Blog

  • Warga Karang Deha Ucapkan Selamat Berpuasa Bagi Umat Muslim Lombok

    Warga Karang Deha Ucapkan Selamat Berpuasa Bagi Umat Muslim Lombok

    MATARAM (LOMBOKEXPEESS.ID)- Ratusan Ogoh-ogoh dengan berbagai keunikan meriahkan Parade Ogoh-ogoh 2023 di Kota Mataram (21/3).

    Setelah ditiadakannya Parade Ogoh-ogoh selama 3 tahun paska Pandemi, untuk pertama kalinya Parade Ogoh-ogoh di Kota Mataram Kembali digelar.

    Dimana Parade di tahun 2023 ini diikuti sekitar 186 Peserta dari beragai lingkungan, salah satunya lingkungan Karang Deha.

    Tampak muda mudi karang daha begitu antusias mengikuti parade tersebut, saat ditemui media salah satu Koordinator pemuda Lingkungan Karang Daha I Made yudi widiarsana mengatakan bahwa “muda-mudi karang Deha sangat mengapresiasi Parade Ogoh-ogoh tahun ini, tentunya kami bisa menyalurkan kreasi dan seni kami melalui event ini” ungkapnya.

    Sementara itu, Penasehat Aliansi Pemuda Hindu Lombok, I Wayan Yogi Swara, SH. Kepala Lingkungkan Karang Deha cakra selatan itu menyampaikan bahwa event ogoh ogoh merupakan Event Tahunan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Umat Hindu Di Kota Mataram, dengan adanya Parade Ogoh-ogoh tersebut sebagai wadah kreatifitas anak muda serta silaturahmi kepada masyarakat di Kota Mataram “Saya ucapkan terima kasih banyak kepada Pemerintah Daerah, Puri Agung Cakranegara, Aliansi Pemuda Hindu Lombok, serta stekholder yang telah mendukung acara sehingga Parade Ogoh-ogoh di Kota Mataram dapat digelar kembali,” ucapnya.

    Yogi Swara juga menambahkan Momentum Parade Ogoh-ogoh tersebut juga bertepatan dengan menjelang Ibadah Bulan Puasa Umat Muslik.

    Ia juga tak lupa menyampaikan ucapan Selamat kepada Umat Muslim di Pulau Lombok “Untuk saudara-saudara ku umat muslim di Pulau Lombok, Selamat Menunaikan Ibadah Puasa semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menjaga kesehatan kita bersama agar pelaksanaan Ibadah Baik itu Nyepi dan Puasa dilancarkan” tambahnya.

    Acara Pembukaan Parade Ogoh-ogoh dimulai sejak pukul 12.30 Wita yang dilepas secara langsung Oleh Walikota Mataram dengan didampingi Oleh Gubernur NTB. (ang)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (2)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (2)

    *Belajar Demokrasi*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    BAGI kaum muslim, sholat subuh di mesjid, tentu, pertama-tama dan yang utama, lantaran untuk menjalankan perintah Allah. Sebagai pembuktian kita benar-benar tunduk dan patuh kepada perintah Allah. Sebuah upaya untuk mencari keridloan dari Sang Pencipta.

    Di luar hal tersebut, sholat subuh juga rupanya memberikan pelajaran lain kepada kita: esensi demokrasi. Sholat subuh mengingatkan kita, dalam hidup, banyak warna. Plural. Jamak. Bukan warna tunggal. Dan kita diajari agar wajib menghargai perbedaan-perbedaan itu dengan ikhlas.

    Islam pada halekatnya, dimanapun dan kapanpun, cuma satu. Sumbernya sama: Al Quran dan Hadis. Semua harus berpegang dan berpdoman kepada Al Quran dan hadis. Bukan yang lain. Kendati begitu, dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai tafsir yang menyebabkan implementasinya juga dapat berbeda-beda.

    Sepanjang tidak menyimpang dari kerangka inti ajaran agama Islam, perbedaan itu tentu bukan hal yang tabu. Bukan sesuatu yang perlu dihadapi dengan kebencian.

    Setidaknya dalam pelaksanaan sholat subuh perbedaan itu terlihat jelas. Dimulai dari perbedaan “klasik “ pelaksanaan sholat subuh: qunut.

    Sudah jamak dalam sholat subuh, ada yang memakai qunut dan ada yang tidak memakainya. Do’a Qunut adalah sebuah amalan sunnah yang dibaca pada rakat kedua saat shalat subuh. Pada perbedaan soal ini, dapat terjadi jemaah yang berfaham tidak membaca qunut, sholat subuh di mesjid yang menerapkan qunut.

    Dari pengamatan saya, ada dua sikap yang diperlihatkan oleh jemaah yang biasa tidak memakai qunut di mesjid yang menerapkan qunut. Pertama, mereka lantaran toleransi dan menghormati jemaah di mesjid itu, walaupun berfaham tidak membaca qunut, mereka ikut mengadahkan tangan dan mengikuti pembacaan qunut. Sedangkan yang kedua, karena berpandangan tidak membaca qunut merupakan bagian dari hak-hak masing-masing, mengambil sikap diam saja, dengan kedua tangan tetap di bawah. Setelah masuk sujud, mereka kembali bergabung.

    Buat yang biasa memakai qunut pun masih terbagi dua. Ada yang biasa memakai bacaan qunut pendek, lima kalimat, namun ada juga yang memakai bacaan qunut panjang. Umumnya apabila yang biasa menerapkan bacaan qunut pendek, kalau kebetulan berada di mesjid yang menerapkan qunut dengan bacaan panjang, mereka ikut dalam jemaah dengan bacaan qunut panjang, Sebaliknya juga begitu. Mereka yang biasa melakukan qunut panjang, sholat di mesjid yang memakai qunut pendek, juga ikut saja.

    Disini sholat subuh sudah mengajarkan kita untuk belajar memahami adanya perbedaaan dan toleransi terhadap adanya perbedaan itu. Sejak sholat subuh kita sudah dididik perbedaan merupakan sesuatu yang wajar. Sesuatu yang biasa saja. Kita pun diajarkan untuk toleransi terhadap perbedaan itu. Bukan menjadikan sumber permusuhan.

    Selain soal qunut, dari pengalaman saya, masih ada perbedaan-perbedaan lain dalam sholat subuh. Ada yang setelah sholat subuh lantas zikir, dilanjutkan dengan membaca doa bersama. Zikir dan doa bersama dipimpin iman dan jemaat tinggal “mengaminkan” saja. Barulah sehabis doa bersama sholat subuh selesai.

    Tak semua jemaah sepaham setelah zikir ada doa bersama. Sebagian jemaah berpandangan, sesudah sholat wajib tak ada lagi kewajiban melafalkan doa bersama. Jadi, mereka tidak ikut doa bersama. Mereka dapat langsung pulang atau mereka masing-masing melanjutkan doa sendiri-sendiri saja.

    Selesai sholat pun masih tetap ada perbedaan. Sebagian jemaah selesai sholat saling bersalaman dengan satu dua atau tiga jemaah di sisi kanan kirinya. Sebagian besar jemaah memandang “tradisi” salaman ini bagian dari silaturahmi dan merupakan hubungan antara manusia.

    Kendati begitu, jangan kaget, ketika kita mengulurkan tangan untuk bersalaman, ada jemaah yang tidak berkenan alias menolak bersalaman. Kalau pun mereka mau juga bersalaman, lebih karena keterpaksaan saja. Bagi mereka tidak ada ketentuannya setelah sholat harus bersalaman. Jadi usai sholat mereka menganggap tidak perlu ada proses bersalam-salaman.

    Sepanjang pengamatan saya, perbedaan -perbedaan dalam pelaksanaan sholat subuh dan segera setelahnya, dipandang sebagai perbedaan biasa yang masih dalam batas-batas ruang lingkup ajaran agama. Bukan sesuatu yang aneh. Bukan sesuatu yang sesat. Oleh lantaran itu kaum jemaah sholat subuh saling memahami, menghormati dan bertoleransi. Hubungan sosialnya pun tetap harmonis.

    Dalam hal ini tidak ada yang merasa lebih hebat dari yang lain. Tidak ada yang saling menuding dan menyalah-nyalahkan. Apalagi sampai mengkafir-kafirkan satu dengan lain.

    Di luar niat kita sholat subuh sebagai pelaksana bakti kita kepada Sang Yang Maha Esa Tuhan Semesta Alam, sholat subuh rupanya juga memberikan pembelajaran mengenai perlunya menerapkan esensi demokrasi.

    Hidup perlu menghargai perbedaan. Kita diingatkan, jangankan dengan umat lain, sesama muslim saja walaupun sumber sama-sama Al Quran dan hadis, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa perbedaan.

    Apalagi dengan yang jelas-jelas berbeda agama. Sudah pasti mengandung perbedaan-perbedaan mendasar. Kita sejak sholat subuh sudah diajarkan dan dibiasakan untuk menghadapi pelbagai perbedaan. Kita sudah dikondisikan perbedaan bukanlah berarti permusuhan. Kita sudah biasakan untuk saling menghormati. Saling toleransi.

    Betapa hebatnya sholat subuh di mesjid.

    T a b i k.****

     

    *Wina Armada Sukardi,* _wartawan dan advokat senior, dan anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhamadiyah. Tulisan ini merupakan repotase dan opinni pribadi dan tidak mewakili oragnisasi._

  • Hilal Terlihat 7 Derajat di Taman Loang Balok Mataram

    Hilal Terlihat 7 Derajat di Taman Loang Balok Mataram

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)–Tim Rukyatul Hilal Kanwil Kemenag NTB dan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Mataram  memilih Taman Loang Balok sebagai lokasi pemantauan Hilal untuk penetapan awal Ramadhan 1444 H. Selain dari kedua instansi itu, hadir pula Ketua Pengadilan Agama, Rektor UIN Mataram dan Tim dari sejumlah Ormas Islam di NTB, secara bersama-sama melakukan pemantauan Hilal (Rukyatul Hilal) pada hari Rabu, 22 Maret 2023 mulai dari pukul 16.00 Wita hingga menjelang Magrib. Tim dari Kanwil Kemenag, hadir Plt Kabag TU, Kabid Bimas Islam, Kabid Pakis.

    Plt Kabag TU H. Muhammad Amin mengungkapkan hasil Rukyatul Hilal akan segera dikirim ke Jakarta.”Hasil Rukyatul hari ini setelah waktu Maghrib Tim Hilal Kanwil Kemenag NTB akan langsung mengirimkan atau melaporkan ke Jakarta, ke Menteri Agama sebagai bahan untuk sidang Isbat,” ungkapnya.

    Lebih lanjut Plt Kabag memaparkan, hasil hisab/perhitungan Tim Hisab Kanwil Kemenag NTB bahwa posisi Hilal sudah berada pada posisi 7 derajat yang artinya sudah melebihi standar MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura) pada posisi 3 derajat.

    Di tempat yang sama Kepala BMKG Stasiun Geofisika Mataram Ardiyanto Septiadi mengungkapkan kegiatan saat ini untuk memperkuat jatuhnya 1 Ramadhan 1444 H.

    “Alhamdulillah, Tim Hilal BMKG berhasil mendokumentasikan hilal muncul selama 2 menit antara pukul 18.45 sampai 18.47,” ucap Ardiyanto.

    Lebih lanjut, Ardiyanto mengatakan apapun hasil tim Hilal BMKG Mataram akan segera dilaporkan ke Kementerian Agama RI sebagai dasar untuk mengambil keputusan. Ini menjadi alasan Taman Loang Balok sebagai lokasi pengamatan yang strategis dan posisi Matahari terbenam tidak terhalang oleh Gunung Agung.

    Dengan posisi Hilal 7 derajat, maka dapat dipastikan Umat Islam mulai berpuasa besok (Kamis). Namun meski begitu tetap harus melalui sidang Isbat yang melibatkan seluruh tim Rukyat Hilal seluruh Indonesia dan dipimpin oleh Menteri Agama. (red)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (1)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (1)

    Oleh: Wina Armada Sukardi*

    *Pengantar*

    Pada bulan puasa tahun silam, setiap hari saya menulis seri human insterest. Kali ini saya menulis seri Sekitar Serba-Serbi Sholat Subuh (S5). Isi tulisan tidak membahas tata cara sholat subuh, apalagi menganalisis makna surat-surat yang sering dibaca pada sholat subuh, atau mendedah diskusi ikhwal subtansi atau filosofis dari sholat subuh dari tinjauan teologis. Itu kompetensi para ulama, ahli agama atau tokoh masyarakat. Bukan kompetensi hamba ini. Saya hanya menulis “sketsa” serba-serbi yang terjadi di seputar sholat subuh. Semacam reportase alit. Itupun terbatas yang saya alami dan atau tahu saja. Semoga bermanfaat.

     

    *Berbagi Kavling di Rumah Alllah*

     

    RUMAH kediaman saya terletak cuma “selangkahan” dari mesjid (Al Husnah). Sebagai umat muslim, hampir setiap hari saya sholat subuh di mesjid tersebut. Tentu ini saya lakukan lantaran senata-mata dan yang utama karena perintah Allah. Namun hal ini juga karena yang memungkinkan saya lakukan di mesjid pada subuh hari. Pertama, pada subuh saya belum punya kegiatan apapun. Kalau pun ada kegiatan, seperti lari pagi atau ada pertemuan di pagi hari, dapat dilakukan setelah sholat subuh.

    Berbeda dengan sholat-sholat lain. Terus terang saja untuk sholat lainnya, saya jarang sholat di mesjid tersebut. Bukannya tak mau. Maklumlah pada waktu sholat selain subuh, saya mungkin lebih banyak berada di luar rumah, dan pulang sudah larut malam. Dengan begitu, hampir tak ada ada waktu sholat lain di mesjid dekat rumah. Maka saya jarang sekali sholat disana selain sholat subuh. Paling sekali-kali sholat Jumat, dan tentu sholat idul fitri, sholat idhul adha dan jika ada acara khusus.

    Hampir setiap hari sholat subuh di mesjid yang sama, tanpa kita sadari membuat kita memiliki beberapa perilaku yang bagaikan terpola ketika melakukan sholat subuh. Salah satunya dalam memilih “lokasi” tempat kita menunggu sholat, dan pas waktu sholat. Tentu “lokasi” itu yang menurut perasaan kita nyaman. Lantaran bertahun-tahun, bahkan belasan tahun, kita menempati posisi yang sama, sering kali, tanpa kita sadari, lantas kita merasa tempat sholat subuh tersebut menjadi semacam “kavling” milik kita. Begitu kita masuk mesjid, langkah kita otomatis mencari “kavling” tersebut.

    Saya pribadi biasanya jika datang ke mesjid, untuk menunggu sholat subuh dan melakukan sholat dua rakat, mengambil posisi di shaf ketiga agak ke kanan dari arah masuk mesjid, di belakang imam dan depan mimbar.

    Lantas ketika sholat segera bakal mulai, saya pindah ke shaf pertama, dua sisi kanan di belakang imam. Waktu imam selesai melafalkan, “Walad dholin….” Saya pun menyambut dengan mengeraskan suara menyebut “ammiiiiinnnm…”

    Berbelas tahun terus menerus begitu, siapapun imam dan muhazinnya, membuat saya merasa nyaman menempati “kavling” tersebut secara permanen.

    Lebih dari itu, secara merambat saya juga merasa itulah “kavling” milik saya di mesjid ini. Di rumah Allah ini. Mungkin banyak, atau beberapa, jemaah subuh lainnya merasa seperti saya.

    Maka ketika ada jemaah lain, menempati “kavling” kita, baik yang sebelum sholat subuh maupun menjelang sholat subuh, secara tidak sadar dalam hati mulai terganggu. Mulai ada perasaan gak enak. _ Lho tempat gue kok loe duduki?_ Kira-kira begitulah. Muncul semacam perasan tidak suka. Kita tak mau “kavling” kita diduduki orang lain!

    “Kavling” itu harus dalam penguasaan kita. Jemaah lain silahkan cari tempat yang berbeda. Toh, masih banyak tempat lainnya. Kita menjadi tak rela tempat kita “take over” orang lain.

    Disinilah mulai bersemayam bahaya dalam diri kita. Menempati posisi yang sama saat sholat subuh si mesjid selama belasan tahun seakan memberikan hak kepada diri pribadi untuk mengklaim tempat di mesjid itu menjadi “kavling” milik kita pribadi. Seakan tempat itu privillage kita. Perasaan seperi itu pula yang sempat tanpa saya sadari juga hadir dalam diri saya.

    Beruntung itu tak berlangsung lama, dan saya dapat tersadar atas kekhilafan itu. Mesjid milik Allah. Rumah Allah. Bukan mesjid pribadi kita. Kalau pun ada mesjid yang kita bangun secara pribadi, maka ketika telah dibuka untuk umum, mesjid telah berubah menjadi mesjid publik. Mesjid jami. Menjadi rumah Allah. Semua orang berhak datang ke mesjid. Semua orang, memiliki hak untuk sholat di mesjid itu. Semua orang punya hak sama untuk memilih dan menentukan mereka mau duduk atau sholat di bagian manapun sepanjang datang lebih dahulu dan tempat itu masih kosong.

    Sebaliknya Kita tidak punya hak untuk mengklaim ada bagian-bagian tertentu dari tempat sholat di mesjid hanya diperuntukan buat kita, dan orang lain sepatutnya menghormati hak kita. Tak patut kita menuntut jemaah lain agar tidak melanggar “hak kavling” kita. Semua orang di hadapan Allah sama. Semua diperbolehkan memilih menempatkan diri, dan sholat di bagian manapun dia mau dan memungkinkan. Kita sama sekali tidak punya hak untuk mengaturnya. Tentu ada pengecualian, jika ada acara-acara tertentu, bolehlah ditata susunan tempat duduk, tapi bukan yang permanen.

    Saya teringat kepada sebuah mesjid yang berada masih di seputaran tempat tinggal kami. Beberapa orang bercerita, mereka sempat sholat di mesjid itu. Namun apa yang terjadi? Para jemaah tetap di mesjid tersebut memperlihatkan wajah-wajah tidak bersahabat ketika ada orang lain atau “orang baru “ sholat disitu. Wajah-wajah yang jelas menunjukkan mereka tak berkenan ada orang lain sholat “di mesjid mereka,” selain kalangan mereka sendiri.

    Tak hanya itu, setelah “orang baru” atau “tamu” selesai sholat disana, tempat yang dipakai sholat tersebut langsung dibersihkan dan dipel sebanyak tujuh kali. Tamu yang sholat disitupun masih melihat tempat bekasnya sholat harus dipel sampai tujuh kali.

    Seakan-akan yang barusan sholat disitu najis dan haram, sehingga tidak boleh sholat disana. Kalau pun sudah sholat, tempatnya harus dibersihkan sebersih-bersihnya, antara lain harus dipel sampai tujuh kali.

    Rupanya pengurus dan jemaah mesjid itu memang punya faham, mesjid itu khusus untuk kaum pengikutnya saja. Setiap sisi tempat sholat disana memang sudah “dikavling” buat anggota jemaah sendiri. Dari tempat itulah mereka beranggapan jalan menuju surga. Makanya, orang lain tak boleh sholat di mesjid itu. Selain jemaah mereka sendiri, tak boleh ada yang menduduki “kavling” yang sudah terbentuk untuk para jemaahnya.

    Alhamdullilah, saya cepat sadar. Perasaan bahwa tempat yang biasa kita duduki di mesjid, bukanlah ekslusif milik kita pribadii. Bukan kavling private. Tempat itu milik Allah. Tempat itu bebas dipakai oleh siapa saja.

    Kini saya masih sering tetap sholat di bagian yang menjadi favorit saya. Bedanya, jika ada orang lain yang kemudian lebih dahulu menempati lokasi di bagian itu, siapapun dia orangnya, saya rela. Saya Ikhlas seikhlas-ikhlasnya. Semua “kavling” di mesjid kepunyaan Allah. Bukan punya kita, siapapun kita. Di rumah Allah kita harus tulus berbagi “kavling” dengan sesama jemaah lain, setiap saat. Siapa datang lebih dahulu, jemaah itu punya hak memilih lebih dahulu dimana pun dia mau duduk dan sholat, selama masih kosong, termasuk di tempat favorit kita…

    Tabik!***

    (Bersambung…)

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* _wartawan dan advokat senior, juga anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase pribadi yang tidak mewakili organisasi._

  • Sekjen Gerindra: Prabowo Instruksikan Kader untuk Tetap Berbagi di Bulan Ramadhan

    Sekjen Gerindra: Prabowo Instruksikan Kader untuk Tetap Berbagi di Bulan Ramadhan

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID)- Menjelang bulan suci Ramadhan, Partai Gerindra mendorong pemerintah agar tetap menjaga stabilitas harga-harga bahan pokok di pasaran.

    Tujuannya agar masyarakat bisa melaksanakan ibadah puasa dengan penuh hikmat dan khusuk, tidak dibebani dengan mahalnya harga kebutuhan pokok selama bulan puasa.

    Hal ini disampaikan langsung oleh Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, sebagaimana keterangan pers yang diterima kantor Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Rabu (22/3/2023).

    Dia mengatakan, Partai Gerindra akan berkomitmen untuk menjaga stabilitas harga-harga bahan pokok agar tidak mengalami kenaikan. Sehingga masyarakat bisa berpuasa dengan khusyuk.

    “Kami akan terus berusaha dengan pemerintah untuk menjaga harga-harga bahan pokok agar tetap terjangkau. Ini penting agar masyarakat kita bisa berpuasa dengan khusyuk, tidak mengganggu dalam beribadah dan menyiapkan bahan-bahan makanan untuk berbuka. Sehingga dapur mereka selama bulan ramadhan bisa tetap ngebul,” kata Muzani dalam keterangannya, Rabu (22/3/2023).

    Selain itu, Muzani juga menginstruksikan agar setiap kader Gerindra, anggota DPR RI, DPRD tingkat I dan II, serta jajaran pengurus Gerindra di daerah untuk berbagi makanan, takjil, dan sembako dengan masyarakat khususnya di masjid-masjid, mushola, dan di panti-panti anak yatim.

    “Pak Prabowo sebagai Ketua Umum Partai Gerindra memberikan instruksi agar para kader baik di pusat dan di daerah serta seluruh anggota Fraksi Gerindra seluruh Indonesia untuk tetap berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan,” kata Muzani dalam keterangannya.

    “Hal ini menjadi penting karena kami ingin memastikan bahwa berbagi kebaikan dengan masyarakat khususnya di bulan ramadhan harus menjadi sebuah keharusan bagi setiap kader, karena itu sudah menjadi jati diri Partai Gerindra,” jelas Wakil Ketua MPR itu.

    Muzani mengatakan, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto juga memberi arahan agar pengurus Gerindra daerah untuk memperbanyak silaturahmi dengan kader dan tokoh-tokoh masyarakat. Sehingga suasana kondusif dan kebersamaan selama bulan puasa bisa terjaga dengan baik.

    “Menjaga silaturahmi adalah hal yang sangat penting dilakukan selama bulan puasa. Karena itu akan menjadikan puasa kita khusyuk dan afdol. Itu sebabnya kami memberikan arahan agar seluruh pengurus Gerindra di Indonesia untuk menjalin silaturahmi dengan kader, tokoh masyarakat, para ulama, dan jajaran Forkopimda yang memang menjadi stakeholder penting dalam upaya menjaga stabilitas sosial di tengah masyarakat,” tutup Muzani. (red)

  • RAMADAN CUCIAN POTRET DIRI MANUSIA

    RAMADAN CUCIAN POTRET DIRI MANUSIA

    Oleh: Yono Hartono*

    ETIMOLOGI RAMADAN

    Ramadan berasal dari akar kata ر – م – ض, yang berarti panas yang menyengat. Bangsa Babilonia yang budayanya pernah sangat do,minan di utara Jazirah Arab menggunakan kalender suryacandra (penghitungan tahun berdasarkan bulan dan matahari sekaligus). Bulan kesembilan selalu jatuh pada musim panas yang sangat menyengat. Sejak pagi hingga petang batu-batu gunung dan pasir gurun terpanggang oleh sengatan matahari musim panas yang waktu siangnya lebih panjang daripada waktu malamnya. Pada malam hari, panas di bebatuan dan pasir sedikir reda, tapi sebelum dingin betul sudah berjumpa dengan pagi hari. Demikian terjadi berulang-ulang, sehingga setelah beberapa pekan terjadi akumulasi panas yang menghanguskan. Hari-hari itu disebut bulan Ramadan, bulan dengan panas yang menghanguskan.

    Setelah umat Islam mengembangkan kalender berbasis bulan, yang rata-rata 11 hari lebih pendek dari kalender berbasis Matahari, bulan Ramadan tak lagi selalu bertepatan dengan musim panas. Orang lebih memahami ‘panas’nya Ramadan secara metaforik (kiasan). Karena pada hari-hari Ramadan orang berpuasa, tenggorokan terasa panas karena kehausan, atau, diharapkan dengan ibadah-ibadah Ramadan maka dosa-dosa terdahulu menjadi hangus terbakar dan seusai Ramadan orang yang berpuasa tak lagi berdosa.

    Dari akar kata tersebut kata Ramadan digunakan untuk mengindikasikan adanya sensasi panas saat seseorang kehausan. Pendapat lain mengatakan bahwa kata Ramadan digunakan karena pada bulan itu dosa-dosa dihapuskan oleh perbuatan baik sebagaimana Matahari membakar tanah. Lebih lanjut lagi hal itu dikiaskan dengan dimanfaatkannya momen Ramadan oleh para penganut Islam yang serius untuk mencairkan, menata ulang dan memperbaharui kekuatan fisik, spiritual dan tingkah lakunya, sebagaimana panas merepresentasikan sesuatu yang dapat mencairkan materi.

    SEJARAH RAMADAN

    Surah Al-Baqarah ayat 185 dalam Quran menyatakan:

    “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu mendapati bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur”.

    MENURUT HADITS

    Dari Watsilah bin Al-Asqa’, Rasulullah shallallahu álaihi wa sallam bersabda, “Shuhuf Ibrahim diturunkan pada awal Ramadhan. Taurat diturunkan pada awal-awal Ramadan. Injil turun pada 13 Ramadan. Sedangkan Al-Qurán diturunkan oleh Allah pada 24 Ramadan.” (HR. Ahmad, 4:107, dihasankan oleh Imam As-Suyuthi.

    Semua kitab suci diturunkan selama bulan Ramadan. Suhuf Ibrahim, Taurat, Mazmur, Injil, dan Alquran masing-masing diturunkan pada tanggal 1, 6, 12, 13, dan 24 Ramadan. Alquran pertama kali diwahyukan kepada Muhammad pada malam lailatulqadar yang merupakan salah satu dari lima malam dalam sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

    Meskipun Muslim pertama kali berpuasa pada bulan Ramadan setelah 18 bulan pasca-hijrah, yaitu pada bulan Sya’ban pada tahun kedua Hijrah (624 M), mereka percaya bahwa berpuasa bukanlah hal baru dan telah dijalankan oleh orang-orang sebelumnya untuk mencapai takwa.[Qur’an Al-Baqarah:183]

    Bahkan orang-orang Arab pra-Islam juga berpuasa, tapi hanya pada hari kesepuluh Muharram untuk menebus dosa dan menghindari kekeringan.

    Abu Zanad seorang penulis Arab dari Irak yang hidup setelah berdirinya Islam, sekitar tahun 747 M, menulis bahwa setidaknya satu komunitas Muslim yang berada di al-Jazira (Irak utara modern) merayakan Ramadan sebelum beralih ke Islam. Menurut Philip Jenkins, Ramadan datang “dari disiplin gereja-gereja Syria yang ketat”. Namun, saran ini didasarkan pada gagasan orientalis bahwa Alquran sendiri memiliki asal Syria, yang ditolak Oleh akademisi Muslim seperti M. Al-Azami.

     

    Ref: Browsing internet berbagai sumber 22/03/2023-07.47 WIB

    *Waketum SMSI Pusat

  • Berperan Sejahterakan Umat, BNPT RI Terima BAZNAS Award 2023

    Berperan Sejahterakan Umat, BNPT RI Terima BAZNAS Award 2023

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID)– Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia ( BNPT RI ) mendapat penghargaan Badan Amil Zakat Nasional ( BAZNAS ) Award 2023 Kategori Lembaga Pendukung Ekosistem Zakat Sejahterakan Umat.

    Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. (H.C.) K. H. Ma’ruf Amin berpesan agar peran-peran yang sudah dilakukan oleh Kementerian/Lembaga terkait perlu terus dijaga keberlansungannya.

    “Para penerima BAZNAZ Award 2023 adalah unsur dari komponen utama dan pendukung ekosistem zakat itu sendiri, jadi keberlanjutan peran harus terus dijaga,” ujar Wakil Presiden Republik Indonesia Prof. Dr. (H.C.) K. H. Ma’ruf Amin dalam sambutannya.

    Penghargaan yang diterima langsung oleh Sekretaris Utama BNPT RI, Bangbang Surono, Ak.,M.M,CA ini merupakan hasil kolaborasi pentahelix BNPT RI dengan banyak pihak termasuk BAZNAS dalam rangka membangun kesejahteraan mitra-mitra BNPT RI maupun masyarakat yang bertujuan mempererat persaudaraan anak bangsa, menjauhkan diri dari aktivitas permusuhan dan perpecahan demi menunjang tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    BNPT RI memiliki program pembangunan kesejahteraan yang diperuntukan kepada , mitra deradikalisasi, penyintas aksi terorisme dan masyarakat sekitar. (bnpt/red)

  • Pelihara Toleransi, Dua Puteri Mandalika Hadiri Pawai Ogoh-Ogoh 

    Pelihara Toleransi, Dua Puteri Mandalika Hadiri Pawai Ogoh-Ogoh 

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID) – Sebagai Puteri Mandalika NTB 2023 Ni Luh Putu Ayu Hariyani bersama Puteri Mandalika Favorite, kembali menjalankan program kerjanya. Kali ini untuk memelihara toleransi antar umat beragama menyambut Hari Raya Nyepi 1945 Saka dan Bulan Suci Ramadan 1444 Hijiriah di Kota Mataram, Selasa (21/03/2023).

    Kehadirannya dalam pagelaran pawai Ogoh-ogoh Tahun 2023 bertujuan meningkatkan rasa toleransi antar umat beragama. Ni Luh Putu Ayu Hariyani sapaan akrabnya Ayu sebagai umat Hindu berkolaborasi bersama rekannya Izma Okta Harmila sebagai umat Muslim.

    Kehadiran para Puteri Mandalika pada kegiatan tersebut sebagai bentuk dukungan kepada masyarakat khususnya Umat Agama Hindu.

    Bukan hanya sekadar sebagai penonton, para Puteri Mandalika NTB 2023 ini juga membagikan Air Mineral kepada Peserta Pawai Ogoh-ogoh sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat.

    “Kami berdua hadir sebagai bentuk keberagaman. Kegiatan ini merupakan salah satu Program dari Puteri Mandalika NTB 2023, yang bertujuan untuk meningkatkan dan Memelihara Rasa Toleransi antar umat beragama Puteri Mandalika,” kata Ayu.

    Begitupun disampaikan Izma rekan sejawatnya. Dia mengupkapkan rasa bangga bisa turun langsung bersama-sama Putri Mandalika NTB 2023.

    “Iya kami sangat semangat hari ini utuk memberikan yang terbaik bagi umat Hindu di pagelaran Ogoh-Ogoh,” ucapnya.

    “Dalam kesempatan ini kami mengucapkan Rahajeng Rahina Nyepi 2023, semeton sareng sami. Dumogi rahayu kepada umat Hindu dan selamat menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan 1444 Hijriyah kepada umat muslim,” ujar mereka (ang)

  • Kepala BNPT RI Terima Anugerah Tokoh Sosialisasi Persatuan dan Toleransi Indonesia

    Kepala BNPT RI Terima Anugerah Tokoh Sosialisasi Persatuan dan Toleransi Indonesia

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID)– Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H. menerima penghargaan Tokoh Sosialisasi Persatuan dan Toleransi Indonesia. Penghargaan diberikan dalam perhelatan 17th annual Indonesia Property & Bank Award 2023 dengan tema “Bangkit dan Tumbuh Bersama” di Hotel Mulia Senayan, pada Senin (20/03).

    Pada kesempatan tersebut, Boy Rafli menyampaikan semangat pentahelix guna mendukung program-program pemerintah dalam penanggulangan intoleransi radikal terorisme.

    “Program-program kami banyak bergerak dibidang pencegahan. Dengan semangat pentahelix, kami mengupayakan agar potensi intoleransi radikal terorisme bisa kita tekan. Kami menerapkan semangat pentahelix pelibatan multipihak mulai dari unsur pemerintah, akademisi, media kemudian juga dunia usaha dan masyarakat,” jelas Jenderal bintang tiga tersebut.

    Kepala BNPT Ke-5 menyampaikan terima kasih atas apresiasi yang diberikan, Ia mengatakan jika capaiannya ini merupakan hasil dari kerja-kerja yang dilakukan bersama BNPT RI.

    “Terima kasih atas penghargaan ini. Kami bekerja sama dibidang yang berkaitan dengan aktivitas pencegahan intoleransi radikal terorisme yang merupakan tugas dari BNPT RI,” Ungkap Kepala BNPT RI, Komjen Pol. Dr. Boy Rafli Amar, M.H. saat menerima penghargaan.

    Lanjutnya, Kepala BNPT RI dalam kesempatan tersebut juga mengajak kalangan pemerintah dan juga para pelaku usaha yang hadir dalam kegiatan tersebut untuk dapat ikut ambil bagian secara aktif terlibat dalam program pencegahan melalui kegiatan Wadah Akur Rukun Usaha Nurani Gelorakan NKRI (Warung NKRI)

    “Kami banyak melakukan dan menyelenggarakan program pencegahan yang diberi nama Warung NKRI, dimana warung ini intinya 2, Teh dan Kopi. Teh adalah Toleransi, Empati dan Harmoni, sementara Kopi adalah Kerukunan Obat Persatuan Indonesia. Semoga suatu saat kita bisa bersama mengedukasi masyarakat dan mencerdaskan masyarakat kita agar tercipta Indonesia yang semakin harmoni dan kami yakin pelaku usaha akan lebih nyaman dan pertumbuhan ekonomi kita akan tumbuh sesuai dengan harapan kita bersama,” tutup Boy Rafli Amar. (bnpt/has)

  • Gaya Kepemimpinan KASAD Yang Cintai Prajuritnya Mendapat Atensi Positif dari PBNU

    Gaya Kepemimpinan KASAD Yang Cintai Prajuritnya Mendapat Atensi Positif dari PBNU

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID) – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) memberikan atensi gaya kepemimpinan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (AD) Jenderal Dudung Abdurachman.

    Dudung dinilai sebagai sosok Jenderal yang memiliki kepekaan realitas sosial terutama dalam hal mendahulukan kepentingan kesejahteraan prajuritnya.

    “Pak Dudung sebagai prajurit adalah sosok pemimpin yang sangat mengerti kondisi prajurit bawahannya karena beliau berproses dari bawah. Kita menberikan atensi dan apresiasi karena meningkatkan kesejahteraan prajurit,” ujar Gus Fahrur saat dihubungi, Minggu (19/3/2023), sebagaimana yang dikutip dalam keterangan pers yang diterima Serikat Media Siber Indonesia (SMSI).

    Menurut Gus Fahrur, gaya kepemimpinan mantan Pangkostrad ini layak dicontoh dan diteladani sbg model Kepemimpinan Nasional. Sebab, sangat jarang pemimpin memiliki kepedulian terhadap anak buah, terutama ketika dikaitkan dengan kesejahterannya. Karenanya, kata Gus Fahrur, kepedulian Jenderal Dudung terhadap kesejahteraan prajurit harus didukung oleh semua kalangan

    “Mereka ada yang sudah mendapatkan penghargaan yang layak, kesejahteraan untuk meningkatkan kinerjanya. Tugas prajurit sangat berat kan ya. Nyawanya untuk negara. Jadi bagus. Kita mendukung upaya pak Dudung untuk mensejahterakan prajurit terutama pada tingkatan level-level rendah ini harus mendapatkan perhatian yang semestinya,” katanya.

    Gus Fahrur mencotohkan soal kepedulian Jenderal Dudung kepada prajurit terkait pemberian susu serdadu dan memperbaiki rumah-rumah prajurit yang rusak. Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin memang harus mendahulukan kepentingan anak buahnya bahkan melebihi kepentingan dirinya.

    “Semoga terus ditingkatkan karena tugas TNI sangat berat. Terutama kepeduliannya pada prajurit tingkat bawah. Itu sangat dibutuhkan untuk meningkatkan stamina,” papar Gus Fahrur.

    Lebih lanjut, Gus Fahrur menambahkan jika Jenderal Dudung terus konsisten melakukan upaya-upaya positif maka dia tidak akan punya waktu untuk mengerjakan hal-hal yang bersifat negatif.

    “Jadi kita berharap semakin ke depan nilai-nilai positif itu untuk ditingkatkan. Suasana semakin kondusif di TNI,” tambah Gus Fahrur.

    Gus Fahrur juga menilai pernyataan Dudung yang tidak pernah bermimpi dan meminta jabatan mengemban jabatan sebagai KSAD.

    “Itu bagus sekali. Karena orang itu kalau tidak minta jabatan dan kemudian diberi maka dia akan menjadi amanah yg dibantu oleh Tuhan. Tapi kalau berambisi Tuhan tidak mempercayai dia. Kalau tidak minta, itu merupakan suatu anugerah dan Tuhan akan menolong dan mempercayai dia. Tuhan akan memberkahi dan menolong dia,” pungkas Gus Fahrur. (red)