Kaesang Pangarep Disambut Tokoh Lintas Agama di NTB, Lombok Jadi Potret Harmoni Keberagaman

MATARAM (LE)– Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia, Kaesang Pangarep, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (2/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, Kaesang menggelar pertemuan hangat bersama para tokoh lintas agama sebagai upaya memperkuat semangat toleransi dan kerukunan di daerah yang dikenal sebagai “Pulau Seribu Masjid”.

Pertemuan yang berlangsung di kediaman Guru Mangku Gde Wenten ini dihadiri oleh perwakilan dari berbagai majelis agama, mulai dari Islam, Hindu, Kristen, Katolik hingga Buddha. Suasana penuh keakraban dan dialog terbuka menjadi ciri utama dalam kegiatan tersebut.

Dalam kesempatan itu, Kaesang menegaskan pentingnya peran tokoh agama sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas sosial dan mempererat persatuan di tengah keberagaman.

“Lombok adalah potret indah bagaimana keberagaman bisa berjalan beriringan. Kami datang untuk belajar dan memastikan bahwa suara dari para tokoh agama tetap menjadi kompas dalam merawat persatuan kita,” ujar Kaesang.

Selain agenda diskusi, kegiatan juga diisi dengan ramah tamah yang berlangsung santai namun penuh makna. Para tokoh agama menyambut baik kehadiran Kaesang yang dinilai membawa energi baru dalam dunia politik, khususnya dalam membangun komunikasi yang lebih santun dan inklusif.

Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian agenda Kaesang ke sejumlah daerah di Indonesia guna menyerap aspirasi masyarakat secara langsung, khususnya dari tokoh-tokoh kunci di daerah, demi mendorong pembangunan nasional yang merata.

Sementara itu, Guru Mangku Gde Wenten menyampaikan apresiasi atas kehadiran Kaesang di tengah-tengah para tokoh lintas agama di NTB. Menurutnya, sosok Kaesang mencerminkan generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi untuk mendengar dan memahami berbagai perspektif.

“Kehadiran Mas Kaesang membawa energi muda yang segar. Kami melihat beliau bukan hanya sebagai pimpinan partai, tetapi juga representasi generasi baru yang mau mendengarkan. Di NTB, kami menjunjung tinggi konsep *Tat Twam Asi*—aku adalah kamu, kamu adalah aku,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa pertemuan atau *simakrama* ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang memperkaya kehidupan berbangsa.

“Simakrama hari ini adalah bukti bahwa perbedaan bukan sekat, melainkan warna yang memperindah tenun kebangsaan kita. Kita bicara tentang kerukunan dan bagaimana menjaga ‘taksu’ atau jiwa toleransi warisan leluhur,” lanjutnya.

Di akhir penyampaiannya, Gde Wenten berpesan agar semangat politik yang dibawa Kaesang tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan keberagaman.

“Politik adalah alat untuk menyejahterakan rakyat dan menjaga harmoni. Jangan lelah merangkul semua golongan, karena Indonesia adalah rumah besar kita bersama,” tutupnya. (nang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *