Blog

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh ( 7)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh ( 7)

    Kerinduan Sholat Subuh di Mesjid

    – Wina Armada Sukardi –

    MANAKALA dulu saya mendengar orang-orang memperbincangkan, jika kita selesai naik haji, kita seperti dipanggil kembali untuk datang lagi dan datang lagi ke Mekah, ke Kabah, saya pikir hal tersebut merupakan hal yang lebai alias berlebihan.

    Malah saya agak skeptis soal itu, bahkan, terus terang saja, saya cenderung tak percaya.Bukankah naik haji membutuhkan ongkos relatif besar? Demikian pula perlu fisik yang harus kuat. Bagaimana hal itu dapat melahirkan keinginan untuk balik lagi kesana, pikir saya.

    Kenyataannya, waktu saya selesai naik haji tahun 2002, yang sebelumnya hamba pikir lebai, berlebihan, ternyata hal tersebut memang benar-benar terjadi. Setidaknya pada diri saya. Setelah menunaikan rukun Islam naik haji untuk pertama kali, selalu ada semacam panggilan untuk datang lagi dan datang lagi ke Kabah.

     

    Apalagi saya merasa kala

    menunaikan ibadah haji itu, ada hal yang ingin lebih hamba ini sempurnakan dan tuntaskan lagi

    jika naik haji berikutnya.

    Kerinduan orang naik haji untuk kembali berhaji, yang semula saya duga omong kosong belaka, benar adanya. Hati hamba ini ingin selalu kembali kesana. Betul-betul luar biasa “tarikan” kabah kepada orang yang pernah menunaikan haji.

    Kendati begitu, saya tak pernah naik haji lagi. Bukan tak punya kehendak itu. Bukan pula tak ada kesempatan. Juga bukan karena tidak ada dana. Bukan, bukan soal itu, namun lantaran saya berprinsip, betapapun dorongan hati ingin menunaikan ibadah haji berkali-kali, cukuplah hamba ini naik haji sekali saja.

    Meski merasa ada yang dapat lebih disempurnakan lagi jika kemudian ada kesempatan menunaikan ibadah haji, namun hamba ini tak melakukan itu. Apapun yang terjadi saat naik haji, setidaknya hamba sudah melaksanakan kewajiban berhaji, sementara ratusan ribu, bahkan jutaan, orang Indonesia mengantri ingin naik haji. Saya berpendapat, alangkah egoisnya hamba ini jika hamba ingin berkali-kali naik haji, sementara masih begitu banyak manusia Indonesia mencari kesempatan naik haji.

    Hamba pun memutuskan: berikanlah kesempatan kepada hamba Allah lainnya yang ingin pergi menunaikan kewajiban naik haji. Sedangkan hamba ini yang sudah diberikan kemudahan naik haji harus tahu diri.Tidak boleh serakah. Saya harus memberikan kesempatan itu kepada orang-orang lainnya untuk dapat naik haji.

    Walau demikian, hal itu tidak berarti hasrat datang lagi ke kabah berhenti. Tetap ada dorongan untuk kembali ke Mekah. Ke kabah. Dan saya memang melaksanakan kembali datang kesana, namun bukan pada waktu haji, melainkan umroh. Berbagai macam umroh, alhamdullilh, pernah saya nikmati. Umroh ramadan. Umroh idhul fitri. Umroh hari biasa dan lain-lain.

    Nah, dalam gradasi yang berbeda, juga terjadi pada sholat subuh di mesjid. Jika kita rutin sholat subuh di mesjid, ketika meninggalkanya, dengan berbagai alasan, ada kerinduan dalam hati yang memanggil-manggil untuk segera merasakan nikmatnya sholat subuh di mesjid.

    Kenapa ada kerinduan ingin selalu sholat subuh di mesjid bagi yang rutin melakukannya? Pertama-pertama tentu lantaran kita merasa bertanggung jawab pada diri sendiri buat menunaikan perintah Alllah.

     

    Berikutnya “nuansa”

    Sholat subuh di mesjid , dari mulai keluar rumah, saat masuk mesjid, aura regiligus sudah terasa. “Ritual” sholat subuh di mesjdi: azannya, sholat antara azan dan sholat subuhnya, suasana dalam mesjid serta yang tak kalah menarik nuansa religius “mistik” di menjadi, menjadi sesuatu yang menarik-narik kita untuk sholat subuh di mesjid.

    Ada dorongan “spritualitas” atau religi untuk terus kesana. Ada juga semacam “nuansa” aneh yang selalu juga menarik-narik kita untuk terus sholat subuh di mesjid.

    Hamba ini sebagai mahluk Allah yang lemah, pernah operasi tiga kali. Sekali operasi pengangkatan empedu dan dua kali operasi penyambunhan tendon achiles atau otot kaki besar yang putus. Mula-mula yang kiri. Lantas dioperasi. Ototnya disambung. Sembilan bulan kemudian sudah sembuh “sempurna,” main bulutangkis lagi, dan lantas berikutnya tendon achiles kaki yang kanan ikut-ikutan putus. Dua-duanya lantaran main bulutangkis pada tingkat RT dan RW. Wahasil saya harus dioperasi dua kali.

    Beberapa saat paska operasi hamba tidak dapat beraktivitas. Harus beristirahat, bahkan lebih banyak di kamar. Tentu saja tak mungkin ke mesjid. Sholat di kamar saja. Mula-mula malah sambil tiduran, kemudian sambil duduk dan terakhir berdiri seperti patung karena belum boleh ruku dan sujud. Setelah boleh ruku dan sujud pun masih tak bisa kemana-mana , alias di rumah aja, termasuk tak dapat ke mesjid.

    Waktu itu hati hamba ini terasa hampa. Hambar.

    Ada sesuatu yang kosong. Rupanya pada saat-saat seperti itu kerinduan pada sholat subuh di mesjid menjadi menggunung. Apalagi saat usia merabat memasuki klasifikasi “warga senior” rindu sholat subuh di mesjid semakin menjadi-jadi.

    Dibanding sholat lainnya, sholat subuh menjadi awal kegiatan kita pada hari itu. Sholat subuh di mesjid sepetri diri kita melaporkan kepada Sang Pencipta sekaligus mohon perlindungannya sebelum kita melakukan aktivitas lainnya pada hari ini. Semacam apel kepada Allah.

    Juga simbol kita berserah kepada kekuasaanNYA. Dengan begitu, sesudah sholat subuh di mesjid hati hamba ini menjadi tentram dan siap menghadapi pelbagai hal lantaran sudah melaporkan kepada Allah. Kita sudah iklas apapun yang terjadi. Makanya kita selalu rindu dan rindu untuk dapat sholat subuh di mesjid.

    Perasaan rindu dan selalu terpanggil untuk sholat subuh di mesjid ini, boleh jadi tidak seketika hadir. Rasa itu tumbuh perlahan-lahan setelah bertahun-tahun rutin sholat subuh di mesjid. Bagi mereka yang tidak terbiasa sholat subuh di menjid, mungkin sama dengan mereka yng belum pernah pergi ke Mekah menunaikan haji, sehingga tidak atau belum pernah merasakan bagaimana rasanya rindu balik lagi ke Mekah dan berkunjung ke Kabah.

    Orang yang jarang sholat subuh di mesjid pastilah sulit memperoleh rasa rindu sholat subuh di mesjid sebagaimana orang setelah naik haji rindu kembali ke Mekah.

    Terlepas dari pelbagai kelemahan yang ada pada diri hamba ini, bersama

    para jemaah sholat subuh lainnya di mesjid, setidaknya telah diberi nikmat merasakan kerinduan sholat subuh di mesjid.

    Alhamdullilah

    T a b i k.***

     

    Bersambung….

     

    *Wina Armada Sukardi,* _wartawan dan advokat senior, juga Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi._

  • Generasi Muda Perlu Miliki Toleransi Tinggi Dalam Hadapi Penetrasi Media Sosial

    Generasi Muda Perlu Miliki Toleransi Tinggi Dalam Hadapi Penetrasi Media Sosial

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID) – Generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa perlu memiliki nilai-nilai toleransi yang tinggi ditengah keberagaman yang ada di Indonesia.

    Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) Komjen. Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H., menilai perlu adanya upaya dalam menumbuhkan semangat pancasila pada anak-anak muda sebagai modal dalam membangun pemahaman bertoleransi di tengah perbedaan yang ada.

    “Kita harus menghormati keberagaman bangsa, perbedaan dalam agama, suku, ras dan golongan, kita harus hidup senantiasa bertoleransi terhadap perbedaan itu,” jelas Boy Rafli Amar saat memberikan pengarahan dalam rangka motivasi bagi peserta didik kelas XII SMAN 37 dalam menghadapi Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) tahun 2023 pada Selasa (28/03).

    Ketua Umum Ikatan Alumni SMAN 37 Jakarta ini mengajak pemuda-pemudi Indonesia menanamkan jati diri bangsa Indonesia yang bernafaskan semangat persatuan dan kesatuan.

    “Tidak boleh ada yang mempermasalahkan dalam hal perbedaan terkait Agama dan suku. kita Semua diharapkan untuk menyebarkan semangat persatuan dan kesatuan,” ajak Boy Rafli.

    Lebih lanjut dia menjelaskan sebagai generasi muda, mereka perlu waspada terhadap virus intoleransi, radikalisme dan terorisme yang berbasis pada sebuah ideologi kekerasan.

    Boy Rafli berpesan kepada generasi penerus bangsa bahwa tantangan terberat di masa kini adalah hadirnya media sosial. Dibalik segala kemudahan menemukan informasi maupun hiburan, media sosial tidak luput dari susupan informasi maupun penyebaran paham-paham yang dapat merusak generasi penerus bangsa.

    “Hari ini, pergaulan sangat luas hingga ke seluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, termasuk berbagai informasi negatif sangat mudah diterima,” ujarnya.

    Menurut Pria asal Sumatera Barat ini tanpa adanya kewaspadaan dari diri kita, maka segala informasi yang tidak bermanfaat di sosial media berpotensi membangun karakter negatif, maka teruslah waspada dan saring informasi yang diterima di media sosial. (bnpt/red)

  • BNPT RI dan Pemprov DKI Jakarta Akan Lakukan Assessment Objek Vital dan Fasilitas Publik di Jakarta

    BNPT RI dan Pemprov DKI Jakarta Akan Lakukan Assessment Objek Vital dan Fasilitas Publik di Jakarta

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID) – Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT RI) memiliki kewajiban dalam rangka mengoordinasikan pencegahan ancaman teror pada objek vital strategis dan fasilitas publik terutama di wilayah Ibu Kota Negara Indonesia yang memiliki banyak objek vital strategis dan fasilitas publik.

    Untuk melindungi objek vital strategis dan fasilitas publik tersebut, BNPT RI bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan melakukan assessment (penilaian) di Balai Kota DKI Jakarta dan di gedung Perkantoran suku dinas Pemprov DKI Jakarta.

    “Kita sudah sepakat kita akan memberikan bantuan assessment kepada Pemprov DKI Jakarta. Dalam assessment ini diharapkan setiap gedung akan memiliki paling tidak standar minimum pengamanan dari ancaman terorisme,” jelas Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT RI, Mayjen TNI Nisan Setiadi, S.E usai melakukan audensi dengan Pj. Gubernur DKI Jakarta, Heru Budi Hartono di Kantor Gubernur Jakarta pada Selasa (28/3).

    Lebih lanjut, sejumlah fasilitas publik yang dijadikan venue pada gelaran olahraga internasional seperti FIFA U-20, Formula E serta tempat pertemuan dan penginapan peserta acara KTT Asean 2023 mendatang juga akan dilakukan assessment.

    Nisan mengatakan dengan adanya assessment di sejumlah tempat strategis dan fasilitas publik akan menjadikan DKI Jakarta semakin aman dan bebas dari potensi tindak pidana terorisme.

    “Supaya jakarta aman kan Jakarta Center of Gravitinya. Kita mencegah jangan sampai ada orang yang akan datang membuat situasi jadi tidak aman,” jelasnya.

    BNPT RI telah memiliki Pedoman Perlindungan Sarana Prasarana Objek Vital Strategis dan Fasilitas Publik yang dituangkan dalam Peraturan BNPT No 3 Tahun 2020. Pedoman ini disusun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2019 tentang Pencegahan Tindak Pidana Terorisme dan Pelindungan terhadap Penyidik, Penuntut Umum, Hakim, dan Petugas Pemasyarakatan. (bnpt/red)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (6)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (6)

    *Zikir Jelang Sholat Subuh*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SHOLAT subuh di mesjid banyak menghasilkan pengalaman “spiritualitas”. Pengalaman yang memperkuat batin. Pengalaman yang membuat kita berupaya menjadi hamba yang lebih baik lagi.

     

    Tapi juga pengalaman yang sering menunjukkan jalan terjal menggapai kebaikan. Pengalaman yang sering membaurkan antara realitas dan fantansi.

    Itu terjadi baik sebelum sholat, saat sholat maupun setelah sholat. Salah satu pengalaman tersebut hamba “abadikan” dalam sebuah karya puisi hamba berjudul “Zikir” tahun 2019. Langsung saja hamba yang kutip utuh puisi tersebut tanpa perlu hamba imbuhkan apapun lagi.

     

    *Zikir*

     

    ​​Aku duduk memegang tasbih

    ​​berzikir

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah.

    ​​

    Tidak! Mataku tidak tertutup.

    ​​Tidak! Kesadaranku tidak hilang

    ​​Tapi dimanakah aku?

    ​​Tubuhku begitu ringan, bahkan seakan tak ada

    ​​Aku serasa menembus tujuh langit

    ​​melewati bulan, melewati matahari.

     

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    ​​Aku melihat dua mahluk memandang tajam ke arahku

    ​​mereka menunjuk-nunjukku

    ​​boleh jadi berdiskusi tentang aku

    Satu menunjuk-nunjuk ke arah depan

    satu lagi sebaliknya menunjuk-nunjuk ke balakang

    lantas mereka menghilang begitu saja

    membiarkan aku kembali sendirian.

     

    Di depan aku melihat pemandangan lapang tak berbatas

    orang-orang berwajah murung dengan derita lalu lalang.

     

    Preeaaattt!!!

    Tiba-tiba petir menyambar seluruh manusia disana

    tak ada tubuh yang tidak hangus

    mereka mengerang, merintih dan menjerit

    tapi mereka masih tetap hidup

    tubuh penuh luka dan nanah.

    Nyeri.

    Bau.

     

    Lalu : buuaaarrr!

    Manakala tubuh masih sedemikian sakit bukan alang kepalang

    munculah tsunami mengulung semuanya

    padahal gelombangnya yang datang lahar tak terperkiraan panasnya

    sebagian terpental-petnal

    sebagin tergulung ombak lahar

    Tentu, tentu, orang-orang itu berteriak kesakitan

    ​​ Ngeri luar biasa.

    ​​Lebih ngeri lagi mereka semua masih hidup.

    ​​Itulah orang-orng yang penuh derita

    ​​tiada akhir

    ​​mereka menunggu masuk kawah derita abadi.

     

    ​​Sementara aneka ragam mahluk seram dan sadis

    bentuknya tak beraturan

    bergentayangan

    ​​ada yang kepalanya bertanduk tunggal dengan taring tajam

    ​​menembus bibirnya sendiri

    ​​matanya satu di dahi satu di dagu

    ​​ada pula yang lidahnya menjulur menyemburkan cairan beracun.

     

    ​​Dan: Bum!!

    ​​Tiba-tiba-tiba beberapa dari mereka telah berada

    ​​di belakangku

    ​​dekat sekali.

    ​​Rupanya mereka mengancam diriku.

     

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    Mahluk-mahluk itu berhenti sejenak.

     

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

    ​​Perlahan para mahluk kejam itu meninggalkanku.

     

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

     

    ​​Aku berbalik kembali memandang ke depan

    ​​Segalanya kini telah berubah

    ​​hamparan pemandangan yang serba indah.

    ​​Serasi.

    ​​Pohon buah-buahan segar ada dimana-mana

    ​​ Semua tersedia

    Para mahluk berinteraksi dengan kebahagiaan.

     

    ​​Aku menatap lebih jauh lagi

    ​​Belum sempat aku bertanya-tanya

    ​​Apakah ini potongan surga

    ​​Sebuah karpet panjang terpentang di hadapanku.

     

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah

     

    ​​Perilaku zikir yang telah mendarah daging pada diriku

    ​​Kukira telah membuka jalan petunjuk ke arah surga

    ​​Aku seperti meloncat ke atas karpet itu

    ​​Ada perasaan tentram meliputi diriku

    ​​Damai.

    ​​Bahagia.

     

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah.

    ​​Laa Ilaaha Illaahu : tiada Tuhan melainkan Allah.

    ​​

    Tidak! Mataku tidak tertutup

    ​​Aku masih berzikir

    ​​suara azan jelas kudengar di bumi nyata tempat aku bersila

    Aku bangkit memenuhi panggilan Sang Maha Kuasa

    Sholat berjemaah di mesjid.

     

    ​​​​_Jalan Mawar, Bintaro,

    Subuh di Ulang tahun hari perkawinan, 25 April 2019._

    (Dikutip dari Kumpulan Puisi Religi “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” karya Wina Armada Sukardi, 2022).

     

    Apakah itu fakta? Kenyataan? Ataukah cuma ilusi dan halusinasi? Hamba serahkan semua jawabanya kepada sidang pembaca yang budiman.

    T a b i k.***

     

    *WINA ARMADA SUKRDI,* _wartawan dan advokat senior, serta Dewan Pakar Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi dan tidak mewakili organisasi._

  • Sketsa Serba-serbi Sholat Subuh (5)

    Sketsa Serba-serbi Sholat Subuh (5)

    *Busana Sholat Subuh*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    “Pakian sholat subuh kok kayak mau ke pesta,” kata isteri saya, suatu ketika saat beberapa tahun silam saya mau sholat subuh di mesjid. Saya cuma tersenyum saja.

    Memang setiap saya sholat subuh ke mesjid, saya upayakan mengenakan busana yang serasi. Apapun macam dan corak pakian yang kenakan, sedapat mungkin saya upayakan tetap serasi. Mau memakai gamis, sarung, celana sarung, pakian “pakistan,” baju koko, sampai jas, saya upayakan selalu serasi.

     

    Kombinasi warna dipadu sedemikian rupa, sehingga relatif cocok. Mungkin hitam-hitam. Sarung atau celana sarung hitam dan pakian atas dengan atau tanpa kerah berwarna hitam. Peci hitam. Waktu era sisa covid-19 masih ada, masker pun hitam. Itu kalau serba hitam. Tapi bisa juga dikombinasikan dengan warna-warna lain yang matching.

    Mungkin saja sebaliknya warna serba putih, termasuk kopiah atau tutup kembali putih. Dapat juga atasan putih yang dapat dikombinasikan dengar warna apapun.

    Terkadang saya memakai selendang dengan berbagai ukuran panjang lebar serta pilihan aneka warna. Dalam

    hal ini termasuk yang “tradisional” dari berbagai daerah di Indonesia.

    Ingat, serasi tak berarti mewah, walaupun dapat pula memang ada yang mewah.

    Kenapa sholat subuh perlu memakai busana yang serasi? Bukakah Allah tidak membutuhkan pakian yang serasi seperti itu? Cukuplah bagi Allah keimanan dan ketaqwaan kita kepadaNYA.

    Ya, memang Allah tidak membutuhkan busana yang serasi seperti yang saya pilih. Allah tidak memerlukan apapun dari kita, apalagi sekedar memakai busana yang serasi. Betul itu, tapi perlu diingat justeru kitalah yang memerlukannya. Kita yang membutuhkannya.

    Memakai busana yang rapi dan terutama serasi, merupakan salah satu wujud pribadi ikut menghormati Allah. Menjujung tinggi Alllah. Busana serasi adalah cermin diri ingin memberikan yang terbaik buat Allah.

     

    Kita mau

    mempersembahkan keserasian sebagai wujud simbol kita menempatkan Allah benar-benar di tempat yang paling tinggi. Paling terhormat. Ketemu tokoh penting di dunia saja, kita memilih busana yang pantas, apalagi menghadapi kepada Allah di subuh hari.

    Bila sepanjang kita telah melaksanakan kewajibannya dan menghindari dari larangan Allah, barangkali sudah cukup. Allah tidak pernah menuntut lebih dari kita. Namun sebaliknya kita sebagai umatNYA, sebagai hambaNYA, secara psikologis membutuhkan rasa ingin mengabdi.Rasa ingin memberikan The best best, yang terbaik. Bukan yang asal-asalan. Membutuhkan bukti nyata.

    Berpakian yang serasi ketika sholat subuh di mesjid menjadi bagian dari itu. Setidaknya buat saya pribadi. Sebagai hambanya yang penuh kekurangan dan kelemahan, kita senantiasa ingin memperlihatkan dan memberikan yang terbaik kepada Alllah, dalam segala hal, termasuk dalam busana. Kitalah yang membutuhkan itu.

     

    Bukan Allah, sebab Allah sudah Maha Sempurna. Sedangkan kita hanyalah mahkuk yang papa yang memerluka wujud pembuktian ikhwal kecintaan kepada Allah.

    Kendati tidak ada larangan, kita tidak ingin menghadap Allah Sesembahan Segala Manusia dengan pakian ala kadarnya, apalagi yang lusuh dan compang camping. Betapa tidak tahu diri dan tidak tahu malunya kita, saat menghadap tokoh manusia, kita memakai pakaian yang baik, bahkan mungkin juga terbaik, sementara sebaliknya menghadap Allah kita berpenampilan sesuka kita.

    Penampilan diri dengan busana yang serasi ketika sholat subuh juga menambah rasa percaya diri kita. Dengan penampilan seperti itu kita yakin dan percaya sudah berupaya memberikan lahir batin yang terbaik dari diri kita kepada Allah.

    T a b i k!

    Bersambung…..

     

     

    *Wina Armada Sukardi * _adalah wartawan dan avokat senior dan anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhamadiyah. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili organisasi._

  • Ditpolairud Polda NTB Serahkan Bantuan Ramadan ke Teluk Gok

    Ditpolairud Polda NTB Serahkan Bantuan Ramadan ke Teluk Gok

    LOMBOK BARAT (LOMBOKEXPRESS.ID)- Sulitnya infrastruktur jalan menuju Dusun Teluk Gok, Sekotong, Lombok Barat menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Akibatnya, warga setempat masih kesulitan mendapatkan bahan pokok dan air bersih.

    Persoalan tersebut timbul lantaran wilayah Teluk Gok, juga masih menjadi wilayah yang terisolir.

    Untuk mendapatkan bahan pokok dan air minum, warga Teluk Gok harus memutar melalui jalan setapak atau menempuh jalur laut menggunakan perahu.

    Dari data Dukcapil, jumlah warga di Dusun tersebut, mencapai 115 KK dengan dua dusun terdekat.

    Kebutuhan pokok dan air minum, juga menjadi kebutuhan penunjang saat menjalankan ibadah, terlebih pada saat bulan Ramadan.

    Mengatasi hal itu, Dit Polairud Polda NTB, berinisiatif menyalurkan bantuan air mineral dan kurma, untuk menunjang kebutuhan saat bulan puasa.

    “Ini sebagai wujud keberadaan Polri. Kami menyalurkan puluhan dus air mineral kemasan dan kurma ke Dusun Teluk Gok. Upaya ini untuk menunjang sarana ibadah warga di Masjid,” ungkapnya.

    Tidak adanya akses jalan darat, membuat kepolisian menempuh jalur laut, dengan menerjunkan dua kapal. “Akses jalan darat sangat sulit, jadi kami terjunkan dua kapal, yakni kapal 2001 dan kapal 2007,” sambung Pamen melati tiga itu.

    Lebih jauh dia mengatakan, upaya berbagi ke wilayah terpencil itu juga merupakan wujud keberadaan Polri di tengah masyarakat. Kobul juga menjelaskan, pemilihan wilayah Teluk Gok, lantaran wilayah itu jauh dari pusat keramaian.

    Sehingga ke depan, sebagai bentuk wujud dari keberadaan Polri di tengah masyarakat. Pihaknya akan berkomitmen, untuk dapat memenuhi apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. (ang)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (4)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (4)

    *Sejuta Alasan Tidak Sholat Subuh*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    BUNYI alarm jam di waktu subuh itu membangunkan kita. Begitu mata terbuka, ternyata tak semudah niat tadi malam mau sholat subuh di mesjid. Rasanya, tidur malam baru saja, kok sudah subuh lagi. Mata masih terasa berat buat terbuka seluruhnya. Badan masih belum kuat untuk bangkit.

    Demikianlah, ketika kita mau atau berniat sholat subuh di mesjid, sering kali tiba-tiba ada “berjuta” alasan yang menjadi “justifikasi” atau “pembenaran” yang dapat kita pakai untuk penghalang kita ke mesjid.

    Alasan-alasan itu seakan-akan semuanya masuk akal. Alasan yang dapat kita percaya. Alasan yang dapat mengalahkan niat kita sebelumnya untuk sholat subuh di mesjid. Situasi dan kondisi yang sepintas dapat diterima. Bayangkan, hari masih subuh. Kita sedang tidur nyenyak-nyenyaknya. Tapi kita bukan saja harus bangun, melainkan juga harus ambil wudu atau air sembayang. Sudah itu masih pula harus berangkat ke mesjid. Dari mesjid juga masih harus balik lagi pulang ke rumah. Betapa malasnya untuk melakukan semua itu, meski semalam atau sebelum sudah berjanji pada diri sendiri. Sudah niat. Tiba pada kenyataan harus bangun dan berangkat sholat subuh di mesjid, rupanya bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan.

    Pada saat-saat seperti, “berjuta” alasan yang seakan menjadi “pembenar” kita jadi boleh tidak sholat subuh ke mesjid. Alasan-alasan yang membuat kita maklum, dan terhindari rasa bersalah tidak sholat subuh di mesjid.

    Pertama-tama, biasanya, kita punya alasan tubuh tengah capai. Sedang letih. Kemarin kita sudah bekerja atau pergi menguras banyak tenaga. Jadi subuh ini tubuh ini masih belum fit. Masih memerlukan tambahan istirahat atau tidur sebentar lagi saja. Jadi, sementara gak apa-apalah subuh ini gak pergi sholat ke mesjid dulu. Nanti 30 menit atau sejam lagi juga dapat sholat subuh di rumah.

    Alasan berikutnya, kita masih ngantuk. Tadi malam tidur sampai larut malam. Maka sekarang masih ngantuk. Kalo ngantuk-ngantuk ke mesjid sholat subuh disana, nanti tidak bisa konsentrasi. Sholat subuhnya nanti bakalan tidak khusuk. Belum lagi jika dipaksakan, bisa-bisa kondisi gak pribadi. Pekerjaan dapat terganggu.

    Walhasil malah pekerjaan jadi kacau. Maka hari ini percuma saja sholat subuh di mesjid. Nanti sajalah kalau badan sedang fresh, fit dan tidak ngantuk lagi sholat subuh di mesjidnya. Mungkin besok atau lusa bolehlah sholat subuh di mesjid.

    Alasan lain yang masuk akal, kita merasa badan kita agak sakit. Bisa sakit apapun. Mulai cuma sekedar pegal-pegal sampai agak flue dan kepala pusing. Jika sakit kan boleh _dong_ tidak sholat di mesjid. Cukup di rumah saja, bahkan boleh tidak sholat. Tuhan pun faham, kalau kita sedang sakit dapat pengecualiaan boleh tidak sholat, apalagi sholat subuh di mesjid.

    Kerap juga muncul alasan, kita harus menemani atau mengawasi anak dan atau cucu yang masih kecil dan saat itu sedang tidur. Kalau tidak kita temani,atau awasi, nanti jika pas anak dan atau cucu terbangun, dia dapat menangis. Bahkan bisa membahayakan kalau mengambil benda-benda tajam atau main air dan atau jatu dari tangga.

     

    Tapi kalau ada Ayahnya atau kakeknya kan dapat dijaga agar mereka tidak melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Dengan kata lain, dengan diawasi dan dijaga , mereka aman. Kan menjaga atau memgawasi anak-anak sebagai anak atau cucu juga penting. Jadi sementara tunda dulu sholat subuh di mesjid.

    Cuaca juga dapat jadi salah alasan pembenar yang kuat. Misal udara sedikit gelap atau rada mendung, langsung dijadikan alasan untuk tidak sholat subuh di mesjid. Alasannya, nanti pas di jalan kehujanan gimana? Bukan aja nanti bisa sakit, sholatnyan pun akhirnya juga gak jadi. Lebih baik sementara sholat subuh di rumah dululah. Besok, lusa kalo cuaca bagus barulah enak berangkat ke mesjid.

    Dan masih ada “berjuta” alasan lain untuk tidak berangkat sholat subuh ke mesjid. Jangankan buat yang tidak pernah atawa jarang sholat subuh di mesjid, bagi jemaah sholat subuh yang sudah jelas dan terbukti rutin sholat subuh di mesjid saja, “godaan” seperti itu masih kerap muncul dengan kuat.

    Memang untuk sholat subuh di mesjid perlu mental kuat. Perlu tekad utuh. Tak bisa kalau cuma setengah hati. Hanya mereka yang sejak awal memiliki keyakinan sholat subuh di mesjid bukan sekedar memenuhi sholat berjemaah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan sholat sendiri, tapi merupakan pembuktian terhap kecintaan kepada Allah. Juga bukti terhadap ketaatan dan kepatuhan kita terhadap Sang Maha Pencinta. Kewajiban sholat subuh di mesjid sudah mendarah daging. Sudah _internelazed _bahasa teks booknya. Dengan sholat subuh di mesjid secara tidak langsung telah menjadi simbol, sebelum melakukan kegiataan apapun, kita melapor dan minta izin kepada Allah.

     

    Posisi Allah dalam konteks ini di tempatkan sebagai prioritas utama di atas prioritas lainnya. Sebelum pada hari itu kita melaksanakan kegiataan lain, kepada Allah dahulu kita menghadap, menyerahkan diri dan mohon bimbingan serta tuntutan. Bagi jemaah sholat subuh di mesjid, Allah adalah segalanya.

    Maka segala macam “godaan” yang menghampiri para jemaah sholat subuh di mesjid pada umumnya dapat langsung ditampik. Disingkirkan.

    Sebaliknya bagi yang jarang sholat subuh di mesjid,”godaan” tersebut justeru menjadi alasan yang menggiurkan, yang masuk akal dan jadi alasan “pembenar” yang kuat. Padahal itu adalah sebuah adalah “jebakan,” yang manis dan nampak dapat diterima. Sebuah prinisip ajakan agar kita tak usah sholat subuh di mesjid.

    Kitalah yang memilih. Kitalah yang memutuskan. Tentu dengan segala resikonya.

    T a b i k. ***

     

    Bersambung….

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* wartawan dan advokat senior serta anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tukisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi.

  • Cegah Narasi Kebencian di Media Sosial, BNPT RI Dorong Masyarakat Hadirkan Narasi Kebangsaan

    Cegah Narasi Kebencian di Media Sosial, BNPT RI Dorong Masyarakat Hadirkan Narasi Kebangsaan

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID)– Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) memandang penting kekuatan seluruh masyarakat Indonesia dalam meluruskan narasi bermuatan kebencian yang beredar di media sosial dewasa ini.

    “Seluruh keluarga besar ini harus menyelamatkan narasi-narasi yang hari ini penuh dengan kebencian khususnya pada sosial media”ajak Kepala BNPT RI, Komjen Pol.Dr. Boy Rafli Amar,M.H saat menghadiri Tadarus Kebangsaan dan Penyusunan Road Map Kepemimpinan Muslim Indonesia di Jakarta pada Sabtu (25/3).

    Menurut Jenderal Bintang Tiga Kepolisian ini sosial media kini sudah menjadi bagian dari ruang publik yang banyak diakses oleh anak-anak muda Indonesia, sehingga menjadi kewajiban bersama menyelamatkan mereka dari pengaruh yang semakin menjauhkan dari nilai kebangsaan dan keislaman yang Rahmatan lil Alamin.

    “Sosmed sudah menjadi ruang publik yang menjadi pilihan generasi milenial yang tentunya adalah anak-anak kita, yang perlu kita selamatkan agar tidak menjadi generasi yang terpenetrasi dengan nilai-nilai yang jauh dari nilai-nilai keindonesiaan dan keislaman yang Rahmatan lil Alamin,” ucapnya.

    Guna memperat persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia, BNPT RI mendorong organisasi masyarakat Islam dapat aktif dalam kegiatan kebangsaan diantaranya menghadirkan dan mengedepankan narasi persatuan di tengah perbedaan dan mengokohkan NKRI di tengah pluralitas kehidupan, bersama membaca ulang sejarah pahlawan dan syuhada dalam mewujudkan cita cita bangsa.

    “Narasi narasi kebangsaan inilah yang diperlukan hari ini oleh kita semua. Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menjadi mitra BNPT selama ini tentunya seluruh ormas Islam dengan BNPT kami selama ini terbantukan dengan sosialisasi kebangsaan kepada masyarakat kita,” jelas Kepala BNPT RI

    Mendukung pernyataan Kepala BNPT RI, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam)

    Prof. Dr. H. Mohammad Mahfud Mahmodin (Mahfud MD), S.H., S.U., M.I.P., jika sebenarnya budaya Islam di Indonesia sudah damai, namun ada paham-paham yang mencoba mengganggu dan cenderung memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

    “Budaya Islam sudah tumbuh jangan diganggu dengan radikalisme dan takfiri. Jangan dibentur-benturkan,” kata Mahfud.

    Sebab itu, Mahfud mengajak seluruh organisasi masyarakat berbasis Islam untuk terus menyampaikan nilai-nilai Islam yang penuh kasih sayang dan mempersatukan.

    “Di Indonesia, Islam yang sejuk dan damai. Islam juga berkembang berdasarkan budaya-budaya Islam Asia Tenggara, mari bersama-sama (Ormas Islam) untuk perkuat ikatan kebangsaan ini,” kata Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam).

    Sementara itu Ketua Umum LPOI Said Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A. berpesan agar seluruh umat, para tokoh dan pemimpin agama serta organisasi-organisasi Islam Indonesia harus menjadi pelopor sekaligus penggerak majunya NKRI kearah yang lebih baik.

    “Seluruh kekuatan umat para tokoh dan pemimpin agama serta organisasi-organisasi islam Indonesia harus segera bergerak untuk menjadi garda depan perubahan dan perbaikan negeri ini. Ormas islam harus menjadi leader. Bergerak untuk satu visi Indonesia yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur,” jelasnya.

    Dalam kegiatan Tadarus Kebangsaan ini sejumlah perwakilan dari LPOI dan Non LPOI turut hadir diantaranya Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Al-Irsyad, Al-Islmiyah, Arrobithoh Al-Alawiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia, Mathlaul Anwar, Attihadiyah, Azikra, Al-Wasliyah, IKADI, Syariakat Islam Indonesia, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti) dan Dewan Da’wah Islamiyah, ICMI dan DMI. (bnpt/red)

  • SMSI Kalteng Berbagi Takjil dan Makanan Berbuka Puasa

    SMSI Kalteng Berbagi Takjil dan Makanan Berbuka Puasa

    KALTENG (LOMBOKEXPRESS.ID)–Pengurus Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Provinsi Kalteng, Sabtu (25/3/2022) sore melakukan aksi sosial pembagian takjil dan makanan.

    Pembagian santapan berbuka puasa tersebut dilakukan langsung Ketua SMSI Kalteng H Sutransyah, didampingi sejumlah pengurus.

    Takjil dan makanan ini antara lain diserahkan ke pengurus Masjid Ramadhan Jalan RTA Milono, anak-anak Panti Asuhan Al-Ma’un PWM Kalteng di Jalan Melati, dan warga prasejahtera di Jalan Temanggung Usin, Palangka Raya.

    Ketua SMSI H Sutransyah mengatakan, pembagian takjil dan makanan berbuka puasa ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Safari Ramadan SMSI yang rutin dilaksanakan setiap tahun.

    “Melalui kegiatan ini, kita mencoba berbagi berkah kepada sesama,” ujar Sutransyah.

    Dia melanjutkan, dalam rangkaian Safari Ramadan SMSI Kalteng tahun 1444 H/2023 ini, pihaknya juga akan menggelar buka puasa bersama mitra, silaturahmi ke pengurus kabupaten se-Kalteng, dan pemberian bingkisan lebaran untuk para pengurus serta karyawan media massa anggota SMSI Kalteng.

    “Silaturahmi ke daerah, Insya Allah kita laksanakan di Katingan dan Barito Selatan. Untuk kabupaten lain masih menunggu konfirmasi,” jelasnya.

    Ditambahkan Sutransyah, menyemarakkan Ramadan ini pengurus SMSI mengimbau agar para insan pers dan perusahaan media massa anggota SMSI untuk meningkatkan kepedulian kepada sesama.

    “Mari kita isi Bulan Ramadan ini dengan memperbanyak ibadah serta beramal membantu masyarakat,” imbau Sutransyah, yang juga Wakil Ketua ICMi Orwil Kalteng itu.

    Sementara memasuki hari ke tiga ramadhan, berjalan baik buka puasa, sholat isya, tarawih dan tadarus Al-Qur’an berlangsung lancar. namun hujan sore hingga malam hari hujan cukup deras mengguyur di ibukota Kalteng Palangka Raya. (red)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (3)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (3)

    Satu Generasi Lewat Sudah

    – Wina Armada Sukardi –

    SUBUH hari saya membuka pintu pagar. Kala itu pintu pagar rumah kami belum diubah menjadi setinggi seperti sekarang. Setelah pintu saya tutup kembali, dan saya membalik badan, sudah ada Pak Latif di depan saya. Pak Latief merupakan tetangga satu rumah sebelah kiri depan rumah saya.

    Usia Pak Latief jauh di atas saya. Mungkin berbeda sekitar 15 tahunan. Tepatnya saya tidak tahu. Dia termasuk jemaah tetap mesjid dekat rumah kami. Tak hanya jemaah sholat subuh, melainkan juga jemaah waktu sholat-sholat lainnya.

    Waktu itu kami sama-sama menuju mesjid untuk sholat subuh. Sambil berjalan kaki, kami sempat ngobrol-ngobrol sejenak, sampai kami di mesjid. Rumah kami ke mesjid memang cuma sebatas “lembaran batu.”

    Tapi itu kejadian sekitar sepuluh tahun silam. Kini Pak Latief sudah tidak ada. Sekitar dua tahun silam almarhum wafat. Lantaran waktu itu sedang berjangkit wabah covid-19, saya bahkan tidak dapat melayat dan mengantar ke peristirahatan terakhir.
    Selama saya sholat subuh di mesjid, Pak Latief merupakan salah satu orang tua yang sering bertemu saya waktu berjalan ke mesjid atau waktu di mesjidnya sendiri. Bahkan ketika di usia senjanya, Pak Latief menderita dimensia, semacam penyakit lupa, dia masih sering terlihat berjalan menuju mesjid.

    Bersama-sama Pak Latief saya juga hampir setiap hari bersua dengan banyak “bapak-bapak” lain yang usianya di atas saya. Katakanlah satu generasi di atas saya. Para orang tua itu telah lebih dahulu dipanggil kembali oleh Sang Pencipta. Mereka satu per satu kembali ke pangkuan-NYA.

    Pak Nawawi, misalnya, mantan ketua RT dan orang yang ikut aktif salama proses pembangunan mesjid dekat rumah saya, sudah lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Lelaki yang dulu tinggal di dekat tikungan itu pernah memberikan saya pohon kurma, tapi sayang karena saat itu musim hujan lebat, pohon kurmanya walaupun sudah ditanam dengan bergerobak-gerobak pasir, akhirnya gagal tumbuh.

    Saya mendengar cerita dari banyak orang, Pak Nawawi semasa muda mampu mengatasi berbagai problem keamanan atau sengketa sosial. Oleh lantaran itu dia ketika hidup menjadi tokoh yang sangat disegani. Belakangan Pak Abbas, anaknya, meneruskan jejaknya pernah sebagai ketua RT.

    Ada juga Pak Yamin. Jurangan besi ini yang membawa saya membeli tanah di depan rumah saya seluas 1.800an meter persegi, tapi kini sudah saya jual kembali. Di bawah kepemimpinan kegiatan RW kami waktu itu sangat dinamis. Di juga salah satu jemaah yang sangat sering sholat subuh di mesjid. Dia malah sudah meninggal lebih dahulu dari generasinya.

    Ada juga Pak Sainan. Lelaki yang menjadi perantara waktu saya membeli rumah yang saya tempati sekarang, pun telah pergi selama-lamanya. Sebelumnya dia hampir selalu lalu lalang di depan rumah saya. Tetangga setelah tingkungan dalam rumah saya ini, kalo lebaran selalu pada pagi hari pertama datang lengkap dengan hampir seluruh keluarga besarnya.

    Kini tinggal anak cucunya yang masih berinteraksi dengan kami, karena isterinya pun beberapa bulan silam menyusulnya ke alam baka. Salah satu anaknya sekarang menjadi ketua RT di lingkungan kami.

    Itu cuma empat contoh tetangga yang biasa sholat subuh bersama-sama di mesjid. Semua telah pergi. Selain keempatnya, tentu, banyak lagi yang telah pergi untuk selama-lamanya. Saya perhatikan, saat ini tinggal beberapa orang tua saja generasi di atas saya yang masih hidup, ternasuk Ustad Satiri, ketua mesjid kami. Selebihnya tinggal kenangan saja. Sebuah generasi jemaah sholat subuh di masjid tanpa terasa berlalu sudah.
    Dengan begitu, dalam usia saya saat ini 64 tahun, saya telah memasuki generasi baru sebagai jemaah sholat subuh!. Posisi yang sebelumnya di tempati oleh para alhmarhum seperti Pak Latief, Pak Yanin, Pak Nawawi atau Pal Sainan, telah beralih ke generasi saya. Sekitar 25 tahun terjadi peralihan itu. Maka kini saya dan kawan-kawan segenerasi sudah dikelompokan ke generasi “bapak-bapak” yang relatif sempuh.

    Agama Islam mengajarkan agar kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Merugilah mereka yang menyia-nyiakan waktu. Dalam hal ini, bukankah ada ajaran yang terkenal: manfaatkanlah lima perkara, sebelum datang lima perkara lain:

    1. Manfaatkankah waktu mudamu, sebelum waktu tuamu tiba.

    2. Manfaatkanlah masa sehatmu, sebelum waktu sakitmu tiba.

    3. Manfaatkanlah masa kayamu, sebelum masa miskinmu tiba.

    4. Manfaatkanlah waktu luangmu, sebelum waktu sibukmu tiba.

    5. Manfaatkanlah waktu hidupmu, sebelum waktu matimu tiba.

    Sholat subuh rutin di mesjid, tanpa terasa sudah menghasilkan generasi baru. Setidaknya kami yang rutin sholat subuh di mesjid, sudah memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Pencipta kepada kami, tanpa terasa telah rutin sholat subuh di mesjid. Mungkin itulah sebabnya disebut “_sholat subuh lebih baik daripada tidur…….”

    T a b i k.****

    Bersambung….

    *Wina Armada Sukardi,* _wartawan dan advokat senior, juga anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhamadiyah. Tulisan ini merupakan opinni pribadi dan tidak mewakili organisasi._