Lima miliar, katanya cuma angka,
angka kecil dalam pesta demokrasi olahraga.
Katanya bukan membeli suara,
mungkin hanya “sedekah” agar pilihan lebih terarah.
Atlet berlari mengejar prestasi,
pelatih berjibaku membangun generasi.
Sementara di ruang yang jauh lebih sunyi,
kursi ketua dihitung dengan kalkulator dan kalkulasi.
Lima miliar—sungguh angka yang indah,
cukup untuk membangun banyak sarana olahraga.
Tapi kalau habis untuk sebuah kursi semata,
mungkin yang sedang dipertandingkan bukan olahraga, melainkan harga.
Katanya semua demi kemajuan KONI,
demi atlet, demi prestasi, demi NTB tercinta.
Ah, sungguh mulia sekali!
Hanya saja, mengapa kemuliaan itu terdengar seperti transaksi?
Tak perlu bicara soal jual beli suara,
karena semua tentu punya bahasa yang lebih halus.
Bukan “membeli”, mungkin “menghargai”.
Bukan “transaksi”, mungkin “silaturahmi”.
Dan jika benar lima miliar hanya rumor belaka,
biarlah waktu yang menjadi hakimnya.
Sebab dalam dunia olahraga,
yang mahal seharusnya prestasi—
bukan kursi ketuanya. (*)




