Ranggagata Bersiap Menyambut UAS, Ketika Sebuah Kampung Menata Diri

ADA sebuah peristiwa yang sedang dipersiapkan di Desa Ranggagata. Bukan sekadar sebuah acara, melainkan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan manusia dengan nasihat, keramaian dengan ketenangan, dan langkah kaki jamaah dengan sebuah harapan akan pulangnya hati kepada kebaikan.

Sabtu, 12 September 2026, Ustaz Abdul Somad dijadwalkan hadir mengisi Tablig Akbar yang diinisiasi Forum Silaturahmi Keluarga Ranggagata (FSKR).

Menjelang hari itu, panitia tidak hanya sibuk menghitung berapa banyak jamaah yang akan datang. Mereka juga harus memastikan ke mana manusia harus melangkah, di mana kendaraan harus berhenti, di mana jamaah menunaikan wudhu, di mana toilet harus tersedia, dan bagaimana sebuah kerumunan besar tetap menjadi sebuah pertemuan yang tertib dan manusiawi.

Agenda pemantapan kedatangan UAS pun digelar. Panggung dakwah menjadi salah satu pembahasan utama. Begitu pula tempat parkir VIP, kantong parkir jamaah, fasilitas umum, toilet, tempat wudhu, hingga pengaturan arus lalu lintas.

Beberapa akses keluar-masuk Desa Ranggagata bahkan direncanakan ditutup sementara selama Tablig Akbar berlangsung.

Bukan untuk membatasi manusia, tetapi justru untuk menjaga agar manusia yang datang dalam jumlah besar dapat bertemu dengan aman, nyaman dan tertib.

Ketua Panitia Tablig Akbar FSKR, Abdul Hamid, menjelaskan bahwa panitia sebelumnya telah melakukan pertemuan dengan tim UAS wilayah NTB. Pertemuan berlangsung di Masjid Al Ittihad Ranggagata.

Di sana dibicarakan berbagai hal teknis, mulai dari akses kedatangan UAS, tata letak panggung dakwah hingga sejumlah kebutuhan teknis lainnya.

Namun bagi panitia, ada satu hal yang lebih penting daripada sekadar panggung yang berdiri megah atau pengeras suara yang terdengar sampai kejauhan. Kepastian waktu.

“Namun yang saya tekankan atau minta dengan sangat kepada tim agar jadwal kedatangan UAS tidak berubah, 12 September 2026,” tegas Ketua Forum FSKR, H Maskur, SPd.

Kalimat itu sederhana. Tetapi di baliknya ada kesungguhan. Sebab sebuah acara besar bukan hanya dibangun oleh bambu, besi, tenda dan pengeras suara. Ia dibangun oleh kepercayaan. Ketika masyarakat sudah menyiapkan langkah, panitia sudah menyusun jadwal, aparat sudah mengatur pengamanan, dan jamaah sudah menata waktu untuk hadir, maka kepastian menjadi bagian dari penghormatan.

Rapat pemantapan tersebut juga dihadiri unsur keamanan dan takmir Masjid Al Ittihad Ranggagata.

Pembicaraan tidak berhenti pada bagaimana UAS datang dan berdakwah. Lebih jauh, bagaimana ribuan jamaah yang kelak berkumpul dapat merasa aman dan nyaman.

Sebab dalam sebuah majelis ilmu, ketertiban bukan lawan dari kekhusyukan. Justru ketertiban adalah salah satu jalan menuju kekhusyukan.

Parkir yang tertata adalah bentuk penghormatan kepada jamaah. Jalan yang diatur adalah bentuk kepedulian kepada masyarakat. Toilet dan tempat wudhu yang tersedia adalah bentuk pelayanan. Pengamanan yang baik adalah cara sederhana mengatakan kepada setiap orang yang datang. “Anda kami tunggu dan Anda kami jaga.”

Abdul Hamid berharap seluruh elemen masyarakat ikut mengambil bagian dalam menyukseskan Tablig Akbar tersebut.

“Kita bertekad tablig akbar UAS di Desa Ranggagata berjalan lancar. Untuk itu kami harap dukungan penuh dari pemerintah desa dan warga masyarakat secara keseluruhan,” ujarnya.

Pada akhirnya, Tablig Akbar bukan semata-mata tentang siapa yang berdiri di atas panggung. Bukan pula tentang seberapa besar panggung dibangun. Seberapa banyak kendaraan yang memenuhi halaman, atau seberapa panjang jalan yang harus ditutup sementara. Yang jauh lebih penting adalah apa yang terjadi setelah manusia pulang dari majelis itu.

Apakah hati menjadi lebih lembut? Apakah hubungan sesama warga menjadi lebih erat? Apakah yang datang membawa pulang kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri, melainkan juga tentang menjaga sesama?

Maka Ranggagata kini sedang menyiapkan bukan hanya sebuah panggung dakwah. Ranggagata sedang menyiapkan sebuah ruang perjumpaan. Tempat manusia datang membawa kegelisahan, lalu pulang membawa harapan. Tempat ribuan kaki mungkin berdesakan, tetapi semoga hati justru menemukan kelapangan.

Dan ketika suara UAS nanti mengalun dari panggung, mudah-mudahan yang bergerak bukan hanya telinga untuk mendengar, tetapi juga hati untuk berubah.

Sebab dakwah yang paling indah bukanlah yang selesai ketika mikrofon dimatikan. Dakwah yang paling indah adalah yang terus hidup setelah jamaah meninggalkan tempat pengajian. (red)

Ketengan Foto: Tim UAS wilayah NTB mengadakan pertemuan dengan panitia Tablig Akbar FSKR, di Masjid Jamiq Al Ittihad Ranggagata, Kamis, 7 Agustus 2026. Foto: fskr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *