Blog

  • Kesedihan di Balik Kehidupan (3)

    Kesedihan di Balik Kehidupan (3)

    Misi untuk Memberi Harapan 

    Hari-hari Nina kini tak lagi suram. Meski rasa kehilangan tetap sesekali menyelinap, ia belajar untuk menjadikannya kekuatan. Proyek desain grafisnya berkembang pesat. Dalam waktu singkat, Nina berhasil meraih klien pertama—sebuah yayasan sosial kecil yang membantu anak-anak yatim piatu.

    Di yayasan itu, Nina bertemu dengan Amira, seorang gadis berusia 10 tahun yang pendiam. Mata Amira selalu redup, penuh kesedihan yang terasa akrab bagi Nina. “Aku juga pernah merasakan itu,” pikir Nina.

    Ketika Nina bertanya tentang keluarga Amira, gadis itu hanya menjawab dengan suara lirih, “Aku tidak punya siapa-siapa lagi.” Jawaban itu menghantam hati Nina, mengingatkannya pada dirinya sendiri saat kehilangan keluarganya.

    Di malam yang sepi, Nina merenung. Ia sadar, mungkin ini alasan kenapa ia masih bertahan—untuk menjadi cahaya bagi orang lain yang juga berjuang melawan kegelapan.

    Membentuk Komunitas Harapan

    Dengan semangat baru, Nina mulai menginisiasi sebuah komunitas kecil bernama Harapan Baru. Ia mengajak beberapa teman dari kursus desainnya dan orang-orang yang pernah ia temui di yayasan untuk bergabung. Komunitas itu fokus membantu mereka yang tengah mengalami kehilangan, baik secara emosional maupun material.

    Setiap minggu, Nina dan timnya mengadakan pertemuan sederhana di taman kota. Mereka berbagi cerita, menawarkan dukungan, dan memberikan pelatihan kecil seperti menggambar, menulis, atau membuat kerajinan tangan. Nina melihat bagaimana aktivitas ini perlahan menghidupkan kembali senyum di wajah orang-orang seperti Amira.

    Kembali Bertemu Pria Tua

    Suatu sore, saat Nina sedang menyiapkan pertemuan mingguan, ia melihat sosok pria tua yang dulu memberinya amplop pertama. Kali ini, pria itu duduk di bangku taman, tersenyum ke arahnya. Nina mendekat dengan perasaan campur aduk.

    “Akhirnya kita bertemu lagi,” kata Nina dengan suara yang hampir pecah.

    Pria itu mengangguk pelan. “Aku hanya mengamati dari jauh. Kau sudah menemukan jalanmu, bukan?”

    Nina mengangguk. “Tapi aku tak pernah mengerti kenapa Anda membantu saya.”

    Pria itu tersenyum lembut. “Karena aku pernah berada di posisi yang sama. Bertahun-tahun lalu, aku kehilangan semuanya—keluarga, pekerjaan, dan harapan. Tapi seseorang membantuku bangkit. Jadi aku hanya meneruskan kebaikan itu kepadamu.”

    Air mata Nina mengalir. “Terima kasih… Anda telah mengubah hidup saya.”

    Pria itu menggeleng. “Kau yang melakukannya, Nina. Aku hanya menyalakan percikan kecil. Kau yang memutuskan untuk menjadikannya api yang menerangi jalanmu.”

    Sebelum Nina sempat bertanya lebih jauh, pria itu pergi. Namun, kali ini, Nina merasa cukup. Ia tidak perlu tahu lebih banyak, karena ia telah menemukan jawaban dalam perjalanannya.

    Harapan yang Terus Hidup  

    Dalam setahun, komunitas *Harapan Baru* berkembang pesat. Banyak orang yang dulunya datang sebagai peserta kini menjadi relawan, membantu orang lain yang sedang berjuang. Amira, gadis kecil yang dulu pendiam, kini menjadi anak yang ceria dan bercita-cita menjadi desainer seperti Nina.

    Nina menyadari, kesedihan bukanlah akhir dari kehidupan. Ia adalah awal dari sebuah perjalanan baru, di mana cinta dan harapan bisa ditemukan kembali. Meski kehilangan meninggalkan luka, luka itu bisa menjadi jembatan menuju kebahagiaan yang lebih besar. (ai/tamat)

    Ilustrasi: bing.com

  • Kesedihan di Balik Kehidupan (2)

    Kesedihan di Balik Kehidupan (2)

    Cahaya di Tengah Gulita 

    Hari-hari berlalu, dan pesan dari pria tua itu terus terngiang di benak Nina. Entah kenapa, kata-kata itu membuatnya merasa tidak sepenuhnya sendirian. Pagi berikutnya, ia kembali ke toko, berharap pria itu datang lagi. Namun, hingga sore menjelang, sosoknya tak kunjung muncul.

    Ketika Nina mulai membereskan barang, ia menemukan secarik kertas lain terselip di antara rak. Tulisan tangan yang sama tertera di atasnya:

    “Cari kebenaran di tempat yang paling sering kau abaikan.”

    Nina tertegun. Tempat yang paling sering ia abaikan? Ia memutar ingatan, mencoba mencari jawabannya. Akhirnya, pikirannya melayang ke rumah tua peninggalan orang tuanya, tempat ia tak pernah kembali sejak hari kecelakaan.

    Dengan langkah ragu, malam itu Nina menuju rumah tersebut. Gelap dan penuh debu, tempat itu seperti merekam setiap kenangan yang pernah ia alami bersama keluarganya. Di ruang tamu, ia melihat foto keluarga yang terpajang di dinding. Senyum mereka begitu tulus, seolah berbicara kepadanya: “Kami selalu ada bersamamu.”

    Saat Nina hendak beranjak, kakinya tersandung sesuatu. Sebuah kotak kayu kecil tersembunyi di bawah meja. Dengan hati-hati, ia membukanya. Di dalamnya terdapat buku harian ibunya, penuh dengan catatan tangan yang rapi.

    Salah satu halaman tertanggal seminggu sebelum kecelakaan itu membuat Nina tak kuasa menahan air mata:

    “Untuk Nina, putri kecilku. Jika suatu hari kau membaca ini, ketahuilah bahwa dunia ini keras, tapi kau lebih kuat dari yang kau bayangkan. Apa pun yang terjadi, teruslah melangkah. Jangan takut untuk memulai kembali, bahkan dari kehancuran.”

    Pesan itu seperti pelukan hangat yang ia rindukan selama ini. Nina menangis, tetapi kali ini bukan hanya karena sedih. Ada perasaan lega, seperti beban berat yang perlahan terangkat.

    Esok harinya, Nina memutuskan untuk membuat perubahan. Ia mendaftar ke sebuah kursus desain grafis, bidang yang dulu ia impikan tetapi selalu ia tunda karena merasa tidak cukup baik. Setiap malam, ia membaca ulang buku harian ibunya, menjadikannya sumber kekuatan.

    Minggu demi minggu berlalu. Nina mulai melihat hidupnya perlahan berubah. Di tengah kesibukan, ia bertemu dengan banyak orang yang memberinya energi positif. Namun, pria tua misterius itu tidak pernah muncul lagi.

    Hingga suatu sore, saat Nina menyelesaikan proyek desain pertamanya, ia menerima amplop terakhir yang ditinggalkan di toko oleh seorang kurir. Isinya singkat, namun penuh makna:

    “Kau telah menemukan kebenaran: kekuatanmu ada dalam dirimu sendiri. Selamat, anak muda. Kini kau siap untuk menghidupkan harapan, bukan hanya untuk dirimu, tapi untuk orang lain.”

    Nina tersenyum. Ia tak lagi mencari pria tua itu. Karena ia tahu, kehadirannya hanyalah katalis yang membangkitkan sesuatu yang selama ini sudah ada—harapan, keberanian, dan cinta yang tak pernah hilang. (ai/bersambung)

    Ilustrasi: bing.com

  • Kesedihan di Balik Kehidupan (1)

    Kesedihan di Balik Kehidupan (1)

    Lembar Kehilangan

    LANGIT senja memancarkan semburat jingga yang meredup, seolah turut berduka atas kepergian seseorang yang berarti. Di tengah hiruk pikuk kota,

    Nina berjalan sendirian di trotoar, menggenggam foto keluarga yang kini hanya menjadi kenangan pahit. Ayah, ibu, dan adiknya telah pergi meninggalkannya dalam kecelakaan tragis dua bulan lalu.

    Sejak itu, hidup Nina berubah drastis. Ia yang dulu dikelilingi cinta kini terperangkap dalam kesepian. Tak ada lagi tawa riang di ruang tamu, tak ada lagi pelukan hangat yang menyambutnya di pintu. Hanya ada sunyi yang menyayat.

    Setiap pagi, Nina berjuang melawan air mata saat ia menatap meja makan kosong. Ia mencoba bangkit, bekerja di sebuah toko kecil untuk menyambung hidup. Tapi sering kali, ia tak sanggup menahan kenangan yang terus menghantui.

    Suatu hari, saat Nina tengah menyusun barang di etalase, seorang pria tua datang ke toko. Wajahnya penuh keriput, namun matanya memancarkan kehangatan. “Anak muda, kau terlihat sangat murung. Apa kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.

    Nina hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Namun, pria itu menyerahkan sebuah amplop kecil sebelum pergi. “Buka ini saat kau merasa paling kehilangan,” ujarnya.

    Malam itu, Nina membuka amplop tersebut. Di dalamnya, ada sebuah pesan singkat:

    *”Kesedihanmu adalah bagian dari kehidupan, namun percayalah, setiap luka akan membawamu pada kekuatan baru. Jangan menyerah.”*

    Pesan itu sederhana, tetapi terasa menusuk hati. Di tengah air mata, Nina merasakan sesuatu yang berbeda—seberkas harapan kecil yang mulai muncul.

    (ai/bersambung)

    Ilustrasi: bing.com

  • Menjadi Jurnalis Pariwisata: Menginspirasi Perjalanan dan Menjaga Warisan Budaya

    Menjadi Jurnalis Pariwisata: Menginspirasi Perjalanan dan Menjaga Warisan Budaya

    Bayangkan sebuah profesi yang menggabungkan kecintaan pada perjalanan, kemampuan menulis, dan tanggung jawab sosial. Itulah jurnalis pariwisata, seorang profesional yang bertugas meliput, menulis, dan melaporkan segala hal tentang destinasi wisata, budaya lokal, kuliner khas, hingga kebijakan yang memengaruhi sektor pariwisata.

    Bukan sekadar pekerjaan, peran ini mengharuskan jurnalis untuk menjadi penghubung antara pembaca dan keindahan dunia. Mereka mempromosikan destinasi, memberikan informasi akurat, dan menginspirasi pembaca untuk menjelajahi tempat-tempat baru.

    Jurnalis pariwisata bertugas menulis artikel inspiratif tentang destinasi impian, meliput acara besar pariwisata, dan mengulas kebijakan pemerintah yang berdampak pada industri ini. Sebelum menulis, mereka juga melakukan riset mendalam tentang sejarah tempat, tradisi lokal, kuliner khas, hingga fasilitas pendukung seperti hotel dan transportasi.

    Selain itu, mereka membantu memperkenalkan tempat wisata kepada dunia melalui tulisan, video, dan foto. Di balik destinasi, selalu ada cerita unik yang bisa digali, seperti potensi tersembunyi, keunikan budaya, dan kisah masyarakat lokal yang belum terungkap. Jurnalis pariwisata juga memiliki tanggung jawab untuk melaporkan isu keberlanjutan, memastikan pariwisata berjalan tanpa merusak lingkungan atau mengancam warisan budaya.

    Kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti dinas pariwisata, agen travel, dan komunitas lokal, menjadi bagian penting untuk mendapatkan informasi langsung dan mendalam.

    Menggeluti profesi ini membutuhkan keterampilan khusus. Kemampuan menulis menjadi hal utama, terutama untuk membuat tulisan yang inspiratif, informatif, dan ramah SEO jika dipublikasikan secara online. Fotografi dan videografi juga menjadi pendukung penting, karena gambar sering kali menjadi daya tarik pertama bagi pembaca. Sensitivitas terhadap budaya lokal diperlukan, terutama saat berinteraksi langsung dengan masyarakat. Jaringan yang luas dengan pelaku industri juga menjadi kunci untuk mendapatkan akses eksklusif.

    Namun, ada tantangan yang dihadapi. Jurnalis pariwisata harus menjaga keseimbangan antara promosi wisata dan objektivitas berita. Informasi yang disampaikan harus akurat, terutama saat membahas budaya dan tradisi lokal. Selain itu, dampak negatif pariwisata, seperti kerusakan lingkungan atau konflik budaya, juga menjadi isu yang perlu dilaporkan secara adil dan solutif.

    Sebagai seorang jurnalis sekaligus anggota Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD), Anda memiliki peran strategis dalam membangun citra pariwisata NTB melalui media seperti Radar Mandalika, ntbnow.co, dan lombokexpress.id. Dengan perpaduan antara profesionalisme dan kecintaan pada pariwisata, kontribusi Anda dapat menginspirasi dunia untuk lebih mengenal keindahan NTB.

    Mari terus bercerita tentang perjalanan, budaya, dan pesona negeri ini. Sebab, lewat tulisan, kita membawa pembaca menjelajahi dunia. (red)

  • SDN 2 Cakranegara Gelar Karya P5 Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan

    SDN 2 Cakranegara Gelar Karya P5 Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID) – SDN 2 Cakranegara mengadakan kegiatan Gelar Karya Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertajuk Gaya Hidup Berkelanjutan: Pemanfaatan Sampah Plastik Fase A dan B di halaman sekolah pada Sabtu pagi, 23 November 2024.

    Kegiatan ini diikuti oleh siswa kelas 1 hingga kelas 4 yang tergabung dalam Fase A dan B. Gelar Karya ini menampilkan hasil kreativitas siswa dalam memanfaatkan sampah plastik dan barang-barang bekas yang dikumpulkan selama beberapa bulan terakhir dari lingkungan sekolah.

    Kepala Sekolah SDN 2 Cakranegara, Ahmadiyah, S.Pd., menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengajarkan siswa tentang pentingnya menjaga lingkungan serta menumbuhkan keterampilan dalam memanfaatkan barang bekas.

    “Tema kegiatan ini adalah gaya hidup berkelanjutan, dengan memanfaatkan sampah plastik dan barang bekas yang ada di sekolah. Hal ini bertujuan untuk mengurangi sampah di lingkungan sekolah sekaligus menjaga kebersihan dan kenyamanan. Dari kegiatan ini, anak-anak diajarkan beberapa hal. Pertama, keterampilan membuat sesuatu yang bermanfaat dari barang bekas. Kedua, kesadaran untuk menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan tempat mereka belajar dan bermain,” ujar Ahmadiyah, S.Pd.

    Ahmadiyah menambahkan bahwa melalui Gelar Karya ini, siswa tidak hanya menghasilkan karya kreatif, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung tentang pentingnya pengelolaan sampah dan keberlanjutan lingkungan.

    Kegiatan ini mendapat sambutan positif dari siswa, guru, dan orang tua. Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan para siswa SDN 2 Cakranegara dapat menjadi generasi yang peduli terhadap lingkungan serta terus berinovasi dalam menciptakan gaya hidup berkelanjutan. (nang)

  • Kemendagri Ingatkan Pemda Pentingnya Penyusunan Laporan SPM Urusan Trantibumlinmas

    Kemendagri Ingatkan Pemda Pentingnya Penyusunan Laporan SPM Urusan Trantibumlinmas

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID)– Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri TB. Chaerul Dwi Sapta mengatakan sesuai Pasal 23 Permendagri Nomor 59 Tahun 2021, bupati/walikota melaporkan pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) oleh daerah kabupaten/kota kepada gubernur sebagai wakil pemerintah pusat dan gubernur sebagai wakil pemerintah pusat melaporkan hasil evaluasi kepada menteri.

    “Muatan laporan SPM berdasarkan Pasal 23 ayat 2 sekurang-kurangnya memuat tentang hasil penerapan SPM, kendala penerapan SPM, serta ketersediaan anggaran dalam penerapan SPM,” terang Chaerul saat membuka rapat koordinasi pusat dan daerah dalam rangka penyusunan laporan penerapan SPM urusan Trantibumlinmas yang diselenggarakan secara hybrid, beberapa waktu lalu di Orchardz Hotel Jayakarta.

    Lebih lanjut, Chaerul mengatakan laporan penerapan SPM dimuat dalam laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dilakukan selama satu tahun anggaran dan disampaikan paling lambat tiga bulan setelah tahun anggaran berakhir.

    “Untuk mendorong dan menjaga kontinuitas data dan informasi, pelaporan penerapan SPM juga dilakukan melalui aplikasi pelaporan berbasis web yaitu laporan penerapan SPM yang dilakukan secara berkala setiap tiga bulan melalui aplikasi e-SPM,” imbuh Chaerul, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (23/11).

    Chaerul menjelaskan pelaporan penerapan SPM dapat digunakan untuk melihat perkembangan penerapan SPM di daerah provinsi dan kabupaten/kota.

    Selain itu, untuk melihat perumusan kebijakan nasional oleh pemerintah pusat serta dijadikan sebagai dasar bagi pemerintah pusat untuk memberikan insentif atau disinsentif kepada Pemda berdasarkan ketentuan perundang-undangan dengan memperhatikan kemampuan keuangan negara.

    Berdasarkan evaluasi pelaksanaan penerapan SPM pada 2024, bahwa proses inputing pelaporan melalui e-SPM secara nasional pada triwulan 3 tahun 2024 menunjukan bahwa jumlah daerah yang sudah menginput e-SPM triwulan 3 sebanyak 504 daerah dengan rincian 34 (89,47%) provinsi, 378 (90,87%) kabupaten, dan 92 (98,92%) kota.

    Sementara jumlah daerah yang belum menginput e-SPM triwulan 3 sebanyak 43 daerah dengan rincian 4 (10,53%) provinsi, 38 (9,13%) kabupaten, dan 1 (1,08%) kota.

    Terakhir, progres pembentukan Tim Penerapan SPM sebagaimana yang diamanatkan oleh Permendagri 59 Tahun 2021 bahwa saat ini baru 496 (90,68%) daerah sudah membentuk dan sebanyak 51 (9,32%) daerah belum membentuk.

    Adapun capaian penerapan SPM berdasarkan tingkat keterisian sesuai dengan jenis pelayanannya adalah sebagai berikut:

    Pelayanan Ketentraman dan Ketertiban Umum Provinsi, capaian penerima layanan 62,88% dan mutu layanan sebesar 13,78%.

    Pelayanan Ketentraman dan Ketertiban Umum Kabupaten/Kota capaian penerima layanan 60,48% dan mutu layanan sebesar 11,67%.

    Pelayanan Informasi Rawan Bencana capaian penerima layanan 55.28% dan mutu layanan sebesar 11,84%.

    Pelayanan Pencegahan dan Kesiapsiagaan terhadap Bencana capaian penerima layanan 55.95% dan mutu layanan sebesar 14,58%.

    Pelayanan Penyelamatan dan Evakuasi Korban Bencana capaian penerima layanan 55.00% dan mutu layanan sebesar 12,59%.

    Pelayanan Penyelamatan dan Evakuasi Korban Kebakaran capaian penerima layanan 61.24% dan mutu layanan sebesar 13,27%.

    “Dengan melihat gambaran tersebut, baik kelengkapan administratif maupun proses pelaporan (inputting data e-SPM) itu sendiri oleh pemerintah daerah, maka menjadi krusial untuk dijadikan isu utama dalam pelaksanaan penerapan SPM, mengingat data dan informasi sangat penting dalam pelaksanaan SPM,” jelas Chaerul.

    Melalui rapat koordinasi ini, Chaerul berharap dapat memberikan pemahaman yang sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam rangka penyusunan laporan penerapan SPM urusan Trantibumlinmas, sehingga pelaksanaan program/kegiatan yang terkait pelayanan dasar urusan Trantibumlinmas dapat terinformasi dengan baik oleh pemerintah daerah.

    Rapat ini diikuti 13 Provinsi (Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Bali, Papua Barat Daya, Papua Barat, Sulsel, Kalbar, Kalteng); 12 kabupaten (Deli Serdang, Solok, Kepulauan Anambas, Muaro Jambi, Bengkulu Utara, Musi Banyuasin, Gianyar, Sorong, Manokwari, Mempawah dan Kotawaringin Barat); serta 12 Kota (Medan, Padang, Pekanbaru, Batam, Jambi, Bengkulu, Palembang, Denpasar, Sorong, Makassar Pontianak dan Palangkaraya). Sedangkan untuk provinsi, kabupaten dan kota lainnya dapat hadir secara daring. (rls)

    Keterangan Foto:

    Direktur Sinkronisasi Urusan Pemerintahan Daerah III Ditjen Bina Pembangunan Daerah Kemendagri TB. Chaerul Dwi Sapta. (ist)

  • Jelang Rapimnas 2024, Kadin Riau Menggelar Rapat Pengurus Harian

    Jelang Rapimnas 2024, Kadin Riau Menggelar Rapat Pengurus Harian

    PEKANBARU (LOMBOKEXPRESS.ID)– Menjelang Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kamar Dagang Industri (Kadin) Indonesia pada 29 November 2024, di Hotel Borobudur Jakarta, Kadin Riau menggelar rapat pengurus harian, di ruangan rapat Kadin Riau, Jumat (22/11/2024) sore.

    Rapat dipimpin langsung oleh Ketua Umum Kadin Riau, Masuri, didampingi Direktur Eksekutif, Kholis Romli. Tampak hadir sejumlah pengurus antara lain Irma Hafida Rachman, Asmui, Elvi Syofriandi, dan Novrizon Burman,

    Dalam kesempatan itu, Ketua Umum Kadin Riau, Masuri, kembali mempertegas bahwasanya Kadin Indonesia tetap satu, yakni sesuai Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1987 dan Keppres Nomor 18 Tahun 2022.

    ‘’Kadin Indonesia tetap satu, ketua umumnya Arsjad Rasjid, karena itu rapimnas Kadin Indonesia akan digelar sesuai dengan AD/ART organisasi, pelaksanaannya tanggal 29 November 2024, di Hotel Borobudur Jakarta,’’ tegas Masuri.

    Menurutnya, agenda Rapimnas adalah tindak lanjut dari kesepakatan yang telah diambil sebelumnya, yaitu Persetujuan pelaksanaan Munas sesuai AD/ART Organisasi.

    Sesuai Keppres Nomor 18 Tahun 2022, jelasnya, Ketua Umum Kadin Indonesia adalah Arsjad Rasjid, dan Munas Kadin berikutnya digelar pada 2026.

    ‘’Kita percaya Presiden RI, pak Prabowo Subianto, tidak ingin Kadin Indonesia terpecah belah. Insya Allah, pak Presiden berkenan hadir membuka Rapimnas Kadin Indonesia pada 29 November 2024 nanti,’’ tutup Masuri.

    Rapat pengurus harian juga menginventarisir sejumlah masukan untuk disampaikan nanti oleh Kadin Riau saat pemandangan umum dalam rangkaian Rapimnas Kadin 2024. ***

  • Simakrama Puri-Puri dan Umat Hindu NTB Bersatu

    Simakrama Puri-Puri dan Umat Hindu NTB Bersatu

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)– Dalam upaya mempererat tali silaturahmi dan menyatukan visi serta misi antar keluarga besar puri di Nusa Tenggara Barat (NTB), Puri Agung Cakranegara menggelar acara simakrama di Taman Mayura, Kamis (21/11).

    Acara ini sekaligus menjadi momen untuk sosialisasi Pilkada damai, yang dihadiri oleh tokoh-tokoh penting umat Hindu di NTB.

    Anak Agung (AA) Made Jelantik Agung Barayang Wangsa, keturunan Kerajaan Cakranegara ke-IX, menyampaikan acara ini digelar bersamaan dengan pembubaran panitia Pujawali Pura Meru Cakranegara.

    “Simakrama ini menjadi ruang komunikasi antar keluarga puri maupun keluarga Sasak. Dalam komunikasi, kita bisa menyelesaikan persoalan bersama. Kami juga telah membulatkan tekad mendukung salah satu calon gubernur yang memiliki karakter kuat, mampu menyerap aspirasi masyarakat, dan memahami adat istiadat kita,” ujar Anak Agung Made Jelantik.

    Ia juga menegaskan pentingnya menghindari politik uang dalam Pilkada. “Memilih pemimpin karena uang membuat kita kehilangan harga diri. Harapan saya, masyarakat tetap memilih figur yang berkarakter dan peduli terhadap adat istiadat serta aspirasi masyarakat,” tambahnya.

    Ketua Majelis Agung Windu Sesukertaning Jagat, I Gede Gunawan Wibisana, S.H., M.Hum, turut mengajak umat Hindu di NTB untuk bersatu tanpa membedakan latar belakang politik. “Kami ingin mempersatukan tekad untuk mewujudkan Pilkada damai di NTB. Bersilaturahmi dan bercengkrama bersama adalah bentuk dukungan kita untuk menjaga harmoni,” jelasnya.

    Acara ini juga dihadiri tokoh senior Lombok Tengah, Lalu Wiraatmaja atau Mamiq Ngoh, serta perwakilan dari Puri Pajang Mataram, Puri Pamotan, Puri Memeling, Puri Kelodan Karang Tangkeban Cakranegara, dan Aliansi Pemuda Hindu. Sebanyak 33 pengemong sanggar Pura Meru turut hadir, menjadikan momen ini sebagai simbol persatuan umat Hindu di NTB.

    Kegiatan diakhiri dengan makan bersama dalam tradisi megibung, mencerminkan kebersamaan dan kehangatan antar peserta. Dengan acara ini, diharapkan umat Hindu di NTB semakin kompak dalam menjaga harmoni dan mendukung Pilkada damai demi masa depan yang lebih baik. (nang)

  • Senja di Ujung Langkah

    Senja di Ujung Langkah

    Lelaki tua tertegun memandangi langit-langit kantor

    Pandangannya kosong

    Rambutnya tipis memutih, seputih langit-langit yang dipandanginya…

     

    Buku tipis di tangannya dibolak-balik, tanpa dibaca…

    Ia sudah tahu isi tulisannya…

    Saldo yang tak seberapa…

     

    Waktu seolah berhenti,

    Derit kursi kayu yang tua seperti napasnya,

    Beriringan dengan denting jam di dinding,

    Menghitung detik yang terasa begitu panjang.

     

    Dulu, suara langkahnya memenuhi lorong ini,

    Penuh tawa, penuh semangat,

    Kini hanya bunyi sepatu lusuh,

    Beradu dengan ubin dingin yang sunyi.

     

    Kenangan menyeruak dari lembar-lembar itu,

    Bukan angka yang ia lihat,

    Tapi wajah-wajah tamu yang datang dan pergi,

    Sapaan ramah, cerita yang terjalin…

    Dan ketiadaan mereka kini.

     

    “Sudah selesai?” tanya suara muda dari sudut meja,

    Lelaki tua hanya mengangguk pelan,

    Menyodorkan buku itu dengan tangan gemetar,

    Seperti menyerahkan sisa hidup yang ia punya.

     

    Ia berdiri, perlahan,

    Bahu yang dulu tegap kini melengkung,

    Langkahnya membawa pergi bukan hanya tubuh,

    Tapi cerita yang mungkin tak akan kembali.

     

    Di luar kantor, angin sore menyapu wajahnya,

    Ia mendongak, menatap langit yang berubah jingga,

    Hatinya bergumam pelan,

    “Ah, setidaknya aku masih punya senja…” (ai)

    Ilustrasi: bing.com

  • Proses Rehabilitasi Masjid Islamic Center NTB, Persiapan Sambut Kegiatan Besar 

    Proses Rehabilitasi Masjid Islamic Center NTB, Persiapan Sambut Kegiatan Besar 

    Masjid Hubbul Wathan Islamic Center, ikon kebanggaan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), saat ini tengah menjalani proses rehabilitasi menyeluruh.

    Langkah ini dilakukan untuk memastikan masjid dalam kondisi terbaik menyambut rangkaian kegiatan besar, termasuk perayaan Hari Ulang Tahun ke-66 NTB dan ITE Begawe Fest 2024.

    Proses rehabilitasi meliputi berbagai aspek, mulai dari perbaikan infrastruktur fisik hingga peningkatan fasilitas pendukung. Beberapa bagian yang menjadi fokus utama adalah pengecatan ulang bangunan, perbaikan lantai, penggantian karpet masjid, serta peremajaan sistem pencahayaan dan tata suara. Tujuannya adalah menciptakan kenyamanan maksimal bagi jamaah dan pengunjung.

    Selain itu, area sekitar masjid, seperti halaman dan taman, juga tak luput dari perhatian. Penataan ulang dilakukan untuk mempercantik lanskap, sekaligus memperbaiki jalur akses agar lebih ramah bagi pengunjung, termasuk penyandang disabilitas.

    Rehabilitasi Masjid Islamic Center diharapkan tidak hanya meningkatkan fungsi masjid sebagai tempat ibadah, tetapi juga memperkuat perannya sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan budaya di NTB. Dengan pembaruan ini, masjid akan siap menyambut ribuan jamaah dan tamu dari berbagai daerah selama acara besar mendatang. (red)

    Keterangan Foto:

    Para pekerja melakukan pengecatan menara masjid Hubbul Wathan Islamic Center. (foto: abdus syukur)