata AKP Agus Eka.

    Kapolsek pun juga menjelaskan yang menemukan bayi tersebut adalah anak -anak yang sedang bermain di sekitar TKP. Salah seorang anak tersebut memanggil saksi Baiq Laili Anggraini yang jaraknya sekitar 20 meter.

    Selanjutnya saksi kemudian datang mengangkat atau menggedong bayi tersebut untuk dibawa ke rumah Kadus Wadon Muzakir dan setiba di rumah pak kadus langsung dibuatkan susu dan dirawat.

    Karena peristiwa tersebut kemudian warga sekitar TKP beramai- ramai datang untuk melihat bayi yang masih sehat dan terlihat lucu.

    Pihaknya memperkirakan bahwa bayi yang berjenis kelamin laki-laki diperkirakan umur baru 1 hari dalam keadaan sehat jasmani dan rohani tersebut ditemukan dalam keadaan terbungkus dengan kain batik warna ungu dan kain warna oranye untuk bantal.

    Menurut keterangan saksi -saksi ciri-ciri pelaku saksi Andriyan Hasani, 19 tahun, melihat pelaku menggunakan SPM beat warna hitam berboncengan laki dan perempuan jilbab hitam.

    “Keduanya menggunakan jaket warna merah dan sempat membeli minuman di warung sebelah timur TKP dan pergi kearah Utaraenuju tanjung,” tutur Kapolsek.

    “Kami telah menghubungi dan berkoordinasi denga Unit PPA Polresta Mataram dan Puskesmas Gunungsari untuk dilakukan proses penyelidikan serta menitipkan bayi tersebut kepada Dinas Sosial,” tutupnya. (ang)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (19)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (19)

    Sulitnya Sholat Subuh Berjemaah di Hotel

    SEBELUM pandemi covid-19, hamba hampir setiap minggu keluar kota (Jakarta). Biasanya, rata-rata seminggu dua kali.

    Ada saja urusannya untuk keluar kota. Untuk pelatihan, ceramah, jadi ahli (di polisi atau pengadilan), menjadi advokat di pengadilan, rapat kerja, seminar, mengajar dan sebagainya. Ruang lingkung aktivitas hamba yang luas, membuat bidang kegiatan hamba juga beragam.

    Misalnya lantaran hamba konseptor untuk pembuatan Standar Kompetensi Wartawan, dan berbagai standar atau pedoman Dewan Pers lainnya, Pendidikan Ahli Dewan Pers, hukum pers, advokat, dosen, kebudayaan, dan sebagai dan sebagainya, sehingga memungkinkan memberikan materinya dari pelbagai bidang. Makanya hamba kala itu sangat sibuk keliling Indonesia.

    Biasanya kalau keluar kota, hamba oleh panitia diinapkan di hotel. Di tempatkan di hotel jenis apapun juga, hamba tidak pernah mengeluh.
    Persoalannya, ternyata, kalau berada di hotel, info tentang mesjid terdekat yang mengadakan sholat subuh, tak ada sama sekali. Hampir di semua hotel yang hamba tempati memang terdapat mushola, tapi ketika disambangi, sama sekali tak ada kegiatan sholat subuh disana. Informasinya pun tak ada. Juga di bulan puasa.

    Di sebagian besar hotel memang ada tanda arah kiblat, tapi tak ada informasi apapun soal sholat subuh berjemaah. Jangankan informasi dimana mesjid terdekat yang melaksanakan sholat subuh berjemaah, pukul berapa waktu setempat sholat subuh dilaksanakan pun tak tersedia (beruntung sekarang sudah banyak aplikasi yang menyediakan hal ini).

    Tak hanya di daerah, demikian pula hotel-hotel di Jakarta. Informasi soal itu nihil. Walhasil, orang dari daerah yang menginap di hotel di Jakarta pun, tentu sulit menemukan harus ke mesjid mana untuk sholat subuh berjemaah di Jakarta.

    Pernah hamba karena mendengar suara azan subuh di hotel, hamba langsung mencari-cari dimana mesjidnya. Meski agak jauh kalau berjalan kaki, tapi hamba hampiri juga mesjid itu.

    Apa yang terjadi? Ternyata di mesjid itu tak ada solat subuh berjemaah. Mesjid melompong.
    Muhazin hanya mengumandangkan azan subuh saja, tapi di mesjud itu sendiri tak ada sholat subuh berjemaah.

    Indonesia, konon, terkenal sebagi negara dengan sejuta mesjid. Indonesia juga terkenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di atas jagad ini. Tapi jika kita mau sholat subuh berjemaah di luar kota dari hotel, susahnya setengah mati.

    Hamba mau sekedar usul, ada baiknya di setiap hotel di Indonesia disediakan data: jam berapa waktu lokal sholat subuhnya. Diberikan pula informasi beberapa mesjid yang terdekat dari hotel yang mengadakan sholat subuh berjemaah. Di informasi itu ditambah dengan keterangan berapa lama waktu tempuh kesana.

    Perlu dijelaskan apakah memungkinkan jalan kaki, atawa harus naik kendaraan motor atau mobil.

    Pemberitahuan atau informasi seperti ini cukup ditulis di selembar kertas dan diganti sebulan sekali. Atau, lantaran kiwari sudah zaman digital, pemberitahuaan itu pun cukup melalui text digital atau tayagan video di televisi hotel bersama tayangan-tayangan keterangan hotel lainnya, seperti letak restoran, kolam renang dan sebagainya.

    Apakah kemudian informasi itu mau digunakan para tamu hotel atau tidak, terserah saja. Itu sudah bukan urusan dan tanggung jawab hotel lagi.
    Lebih “cakep” lagi jika di musholah mesjid diadakan sholat subuh berjemaah. Hotel dapat bekerja sama dengan masyarakat setempat, atau Dewan Kepengurusan Mesjid lokal, untuk menyediakan imam sholat subuh berjemaah di musholah hotel.
    Pada awalnya mungkin tak banyak yang mengikutinya. Tak apa. Dulunya juga di mall demikian. Anggapan awalnya, apa iya pengunjung mall yang rata-rata menengah ke atas, mau kalau pas waktu sholat, sholat di musholah mall. Nyatanya hari ini pada waktu-waktu sholat, musholah mall selalu penuh. Apalagi pada bulan puasa, sampai harus dibuat beberap termin.

    Demikian juga di hotel. Mungkin awalnya cuma beberapa orang. Cuma segelintir tamu yang sholat subuh berjemaah. Tidak apa. Lama-lama juga memadai.

    Penyediaan informasi ikhwal soal shokat subuh berjemaah oleh hotel bakal membuat hotel-hotel di Indonesia menjadi khas. Para tamu dari seluruh dunia bakalan faham, Indonsia dengan sejuta mesjid dan jumlah umat islam terbesar di dunia, hotel-hotelnya selalu menyedia informasi mengenai mesjid terdekat yang menyelenggarakan sholat subuh berjemaah, bahkan sebagian hotelnya sendiri menyediakan sarana tersebut.
    Itulah Indonesia. Umat non muslim pun pasti maklum dan tidak berkeberatan, sebagaimana umat muslim juga tak keberatan disebagian besar hotel di Eropa dan Amerika diwajibkan menyediakan injil. Di mana bumi dipijak, kita menghormati adat istiadat, kebiasaan dan agamanya.

    Selama ini, akhirnya, kalau ada di hote di luar kota, hamba sering menganggap diri hamba musafir, sehingga terbebas dari kewajiban sholat, termasuk sholat subuh. Kalaupun sholat subuh, ya di kamar hotel aja. Sendirian.

    T a b i k***

    Bersambung……

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (18)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (18)

    *Jujurnya Kejujuran*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SHOLAT Subuh di mesjid mengajarkan kepada kita: kejujuran pada diri sendiri. Kejujuran yang tanpa pretensi. Kejujuran tanpa pengawasan manusia. Kejujuran yang merefleksikan kebenaran.

    Betapa tidak. Subuh hari masih dingin. Masih ngantuk pula. Kita harus mengambil wudu atawa air sembayang. Meski memakai air panas, rasa males pun masih belum hilang. Apalagi kalau memakai air biasa yang terasa dingin.

    Setelah kita ambil air wudu, lantaran hari masih subuh, kini sering lantas mau buang air kecil lagi, terutama di bulan puasa. Maklumlah baru selesai sahur. Berarti harus mengambil lagi air wudu lagi.

    Selesai? Belum! Saat kita sudah selesai wudu, dan mau memakai baju, eh, terkadang tak dapat ditahan, kita buang angin, alias, maaf, kentut.

    Konsukuensinya, kita harus mengulang kembali mengambil wudu. Terkadang, setelah membuang angin pertama, di bulan puasa, kita sering kembali kentut.

    Wah, repot juga ya? Kita wajib mengulang berwudu.

    Disinilah dibutuhkan kejujuran sejati. Kita batal wudu, tidak ada yang tahu. Kalau kita langsung sholat, tidak ada yang complain. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang marah.

    Juga tak ada sanksi dari sesama manusia. Jika kita tetap berangkat sholat subuh di mesjid, sesama jemaah tetap memperlakukan kita seperti biasa. Tak ada yang mencela atau mengucilkan kita, karena memang tak ada yang faham.

    Kendati begitu, toh, kita tetap mengulang kembali seluruh prosesi mengambil air wudu.

    Kenapa? Ini lantaran kita merasa harus jujur. Jujur terhadap diri sendiri. Jujur terhadap kebenaran fakta. Jujur sebagai sebuah pola pikir dan pola sikap yang berasal dari budi luhur diri sendiri , bukan jujur agar dianggap baik oleh sesama manusia.

    Sebuah kejujuran yang hanya merefleksikan kebenaran. Kejujuran yang sejati. Sebuah kejujuran yang justeru menghormati Allah. Jika kita jujur kepada diri sendiri, berarti kita bakalan jujur pula kepada Allah. Itulah jujurnya kejujuran.

    Dari sihilah kita faham, sholat subuh di mesjid memiliki banyak dimensi. Sholat subuh selain merupakan perwujudan ketaatan kita kepada Allah, juga mengajarkan dan membentuk berbagai dimensi : disiplin waktu dan membangun kejujuran pribadi. Kejujuran sebagai sebuah nilai mulia. Kejujuran yang lahir dari sanubari dan bukan kejujuran yang merupakan tuntutan dari masyarakat. Kejujuran yang paling tinggi.

    Sepanjang kita masih mampu, tak peduli berapa kali kita batal wudu jelang sholat subuh di mesjid, sebanyak itu pula kita perlu mengulanginya kembali sampai wudu sempurna. Kejujuran yang membimbing dan menuntun kita.

    Konsepsi inilah yang kemudian melahirkan inspirasi kepada hamba ini untuk menuliis sebuah puisi sebagai berikut:

     

    *KEBENARAN TANPA SAKSI*

     

    Ini kali keempat mengulang wudu

    dalam waktu rentang sekejap

    di sebuah dingin yang sama.

     

    Membersihkan telapak dan jari-jari tangan

    dilanjutkan dengan berkumur

    selesai sempurna yang pertama

    tiba-tiba buang air kecil

    lalu wudu diulang dari awal.

     

    Rampung yang kedua

    langsung disambut buang angin yang ketiga.

     

    Jika yang keempat

    masih batal lagi

    haruskah jujur, senantiasa mengulang dari awal.

    Bukakah hanya diri sendiri yang faham

    Bukankah tidak ada orang lain yang mengetahui

    Bukankah Tuhan juga Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang?

     

    Ada kebenaran yang tidak perlu saksi

    terletak di nurani.

     

    Meski tak ada mata memandang

    meski tidak ada cemooh dari manusia manapun

    Kebenaran sejati

    hadir dalam hati

    yang bersih.

     

    Wudu sampai kapanpun

    tetap barus senpurna

    Kendati cuma diri pribadi yang tahu keasahanya.

     

    Kebenaran kesempurnaan wudu tak butuh pengakuan

    juga tak perlu bukti dukungan

    atau saksi penjelas.

     

    Kebenaran kesempurnaan wudu

    Pertanggungjawaban nurani

    dari seorang hamba

    kepada Allah.

     

    Jakarta, 9 Juni 2020, (_Dikutip dari buku kumpulan puisi Religi “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” karya Wina Armada Sukardi_)

     

    T a b i k.***

     

    Bersambung……

     

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar, Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (17)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (17)

    *Humor di Ceramah Mesjid*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    “APA yang paling dicari selama bulan ramadan?” tanya seorang penceramah, dalan tausiah setelah sholat wajib subuh di mesjid dekat rumah kami.

    Jawaban para jemaah macem-macem, mulai dari mencari keridohaan Allah sampai mencari ampunan. Setelah itu penceramah menyela, “Jujur aja deh! Selama bulan ramadan ini yang paling dicari-cari oleh kita, cuma azan magrib!” Jemaah tertawa , dan ada yang cengar-cengir.

    “Buktinya berdasarkan survei, azan magrib selama bulan puasa menempati posisi paling tinggi yang ditonton atau didengar masyarakat!”

    Di mesjid dekat rumah kami, seusai sholat subuh, setiap hari ada tausiah atau ceramah. Bisa cuma 7 menit, tapi bisa juga sampai ada yang satu jam. Rata-rata 15 -30 menit.

    Ceramah atau tusiah di mesjid memang menyangkut masalah-masalah religius. Dari keimanan, ketaqwaan sampai manfaat puasa. Perkara ini tentu urusan serius. Oleh sebab itu sebagain besar penceramah menyampaikannya dengan serius pula.

    Kendati begitu, ada penceramah yang menyelipkan humor-hunor atau lelucon dalam ceramahnya . Nampaknya mereka faham, jemaah mungkin sudah cape dan sebagian masih atau sudah mengantuk, padahal

    pesan-pesan keagamaan harus tetap diberikan. Tapi bagaimana supaya misi itu sampai dengan efektif kepada jemaah?

    Disinilah beberapa penceramah menyelipkan humor. Meskipun hnumor ini biasanya tetap dikaitkan dengan pesan yang ingin disampaikan Sang Penceramah. Ada yang untuk menyindir, ada yang untuk memperlihatkan Keagungan Allah, atau betapa mulianya ahlak Nabi Muhammad.

    “Coba perhatikan, semua bulu di kepala kita, cepat tumbuhnya, tapi kenapa alis ya segitu-gitu saja?!” kata seorang penceramah beretorika.

    Pada bagian lain dia mengambil contoh gigi. ”Ayo kenapa setelah dewasa gigi gak tumbuh lagi? Bagaiomana kalo gigi kita tumbuh terus, kayak rambut! Bisa serem dan bahaya tuh!”!Kata seorang penceramah memancing.

    Lantas akhirnya dia “menembak” dengan “klimaks.” Si Penceramah menuturkan, Allah sudah mengatur semuanya dengan baik. “Dia menciptakan ASI buat para bayi. Dari kecil orang udah dikasih rejeki masing-masing. Apa gak hebat tuh? Hebatnya lagi, susu manusia cuma dua, dan letakannya udah diatur di sana. Coba bagaimana kalo kayak kucing atai anjing. Susunya banyak, berlerot dari atas ampe bawah,? Gimana kalo manusia seperti itu? Susunya lebih dari dua dan letaknya dimana-mana,” ujarnya

    Anggota majalis jemaah subuh di mesjid ada yang tertawa dan ada yang cuma senyam senyum saja. Relevansinya penceramah ingin memberitahu Allah dengan segala kekuasaanNYA telah membentuk manusia menjadi mahluk terbaik.

    “Masuk barang” itu. Maksudnya, denagn cara humor seperti ini memungkinkan jemaah sholat subuh di mesjid menjadi lebih mudah mencernanya, di samping menjadi tidak mengantuk.

    Penceramah lain berbeda pula. Manakala sedang serius-seriusnya membahas suatu topik, tetapi dengan tiba-tiba dia berujar,”Waduh, kok dingin bener disini!” Rupanya dari tadi dia sudah sangat kedinginan.

    Salah satu AC di mesjid tempat kami sholat subuh memang terpasang di dinding di belakang mimbar atau dengan kata lain, letaknya tepat di belakang penceramah. Rupanya dia kedinginan, tapi tak ada yang mengetahuinya.

    Jadi , waktu dia tiba-tiba bilang kedinginan, jemaah agak terkejut dan terasa lucu.

    Ikwal ada unsur humor dalam kotbah di mesjid, hamba ingat saat masih kuliah di fakultas hukum UI di Rawamangun. Sekarang kampusnya sudah dipakai oleh UNJ. Waktu itu kalo sholat Jumat, para mahasiswa sholat di mesjid dekat asrama Daksinapati itu.

    Di mesjid itu para penceramah sholat jumat kalau sedang kotbah sangat sering mengemukan materinya dengan humor. Ini dilakukan untuk mengeritik pemerintah Orde Baru waktu itu.

    Rezim di bawah pimpinan Pak Harto pemerintahnya sanga represif. Untuk mengeritiknya harus berhati-hati, termasuk di lembaga keagamaan. Humor menjadi salah sarana untuk dapat masuk memgeritik pemerintah. Kalau tidak lewat cara humor, lelucon atau tawa mungkin para khotib waktu itu sudah masuk _black list_ atau daftar hitam pemerintah. Konsukuensinya bisa dihukum atau bahkan “dihilangkan.” Tetapi melalui humor mereka tidak dianggap menghina pemerintah, tapi pesan agamaya tetap tersampaikan.

    Secara teoritus humor tidak sekedar menghasilkan tawa belaka. Humor atau kelucon berdasarkan teori-teori psikologi diinilai sebagai fenomena sosial. Dalam hal ini, tawa membawa pesan, mengampaikan misi. Di balik tawa, ada sesuatu yang ingin disampaikan dan dapat sampai pada taraf untuk mempengaruhi. Dengan begitu humor tidak sekedar menghasilkan tawa.

    Dalam bukunya “_Sense of Humor and Dimention of Personlity,_” Lefcourt dan Martin (Woshington : 1993) sudah menegaskankan, tertawa tidak selalu dipicu rasa lucu. Sebaliknya tragedi dapat menghasilkan senyum dan tawa.

    Rasa lucu, kata psikopog Elizabeth E. Hurlock, dapat mengubah persepsi kita mengenai sesuatu hal. Sedangkan menurut John Sorey dalam bukunya “_Cultural Studies and The Stydt of Populer Culture: Theoriea and Method,_” jelas ada makna di balik kelucuan

    Lebih jauh lagi, Arhur Koestler setelah melalukan penelitian panjang, dalam bukunya “_The Art of Creation_” yang terbit tahub 1989 menyimpulkan, lelucon adalah proses intelektual.

    Maka kehadiran humor pastilah memiliki alasan yang kuat. Sementara bagi Arthur Koestler humor bukan untuk merendahkan manusia, tetapi sebalinya untuk mengangkat harkat martabat manusia.

    Para penceramah atau khotib mungkin tidak membaca teori-teori humor atau lecucon yang berasal dari barat tersebut, namun beberapa dari mereka telah mmenerapkannnya secara intinktif.

    Lewat humor atau lelucon yang mereka selipkan di antara ceramah atau kotbah mereka, merupakan bagian dari dakwah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan para pendengarnya. Di balik tawa mereka memberikan pesan dan misinya untuk menyakinkan , Allah Maha Kuasa.

    T a b i k***

     

    Bersambung…..

     

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/ opini pribadi.***

  • Pengurus Harian SMSI Pusat Buka Puasa Bersama

    Pengurus Harian SMSI Pusat Buka Puasa Bersama

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID) – Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Pusat melakukan Buka Puasa bersama Kamis (06/04/2023) di Hotel Millenium, Jakarta Pusat.

    Buka puasa yang dilaksanakan secara terbatas pengurus harian SMSI Pusat, Dewan Pakar dan Dewan Penasehat tersebut dihadiri Ketua Umum SMSI Firdaus, Sekretaris Jenderal M Nasir, Wakil Ketua Umum Yono Hartono, Ketua Bid. Kerjasama dan Hubungan Antar Lembaga Syarif, Dewan Pakar Hersubeno Arif, penasihat Ervik Ari Susanto dan Hendry Ch Bangun dan beberapa staf Departemen.

    Pada kesempatan buka puasa bersama tersebut, ketua Umum menyampaikan perlunya melakukan kajian tentang rencana perubahan UU ITE secara cermat.

    Ketua umum juga menyampaikan pentingnya SMSI turut serta memperingati hari kemerdekaan Pers Dunia yang jatuh pada Mei.

    Pada kesempatan tersebut, H. M. Nasir, menyampaikan, SMSI sejak tahun 2020 telah menetapkan kebijakan prioritas program, antara lain mewajibkan seluruh lapisan pengurus SMSI dari pusat hingga kabupaten dan kota untuk melakukan pendataan anggota. “Hasil pendataan tersebut kita sampaikan kepada Dewan Pers,” ujar Nasir.

    Pada kesempatan itu, Yono Hartono, menambahkan jika ada Pergub, Perbub atau Perwal yang mensyaratkan verifikasi sebagai syarat untuk kerjasama, peraturan tersebut patut dicermati dan kami minta pengurus SMSI memberikan arahan kepada anggota yang keberatan untuk dapat menempuh jalur hukum.

    Pernyataan Yono Hartono tersebut diamini oleh Hendry Ch Bangun dan Hersubeno Arif. (red)