Ada nasihat orang tua yang ketika disampaikan terdengar begitu sederhana. Bahkan kadang membuat kita tersenyum karena cara menyampaikannya terasa lucu. Tetapi anehnya, setelah orang tua itu tiada, kalimat-kalimat sederhana tersebut justru menjadi semakin berharga.
Begitulah yang saya rasakan terhadap dua pesan almarhum Emiq (Ayah, Red) Idul.
Dua pesan itu sebenarnya tidak panjang. Tidak pula disampaikan dengan bahasa yang rumit. Namun, sampai hari ini masih tersimpan kuat dalam ingatan saya. Pertama, jangan belanja di malam hari. Kedua, jangan makan terlalu banyak di malam hari karena tenaga hanya dibutuhkan untuk membetulkan selimut.
Dulu, mungkin saya belum sepenuhnya memahami apa yang ingin disampaikan Emiq. Saya hanya mendengarkan, terkadang tersenyum, bahkan mungkin menganggapnya sebagai kebiasaan orang tua memberi nasihat kepada anak.
Tetapi waktu ternyata adalah guru yang sangat baik. Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa di balik kalimat sederhana itu ada pelajaran tentang kehidupan. Tentang bagaimana mengendalikan diri, menghargai uang, menjaga kesehatan, dan memahami bahwa hidup tidak harus dijalani secara berlebihan.
“Jangan Belanja di Malam Hari”
Emiq Idul pernah mengatakan kepada saya, “Jangan belanja di malam hari. Uangmu seakan menangis.” Kalimat itu sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam. Kalau dipikir-pikir, mengapa malam dikaitkan dengan kegiatan belanja?
Mungkin Emiq melihat bahwa malam adalah waktu ketika manusia mulai lelah setelah menjalani berbagai aktivitas sepanjang hari. Pada saat tubuh lelah, keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebagai bentuk hiburan sering kali menjadi lebih besar.
Kita melihat sesuatu yang menarik di toko, pusat perbelanjaan atau sekarang melalui layar telepon. Lalu muncul keinginan membeli. “Ah, tidak mahal.” “Sekali-sekali.” “Besok belum tentu ada.” “Kayaknya saya butuh.”
Kalimat-kalimat seperti itu sering menjadi pembenaran sebelum akhirnya uang berpindah dari dompet atau rekening. Padahal, belum tentu barang tersebut benar-benar kita butuhkan.
Nasihat Emiq mengajarkan satu hal penting. Jangan mengambil keputusan ketika dorongan sesaat sedang kuat. Menunda pembelian sampai pagi bukan berarti kita pelit. Bukan pula berarti kita tidak boleh menikmati hasil kerja. Justru menunda memberi kesempatan kepada pikiran untuk bertanya kembali. Apakah barang ini benar-benar diperlukan? Kalau pagi hari kita masih merasa membutuhkannya, belilah. Tetapi kalau keinginan itu hilang setelah tidur, mungkin memang sejak awal kita hanya sedang mengikuti dorongan sesaat.
Dalam kehidupan sekarang, pesan Emiq terasa semakin relevan. Dulu orang harus keluar rumah untuk berbelanja. Sekarang cukup membuka telepon. Berbagai barang muncul di depan mata. Ada diskon, potongan harga, gratis ongkos kirim, promosi waktu terbatas, dan berbagai strategi pemasaran yang dirancang agar kita segera membeli.
Kita hidup dalam zaman ketika keinginan dapat berubah menjadi transaksi hanya dalam beberapa detik. Karena itu, kemampuan menahan diri menjadi semakin penting.
Emiq mungkin tidak pernah berbicara tentang literasi keuangan dengan istilah akademis. Tetapi sesungguhnya, nasihatnya mengandung prinsip dasar pengelolaan keuangan. Bedakan kebutuhan dan keinginan. Uang yang kita miliki bukan hanya untuk hari ini. Ada kebutuhan keluarga. Ada pendidikan anak. Ada kesehatan. Ada masa depan. Ada keadaan darurat yang tidak pernah kita tahu kapan datang. Karena itu, setiap rupiah sebaiknya memiliki tujuan.
Mungkin itulah makna “uangmu seakan menangis” yang kini saya pahami. Uang tidak benar-benar bisa menangis. Tetapi kita bisa membuat uang “menangis” ketika menghabiskannya tanpa pertimbangan, lalu menyesal ketika datang kebutuhan yang jauh lebih penting.
“Jangan Makan Banyak-Banyak di Malam Hari”
Pesan kedua Emiq tidak kalah sederhana.
“Jangan makan banyak-banyak di malam hari. Tenaga hanya dibutuhkan untuk membetulkan selimut.”
Kalimat itu selalu membuat saya tersenyum. Ada kelucuan di dalamnya. Tetapi di balik kelucuan tersebut, terdapat pesan yang sangat masuk akal. Malam adalah waktu untuk beristirahat. Tubuh yang telah bekerja sejak pagi membutuhkan kesempatan untuk memulihkan diri. Karena itu, makan terlalu banyak menjelang tidur bukan kebiasaan yang baik untuk dipelihara.
Nasihat Emiq sebenarnya mengajarkan tentang kesederhanaan. Makanlah secukupnya. Jangan karena makanan tersedia, lalu kita merasa harus menghabiskannya sebanyak-banyaknya. Jangan pula menjadikan malam sebagai waktu untuk melampiaskan rasa lapar setelah seharian sibuk.
Kita sering mendengar ungkapan bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak baik. Prinsip itu berlaku dalam banyak hal, termasuk makanan. Makan adalah kebutuhan. Tetapi makan berlebihan dapat berubah menjadi kebiasaan yang tidak sehat. Di sinilah nasihat sederhana Emiq menjadi pelajaran hidup.
Beliau tidak menggunakan istilah “pola hidup sehat”, “kalori”, atau “metabolisme”. Beliau hanya mengatakan bahwa malam adalah waktu untuk tidur dan tenaga kita “hanya dibutuhkan untuk membetulkan selimut”. Sederhana, lucu, tetapi mudah diingat. Dan mungkin itulah kekuatan nasihat orang tua.
Mereka tidak selalu mengajarkan sesuatu dengan teori. Mereka mengajarkannya melalui pengalaman, kebiasaan dan kalimat-kalimat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dua Nasihat, Satu Pelajaran. Jika direnungkan lebih dalam, kedua pesan Emiq sebenarnya memiliki benang merah yang sama. Belajarlah mengendalikan diri. Jangan terlalu mudah mengeluarkan uang hanya karena ingin. Jangan terlalu banyak makan hanya karena tersedia makanan. Keduanya berbicara tentang kemampuan manusia untuk mengatakan “cukup.”
Kata “cukup” mungkin sederhana, tetapi sangat sulit dipraktikkan. Dalam urusan uang, kita sering merasa belum cukup. Sudah memiliki satu barang, ingin barang berikutnya. Sudah memiliki rumah, ingin memperbesar rumah. Sudah memiliki kendaraan, ingin mengganti kendaraan. Sudah memiliki penghasilan, ingin penghasilan lebih besar.
Begitu juga dengan makanan. Sudah kenyang, tetapi masih ingin mencicipi. Sudah cukup, tetapi karena makanan masih tersedia, kita kembali mengambil.
Padahal, kehidupan yang baik tidak selalu ditentukan oleh seberapa banyak yang kita miliki. Sering kali justru ditentukan oleh kemampuan kita menikmati apa yang sudah ada tanpa terus-menerus merasa kekurangan.
Emiq Idul mungkin tidak pernah menyusun teori tentang filosofi kehidupan. Tetapi dua nasihat itu mengajarkan filosofi yang sangat sederhana.
Hidup dengan ukuran.
Tahu kapan membeli.
Tahu kapan berhenti.
Tahu kapan menikmati.
Dan tahu kapan mengatakan cukup.
Nasihat yang Baru Terasa Setelah Kehilangan
Ada sesuatu yang baru saya sadari setelah Emiq Idul tidak lagi berada di sisi kami. Nasihat orang tua sering kali baru terasa nilainya ketika suara mereka sudah tidak terdengar.
Saat mereka masih hidup, kita mungkin mendengar nasihat itu berkali-kali. Kadang kita menjawab seadanya. Kadang kita hanya tersenyum. Kadang bahkan kita merasa sudah cukup dewasa untuk menentukan semuanya sendiri.
Tetapi ketika mereka pergi, kita tiba-tiba berharap bisa mendengar satu nasihat lagi.
Satu kalimat lagi.
Satu teguran lagi.
Satu gurauan lagi.
Sayangnya, waktu tidak bisa diputar kembali.
Yang tersisa adalah kenangan.
Dan kenangan itu sering kali hadir melalui hal-hal kecil: suara, kebiasaan, cara berbicara, tempat duduk, makanan kesukaan, atau kalimat yang pernah mereka ucapkan.
Bagi saya, dua kalimat Emiq tentang belanja dan makan malam menjadi salah satu bentuk kehadiran beliau yang masih saya bawa sampai sekarang. Setiap kali hendak membeli sesuatu di malam hari, saya teringat. Setiap kali makan terlalu banyak menjelang tidur, saya teringat. Bukan karena takut dimarahi. Tetapi karena saya merasa seperti sedang mendengar kembali suara Emiq.
“Uangmu seakan menangis.”
Kemudian kalimat berikutnya. “Tenaga hanya dibutuhkan untuk membetulkan selimut.” Saya tersenyum setiap kali mengingatnya.
Di balik rasa kehilangan, ada kehangatan. Warisan Tidak Selalu Berupa Harta. Semakin saya menjalani kehidupan, semakin saya menyadari bahwa warisan terbesar orang tua tidak selalu berupa rumah, tanah, uang atau benda-benda yang dapat dihitung nilainya.
Ada warisan yang tidak tercatat dalam sertifikat.
Ada warisan yang tidak bisa dimasukkan ke rekening.
Yaitu nilai-nilai kehidupan.
Nasihat.
Keteladanan.
Cara memperlakukan orang lain.
Cara menghadapi kesulitan.
Cara mengelola rezeki.
Dan cara menjalani hidup dengan sederhana. Itulah warisan yang ditinggalkan Emiq Idul kepada saya.
Dua nasihat sederhana tentang malam ternyata membawa pelajaran yang jauh lebih luas. Belanja mengajarkan tentang mengendalikan keinginan. Makan mengajarkan tentang mengendalikan diri.
Keduanya mengajarkan bahwa manusia tidak harus selalu memenuhi semua yang diinginkan.
Ada saatnya kita berkata tidak. Bukan karena tidak mampu. Tetapi karena kita tahu apa yang lebih penting.
Untuk Emiq Idul
Kini Emiq Idul telah tiada.
Tidak ada lagi sosok yang bisa saya datangi untuk sekadar bertanya atau mendengar nasihatnya secara langsung.
Tetapi saya percaya, seseorang tidak benar-benar hilang selama nilai-nilai baik yang ditinggalkannya masih hidup dalam diri orang-orang yang pernah disentuhnya.
Nasihat Emiq masih hidup. Ia hadir ketika saya berpikir ulang sebelum membeli sesuatu. Ia hadir ketika saya mengingat untuk tidak makan berlebihan menjelang tidur. Ia hadir dalam setiap kesempatan ketika saya mencoba mengajarkan kepada keluarga bahwa hidup tidak harus berlebihan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, kalimat-kalimat sederhana itu akan saya ceritakan pula kepada anak-anak. Saya akan mengatakan kepada mereka bahwa dahulu ada seorang lelaki bernama Emiq Idul yang pernah mengajarkan kepada saya dua hal sederhana.
Jangan mudah menghabiskan uang hanya karena keinginan.
Dan jangan membebani tubuh dengan sesuatu yang tidak diperlukan.
Nasihat itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi kehidupan memang sering begitu.
Pelajaran terbesar terkadang datang dari kalimat yang paling sederhana.
Emiq Idul telah pergi, tetapi pesan-pesannya tetap tinggal. Menjadi pengingat. Menjadi bekal. Menjadi bagian dari perjalanan hidup. Dan setiap kali saya teringat dua pesan itu, saya tidak hanya mengingat nasihatnya. Saya juga mengingat sosok yang mengucapkannya.
Seorang Emiq yang mungkin tidak pernah tahu bahwa kalimat sederhananya akan terus hidup dalam ingatan anaknya.
Emiq Idul telah pergi dari dunia ini, tetapi suaranya masih terdengar dalam hati. Dan mungkin itulah salah satu bentuk cinta orang tua yang paling abadi. Mereka pergi, tetapi pelajarannya tetap abadi. (abdus syukur/ai)











