Ekonomi NTB Tumbuh 7,41 Persen, Tertinggi Kedua Nasional Meski Tak Lagi Bertumpu pada Tambang

MATARAM l (LE.ID)– Kinerja ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi NTB pada Triwulan II 2026 tumbuh 7,41 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/y-on-y).

Capaian tersebut menempatkan NTB sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di Indonesia setelah Maluku Utara yang mencatat pertumbuhan sebesar 15,35 persen. Angka itu juga berada jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.

Kepala BPS NTB, Wahyudin, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah kini semakin berkualitas karena tidak lagi bertumpu pada sektor pertambangan semata. Menurutnya, berbagai sektor ekonomi riil mulai mengambil peran sebagai penggerak utama perekonomian daerah.

Perubahan struktur tersebut terjadi setelah berakhirnya kebijakan relaksasi ekspor konsentrat tembaga PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) yang sebelumnya menjadi salah satu faktor utama melonjaknya pertumbuhan ekonomi NTB.

“Struktur pertumbuhan NTB justru semakin sehat karena sektor-sektor ekonomi riil tetap tumbuh positif dan menjadi penopang utama perekonomian daerah,” ujar Wahyudin saat menyampaikan Berita Resmi Statistik (BRS) di Kantor BPS NTB, Mataram, Rabu (5/8/2026).

Selain mencatat pertumbuhan tahunan yang tinggi, ekonomi NTB juga meningkat 0,72 persen dibandingkan Triwulan I 2026 atau secara quarter to quarter (q-to-q). Sementara itu, secara kumulatif Semester I 2026, ekonomi NTB tumbuh 10,42 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Dari sisi lapangan usaha, sektor pertambangan dan penggalian masih menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi secara tahunan dengan kenaikan 30,57 persen. Berikutnya disusul industri pengolahan yang tumbuh 7,45 persen, pengadaan air dan pengelolaan sampah 6,52 persen, jasa keuangan 5,69 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum 4,86 persen.

Sementara berdasarkan perbandingan antartriwulan, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum menjadi yang tumbuh paling tinggi dengan kenaikan 11,42 persen. Disusul jasa lainnya 8,90 persen, transportasi dan pergudangan 6,22 persen, administrasi pemerintahan 5,87 persen, serta real estat 2,41 persen. “Pertumbuhan terjadi pada seluruh 17 lapangan usaha,” kata Wahyudin.

BPS juga mencatat sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung perekonomian NTB dengan kontribusi 21,93 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Posisi berikutnya ditempati sektor pertambangan dan penggalian sebesar 20,02 persen, perdagangan besar dan eceran 13,94 persen, serta konstruksi 8,51 persen.

Pada Triwulan II 2026, nilai PDRB NTB atas dasar harga berlaku mencapai Rp53,91 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan tahun 2010 sebesar Rp29,89 triliun.

Secara kumulatif Semester I 2026, seluruh lapangan usaha juga membukukan pertumbuhan positif. Sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 31,18 persen, industri pengolahan 29,67 persen, jasa keuangan 9,56 persen, penyediaan akomodasi dan makan minum 7,61 persen, perdagangan 7,04 persen, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan 6,27 persen.

Meski demikian, BPS mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Di antaranya adalah memperluas penciptaan lapangan kerja yang berkualitas serta memastikan hasil pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata hingga ke wilayah perdesaan.

“Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga momentum tersebut agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif, berkelanjutan, dan mampu menghadirkan kesejahteraan yang lebih merata bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Barat,” tutup Wahyudin. (red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *