Blog

  • Cegah Konflik Sosial, Brigjen Antoninho Bicara di Kodim- Kodim

    Cegah Konflik Sosial, Brigjen Antoninho Bicara di Kodim- Kodim

    WAKIL Asisten Intel Kepala Staf TNI Angkatan Darat (Waas Intel Kasad) Brigjen TNI Antoninho Rangel Da Silva.S.IP,.M.Han beberapa hari terakhir mengujungi sejumlah markas Komando Distrik Militer (Kodim).

    Menurut keterangan pers yang diterima kantor pusat Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Kodim yang sudah dikunjungi antara lain

    Kodim 0901/Samarinda, Kodim 0908/BONTANG, dan Kodim 0906/KUTAI KARTANEGARA.

    Kehadiran Brigjen Antoninho yang kerap disapa dengan nama Antonio di Kodim-Kodim, sebagai pembicara dalam dialog interaktif dengan tema utama “Mencegah Konflik Sosial”.

    Dialog dihadiri para tokoh dari seluruh lapisan masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh organisasi masyarakat, dan mahasiswa.

    Di Kodim 0901/SAMARINDA

    Dialog interaktif berlangsung di Aula Makorem 091/ASN, Senin (03/04/2023). Dalam kegiatan tersebut digelar Sosialisasi Pembinaan Komunikasi (Binkom) dalam bentuk Dialog Interaktif tentang Peran Seluruh Komponen Masyarakat Dalam Mencegah Konflik Sosial di Provinsi Kota Samarinda, Kaltim.

    Dialog menghadirkan pemateri dari kalangan Pemerintah (Kesbangpol Kota Samarinda), dan Staf Intelijen Angkatan Darat yang diwakii oleh Waas IntelKasad Bidang Jemen Intel Brigjen TNI Antoninho Rangel Dasilva, S.IP,.M.Han.

    Brigjen TNI Antoninho, mengatakan, masyarakat Samarinda sangat luar biasa, antusias dalam mengikuti kegiatan ini, dan berpandangan sangat positif. Hal ini terlihat dari pertanyaan-pertanyan yang dilontarkan kepada para nara sumber dengan cukup kritis, akademis, realistis dan membangun serta berwawasan luas.

    “Samarinda adalah kota yang sangat strategis dan kondusif sehingga dapat dijadikan barometer bagi Indonesia di masa mendatang,” kata Brigjen Antoninho.

    Dari tanggapan dan testimoni peserta yang mengikuti acara Program Binkom sangat positif. Ketika para perwakilan peserta diwawancarai oleh wartawan, mayoritas mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Kasad Jenderal TNI Dr.Dudung Abdurachman S.E,.M.M atas terselenggaranya kegiatan yang sangat bermanfaat dalam membangun semangat bela negara yang hakiki, bagi komponen masyarakat agar dapat mencintai NKRI secara utuh.

    Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan sinergitas antar instansi serta membangun kolaborasi secara integratif antara TNI AD dengan seluruh komponen masyarakat dalam menghadapi segala bentuk gangguan stabilitas di wilayah Samarinda.

    Lebih lanjut dikatakannya program ini bertujuan mengajak seluruh komponen masyarakat bertukar pikiran,berdialog dan berdiskusi dengan harapkan dapat tercipta visi dan misi yang sama guna dapat mencegah setiap konflik sosial.

    Kegiatan ini dilakukan di seluruh Indonesia dimulai dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur hingga Wilayah Barat Indonesia.

    “Bersama komponen masyarakat kita akan mampu mencegah secara dini konflik apapun yang terjadi. Pemilu 2024 nanti diharapkan dapat berjalan lancar aman terkendali,” kata Antonio.

    Ditegaskan kembali bahwa TNI tidak terlibat dalam politik praktis, dimana dalam pasal 5 UU No 34 Tahun 2004, dijelaskan bahwa TNI merupakan alat negara di bidang pertahanan negara yang menjalankan tugasnya berdasarkan kebijakan dan keputusan politik negara.

     

    Di Kodim 0908/BONTANG

    Tanggapan dari tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dan generasi muda terkait program Binkom cegah konflik sosial dari TNI AD di kabupaten Bontang Provinsi Kaltim sangat positif

    Dalam rangka mencegah terjadinya konflik sosial di wilayah teritorialnya, Kodim 0908/Bontang, TNI AD mengelar program Binkom Cegah Konflik Sosial dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran komponen masyarakat dalam mencintai NKRI tercinta. Acara ini digelar di aula Makodim Bontang, (04/04/2023).

    Dalam testimoni oleh peserta yang mengikuti Binkom bahwa kegiatan yang mengusung tema “Peran Seluruh Komponen Masyarakat Dalam Mencegah Konflik Sosial”, sangat penting di era globalisasi informasi dan teknologi saat ini karena perkembangan situasi dan kondisi sangat rentan dengan isu-isu negatif yang berpotensi memecah belah bangsa.

    Dengan adanya kegiatan Binkom tersebut diharapkan mampu mengingatkan kembali seluruh komponen bangsa agar bahu membahu dalam menjaga stabilitas keamanan di daerahnya masing-masing. Dengan demikian maka diharapkan dapat mencegah dan meredam setiap potensi konflik sosial yang akan terjadi di Bontang.

    Dalam acara tersebut peserta yang diundang kurang lebih 200 orang yang terdiri dari Forkopimda Bontang, Tokoh agama,tokoh masyarakat, tokoh adat, mahasiswa, pelajar, santri, LSM dan organisasi pemuda.

    Para peserta Binkom memberi apresiasi positif terkait dengan program Binkom ini, dan sangat bermanfaat untuk membangkitkan semangat juang setiap warga Bontang dalam mencintai tanah airnya secara hakiki.

     

    Di Kodim 0906/KUTAI KARTANEGARA

    Dialog Interaktif Pemantapan Nilai Nilai Wawasan Kebangsaan dalam kegiatan Binkom Cegah Konflik Sosial yang dilaksanakan di Aula Makodim 0906/Kutai Kartanegara, dihadiri oleh 200 orang peserta.

    Peserta berasal dari unsur Forkopimda, FKUB Lintas Agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh organisasi masyarakat. Acara ini berlangsung Rabu, 5 April 2023.

    Acara tersebut cukup meriah karena peserta Binkom dan para undangan menyanyikan lagu nasional yang heroik diantaranya yaitu Gebyar-Gebyar dan membuat suasana merinding.

    Pemateri utama dialog ini adalah Brigjen TNI Antoninho Rangel Da Silva, S.IP.,M.Han. Ketika ia memberi materi, banyak peserta yang terharu dan berlinang air mata kebanggaan serta terbalut bersemangat gelora jiwa cinta tanah air. Hal ini karena inovasi,improvisasi dan kreatifitas Antonio yang begitu menguasai bahasa komunikasi dalam menyajikan materi.

    Brigjen TNI Antoninho mengungkapkan bahwa wawasan kebangsaan sangatlah penting utk ketahui dan dipahami oleh setiap warga Negara. Hal ini sebagai proses pembentukan sikap moral dan karakter yang kokoh agar memiliki rasa kecintaan yang hakiki terhadap cinta tanah air dan menjaga kesinambungan berkehidupan berbangsa dan bernegara serta terpeliharanya NKRI.

    “Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, agama,budaya dan adat istiadat yang berbeda tapi tetap satu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika. Untuk itu rasa cinta tanah air ini perlu ditanamkan secara dini bagi setiap individu,” ujarnya. (red)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (16)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (16)

    *Niat Ingsun*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SELAMA ini hamba hampir tidak pernah melihat dirinya ketika sholat subuh di mesjid. Rasa-rasanya dia bukanlah jemaah sholat subuh, setidaknya di mesjid dekat rumah hamba.bMakanya hamba tak dapat mengenalinya.

    Namun, alhamdullilah, belakangan ini, hamba malah selalu melihat dirinya rajin ikut sholat subuh di mesjid. Kalau hamba melihat ke arahnya, terkadang dia tersenyum ke hamba. Mau tak mau hamba pun balik tersenyum kepadanya.

    Tak hanya itu, beberapa hari kemudian dia malah sudah sholat dekat hamba. Tentu, jika ada orang yang menjadi ”anggota baru” jemaah sholat subuh di mesjid, hamba ikut senang, karena berarti tambah lagi manusia pencinta Allah, pencita sholat subuh di mesjid.

    Setelah sekitar dua minggu terus menerus sholat subuh di mesjid, sewaktu bubar sholat subuh, dan sudah di depan perkarangan mesjid mengambil sandal, seorang tetangga memperkenalkan dirinya kepada hamba. Kami pun saling bersalaman. Kami ngobrol-ngobrol sejenak sebelum pulang ke rumah.

    Tahulah hamba dia tinggal masih satu RW dengan hamba. Dia pensiunan PNS dan kini memiliki beberapa rumah kontrakan.

    Mungkin inilah salah satu gunanya sholat subuh di mesjid: memperoleh teman baru. Apalagi lebih kesini, dia juga beberapa kali jika sholat subuh di mesjid, duduk bersebelahan dengan hamba.

    Beberapa hari setelah orang yang memperkenalkannya kepada hamba, seusai sholat subuh seperti pertemuan pertama sebelumnya, menjelaskan, jemaah baru sholat subuh berjamaah di mesjid ini berminat membeli salah satu tanah milik hamba.

    Memang kebetulan manakala anak gadis hamba masih SMA, dia termasuk “Abas” alias “Anak Basket. “ Untuk latihannya kebetulan saat itu ada sebuah rumah tetangga yang letaknya sangat dekat dengan rumah hamba, mau dijual, dan pas hamba pun sedang diberikan rejeki oleh Allah.

    Singkat cerita, lantaran antara pemiliknya dengan hamba sudah saling mengenal, perundingan berjalan lancar. Sebagai sesama tetangga, waktu itu hamba memberikan harga yang memadai buat dirinya. Dalam artian, harganya sedikit di atas rata-rata nilai pasar. Memberikan rezeki ke tetangga merupakan hal yang membahagiakan hamba.

    Setelah rumah itu hamba beli, bangunanya lantas hamba hancurkan. Lantainya hamba perkuat dan pleaster dengan semen. Di ujung kiri kanan, hamba pasang ring basket. Jadi sebuah lapangan basket. Disitulah anak gadis hamba sering berlatih basket.

    Begitulah mungkin cinta seorang ayah kepada anak gadisnya. Sepanjang mampu, dan memberikan kegiatan yang positif, apapun yang diperlukan sang anak gadis, sejauh mungkin bakal dipenuhi ayahnya.

    Hal yang sama terjadi pada diri hamba. Lantaran sewaktu SMA anak gadis hamba hobby main basket, sebagai Ayah yang kebetulan saat itu diberikan kemampuan, hamba pun menyediakan lapangan basket buat anak gadisnya.

    Seiring dengan berjalannya waktu, anak gadis hamba lulus SMA dan kuliah di fakultas hukum. Dia mulai tak aktif lagi di dunia basket dan tak lagi memakai lapangan basket yang dibuat khusus ayahnya buat dia. Jadi lahan tersebut menjadi kurang bermanfaat.

    Makanya kalau memang ada orang yang berminat membelinya lahan itu, hamba dapat “memikirkannya “ untuk melepaskannya (baca: menjualnya).

    Beberapa tetangga hamba mengetahui hal ini. Disinilah kelebihan tetangga lingkungan hamba yang banyak berasal dari etnis Betawi. Urusan ketersediaan jual beli tanah mereka amat piawai. Kalau kita mau membeli tanah, di daerah manapun, pasti mereka bakal memperoleh informasi dan datanya. Begitu pula jika kita ingin menjual tanah, mereka pasti mampu mencarikan pembelinya.

    Kenapa begitu? Jika transaksi jual belinya berhasil, tentu mereka sebagai mediator memperoleh hasil juga. Umumnya 2,5% dari nilai transaksi.

    Demikian pula dengan lahan lapangan basket milik hamba. Dengan cepat mereka sudah memperoleh informasi dari hamba dan, entah dengan cara bagaimana, mereka selalu saja dapat mencari pembelinya. Termasuk jemaah sholat subuh berjemaah di mesjid yang baru ini.

    Sebagai sesama jemaah sholat subuh di mesjid, hamba berpikir, kami harus saling melengkapi. Saling menolong. Maka perundingan tak berlangsung lama.

    Hamba memberikan kepadanya harga yang relatif murah. Maklumlah sesama jemaah sholah subuh di mesjid yang sama, hamba tidak terlalu melulu berhitung untung rugi lagi. Membantu memberikan kebahagian kepada sesama jemaah sholat subuh di mesjid, merupakan sesuatu yang membahagia hamba. Apalagi tetangga satu RW.

    Di notaris semua kelengkapan dan keabsahan tanah di periksa. Tak ada masalah sama sekali. Semuanya sah. Semuanya lengkap. Oleh sebab itu transaksi berjalan mulus. Tanah pun berpindah tangan.

    Adapun yang terutama hamba sesungguhnya ingin kisahkan, bukan soal transaksi jual beli lahan lapangan basket milik hamba.

    Beberpa hari sesudah transaksi rampung, hamba masih melihat pembeli tanah hamba itu sholat subuh di mesjid, tapi duduknya sudah agak jauh dari hamba. Sesudah sekitar seminggu, hamba tidak pernah lagi melihatnya sholat subuh di mesjid.

    Hamba tanya kepada para tetangga, apakah mungkin dia sakit atau bagaimana? Ternyata dia sehat-sehat saja. Cuma sudah tidak sholat subuh berjemaah di mesjid lagi. Begitu pula, setelah pembeli tanah dari hamba, dia sudah tidak pernah berkomunikasi dengan hamba.

    Disinilah pepatah lama masih berlaku: dalamnya laut dapat diukur, hati manusia siapa yang tahu?

    Tak ada satu pun yang saling mengetahui apa niat jemaah yang sholat subuh di mesjid. Hamba yakin sebagian besar jemah sholat subuh di mesjid dekat rumah hamba, memang ingin mengabdi dan mewujudkan rasa tunduk dan patuh kepada Allah.

    Kendati begitu, barangkali selalu ada satu dua orang yang sholat subuh di mesjid hanya dengan niat ingin menerapkan strategi bisnis, atau pendekatan terhadap sesama jemaah saja. Setelah hal itu tercapai, mereka pun kembali meninggalkan sholat subuh berjemaah di mesjid.

    Kata orang, _niat ingsun,_ atau niat orang, memang siapa yang faham? Termasuk niat masing-masing sholat subuh di mesjid? Kalaulah niatnya bukan semata-mata menyerahkan diri kepada Allah, tentu meninggalkan sholat subuh di mesjid bukanlah perkara yang luar biasa bagi mereka. Jika tujuan sudah tercapai, boleh jadi mereka tak peduli lagi dengan sholat subuh di mesjid.

    Astagfirullah.

    T a b i k ***

     

    Bersambung…..

     

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (15)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (15)

    *Berlatih Manajemen Waktu*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SHOLAT subuh di mesjid secara tidak langsung memberikan pelatihan manajemen waktu. Kita diajarkan untuk memanfaatkan waktu secara efektif. Buat dapat sholat subuh di mesjid, kita memerlukan disiplin pengaturan waktu. Kita harus mampu mengatur menit demi menit menjelang sholat subuh di mesjid.

    Diawali dengan bangun pagi, harus ditentukan berapa menit dari sebelum azan subuh. Harus diukur dari bangun, ambil wudu, memakai baju sholat, berapa lama? Tidak boleh terlambat, tapi juga sebaiknya jangan kecepatan pula. Dengan kata lain, jam berapa kita bangun juga harus disesuaikan dengan waktu sholat subuh.

    Perlu diingat, waktu sholat subuh rata-rata setiap dua hari juga dapat berubah-ubah. Biasanya dapat bergeser ke lebih pagi atau ke lebih siang, sekitar satu atau dua menitan setiap perubahan itu. Jika perubahan ditotal dari satu putaran waktu ke putaran waktu lainnya, rata-rata dapat berselisih sampai setengah jam atawa 30 menitan.

    (Sekedar catatan: sebagian ulama berpendapat waktu sholat subuh di Indonesia, sebenarnya, terlalu cepat delapan menit. Ini karena perbedaan cara menghitung. Indonesia menerapkan mulainya waktu subuh berdasarkan matahari minus 20. Sedangkan sebagian ulama lainnya dan para ahli ilmu falak berpendapat, perhitungan seharusnya matahari minus 18. Akibat perbedaan ini terdapat perbedaan selisih delapan menit).

    Untuk menetapkan persiapan diri sendiri, kita harus mengikuti perubahan waktu sholat meski cuma beda satu dua menit,

    Lantas perlu juga dihitung berapa menit, dari siap berangkat dari rumah sampai mesjid. Ini tergantung jauh dekatnya jarak rumah ke mesjid dan naik apa kita ke mesjid.

    Jika seperti hamba ini yang rumahnya cuma “sejengkalan” dari mesjid, ya cepat. Jalan kaki saja sekitaran dua -tiga menit sudah sampai. Tapi jika agak jauh, naik motor, juga tak beda. Di subuh yang sepi hanya beberapa menit juga sudah sampai mesjid. Naik mobil yang perlu dipikirkan waktu cari parkir.

    Perhitungan yang akurat membuat kita tidak terlambat sampai mesjid. Kita sampai di mesjid, beberapa saat sebelum azan subuh atau tepat pada saat azan subuh.

    Di mesjid dekat rumah kami, azan subuh dikumandangkan sekitar sepuluh atau delapan menit sebelum sholat subuh dimulai. Azannya sendiri, hamba perhatikan, rata-rata sudah mengambil waktu empat atau lima menit.

    Setelah itu ada waktu sekitar empat atau lima menit untuk sholat sunah dua rakat dan berdoa.

    Jemaah harus mampu berhitung sendiri, sholat dan doanya berapa menit, agar jangan kepanjangan dan melebihi tibanya qomat.

    Sholat subuh di mesjid dengan begitu selain melaksanakan perintah Allah, juga ternyata merupakan pendidikan kepada jemaahnya untuk menerapkan perhitungan waktu.

    Sholat subuh di mesjid mengajarkan, kita perlu memanfaatkan waktu kita secara efektif. Sholat subuh di mesjid juga memberikan pendidikan, kita jarus dapat memilah dan memilih mana yang menjadi priotas dalam hidup kita.

    Sholat subuh di mesjid seakan bermakna, buat kaum muslim sebelum melaksanakan aktivitas apapun, prioritas pertama kita melaporkan dan menyerahkan diri lebih dahulu kepada Sang Pancipa. Kepada Allah.

    Prioritas kita pertama kita setiap hari mengutamakan bersujud menghamba kelada Allah. Ini sebagiah simbol, sebelum melakukan kegiatan apapun, setiap hari kita lebih dahulu memprioritaskan diri berjemaah menghadap, melaporkan, merendah diri, minta perlindungan dan petunjuk kepada Allah. Posisi Allah di atas segalanya.

    Dari pendidikan sholat subuh di mesjid, setidaknya ada dua pelajaran yang dapat dipetik.

    Pertama, kita wajib menata pemakaian waktu kita dengan seefektif mungkin. Dalam refleksi kehidupan sehari-hari yang lebih luas, hanya orang yang memanfaatkan waktunya dengan benar dan untuk hal-hal yang bermanfaat saja yang memiliki keunggulan.

    Berbagai studi dan riset sudah membuktikan hal ini.

    Kedua, kita perlu memberikan prioritas waktu kepada hal-hal yang urgen, yang penting dan utama. Sebagai muslim setiap hari kita memandang melaporkan diri, merendah diri, menyerahkan diri seraya minta batuan dan perlindungan kepada Allah merupakan prioritas kita.

    Dalam prepektif kehidupan nyata sehari-hari, hal ini dapat ditafsirkan kita harus pandai menentukan mana yang urgen, kemudian mana yang penting dan mana pula yang dapat kita kerjakan agak belakangan. Mengerjakan secara terbalik selain banyak membuang-buang waktu juga akan kurang menghasilkan tindakan yang berkualitas.

    Dari sinilah kita lebih mudah menyadari mengapa ajaran Islam menyebut, merugilah orang-orang yang tidak memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian kita menjadi lebih mudah memahami, mengapa sebagian ulama menegaskan sholat subuh berjemaah seperti atau sama dengan mengerjakan sholat sepanjang hari.

    T a b i k.***

     

    Bersambung….

     

    *Wina Armada Sukardi,* _ adalah wartawan dan advokat senior dan Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakilo organisasi.-

  • Jamin Keamanan Paskah, Polresta Mataram Terjunkan 367 Personel

    Jamin Keamanan Paskah, Polresta Mataram Terjunkan 367 Personel

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID) – Polresta Mataram Polda NTB menerjunkan sekitar 367 personel untuk pengamanan perayaan ibadah Paskah tahun ini. Ratusan personel itu akan ditempatkan di seluruh gereja yang menggelar peribadatan paskah di wilayah hukumnya.

    Kapolresta Mataram melalui Kabag Ops Kompol I Gede Sumadra Kerthiawan SH mengatakan penjagaan tersebut dilakukan sepanjang rangkaian Pekan Suci yang akan digelar dari mulai perayaan Kamis Putih hari ini. Kemudian Jumat Agung, malam Paskah di hari Sabtu dan berakhir dengan perayaan Paskah.

    Sebanyak 367 personel ditunjuk untuk melaksanakan pengamanan hari raya Paskah sampai dengan hari Minggu. “Pengamanan semua. Semua personel diploting ke gereja-gereja yang ada proses peribadatan,” tegasnya.

    Selain penjagaan saat peribadatan berlangsung, kepolisian juga melakukan pengecekan di sejumlah gereja. Hal itu sebagai antisipasi terkait temuan benda-benda berbahaya di lokasi peribadatan.

    “Dalam pengecekan tersebut Polresta Mataram bekerja sama dengan Sat Brimob Polda NTB. Untuk hal-hal mencurigakan atau benda terlarang di lokasi tidak ditemukan,” pungkasnya (ang)

  • Kepala BNPT RI: Kita Fokuskan Kegiatan pada Program Deradikalisasi

    Kepala BNPT RI: Kita Fokuskan Kegiatan pada Program Deradikalisasi

    NOGOR (LOMBOKEXPRESS.ID)– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) Komjen. Pol. Prof. Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si., mengimbau agar kegiatan BNPT RI difokuskan pada kegiatan program deradikalisasi.

    Menurutnya, hal tersebut merupakan amanat dan harapan dari Presiden RI Joko Widodo sebagai bukti nyata hadirnya negara dalam rangka pencegahan tindak pidana terorisme.

    “Kegiatan kita (BNPT RI) semaksimal dan seoptimal mungkin, sebesar-besarnya kita berikan untuk program deradikalisasi,” jelasnya saat memimpin Rapat Pimpinan Pertama di Lingkungan BNPT RI di Kantor BNPT, Sentul pada Kamis (6/4).

    Dalam program deradikalisasi, Kepala BNPT RI pun mengimbau agar pemuka agama dapat dilibatkan secara aktif untuk meluruskan pehaman agama yang salah sebagaimana semua agama mengajarkan perdamaian bukan permusuhan bahkan tindakan kekerasan.

    “Kita bentuk Dai Dai yang memberikan pencerahan kepada para napiter. Para Dai diharapkan bisa memberikan pemahaman agar mereka (napiter) mencintai perdamaian, bertoleransi dan tumbuh kencintaanya terhadap NKRI,” ungkapnya.

    Selama ini BNPT RI terus memfokuskan program deradikalisasi. Program deradikalisasi yang dilakukan BNPT RI terutama menyangkut program pemberdayaan ekonomi napiter (mitra derad) dengan pendirian Kawasan Terpadu Nusantara (KTN).

    KTN telah didirikan di 5 wilayah lokus sinergisitas penanggulangan terorisme yaitu di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah. (bnpt/red)

  • Lanjutkan Kepemimpinan di BNPT, Rycko Amelza Upayakan Pendekatan Kemanusiaan dalam Penanggulangan Terorisme

    Lanjutkan Kepemimpinan di BNPT, Rycko Amelza Upayakan Pendekatan Kemanusiaan dalam Penanggulangan Terorisme

    BOGOR (LOMBOKEXPRESS.ID)– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) Komjen Pol. Prof. Dr. H. Rycko Amelza Dahniel, M.Si. mengaku bahwa tugas penanggulangan terorisme merupakan tugas yang mulia. Baginya, pendekatan lunak melalui aspek kemanusiaan merupakan hal terpenting.

    “Tugas penanggulangan terorisme ini sangat mulia. Mulia bukan hanya karena menjaga keutuhan NKRI tapi bagaimana membuat manusia menjaga kemanusiaan, manusia menghormati satu sama lain. Ini penting,” jelasnya dalam acara Serah Terima Jabatan dan Pisah Sambut antara Komjen Pol. Prof. Dr. Rycko Amelza Dahniel, M.Si., yang menggantikan Komjen Pol. Dr (Purn) Boy Rafli Amar, M.H di Kantor Pusat BNPT pada Rabu, (5/4).

    Komitmen pendekatan lunak dengan mengedepankan aspek kemanusiaan ini pun diapresiasi oleh Kepala BNPT RI periode sebelumnya, Komjen Pol. (Purn) Dr. Boy Rafli Amar, M.H.

    “Kepemimpinan yang baru, BNPT pasti bisa mengakselerasi pencapaian tugas penanggulangan terorisme yang selama ini kita kerjakan,” ujarnya.

    Dirinya juga berharap, agar sinergi dengan beragam unsur masyarakat dapat terus dilanjutkan.

    “Dengan sinergitas kita membangun bangsa, kita harus berusaha semaksimal mungkin melanjutkan ini. Kerjasama dengan masyarakat memberikan efek bahwa ketahanan bangsa. Kita memiliki daya imunitas yg bagus melawan virus radikal intoleran,” tambahnya.

    Sejatinya, pendekatan kemanusiaan selama ini telah terimplementasi dalam upaya kontra radikalisasi yang dilakukan oleh BNPT. Melalui pendekatan ini BNPT berupaya melakukan penanaman nilai-nilai nasionalisme serta nilai-nilai non-kekerasan, dengan strategi pendekatan melalui pendidikan formal maupun non-formal. Kontra radikalisasi yang diusung BNPT banyak menggandeng tokoh agama, tokoh pendidikan, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda dan stakeholder lain dalam memberikan nilai-nilai kebangsaan. (bnpt/has)

  • Polresta Mataram Gelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan Fungsi Narkoba

    Polresta Mataram Gelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan Fungsi Narkoba

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)–Sebagai langkah antisipasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan Kepolisian, sekaligus untuk memberikan pembekalan kepada anggota tentang narkoba, Satuan Reserse Narkoba, (Satresnarkoba) Polresta Mataram menggelar Pelatihan Peningkatan Kemampuan Fungsi Teknis Narkoba Tahun 2023 di Gedung Wira Pratama Polresta Mataram, Rabu, (05/04/2023)

    Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan Subbagdalpers Bag SDM Polresta Mataram yang dihadiri oleh Kabag SDM Kompol Ahmad Mansur SAg, Kasat Narkoba Kompol I Made Yogi Purusa Utama SE SIK, para Kanit Resnarkoba dan 42 personel Polresta Mataram serta jajaran Polsek melalui zoom meeting.

    Kapolresta Mataram melalui Kabag SDM Kompol Ahmad Mansur SAg mengatakan kegiatan pelatihan ini berguna bagi seluruh anggota Polri secara khusus anggota Polresta Mataram dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam menjalankan tugas agar berjalan dengan maksimal.

    “Dengan adanya Latkatpuan fungsi Sat Resnarkoba ini, berguna di kemudian hari. Jika sewaktu waktu diperlukan apabila terjadi suatu kejadian pada saat bertugas di lapangan dapat melakukan tindakan pertama dan akan menjadi perbekalan pengetahuan jika suatu saat dapat bertugas di fungsi Sat Resnarkoba. Mohon diperhatikan,” ucap Kabag SDM.

    Kasat Narkoba Kompol I Made Yogi Purusa Utama SE SIK MH dalam arahannya menyampaikan tentang pengertian narkoba, psikotropika dan bahan adiktif lainya. Serta contoh contoh narkoba dan grafik kasus narkoba di wilayah hukum Polresta Mataram dari Tahun 2021 sampai Tahun 2023.

    Kemudian menjelaskan tugas, fungsi kegiatan Sat Resnarkoba yang tercantum dalam Perkap nomor 2 tahun 2021, tentang susunan organisasi dan tata kerja pada tingkat Kepolisian Resor serta Polsek.

    “Pada kesempatan ini juga kita ajak anggota agar tidak ada yang bermain main dengan narkoba. Kita sampaikan materi ini dan diharapkan anggota bisa memahami untuk selanjutnya disampaikan kepada masyarakat terutama dilingkungan tempat tinggal dan wilayah binaan masing masing,” tutup Kompol Yogi. (ang)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (13)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (13)

    *Penumpang Misterius*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    BAGI hamba, membawa “penumpang misterius,” bukan perkara baru. Sudah terjadi beberapa kali. Misalnya, pernah ketika ibu hamba meninggal dunia, setelah pemakaman, hari waktu itu baru saja selesai magrib, dari rumah di Depok mau pulang ke Jakarta, hamba ini naik mobil bersama isteri dan salah satu kakak ipar perempuan. Semua duduk di belakang. Hari sudah mulai gelap.

    Sewaktu mobil mau berangkat, seorang ibu setengah baya minta ikut “numpang”mobil kami. Menurutnya, dia rumahnya searah dengan kami. Nanti tiba di jalan tujuan rumahnya, katanya, dia bakal berhenti.

    Dia duduk bangku depan di samping sopir. Kami tidak bercakap-cakap sama sekali. Selain mungkin sudah lelah, kami juga bingung ada orang yang tidak dekat dengan kami, berani minta ikut “nebeng” mobil kami. Tapi kalau -gak- kenal dekat, _kok,_ dia tahu arah pulang kami.

    Makanya kami pikir, jangan-jangan dia teman almarhum ibunda kami. Tapi kok selama ini kami tak pernah mengenalnya. Ah, tak tahulah kami.

    Dan benar saja. Sesuai pernyataannya, di tengah jalan dia minta, mobil kami stop. Berhenti. Dia lantas turun. Berjalan ke arah belakang.

    Kami melihat ke kiri kanan, tidak ada perumahan sama sekali. Di sisi kiri tanah datar tinggi ke atas. Sebelah kanan, agak jauh, memanjang riel kereta api. Depan belakang, jalan beraspal. Dimana rumah Si Ibu? Ketika mencari kemana arah si Ibu pulang, dia sudah menghilang. Jadi, kami tak dapat mengikutinnya.

    Besoknya kami balik lagi ke Depok lewat jalan yang sama. Kali ini di siang hari. Kami baru menyadari, sebelah kiri atas dari arah Depok menuju Pasar Minggu, tempat Si Ibu kemarin malam turun, bukanlah perumahan, tapi…. kuburan.

    Iya , dari sana kami menjadi faham “siapa” wanita itu dan kemana dia “pulang.”

    Sekarang kuburan yang kami lewati sudah menjadi bagian dari Universitas Indonesia.

    Meski “misterius,” namun selalu ada jawabanya terhadap para “tamu misterius” itu. Contohnya ya yang dari kuburan itu.

    Cuma yang hamba alami ini berbeda. Sampai kiwari hamba tak tahu siapa dia. Hamba tidak pernah mendapat jawaban siapa dia.

    Kisahnya nyata ini bermula dari suatu tengah malam, sudah agak berat ke subuh, hamba pulang dari rumah seorang sejawat di daerah Limo, Cinere. Kalau hamba tak salah setelah deadline, hamba ada perlu ke rumahnya. Terus terang hamba lupa ada keperluan apa kala itu.

    Waktu itu hamba pulang sendirian, menyetir sendiri. Mobilnya hamba masih ingat benar, Mitsubishi Galant berwarna silver.

    Hamba gak sedikit mengantuk, tapi masih penuh kesadaran.

    Suasana jalan amat sepi. Semua toko sudah tutup. Tak ada pedagang lagi di pinggir jalan. Hanya satu dua mobil yang melintas.

    Di sebuah halte, mata hamba melihat berdiri seorang ibu berkerudung. Buat hamba ini rada aneh. Hari begini _ngapain_ juga ibu-ibu berdiri di halte? Menunggu bis? Rasanya tak ada bis bakalan lewat semalam yang mau menjemput subuh ini. Kalaupun ada angkot pastilah tenggang waktunya menunggu lama.

    Muncul rasa ingin tahu sekaligus iba terhadap ibu itu. Reflek hamba mengarahkan mobil kepadanya dan berhenti di depannya. Dia cuma melihat hamba, hampir tanpa ekspresi.

    Kaca mobil hamba buka. Masih dari dalam mobil hamba tanya mau kemana malam-malam seperti ini.

    “Pengajian, “ jawabnya.

    “Pengajian?” tanya hamba, full heran.

    “Iya. Pengajian!” tegasnya menandakan hamba tak salah dengar.

    “Malam-malam seperti ini?”

    “Pengajiannya nanti subuh.”

    Hamba tambah penasaran dan memberondongnya dengan pertanyaan lain. “Pengajian dimana?”

    “Kwitang!” jawabnya. Memang hamba tahu di Kwitang, daerah Pasar Senen, pernah ada kiai terkenal Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi. Setelah beliau wafat diteruskan oleh keluarga dan keturunannya. Di Kwitang itu memang ada pengajian-pengajian masyur, termasuk pengajian untuk ibu-ibu.

    Masalahnya apa benar pengajian buat ibu-ibu dilaksanakan sepagi ini?

    “Iya memang ada pengajian ibu-ibu setelah sholat subuh,” kata wanita ini seakan dapat membaca pikiran hamba.

    “Jadi ibu mau kesana?” tanya saya.

    “Iya. Ke Blok M dulu, terus dari sana, baru naik bis ke Kwitang,” jelasnya.

    “Iya sudah kalau begitu, Ibu saya hantarkan ke Blok M ya?”

    Dia setuju dan naik ke mobil.

    Sebenarnya dari Cinere ke rumah hamba lebih dekat dan lebih mudah memotong jalan ke arah Karang Tengah terus ke Lebak Bulus, Pasar Jumat dan ke rumah saya.

    Kalau ke Blok M, saya harus lewat Pondok Labu terus ke arah Fatmawati, Cilandak Blok A dan ke Blok M. Dari Blok M harus ke Radio Dalam, Pondok Indah baru ke arah rumah hamba. Tapi lantaran kasihan padanya, maka hamba ajak dia. Mana tega membiarkan ibu-ibu di malam jelang subuh sendirian mau ke Kwitang.

    “Kok jauh amat sih Bu Pengajian ke Kwitang,” tanya saya di mobil.

    “Ya sudah biasa,” jawabnya.

    Begitulah akhirnya dia hamba antar sampai terminal Blok M. Kala itu terminal Blok M belum seperti sekarang. Masih semerawut.

    Setelah hamba “turunkan” dia si terminal Blok M, saya langsung pulang. Sampai rumah sekitar pukul 04.15. Masih keburu untuk sholat subuh. Setelah mencuci muka dan ganti pakian hamba sempat sholat subuh di mesjid. Datang ke mesjid pas azan.

    Berbagai kesibukan membuat sekitar seminggu hamba lupa terhadap peristiwa dengan perempuan misterius tersebut. Baru setelah sekitar seminggu hamba cek ke sobat-sobat hamba yang mengetahui, apa benar di Kwitang ada pengajian buat ibu-ibu pada subuh hari.

    Menurut berbagai keterangan yang hamba himpun, memamg benar ada pengajian ibu-ibu disana, tapi tak ada yang dilaksanakan subuh hari seperti cerita “penumpang misterius” yang ikut hamba?

    Waktu itu pengajian ibu-ibu disana katanya paling pagi jam 9an

    Pertanyaan hamba: kalau demikian, siapa perempuan ini? Siapa “penumpang misterius” ini? Sampai kiwari, sekitar 25 tahun kemudian, belum juga terjawab siapa dia. Itulah yang hamba maksud “tamu misterius” yang belum terjawab siapa dia.

    T a b i k.***

     

    Bersambung…..

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* _wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi._

  • Polresta Kembali Dapat Apresiasi dari Walikota Mataram 

    Polresta Kembali Dapat Apresiasi dari Walikota Mataram 

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)– Polresta Mataram kembali menuai apresiasi dari Walikota Mataram H Mohan Roliskana, S.Sos, MH pada saat rapat koordinasi Forkopimda Mataram di ruang kerja Walikota Mataram, Senin, (03/04/2023)

    Rakor tersebut dihadiri Walikota Mataram H Mohan Roliskana, S.Sos, Dandim 1606 Mataram Kolonel Arm. Arif Rahman, S.Sos, MM, Ketua Pengadilan Negeri Mataram Putu Gde Hariadi, SH., MH, Ketua DPRD Kota Mataram Didi Sumardi, SH, Asisten 1 Mataram L. Martawang. Kejaksaan Negeri Mataram, Kapolresta Mataram diwakili oleh Kabag Ops Polresta Mataram Kompol I Gede Sumadra Kerthiawan SH dan Kepala Kesbangpol Kota Mataram.

    Rakor yang dibuka langsung Walikota Mataram membahas permasalahan selama Bulan suci Ramadhan memasuki pertengahan, kegiatan anak-anak muda sangat tinggi. Seperti kegiatan Balapan Lari dan aksi balap liar yang terjadi di Lingkar Selatan dan Jalan Udayana.

    Untuk persiapan pengamanan malam takbiran segera lakukan lagi rapat koordinasi. “Mohon kiranya Bapak Dandim dan Bapak Kapolresta agar diatensi pengamanannya agar situasi Kamtibmas di Kota Mataram selama bulan suci Ramadhan selalu aman dan kondusif,” kata Walikota.

    Walikota Mataram selanjutnya mengapresiasi Kapolresta Mataram dan jajarannya yang sampai saat ini bunyi-bunyian di Kota Mataram tidak ada dan terus mencegah aksi balap liar, balap lari yang dilakukan. “Kami juga terus akan mendukung,” ucap Walikota Mataram.

    Dengan selalu bersama TNI, Kodim 1606 Mataram terus menggelar Patroli, Walikota ucapkan terimakasih atas menciptakan kondusifitas keamanan di Kota Mataram.

    Kabag Ops Kompol I Gede Sumadra Kerthiawan SH MH mengatakan hal ini tentunya akan terus menjadi motivasi pihaknya dalam melaksanakan tugas beserta jajaran dan sudah menjadi tanggung jawab.

    “Apa yang disampaikan Walikota Mataram terkait persiapan pengamanan kami laporkan dan sampaikan kepada Bapak Kapolresta Mataram untuk segera kami siapkan,” katanya. (ang)

  • SMSI NTB Semarakkan Ramadhan dengan Berbagi Takjil Berbuka Puasa

    SMSI NTB Semarakkan Ramadhan dengan Berbagi Takjil Berbuka Puasa

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)- Serikat Media Siber Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Barat (SMSI NTB), Senin (3/4/2024) sore, menyemarakkan suasana bulan Ramadhan dengan berbagi ratusan takjil untuk buka puasa. Tim Semarak Ramadhan SMSI NTB membagikan takjil gratis, dengan menyisir beberapa ruas jalan raya di Kecamatan Sandubaya Kota Mataram.

    Ketua SMSI NTB HM Syukur, S.H. mengungkapkan, pembagian ratusan paket takjil itu adalah wujud kebersamaan SMSI NTB dalam memeriahkan bulan suci Ramadhan 1444 H penuh berkah.

    “Alhamdulillah, ini sebagai bentuk rasa syukur dan kekompakan teman-teman SMSI NTB. Hari ini kami dapat berbagi menu berbuka puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini,” ungkapnya.

    Ketua SMSI NTB menyebutkan, ratusan paket takjil dibagikan kepada mayarakat di beberapa titik keramaian, seperti lampu merah pertigaan Jalan TGH. Faisal-Jalan Brawijaya (depan Anang Cell) Sweta-Mandalika, perempatan lampu merah (Bundaran Metro) Sweta-Mandalika dan perempatan lampu merah Selagalas, dengan menyasar para pengendara, pejalan kaki, pekerja kebersihan dan lainnya.

    “Kami sengaja memilih lokasi di seputar Mandalika-Sandubaya, karena kemarin teman-teman SMSI Cabang Kota Mataram sudah melakukan kegiatan yang sama di Mataram. Jadi, kita bagi-bagi lokasinya,” katanya. Syukur mengatakan, kegiatan berbagi takjil gratis akan menjadi agenda rutin SMSI NTB di saat bulan Ramadhan.

    “Insya Allah, teman-teman SMSI Cabang di kabupaten/kota se-NTB juga melakukan kegiatan seperti ini (berbagi takjil, red),” tuturnya.

    Sementara Bendahara SMSI NTB I Made Anang Sanakumara ditemani anggota LBH SMSI Ni Putu Desi Novitawati, S.H., M.H., tampak sangat antusias dengan kegiatan berbagi takjil tersebut.

    “Ini sisi humanis dan toleransi kita, jangan karena perbedaan keyakinan atau agama, kemudian kita menjadi lain, sepanjang untuk hal-hal positif kita harus bersama,” ujar sapaan Anang itu.

    “Mari terus kita pupuk semangat toleransi dan kebersamaan. Kita berjuang bersama mengabdi tanpa batas,” timpal sapaan Desi.

    Untuk diketahui, kegiatan berbagi takjil SMSI NTB diakhiri dengan buka bersama di Lesehan Green Asri Sayang-sayang, dimana Lesehan Green Asri yang menawarkan berbagai menu masakan dan minuman, selalu padat pengunjung di setiap bulan Ramadhan.

    Lesehan Green Asri Sayang-sayang menjadi salah satu tujuan para keluarga muslim/muslimah, untuk buka puasa bersama keluarga dan handai taulan serta rekan sejawat. (red)