Blog

  • Manfaatkan Momentum Puasa Ramadhan 1444 H/ 2023 M, SMSI Cabang Mataram Berbagi

    Manfaatkan Momentum Puasa Ramadhan 1444 H/ 2023 M, SMSI Cabang Mataram Berbagi

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)– Dengan menyasar sudut jalan Kota Mataram kegiatan berbagi ala SMSI Cabang Mataram dilaksanakan, Minggu 02/04/2023.

    Dipimpin langsung Ketua SMSI Cabang Mataram Sofie Mufidah, setidaknya puluhan paket menu berbuka puasa Ramadhan dibagikan kepada warga yang layak menerima seperti petugas kebersihan, orang tua jompo dan anak yatim piatu.

    “Alhamdulillah ada sedikit rezeki kami kumpulkan bersama anggota SMSI Cabang Mataram untuk kita bagi-bagikan kepada warga yang berhak menerima semoga bisa bermanfaat meski berupa menu berbuka bersama,” ujar Sofie.

    Kegiatan berbagi ala SMSI Cabang Mataram dalam bulan puasa Ramadhan tahun ini mendapatkan apresiasi dan pujian dari warga, “Alhamdulillah ya bapak ibu paketnya semoga Allah memberkahi dan memberikan balasan kepada Bapak Ibu,” ucap salah satu warga.

    Kegiatan berbagi bersama ini menjadi agenda rutin SMSI Cabang Mataram selama berlangsungnya Puasa Ramadhan tahun ini.

    “Dana bantuan yang terkumpul, baik dari anggota SMSI sendiri dan para donatur akan disalurkan kembali kepada warga,” pungkas Sofie.

  • Lombok Timur Juara 4 Nasional Lomba Video Promosi APPI

    Lombok Timur Juara 4 Nasional Lomba Video Promosi APPI

    SELONG (LOMBOKEXPRESS.ID) – Kabupaten Lombok Timur masuk lima besar nasional lomba video promosi Anugrah Pemasaran Pariwisata Indonesia (APPI) periode Maret 2023 yang digelar Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    Kabupaten Lombok Timur berhasil meraih posisi 4 nasional setelah Kabupaten Penajam Utara di urutan 3, posisi 2 Kota Makassar dan Kota Padang di posisi 1.

    Kepala Dinas Pariwisata Lombok Timur Iswan Rahmadi mengatakan lomba video promosi merupakan bagian dari program Bangga Berwisata di Indonesia (BBWI) yang selenggarakan Kementerian Pariwisata dan Parekraf RI.

    “Lomba ini diikuti seluruh Dinas Pariwisata di Indonesia dan alhamdulillah kita berhasil masuk lima besar, berada di urutan keempat nasional, ” ucapnya.

    Lomba ini, jelas Iswan, dilaksanakan setiap bulan dengan beragam kategori dan tema video lomba. Pada Bulan Maret ini temanya destinasi wisata. “Dan kita kirim video promosi visit Lombok Timur berisi pesona destinasi Lombok Timur, ” ujarnya.

    “Ketentuan pemenangnya kan dilihat dari jumlah viewers dan video yang kita kirim ditonton 11.740 viewers,”sambungnya.

    Iswan berharap capaian ini bisa menjadi pemacu dan semangat semua komponen terutama para pelaku wisata dalam memajukan Pariwisata Lombok Timur.

    “Harapan kita, capaian ini semakin menguatkan semangat kita dalam memajukan Pariwisata Lombok Timur, “imbuhnya. (red)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (11)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (11)

    Sholat Subuh di Hotel di Makkah

    – Wina Armada Sukardi –

    MELAKSANAKAN ibadah haji, atau lebih populer dikenal dengan istilah naik haji, tentu menjadi dambaan kaum muslim. Memang bagi mereka yang punya kesempatan dan mampu melaksanakannya, naik haji menjadi kewajiban umat Islam. Banyak cerita fantastis dan dramatis bagaimana upaya umat islam untuk dapat naik haji.

    Ada orang, mohon maaf, miskin, tapi begitu gigih menabung seperak demi seperak untuk naik haji. Alhamdullilah akhirnya uangnya cukup juga untuk ongkos haji.
    Betapa banyaknya masyarakat Indonesia yang ingin naik haji, kini terpaksa harus mengantri beberapa tahun untuk dapat kesempatan naik haji.

    Alhamdullilah hamba ini diberikan keberuntungan oleh Allah. Tahun 2002 hamba diberikan kesempatan naik haji. Tentu saja kesempatan itu tak pernah hamba sia-siakan untuk setiap hari dapat sholat di hadapan kabah, termasuk sholat subuh disana.
    Saat itu tahulah hamba bagaimana setiap subuh jemaah haji dari Indoensia berbondong-bondong sholat di mesjidil haram. Tak mudah bagi mereka untuk datang sholat subuh di depan kabah.

    Bagi yang tinggal di asrama atau tempat penginapan bertingkat, mereka sudah harus antri bergantian menanti lift sampai dapat giliran turun ke lobi.
    Ini saja terkadang sudah memakan waktu.

    Lantas jarak dari tempat menginap ke masjidil haram juga tak dekat. Sebagian jemaah bersama-sama “patungan” menyewa kendaraan kecil mirip “mikrolet,” kalau di Jakarta. Sebagian lagi menyewa bis. Sebagian lainya sudah dikoordinir oleh travel biro yang mereka gunakan jasanya.
    Para jemaah itu, menembus subuh untuk mencari keridhoaan Allah.
    Hamba kala itu kebetulan memakai jasa travel biro haji Maktour. Agak mahal memang, tapi karena waktu itu hamba belum pernah ke Makkah sama sekali, apalagi naik haji, hamba ini kala itu ingin memperoleh full kenyamanan beribadah. Maklumlah walaupun hamba pernah membantu menjadi “gost writer” mantan Menteri Kehakiman Ismail Saleh menulis buku

    “Pengalaman sebagai Amirul Hajj,” sejatinya hamba saat itu masih buta bagaimana realitas naik haji. Jadi, hamba ini, bukan sombong dan ria, memutuskan memilih biro perjalanan haji yang dapat lebih memberikan “kenyamanan.”

    Kala itu hamba pikir, gak apalah mahal sedikit, toh uang rejeki dari Allah.

    Kebetulan hamba ditempatkan di Hotel Inter Countinental. Sebuah hotel yang berseberangan langsung dari kabah. Lebih beruntung lagi, kamar hamba di hotel itu, langsung pula menghadap ke kabah. Jika tirai jendela kamar dibuka,subhanallah, langsung nampak kabah.

    Memang letak hotel itu begitu strategis. Keluar dari loby hotel sudah menyambung ke halaman komplek mesjidil haram. Nikmat mana lagi yang hamba ingkari?

    Hamba ingat, demikian strategisnya kamar ini, sampai-sampai pada saat itu tokoh agama perempuan kita, almarhum Tuty Alawiyah, sampai minta izin untuk melihat kamar ini. Begitu dia menyaksikan langsung, betapa kagumnya pemilik pesantren dan sekolah islam di Jakarta ini. Al Fatihah buat Bu Tuty Alawiyah yang sudah alamarhum ini.

    Tentu, tentu, hamba sendiri yang baru pertama datang ke Mekah, sekaligus naik haji yang pertama dan satu-satunya kali naik haji, bukan main alang kepalang takjub dan syukurnya.
    Sholat di depan kabah benar-benar cuma “selangkahan”
    dari hotel. Keluar dari loby hotel sudah nyambung dengan pekarangan mesjidil haram. Alhamdullilah.

    Waktu itu jemaah lelaki dan perempuan masih diperbolehkan shalat di tempat yang sama, belum lagi dipisah seperti sekarang. Jadi hamba ini di sana senantiasa sholat bersama dengan isteri hamba. Betapa nikmatnya.

    Setelah beberapa hari di sana, hamba mendapat informasi, di hotel tempat hamba menginap, ada sebuah ruang khusus yang menghadap ke kabah. Depan ruang itu terbuat dari full kaca tebal yang dapat melihat ke depan dan bawah. Dengan begitu, dari situ dapat langsung memandang kabah, dan para jemaah yang ada di sekitarnya.

    Hebatnya lagi, suara dari mesjid tersambung langsung ke ruangan ini melalui speaker khusus. Jadi, suara muazin dan iman terdengar jelas.
    Oleh karena itu, tempat ini dianggap sebagai bagian dari mesjidil haram. Sholat disitu dinilai sama dengan sholat di masjidil haram.

    Hamba menjadi penasaran dan ingin mencobanya seperti apa. Tak sulitnya mencarinya. Dengan cepat akhirnya hamba sampai juga di tempat tersebut, untuk sholat subuh. Kini hamba agak lupa terletak di lantai berapa ruangan ini.

    Hamba saat itu barulah faham, rupanya tempat ini menjadi ruangan sholat para “bangsawan” dan orang-orang kaya Arab. Dari pakain, keharuman dan penampilan mereka, jelas sekali mereka kaum _the have_ orang-orang Arab. Orang kaya raya. Ada juga beberapa orang Indoensia sholat di situ.

    Menurut isteri hamba, kaum hawa yang sholat di sana, mudah dikenali memakai barang-barang branded. Pakiannya pun modis. Mereka juga di depan sesama perempuan memperlihatkan penampilan yang dibalut kemewahan.

    Rupanya inilah sebuah ruang sholat yang bagi hamba sangat ekslusif. Dipenuhi jemaah yang wangi dan dikelilingi pemakian barang mewah.
    Dari pelbagai informasi yang hamba dapat, memang ruangan ini umumnya dipakai oleh kalangan kaya raya orang Arab. Tanpa mengurangi keabsahan syarat sholat, kalangan ini ini sekaligus menikmati posisi sosial mereka.

    Meski begitu ada memang yang sholat di situ karena tidak mampu sholat berjemaah di bawah. Mereka memiliki keterbatasan fisik atau disabilitas. Kendati mereka juga umumnya termasuk kaum sangat berada.

    Manakala waktu sholat subuh tiba, benar saja, suara muhazin dan imam dari mimbar mesjid terdengar langsung di ruangan ini. Dengan begitu, kami melakukan gerakan shoat yang sama dalam waktu yang sama, dengan para jemaah lain yang ada langsung di depan kabah.

    Hamba tak menyelisik lebih lanjut ikhwal tempat ini: kapan mulai ada, siapa saja yang biasa datang, dari orang kalangan mana dan atau bangsa mana aja. Juga hamba tidak menindaklanjuti lagi kenapa mereka memilih tempat ini. Perhatian dan fokus kepada ibadah ibadah haji, membuat hamba tak sempat menyelisik lebih lanjut, meski “naluri kewartawanan” hamba untuk itu tetap ada.

    Mungkin saja mereka yang sholat disana memang sudah beberapa kali naik haji atau sebagai orang Arab mereka sudah biasa melihat dan sholat langsung di depan kabah, sehingga mereka memilih sholat di sana, dan seterusnya dan seterusnya.

    Beda dengan hamba ini. Kala itu baru pertama ke Makkah. Baru pertama naik haji. Jadi, sholat di depan kabah pun menjadi sesuatu yang luar biasa. Menakjubkan. Maka setelah merasakan dua hari kami sholat di tempat khusus ini, hamba memutuskan untuk tetap sholat berjemaah di dekat kabah berbaur dengan jemaah lain.

    Secara singkat masjidil haram adalah tempat yang istimewa bagi umat Islam,di dalamnya terdapat kabah. Baitullah. Masjidil Haram juga menjadi masjid tertua di dunia yang menjadi arah kiblat semua umat muslim.

    Dalam Al-Quran masjidil haram disebut tidak kurang dari empat puluh kali. Sejak awal masjidil haram juga menjadi salah satu tempat mulia dan dihormati oleh seluruh umat Islam di dunia. Selain di dalamnya terdapat kabah, juga ada makam Ibrahim, air zamzam, dan tempat lainnya.

    Nabi Muhammad pernah berkata, rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia baitullah ini.
    Shalat di masjidil haram dipercaya lebih utama sebanyak seratus kali daripada shalat di masjid Nawawi, apalagi dibanding mesjid biasa. Sedangkan sholat di masjid Nawawi saja keutamaannya seribu kali lebih dibanding sholat di mesjid biasa.
    Nah, hamba kan sudah jauh-jauh datang dari Indonesia ke Makkah, menyaksikan langsung kabah, masak tidak mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk selalu sholat (subuh) dekat kabah.

    Bagi yang sudah terbiasa datang dan melihat kabah mungkin memang dapatlah dimaklumi jika mereka memilih sholat di ruangan khusus di hotel sebagaian dari mesjidil haram. Tapi bagi hamba, pilihan terbaik memang sholat subuh dan lainnya di mesjidil haram, di depan kabah.

    Kabarnya hotel Inter Continental semula bakal dirubuhkan untuk perluasan mesjidil haram. Belakangan rencana itu ditunda atau dibatalkan sehingga sampai sekarang hotel tersebut masih berdiri di tempatnya.
    T a b i k.***

    Bersambung….

    *Wina Armada Sukardi,* _adalah wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammmadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (10)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (10)

    *Sholat Subuh Ba’da Pademi Covid-19*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SAAT serangan covid-19 menggila, bukan hanya berdampak terhadap kebiasaan sosial, tetapi berpengaruh pula terhadap kebiasaan sholat subuh di mesjid, setidaknya yang hamba alami.

    Dari segi sosial, kehadiran covid-19 sempat memporakporandakan jalinan sosial. Manusia tidak boleh berkumpul, jika pun ada pengecualian, hanya boleh beberapa orang saja. Itupun jarak

    antara orang dibatasi.

    Kantor pun banyak yang tutup. Kalau pun ada aktivitas, lebih banyak work from home (WFh) atawa bekerja dari rumah.

    Proses belajar mengajar tidak lagi di kelas, melalainkan melalui zoom, atau online via HP. Banyak anak yang sudah mulai bersekolah selama sekitar dua tahun, tapi tak pernah punya teman sama sekali, karena memang tak pernah berkumpul layaknya sekolah normal.

    Untuk melawan virus, kita dianjurkan divaksin. Dua kali vaksin dan dua kali booster. Mereka yang tidak vaksin tidak boleh masuk mall, naik peswat terbang atau kereta api. Sampai sekarang jika kita masuk stasion dan naik kereta MRT, masih diwajibkan pakai masker. Petugas masih sering menegur yang tidak memakai masker. Demikian puks di MRT masih tetap tak boleh bicara sama sekali, termasuk memakai HP. (_Banyak yang menggugat kebijakan ini, karena dimana-mana sudah boleh tak memakai masker, termasuk di pesawat udara, kenapa di MRT masih menerapkan peraturan yang berbeda?_)

    Begitu juga jika mau ketemu pejabat tinggi di kantor, kala itu, harus lebih dulu PCR atau setidaknya antigenen, maksimal berlaku 2X 24 jam sebelumnya.

    Munculah peradaban baru. Manusia dimana-mana memakai masker. Sementara dalam hubungan sesama manusia tak ada lagi kebiasan salaman saat bersua.

    Industri kesehatan bermunculan dimana-mana. Apalagi pada awal-awal muncul covid-19, untuk tes PCR mencapai harga Rp 1,5 juta. Sedangkan tesn atigen sekitaran Rp 700 ribu. Dapat dibayangkan berapa _coan_ yang mereka raup dari kasus ini. Belakangan diketahui, modal PCR tak lebih dari Rp 150 ribu, antigen pun tak lebih dari Rp 25 ribu. Belakangan alat antigen malah dapat dibeli lewat on line, cuma Rp 250 ribu dapat dipakai 50 orang. Makanya terakhir-terakhir harga tes PCR cuma Rp 250 ribu dan atigen Rp 90 ribu.

    Kiwari industri ini sudah hancur kembali sejak tak ada lagi pembatasan sosial.

    Industri yang ikut berkembang pada masa pandemi covid-19 kuliner rumahan. Sementara restoran bertumbangan karena pembatasan sosial dan orang enggan keluar, industri kuliner rumahan menjamur. Pemesanan melalui online melonjak. Banyak yang sempat “cuti” dari pekerjaannya untuk membantu isteri menangani pesanan kuliner (kini industri ini juga sebagian besar sudah tutup seiring tata sosial yang mulai normal).

    Perabadan baru terjad i dalam proses pemakaman sebelumnya. Para penderita covid-19 dimakamkan di pemakaman khusus para penderita covid. Itu pun kalau meninggal di rumah sakit, jenazahnya harus dibawa langsung dari rumah sakit ke kuburan. Petinya pun masih dibungkus plastik pula. Ketika di kubur, keluarga harus berada dalam jarak jauh dari liang lahat sehingga keluarga tidak dapat menyaksikan, apalagi masuk, ke rumah peristirahatan terakhirnya.

    Baju yang dipakainpara pekerja untuk upacara pemakaman lantas dibakar. Maksudnya supaya tidak menularkan penyakit.

    Keadaan tak berbeda terjadi pada sholat subuh di menjid. Ketika mesjid masih baru tutup, tak ada jemaah yang datang. Cuma pengyrys mesjid saja yang betugas di tempat ibadah itu. Ini berlangsung sekitar 1,5 – 2 tahunan. Mesjid sejak subuh melompong.

    Manakala pembatasa sosial mulai dikurangi, sedikit demi sedikit kemaah mulai datang lagi ke mesjid, termasuk sholat subuh di mesjid. Jemaah sebagian besar datang masih memamakai masker. Jarak antara jemaah juga sengaja di renggangkan.

    Selama serangan covif-19, baik priode delta maupun omicrom, terus terang saja hamba tidak ke mesjid. Bukan hanya tidak sholat subuh di mesjid, tapi juga sama sekali tidak sholat lainnnya di mesjid. Baik ketika covid-19 masih era delta maupun era omocron saya sholat di rumah saja.

    Kalau sholat jumat, hamba dan anggota keluarga membentuk jemaah sendiri di rumah. Belakangan sesudah ada pelonggaran pembatasan sosial, lantaran suara mesjid sampai dengan jelas ke rumah dan mesjid terlihat dari rumah, kami sholat jumat di rumah tapi mengikuti sholat dari mesjid. Dalam keadan darurat, soal sah tidaknya sholat semacam itu , kami serahkan kepada Sang Pencipta.

    Sebelum pandemi covid-19 hadir, tak begitu banyak “ritual” untuk sholat subuh. Sebaliknya setelah pelonggaran pembatasan sosial dan hamba ini mulai sholat subuh di mesjid lagi, proses sebelum dan sesudah sholat subuh di mesjid lebih “ruwet.”

    Berangkat sholat subuh di mesjid awalnha masih selalu memakai baju lengan panjang. Tutup kepala yang sejauh mungkin menutup rambut sampai batas ke kuping. Ditambah lagi masker, sehingga yang terlihat dan terbuka cuma mata saja. Layaknya seperti ninja saja.Hehehe.

    Tak ketinggalan, hamba membawa sajadah sendiri, biar lebih aman.

    Di mesjid pun ketemu jemaah lain cuma mengangguk tanpa salaman.

    Selesai sholat subuh langsung segera pulang. Di rumah seluruh pakian langsung masuk cucian. Jadi, sekali pakai langsung cuci. Tak ada cerita pakian yang sudah dipakai sholat subuh di mesjid masih disimpan untuk dipakai esok atau lusanya.

    Di rumah pun, begitu sampai dan ganti baju, langsung disambung mandi. Mau tidur lagi, nyantai atau pergi, pulang sholat subuh dari mesjid “wajib” mandi.

    Kebiasan di mesjidpun agak berubah. Semula setelah sholat subuh, jamaah dan imam serta sesama jemaah berbaris bersalaman-salaman, silahturahmi. Sejak covid-19 menyerbu, “tradisi” salam tersebut tak ada lagi.

    Sedikit demi sedikit pandemi covid-19 mulai berkurang. Terjadi pula proses perubahan pada diri hamba pribadi dan juga di mesjid. Baju tak lagi selalu lengan panjang. Masker pun sudah dilepas.

    Pulang dari mesjid tak lagi harus selalu mandi, tapi cukup cuci seluruh tangan, muka dan rambut. Untuk praktisnya hamba membeli pembersih “3 in 1” yaitu pembersih yang dapat dipakai untuk mencuci rambut, muka dan tangan (dan badan). Ini karena kebetulan rumah saya bertingkat. Waktu pulang, hamba mandi di kamar atas. Jadi semua perlengkapan mandi ada di atas. Setelah memasuki priode “mencuci” tangan, muka dan rambut, saya lakukan di kamar mandi bawah. Maklumlah setelah itu mau tidur dengan cucu yang tidur di kamar bawah.

    Baju pun, yang sama sudah mulai berani dipakai dua tiga hari, hanya saja baju tersebut sebelumnya begitu pulang mesjid masih disemprot dengan disinfektan sprey dan ditempatkan terpisah.

    Suasana mesjid pun sudah mulai menuju normal sepenuhnya. Jemaah sudah boleh menempati posisi normal dan tidak lagi harus ada jarak. Sebagian besar jemaah subuh sudah pula tak memakai masker. Hanya mereka yang memiliki komorbid dan atau sedang merasa tidak enak badan, masih memakai masker. Seusai sholat, khususnya serelah penceramah selesai, telah mulai ada barisan yang saling bersalaman, meski jumlahnya belum banyak.

    Kalau sholat Jumat pun mesjid sudah penuh kembali. Kami pun keluarga sudah pula sholat Jumat di mesjid.

    Sejatinya islam mengajarkan kita menjaga kebersihan, baik diri maupun k ilngkungan. Memgambil wudu atau air sambayang, misalnya, jelas mendidik kita untuk menjaga kebersihan diri. Bukan hanya tangan saja, tetapi juga hidung, kuping, muka, rambut dan kaki. Itu artinya sejak mula islam sudah mewanti-wanti umatnya agar menjaga kebersihan. Selain mejalankan perintah Allah, ternyata kebesihan juga untuk mencegah datangnya penyakit, termasuk menampik virus, virus apapun, juga covid-19. Kebersihan merupakan upaya mencegahan, menghindari dan juga mengatasi penyakit, tak terkecuali covid-19.

    Ajaran islam dalam hal ini sudah lebih dahulu “menembus” dimensi yang sebelumnya tidak begitu diperhatikan manusia. Kehadiran covid-19 lebih menyadari kita betapa hebatnya jangkauan nilai-nilai islami.

     

    T a b i k!***

     

    Bersambung…..

     

    *Wina Armada Sukardi, * _adalah wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi._

  • Bikin Onar di Masjid, Imigrasi Mataram Amankan Seorang Warga Perancis

    Bikin Onar di Masjid, Imigrasi Mataram Amankan Seorang Warga Perancis

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)- Kantor Imigrasi Kelas I TPI Mataram bersama Ditintelkam Polda NTB mengamankan seorang Warga Negara Perancis berinisial ER yang membuat keonaran di Masjid Nurul Huda, Dusun Batu Bolong, Lombok Barat.

    ER, 51 tahun, diamankan di rumahnya di Perumahan Green Valley, Senggigi, Lombok Barat pada hari Selasa, 28 Maret 2023 sekitar pukul 19.30 wita.

    Kepala Kantor Imigrasi Kelas I TPI Mataram melalui Kasi TIKIM, Slamet Wahono menjelaskan kasus ini bermula setelah adanya laporan dari masyarakat. “Kasus ini berawal saat orang asing berinisial ER mendatangi Masjid Nurul Huda pada Sabtu dini hari tanggal 25 Maret 2023 sekitar pukul 01.00 wita,” jelasnya.

    Lebih lanjut Slamet menjelaskan ER masuk ke Masjid Nurul Huda tanpa melepas alas kakinya. Padahal saat itu warga sudah menegur ER untuk melepas alas kakinya karena ia melewati batas suci. Namun ER tidak mengindahkan teguran warga tersebut. Di masjid tersebut, ER juga mempertanyakan suara yang dianggapnya bising dan mengganggu waktu istirahatnya. ER juga mempersilakan warga mengambil video untuk memviralkan dirinya. Setelah kejadian tersebut, warga melapor kepada Kepala Dusun Batu Bolong dan laporan tersebut diteruskan kepada pihak berwajib.

    Slamet Wahono menjelaskan pihaknya menerima laporan kejadian ini pada tanggal 27 Maret 2023 dan segera melakukan pencarian terhadap pelaku. “Kami menerima laporan hari Senin dan di hari itu juga kami bersama Ditintelkam Polda NTB untuk mencari keberadaan pelaku, dan pada tanggal 28 Maret 2023 akhirnya kami berhasil mengamankan pelaku di rumahnya,” jelasnya.

    Saat dilakukan pemeriksaan terhadap identitas pelaku, diketahui pelaku berinisial ER, Warga Negara Perancis, berusia 51 tahun. ER datang ke Indonesia melalui Bandara Internasional Ngurah Rai pada tanggal 5 Maret 2023 dengan menggunakan Visa on Arrival.

    Setelah dilakukan proses pemeriksaan lebih lanjut, disimpulkan bahwa ER terbukti melanggar Pasal 75 ayat 1 Undang Undang Nomor 6 Tahun 2011 Tentang Keimigrasian. Untuk itu kepadanya diberikan Tindakan Administratif Keimigrasian berupa pendeportasian dan penangkalan. Adapun deportasi terhadap ER akan dilakukan pada tanggal 1 April 2023 melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang. Sembari menunggu waktu pendeportasian, terhadap ER dilakukan detensi di ruang detensi Kantor Imigrasi Kelas I TPI Mataram.

    Slamet menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen melaksanakan arahan Direktur Jenderal Imigrasi Silmy Karim terkait orang asing yang mengganggu ketertiban umum.

    “Kami siap untuk menindak tegas siapapun orang asing di wilayah kami yang melakukan kegiatan yang patut diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum atau tidak menghormati atau tidak menaati peraturan perundangundangan yang berlaku,” tegasnya. (ang)

  • Pengembalian Barang Bukti, Kapolresta Mataram Tuai Apresiasi Masyarakat 

    Pengembalian Barang Bukti, Kapolresta Mataram Tuai Apresiasi Masyarakat 

    MATARAM (NTBNOW.CO)–Polresta Mataram punya program menarik. Setiap dua bulan sekali mengembalikan barang bukti hasil ungkap kasus Saat Reskrim. Program yang disaksikan  tokoh agama, tokoh masyarakat, masyarakat dan segenap insan media ini, menuai apresiasi dari masyarakat.

    “Untuk pengembalian barang bukti memang butuh proses. Namun Polresta Mataram akan memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan kembali hak miliknya yang sempat hilang dan telah berhasil ditemukan melalui pengungkapan kasus sesuai laporan polisi,” ungkap Kapolresta Mataram pada saat konferensi pers Ungkap Hasil Ops Pekat Rinjani 2023 dan Pengembalian Barang Bukti hasil Ungkap Sat Reskrim Polresta Mataram, Jumat (31/03/2023).

    Upaya ini dilakukan Polresta Mataram untuk memberikan suatu hal terbaik untuk masyarakat. Sehingga keberadaan polisi bagi masyarakat dapat memberikan kemanfaatan. Ini merupakan program rutin Kapolresta Mataram sejak dirinya bertugas sebagai Kapolresta Mataram.

    “Bila ada anggota polisi yang memungut sejumlah biaya saat mengembalikan BB kepada korban maka silahkan langsung dilaporkan kepada kami,” tegasnya.

    Untuk pengembalian BB kali ini, Kapolresta Mataram menyebutkan ada 14 unit Sepeda motor dan 12 unit handphone yang merupakan hasil pengungkapan yang dilakukan Polresta Mataram beserta Polsek Jajaran.

    “Kami mohon maaf bila sejauh ini belum semua laporan yang disampaikan masyarakat dapat kami selesaikan dengan baik secara tuntas. Namun saat ini kami akan terus berupaya memberikan yang terbaik untuk masyarakat,” ucapnya.

    Pada kesempatan itu Kapolresta Mataram menyadari polisi tentu tidak ada gunanya tanpa peran serta seluruh stakeholder serta masyarakat dalam membantu melancarkan tugas-tugas kepolisian.

    “Tentu kami berharap melalui pengembalian BB hasil ungkap kasus ini masyarakat dapat memanfaatkan kembali barang yang tadinya hilang, dan dapat dipergunakan kembali untuk penunjang aktivitas masyarakat,” jelasnya.

    “Semoga ini dapat menjadi pengikat silaturahmi antara masyarakat dengan Polresta Mataram sehingga kedepan kita secara bersama-sama menjaga dan memelihara Kondusifitas kota Mataram menuju Mataram HARUM (Harmonis, Aman, Ramah, Unggul dan Mandiri),” tutupnya.

    Di sisi lain masyarakat yang merasa barangnya bisa diambil dan dipergunakan kembali merasa sangat senang.

    Miftahul yang sepeda motornya berhasil ditemukan atas kasus Penggelapan, Bu Suci yang Hp nya sempat hilang satu tahun serta warga Lingsar Lombok Barat yang kendaraan roda tiganya sempat dipinjam untuk melakukan tindak pidana pencurian.

    Ketiganya merasa sangat senang dan berterima kasih kepada Polresta Mataram dan jajaran Polseknya yang telah bekerja keras mengungkap kasus yang menimpa barang hak miliknya.

    “Kami Mengapresiasi setinggi-tingginya atas kinerja Bapak Kapolresta Mataram dan Jajarannya dalam pengungkapan Kasus Tindak pidana dan diberikan kemudahan untuk mengambil kembali barang miliknya yang saat ini dijadikan barang bukti. Alhamdulillah kami bisa memanfaatkan kembali barang kami yang sempat hilang,” ucap ketiganya.(ang)

  • Sinergi BNPT RI dan LPSK Berjalan Baik, Kepala BNPT RI Dianugerahi Penghargaan Garuda Pelindung

    Sinergi BNPT RI dan LPSK Berjalan Baik, Kepala BNPT RI Dianugerahi Penghargaan Garuda Pelindung

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID) – Sejak ditetapkannya undang – undang nomor 5 tahun 2018, negara hadir dalam upaya pemulihan korban terorisme masa lalu.

    Hal itu diimplementasikan melalui kerja kolaboratif antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

    Beberapa kerja bersama antara BNPT RI dan LPSK diantaranya saat memberikan dana kompensasi kepada perwakilan korban terorisme masa lalu di hadapan Presiden RI, Joko Widodo pada 2020 silam dan kemudian menghadiri bersama kegiatan majelis umum PBB di tahun 2022.

    “Beberapa kegiatan yang sangat berkesan salah satunya di akhir tahun 2020, kita bersama dengan pak Presiden memberikan dana kompensasi kepada perwakilan korban terorisme masa lalu di istana negara. Setelah itu, kita hadir di majelis umum PBB pada 8 September untuk membahas pemenuhan dan perlindungan hak dan kebutuhan korban terorisme,” jelas Kepala BNPT RI Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., dalam Kegiatan Pemberian Penghargaan di Kantor Pusat LPSK (31/3).

    Berkat kerja sama dan sinergi yang telah terbangun dengan baik antara kedua lembaga ini, Kepala BNPT RI diberikan penghargaan dari LPSK sebagai “Garuda Pelindung”. Boy Rafli berharap penghargaan yang diterimanya dapat meningkatkan motivasi BNPT RI untuk terus berkolaborasi di dalam upaya pemulihan korban aksi terorisme.

    “Saya mengucapkan terimakasih atas penghargaan ini. Tentunya ini menambah motivasi jajaran BNPT RI untuk terus meningkatkan kualitas dan kolaborasi dalam pemulihan korban terorisme masa lalu,” tutur Boy Rafli pada Jumat (31/3) di kantor pusat LPSK.

    Sementara itu, menurut Ketua LPSK, Drs. Hasto Atmojo Suroyo, M.Krim penghargaan tersebut merupakan hasil kerja BNPT RI selama ini yang telah menunjukkan peran signifikan, terbukti dari terimplementasinya pemberian kompensasi pada ratusan korban terorisme masa lalu.

    “Ratusan korban terorisme masa lalu telah dibayarkan kompensasinya, itu berkat dukungan nyata Pak Boy dan peran signifikan BNPT RI dalam kerja – kerja perlindungan saksi dan korban,” ucapnya.

    Selain menerima penghargaan Garuda Pelindung, Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., juga dikukuhkan menjadi Sahabat Saksi dan Korban. (bnpt/red)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (9)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (9)

    *Langsung Melayat*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    Dalam dua alenea terakhir puisi karya hamba berjudul “Matiku Matmu, ” yang hamba buat Novermber 2017, dan telah diterbitkan sebagai salah satu puisi di buku karya tunggal hamba, “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” tertulis:

     

    _Mengapa kau masih meminta hidup seribu tahun lagi_

    _walau kau tahu wafat tua atau muda tak beda._

     

    KAPAN urusan nyawa kita dipanggil oleh Pencipta sekaligus Pemiliknya, tak ada yang tahu tepat. Kita tidak faham kapan bakal mengembuskan nafas teralhir, dimana dan sedang apa. Usia bukanlah isyarat kemaitan. Tua belum tentu lebih cepat meninggal. Sebaliknya, muda bukanlah jaminan bakal hidup panjang. Banyak yang masih anak, belia, atau muda sudah meninggal. Sebaliknya tak sedikit yang sudah sepuh dan sakit-sakitan pula, tetapi masih terus hidup.

    Setiap saat, tua atau muda, dapat berpisah dengan dunia fana, dengan berjuta alasan.

    Kapan kita meninggal tetap menjadi misteri. Sama dengan dimana dan dalam keadaan

    bagaimana kita meninggal, tak dapat ditebak. Bisa saja kita meninggal secara di luar dugaan kita. Maka sesunguhnya sholat subuh di mesjid bukanlah hanya untuk orang tua saja.

    Selama ini, dalam pengamatan hamba ini, umumnya jemaah sholat di mesjid orang-orang “yang sudah meninggalkan dunia hitam,” alias rambut, kumis atau jenggot sudah tidak hitam lagi. Hampir semuanya sudah memutih alias sudah sempuh. Para jemaah yang rutin sholat di mesjid itu, dalam taksiran saya 80% memang para orang tua. Selebihbya baru yang lebih muda dan anak muda.

    Biasanya cuma tiga shaf saja, paling banter 4 shaf. Dari jumlah itu yang muda dapat dihitung dengan jari tangan.

    Kenapa kaum mudah jarang yang hadir rutin sholat subuh? Tentu banyak jawabannya. Mungkin mereka memang jika pagi hari lebih banyak kegiataan ketimbang yang tua-tua, apalagi yang pensiunan. Dengan berbagai kesibukannya, gak sempatlah jika kaum muda sholat subuh di mesjid. Waktu mereka terbatas. Kalau sholat subuh di mesjid jadwal mereka bakal terganggu. Jadilah mereka memilih sholat subuh di rumah saja.

    Boleh jadi juga memang selama ini kita belum memiliki “tradisi “ atawa “budaya” sholat subuh di mesjid. Jadi, sholat subuh di mesjid belum _internelazied_ atau belum mendarah daging dalam tradisi atau kebudayaan Indonesia. Walhasil, sholat subuh di mesjid memang belum menjadi prioritas mayarakat kita. Jangankan sholat subuh di mesjid, sholat subuh di ruma saja jangan-jangan juga jarang. Maka tak begitu mengherankan yang datang sholat subuh di mesjid sangat minim, itupun sebagian besar sudah sepuh.

    Kemungkinan lain, sebagian masih beranggapan sholat subuh di mesjid memang lebih cocok untuk mereka yang sudah tua. Alasannya, anak muda kan secara teoritis umurnya masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Lebih banyak memperoleh kesempatan melakukan aktivitas keduniawian. Mungkin nanti setelah menjadi tua dan meninggalkan “dunia hitam,” mereka baru gabung ke jemaah mesjid subuh. Sebaliknya para orang tua dipandang lebih banyakwaktu senggang sehingga sholat subuh di mesjid tak akan menggnggu aktivittas mereka. Apalagi teoritis orang-orang tua kan sering disebut “sudah bau tanah” alias mendekati ajal. Kematian telah mengintip mereka. Wajarlah kalau dipandang lebih bertaqwa dan mendekatkan diri ke Allah.

    “Apakah ada generasi milineal yang sholat subuh di mesjid?” tanya seorang rekan dari Surabaya yang kebetulan selalu mengikuti tulisan “Skesat Serba-Serbi Sholat Subuh.” Hamba jawab, sekali dua kali ada, tapi yang rutin tidak ada.

    “Waduh!” jawabnya seraya menerangkan dia khawatir generasi jemaah sholat subuh di mesjid yang akan datang bakalan lebih sulit lagi ada generasi mudanya.

    Setelah sholat subuh di mesjid prakteknya kami sering mendengar pengumuman dari pengurus mesjid, adanya warga yang wafat pada tadi malam atau pada jelang subuh. Pengumuman dilantangkan melalui pengeras suara mesjid. Kalau yang meninggal masih tetangga sekitar lingkungan kami, biasanya setelah sholat subuh di mesjid, tanpa dikomando, kami para jemaa langsung melayat ke rumah duka.

    “Kebiasaan” ini menguntungkan bagi kami yang masih memiliki banyak kegiatan. Kalau tak melayat setelah sholat subuh, mungkin kami tak sempat melayat.

    Pengalaman sebagai jemaah sholat subuh, yang meninggal tidak selalu orang yang sudah tua. Bisa juga yang masih muda yang belum pernah sholat subuh di mesjid. FaktanIni membuktikan sholat subuh di mesjid bukan cuma buat para orang tua, tapi juga semua lelaki dewasa. Sholat subuh di Mesjid tak ada hubungan dengan tua atawa muda. Inilah yang membuat saya November 2017 menulis puisi yang mengabarkan keadaan itu sebagai berikut:

     

    *Sholat Subuh di Mesjid*

     

    Sholat subuh berjemaah

    di mesjid Jakarta

    tiga shaf tak sampai

    berjajar rambut beruban dan raut wajah keriput.

    Sementara generasi melenial masih nyenyak tidur

    nanti bangun memakai wangi parfum

    berpikir jauh dari bau tanah.

     

    Siang hari setelah sholat dzahur

    pengeras suara dari mesjid mengumumkan

    _Innailahi wainailaji rojiun_

    telah wafar si fulan berusia 21 tahun

    subuh tadi.

     

    T a b i k ***

     

    Bersambung……

     

    *Wina Armada Sukardi,* _wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiya. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi dan tidak mewakili organisasi._

  • Sketsa Serba- Serbi Sholat Subuh (8)

    Sketsa Serba- Serbi Sholat Subuh (8)

    *Lebih Takut ke Kamera Daripada Allah?*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    BERDALIH menerapkan ajaran “ambil yang baik-baik, dan tinggalkan yang buruk-biru, ” sampai saat ini di mesjid masih sering terjadi kehilangan alas kaki. Sandal atau pun sepatu. Juga pada sholat subuh. Apakah karena diambil anak-anak yang belum faham nilai-nilai baik buruk, ataukah oleh orang yang dewasa yang sengaja menukar sendal atawa sepatu mereka yang butut dengan gantinya yang bagus.

    Tentu ini sesuatu yang sangat memprihatinkan. Mesjid adalah rumah Allah. Rumah yang harus dihormati. Mesjid juga merupakan tempat siar ajaran agama islam. Dari mesjid diajarkan menerapkan akhlak yang luhur. Dari mesjid diajarkan pula untuk menghindari hal-hal yang buruk. Dengan demikian, sejati di mesjid semuanya harus sesuai ajaran Islam. Ahlak harus ditegakkan. Di rumah Allah tidak boleh ada pencurian, apapun, termasuk sandal dan sepatu, dengan alasan apa saja. Haram hukumnya mengambil milik orang lain. Ini harus menjadi “doktrin” utama dalam penerapan ajaran islam.

    Hal ini harus pula disosialisasikan kepada semua pihak, terutama anak-anak. Mesjid ialah tempat suci yang tidak boleh terjadi kejahatan apapun. Jangankan sandal dan sepatu hilang, jika ada mas berlian atau uang yang terti nggal atau jatuh di mesjid saja, pemiliknya harus dijamin bakal memperolehnya kembali.

    Semua niat buruk di mesjid harus ditanggalkan. Di mesjidlah nilai-nilai kebaikan patut diharapkan dan diterapkan. Jemaah harus dibuat nyaman di mesjid. Tak boleh ada perasaan was-was nanti sandal atau sepatu saya hilang. Barang berharga sekalipun di mesjid harus dijamin aman.

    Jika ke mesjid orang harus merasa barangnya diletakkan dimana saja, dijamin pasti bakal aman dan kembali. Selama di mesjid, barang apa saja, yang jatuh atau hilang , tak bakalan lenyap. Harus dibuat dan dilaksanakan mesjid itu lambang kejujuran.

    Dilarang keras menodai mesjid dengan sikap kriminal yang sekecil apapun, termasuk mencuri sandal dan sepatu. Tapi yang terjadi selama ini justeru sebaliknya. Di mesjidlah sering terjadi hilangnya sepatu atau sandal yang bagus.

    Jika ada “jemaah palsu,” artinya orang ke mesjid bukan untuk benar-benar sholat, tapi melakukan kriminal seperti tetapi tidak terbatas pada mencuri, harus dipastikan mereka harus dihukum seberat-beratnya, termasuk sanksinya sosialnya. Agar dia malu.

     

    Agar keluarganya malu. Dengan begitu diharapkan mesjid menjadi steril dari kejahatan. Perilaku manusia di mesjid harus dipastikan menjadi sudi tauladan.

    Tak hanya hanya sebatas sandal dan sepatu, pengalaman saya sholat subuh di mesjid pun ternyata masih sering terjadi pencurian motor. Padahal sebelum sholat, motor masih dijaga dan diwasi beberapa orang. Dan batas antara sholat dengan pengawasan beda tipis. Tapi tiba pada waktu sholat subuh, si maling secepat kilat mampu mencuri motor. Ini kan berarti dia sudah mengamati situasi mesjid pada subuh hari dengan cermat. Pastilah para maling sudah mengamati keadaan berhari-hari sebelumnya, sehingga mereka faham benar kapan momen untuk mencuri. Kejadian ini sudah beberapa kali terjadi.

    Rupanya para pencuri sudah tidak takut lagi kepada Tuhan. Tidak gentar kepada Allah. Mereka tak peduli mencuri di rumah Allah. Tak ada sebiji pun rasa sungkan mencuri di rumah Tuhan. Di Mesjid. Ketamakan dan jalan pintas mencapai materi di dunia, lebih utama bagi para penjahat itu ketimbang menyadari mencuri di rumah Tuhan merupakan perbuatan tercela yang luar biasa. Perbuatan dosa besar. Mereka gak peduli rumah Tuhan atawa bukan. Mereka sudah tidak lagi memiliki kepekaan sosial.

    Menyadari fenomena ini, akhirnya pengurus mesjid memutuskan memasang CC TV atau kamera pengintai. Beberapa kamera dipasang menghadap ke depan dan dapat memantau perkarangan dan tempat parkir mesjid. Begitu juga di dalam mesjid dipasang beberapa kamera. Setelah pemasangan kamera, di tempel striker kecil: mesjid ini diawasi oleh kamera, lengkap dengan gambar CC. Adanya kamera ini memungkinkan diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Jika ada pencurian, khususnya pencurian motor, dapat dilihat dari rekaman siapa pelakunya dan bagaimana melakukan pencurian.

    Sebenarnya, ini hanya upaya membantu saja buat mengurangi pencurian di lingkungan mesjid. Tetapi apa yang terjadi? Sejak adanya kamera, ternyata hampir tidak ada lagi pencurian motor. Untuk sandal dan sepatu cuma sekali dua kali saja, itu mungkin lantaran hanya tertukar.

    Rupanya manusia dewasa ini kini lebih takut kepada pengawasan melalui pengintaian kamera ketimbang takut kepada Tuhan. Bukti fisik di duniawi lebih ditakutkan dibandingkan bukti yang dilihat oleh Allah dan kelak diminta pertanggungjawaban “di alam sana.” Apakah jiwa para penjahat memang demikian? Ataukah justeru hal itu merefleksi rata-rata dari mentalitas kita?

    T a b i k.***

     

    *Wina Armada Sukardi, * _wartawan dan advokat senior dan juga Dewan Pakar Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi dan tidak mewakili organisasi._

  • Resmikan Warung NKRI di Bali, BNPT RI Ingin Tingkatkan Imunitas Generasi Muda Melalui Narasi Kebangsaan

    Resmikan Warung NKRI di Bali, BNPT RI Ingin Tingkatkan Imunitas Generasi Muda Melalui Narasi Kebangsaan

    BALI (LOMBOKEXPRESS.ID)- Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) meresmikan Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan NKRI atau Warung NKRI di Bali untuk membumikan narasi-narasi kebangsaan sebagai bagian dari upaya pencegahan radikal intoleran.

    “Narasi kebangsaan yang kita angkat ini dengan konsep warung yang lebih membumi karena ruang publik kita tertindih narasi-narasi yang anti kebangsaan contohnya narasi intoleransi, radikal, terorisme,” jelas Boy Rafli saat resmikan resmikan Warung NKRI Gogo Fried Chicken & Gogo Coffee Universitas Universitas Udayana Jl. Raya Kampus Unud No. 2013, Jimbaran, Bali, pada Rabu (29/3).

    Warung NKRI ini merupakan warung ke-25 yang diresmikan bersama unsur terkait dan menjadi yang pertama di pulau dewata.

    Warung NKRI yang hadir di sekitar kampus Universitas Udayana ini menyasar kalangan mahasiswa. Dalam warung ini akan ada dialog-dialog kebangsaan untuk meningkatkan imunitas generasi muda pengisi Indonesia emas 2045 di tengah gempuran ideologi transnasional.

    “2045 tahun Indonesia emas, kita tidak ingin bonus demografi jadi bencana demografi, kita persiapkan generasi muda hari ini terbebas dari ideologi transnasional dari intoleransi, radikalisme, terorisme,” lanjutnya.

    Kepala Badan Kesbangpol Provinsi Bali Drs. I Gusti Ngurah Wiryatama, M.Si menyampaikan rasa optimisnya jika Warung NKRI dapat meningkatkan daya tangkal dan peran masyarakat dalam memberantas radikal terorisme.

    “Warung NKRI diharapkan mampu meningkatkan daya tangkal dan peran serta masyarakat mencegah radikalisme terorisme,” kata Wiryatama. (bnpt/red)