Category: Catatan HAS

  • Perjalanan Panjang Abdus Syukur di Dunia Jurnalistik

    Perjalanan Panjang Abdus Syukur di Dunia Jurnalistik

    ABDUS SYUKUR, seorang tokoh jurnalistik yang namanya telah mengakar kuat di Nusa Tenggara Barat, memulai perjalanan kariernya sejak 1989.

    Ia mengawali langkah di dunia pers dengan menulis di Koran Nusa Tenggara, media milik Kodam Udayana. Di dalamnya Syukur mendapatkan bekal awal dalam dunia jurnalistik, mulai dari teknik penulisan hingga etika jurnalistik.

    Koran ini menjadi “sekolah” pertama yang membentuk fondasi keterampilannya dalam menyampaikan berita.

    Tak lama kemudian, Syukur merambah ke tingkat nasional dengan bergabung sebagai koresponden di Suara Karya, salah satu surat kabar terkemuka di Jakarta.

    Berada di lingkungan media yang memiliki reputasi tinggi, ia memperdalam pemahamannya tentang jurnalistik profesional. Pengalaman menjadi koresponden Suara Karya bukan hanya melatihnya dalam menyajikan berita yang akurat dan berkualitas, tetapi juga memperluas jejaringnya di dunia pers, baik di level lokal maupun nasional.

    Namun, kecintaannya pada daerah membawa Syukur kembali ke Mataram. Di kota ini, ia bergabung dengan Suara Nusa, sebuah media lokal yang kemudian berubah menjadi Lombok Post, bagian dari grup besar Jawa Pos.

    Di bawah bendera Lombok Post, Syukur menunjukkan kapasitasnya sebagai wilayah perairan. Kariernya terus menanjak hingga mencapai puncak pada tahun 2012, ketika ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi.

    Dalam posisi ini, ia tidak hanya mengelola redaksi, tetapi juga membentuk narasi besar yang membawa pengaruh signifikan terhadap perkembangan jurnalistik di Nusa Tenggara Barat.

    Sejak tahun 2013, Syukur membuka lembaran baru dalam karirnya. Ia diamanahkan Pemimpin menjadi Umum Radar Mandalika, sebuah media lokal yang tumbuh menjadi salah satu corong informasi penting di NTB.

    Dalam peran barunya, ia hanya fokus pada pengelolaan media, tetapi juga memastikan bahwa Radar Mandalika menjadi media yang berintegritas dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

    Selain mengelola media, Syukur juga aktif dalam pengembangan kualitas jurnalistik di Indonesia. Pada tahun 2023, ia ditunjuk sebagai Penguji Uji Kompetensi Wartawan (UKW) dan diangkat menjadi Ahli Pers di Dewan Pers.

    Dua jabatan strategis yang menunjukkan pengakuan atas keahliannya di dunia jurnalistik. Sebagai penguji UKW, pria yang disapa pak haji itu berkomitmen mencetak wartawan yang profesional dan berintegritas, sementara mengundurkan diri sebagai Ahli Pers di Dewan Pers menempatkannya pada posisi penting untuk menjaga dan mengawal standar jurnalistik di Indonesia.

    Kini, dengan pengalaman lebih dari tiga dekade, Abdus Syukur menjadi sosok yang “disegani” di dunia jurnalistik. Ia tidak hanya dikenal sebagai jurnalis senior, tetapi juga sebagai mentor bagi generasi muda. Perjalanannya membuktikan bahwa dengan dedikasi, kerja keras, dan komitmen terhadap nilai-nilai profesionalisme, seseorang dapat mencapai puncak karir sekaligus memberikan kontribusi besar bagi masyarakat.

    Abdus Syukur adalah cerminan wartawan sejati—sosok yang tidak hanya menulis sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari sejarah itu sendiri. (*)

  • Giliran Itu Pasti Datang…..

    Giliran Itu Pasti Datang…..

    Waktu terus berjalan, seiring detik yang membawa satu per satu kawan wartawan pergi ke negeri keabadian. Tak terhitung sudah berapa kali duka mengetuk pintu, membawa kabar pilu bahwa seorang teman telah mendahului. Terakhir, Rabu lalu, CEO Gaung, Ridha Rahzen, berpulang meninggalkan jejak inspirasi dan kenangan.

    Bagi kita yang masih tinggal, kehilangan mereka adalah pengingat. Setiap nama yang kembali ke pangkuan Sang Khalik membawa pesan bahwa waktu kita juga terbatas. Mereka yang telah pergi bukan sekadar nama yang hilang dari daftar hadir, tetapi jiwa-jiwa yang mengisi ruang cerita dalam perjalanan hidup kita.

    Ridha adalah sosok yang tidak hanya berkarya, tetapi mengajarkan kita tentang dedikasi. Melalui tangan dan pikirannya, ia merajut kisah yang kini abadi di hati mereka yang pernah mengenalnya. Kepergiannya adalah pukulan, namun juga panggilan bagi kita yang masih berdiri di panggung kehidupan ini.

    Apa yang kita tunggu? Giliran itu pasti datang. Kita tak tahu kapan, di mana, atau bagaimana. Tetapi sementara waktu itu belum tiba, kita punya pilihan: terus menorehkan makna, menyuarakan kebenaran, dan menebar manfaat.

    Seperti Ridha, mungkin suatu saat nama kita pun akan disebut dalam barisan kenangan. Yang tersisa hanyalah apa yang telah kita tinggalkan. Akankah itu menjadi inspirasi bagi mereka yang kita cintai?

    Dalam duka ini, mari kita renungkan. Satu per satu dari kita akan meninggalkan panggung ini. Hingga saat itu tiba, mari isi peran kita sebaik mungkin. Karena pada akhirnya, hidup adalah tentang apa yang kita tinggalkan, bukan sekadar apa yang kita miliki.

    Selamat jalan, Ridha Rahzen. Sampai jumpa di persinggahan abadi. Kami, yang masih menunggu giliran, akan terus belajar dari jejakmu yang baik. (red)

    Keterangan Foto: Ridha Rahzen (alm). Foto: istimewa.

  • Mengalahkan AI, Memanfaatkan Keunggulan Manusia

    Mengalahkan AI, Memanfaatkan Keunggulan Manusia

    BAGAIMANA manusia dapat mengalahkan kecerdasan buatan (AI)? Jawabannya bergantung pada konteks. Apakah dalam permainan, pekerjaan, atau argumen? Di sini, manusia memiliki keunggulan yang tidak dimiliki AI: kreativitas, intuisi, dan pemahaman konteks.

    ————-

    AI dirancang untuk bekerja berdasarkan pola tertentu. Dengan memahami strategi AI, manusia dapat menemukan kelemahannya. Pendekatan yang tidak konvensional atau tak terduga juga dapat membingungkan AI, karena AI bekerja dengan data historis yang terprediksi. Latihan dan pengalaman manusia, ditambah kreativitas, sering kali menjadi kunci kemenangan.

    Manusia memiliki kelebihan dalam hal kreativitas dan empati—hal-hal yang sulit ditiru AI. Untuk tetap unggul, tingkatkan keterampilan unik seperti komunikasi interpersonal, pemikiran strategis, atau seni. Lebih dari itu, kolaborasi dengan AI sebagai alat pendukung akan membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

    AI mungkin mahir menggunakan logika berbasis data, tetapi sering gagal menangkap nuansa moral dan nilai-nilai manusia. Dengan menggunakan logika yang etis serta pertanyaan kompleks yang melibatkan ambiguitas, manusia dapat memperlihatkan keunggulan dalam diskusi.

    Mengenali kelemahan dalam sistem berbasis AI adalah langkah strategis untuk “mengalahkan” teknologi tersebut. Pendekatan kreatif yang tidak terduga juga sering menghasilkan solusi yang melampaui batasan AI.

    Manusia memiliki kemampuan unik untuk menciptakan ide baru, mengambil keputusan intuitif, dan memahami konteks secara mendalam—termasuk aspek emosional, sosial, atau moral yang sulit dimengerti AI. Itulah keunggulan yang membuat manusia tetap relevan di tengah perkembangan AI.

    Di era digital, nilai-nilai kemanusiaan menjadi fondasi untuk memastikan teknologi digunakan dengan cara yang memprioritaskan martabat, hak, dan kesejahteraan manusia. Berikut adalah beberapa nilai penting yang perlu dijaga.

    Meskipun teknologi mempermudah komunikasi, hubungan emosional sering kali terabaikan. Dengan empati, manusia dapat menjaga rasa kepedulian terhadap sesama, baik di dunia nyata maupun digital, seperti menghindari cyberbullying dan memberikan dukungan moral di media sosial.

    Dalam menghadapi penyebaran informasi palsu (hoaks), integritas menjadi nilai penting untuk memastikan setiap informasi yang disebarkan benar dan dapat dipercaya.

    Teknologi sering melibatkan data pribadi. Menghormati privasi dan melindungi hak individu adalah kewajiban moral setiap pengguna teknologi.

    Teknologi harus diakses secara adil oleh semua kalangan, tanpa diskriminasi. Program pendidikan digital bagi komunitas kurang mampu adalah contoh nyata penerapan nilai ini.

    Setiap tindakan online memiliki konsekuensi. Menggunakan teknologi dengan bijak dan etis adalah bentuk tanggung jawab yang harus dijunjung tinggi.

    Teknologi seharusnya dikembangkan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan semata-mata demi keuntungan finansial.

    Teknologi membuka peluang kerja sama global untuk memecahkan tantangan besar, seperti perubahan iklim atau pandemi.

    Namun, tantangan seperti dehumanisasi, ketidakadilan digital, dan penyalahgunaan teknologi tetap perlu diatasi untuk memastikan nilai-nilai kemanusiaan tetap terjaga.

    Nilai-nilai kemanusiaan di era digital adalah landasan utama untuk menciptakan masyarakat yang lebih manusiawi, inklusif, dan bermakna. Dengan mengutamakan empati, kejujuran, dan tanggung jawab, manusia dapat memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik tanpa kehilangan esensi kemanusiaan. (ai/*)

    Ilustrasi Foto: bing.com

  • Serpihan Pemikiran Atraktif Prabowo Subianto Soal Pemberantasan Korupsi

    Serpihan Pemikiran Atraktif Prabowo Subianto Soal Pemberantasan Korupsi

    Oleh: Theo Yusuf Ms, Ketua Bidang Hukum dan Perundang-undangan SMSI

    “DAN saudara-saudara mengetahui bahwa Kemerdekaan daripada bangsa Indonesia itu sekedar hanyalah saya katakan berulang-ulang satu jembatan untuk menuju dan akhirnya mencapai cita-cita bangsa Indonesia yang pokok yaitu, suatu masyarakat yang adil dan makmur.” (Amanat Presiden Soekarno 28 Agustus 1959)

    Dalam pandangan Presiden Prabowo Subianto, untuk menjadikan masyarakat adil dan makmur, tidak perlu menjiplak ajaran dari “barat” atau negara-negara Amerika yang mengku sebagai kampiun demokrasi. Tetapi rakyat Indonesia dapat makmur dan bahagia jika kekayaan alam dan isinya itu tidak hanya dikuasai oleh segelintir orang, atau hanya orang elite yang menguasai tanah dan seisinya dan seolah dia yang dapat menentukan arah kebijakan negara ini. Tidak, kata Prabowo.

    Kesenjangan hidup kian menganga. “1 persen menguasai 36 peren dari kekayaan negara. Angka rasio gini Indonesa hanya 0,36 persen. Artinya, hanya 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 36 persen kekayaan sumber daya alam bangsa Indonesia yakni Rp16.8 triliun dari Rp44 triliun.” (Prabowo,2023:85).

    Dengan demimian, sistem pemerintahan apapun yang akan diterapkan, apakah sistem demokrasi, sistem negara hukum atau gabungan demokrasi dan hukum di Indonesia, tidak mungkin dapat menghantarkan bangsa Indonesia hidup sejahtera (baldatul thoyibatun) seperti yang disampaikan Presiden Soekarno dan Bung Hatta dalam peringatan hari Kemerdekaan RI tahun 1959.

    Oleh karenanya, Prabowo Subianto dalam mengawali pemerirntahannya, akan tegas kepada konglomerat yang tidak berpihak kepada rakyat, tegas dengan pejabat yang korup dan para pelayan publik yang menyengsarakan rakyat.

    Terhadap sistem pencegahaan korupsi di Indonesia, Prabowo memberikan gagasan yang lebih atraktif, bagus dan simpel untuk dapat dilaksanakan oleh aparatus penegak hukum termasuk akan memberikan manfaat banyak kepada negara dan rakyat. Itulah sebab mengapa Ketua Media Siber Indonesia (SMSI) Firdaus, terus memberikan dukungan kepada Presiden Prabowo.

    Jurus apakah konsep Prabowo dalam melakukan pemberantasan korupsi? Pertanyaan sederhana tetapi butuh kajian mendalam. Presiden Prabowo Subianto menawarkan kesempatan bertobat kepada para koruptor. Syaratnya, pelaku koruptor mengembalikan seluruh hasil korupsi kepada negara.

    Hal itu disampaikan Prabowo saat memberikan kuiah umum dengan para mahasiswa Indonesia di Gedung Al-Azhar Conference Center, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pertengahan Desember 2024.

    “Saya dalam rangka memberi kesempatan, memberi kesempatan untuk tobat. Hei para koruptor atau yang pernah merasa mencuri dari rakyat, kalau kau kembalikan yang kau curi, ya mungkin kita maafkan, tetapi, kembalikan, dong. Nanti kita beri kesempatan cara mengembalikannya,” kata Prabowo (ant,2024).

    Dalam pidato yang berlangsung lebih dari 30 menit, Presiden juga memberikan peringatan tegas kepada seluruh aparatur negara. “Hai kalian-kalian yang sudah terima fasilitas dari bangsa negara. Bayarlah kewajibanmu, asal kau bayar kewajibanmu, taat kepada hukum, sudah kita menghadap masa depan.”

    Ia akan mengambil langkah tegas jika koruptor yang sudah diperingatkan tetap bandel, tidak patuh kepada hukum. “Tetapi kalau kau bandel terus, apa boleh buat, kita akan menegakkan hukum,” tambahnya. Prabowo juga menekankan pentingnya kesetiaan aparat hanya kepada bangsa, negara, dan rakyat Indonesia.

    Yang Penting Negara Untung

    Untuk menjawab dan mengurai pemikiran Prabowo Subianto, saya akan menggunakan kerangka teori Richard A Posner (the economics of justice 1981). Posner adalah orang AS yang lahir pada 11 Januari 1933, yang awalnya sebagai dosen di Univ. Chiacago AS dan pernah diangkat sebagai hakim di Pengandilan banding tahun 1983-an.

    Dalam teori yang banyak dikutip oleh sarjana hukum di Indonesia, dia dikenal sebagai bapak hukum ekonomi. Artinya, pelaksanaan hukum juga dapat dikompensasi terhadap nilai ekonomi. Ia memberikan contoh seorang pencuri (sebut koruptor) mencuri kalung untuk istrinya.

     

    Nilai kalung sebut saja Rp100 juta, tetapi setelah koruptor itu ditangkap, biaya proses penangkapan, sidang hingga pemberian penjagaan dan pemberian fasilitas kesehatan dan makan bergizi bagi mereka lebih dari Rp200 juta.

    Artinya negara mengalami dua kerugian sekaligus, yakni negara kehilangan uangnya dan keluarga pencuri itu menjadi miskin karena ayah sebagai kepala keluarga tak dapat hidup layak mencari uang untuk keluarganya. (A. Posner,1981:63).

    Contoh Richard Posner juga dapat dibalik menjadi, harga emas dari Rp100 juta akan melonjak menjadi Rp250 juta. Proses pemidanaannya Rp100 dan denda atas pencurian emas itu Rp50juta. Dengan demikian, jika dendanya separuh dari nilai yang dicuri saja, negara masih untung.

    Contoh yang paling anyar adalah kasus Harvey Moeis pidana korupsi di kasus timah yang diputus hanya 6,5 tahun, sementara kerugian negara ditaksir lebih dari Rp275 triliun, maka kerugian negara akan tambah besar jika aset terdakwa tidak dapat disita oleh negara.

    Harvey yang didakwa dengan UU Korupsi No 20 Tahun 2001 Jo. UU No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Korupsi, cukup berada di sel hanya 1/3 dari putusannya. Artinya, kurang dari 4 tahun yang bersangkutan sudah kembali ke masyarakat dan akan kembali sebagai seorang pengusaha.

    Dalam pandangan Prabowo, hukuman seperti itu dinilai kurang adil dan tepat, pertama sumber filosofinya dari barat, dimana pada masa silam penjajah maunya menyiksa dan memenjarakan, tanpa mengkalkulasi kerugian uang negara dan kerugian rakyat atas proses hukuamnnya.

     

    Oleh karenanya, perlu ada aturan baru yakni orang atau koruptor dipaksa untuk mengembalikan uangnya, jika tidak mau mengembalikan maka assetnya perlu dirampas untuk negara.

    Inilah pemikiran progresif Prabowo dalam usaha memberntas korupsi dengan tetap menjadikan negara dan rakyat tetap untung atau tidak buntung.

    Mengapa begitu? di mata Prabowo, pembuatan hukum dan pasal di masa silam masih dipenuhi dengan kebencian terhadap manusia, bukan kepada perbuatannya. Sebut saja pembuatan Pasal 12 Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2001 mengatur tentang hukuman bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara yang terbukti menerima gratifikasi: Sanksinya, Pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun, dan Pidana denda paling sedikit Rp200 juta dan paling banyak Rp1 miliar. Pasal itu dirujuk dalam Pasal 419 KUHP warisan kolonial.

    Sekaratnya Demokrasi

    Gagasan Prabowo tentang pemberantasan korupsi tidak harus berbanding lurus dengan sistem yang menganut demokrasi, di mana “doe process of law” adalah salah satu adagium, semua koruptor harus diproses sesuai dengn hukum yang berlaku dengan mempertimbangkan hak asasi manusia.

    Sekilas pernyataan itu enak didengar, namun dalam pelaksanaanya, seolah menjadi pil pahit bagi rakyat miskin. Mengapa? Dalam sistem negara demokrasi ternyata ada juga demokrasi yang “sekarat”. Demokrasi sekarat atau matinya demokrasi, sebagaimana diulas oleh Steven Levitsky dan Daneil Ziblatt, “how Democrasies Die” atau matinya Demokrasi (Steven 2021).

     

    Mereka menyebutkan matinya demokrasi antara lain ketika rakyat yang berkuasa, tetapi sesunguhnya kekuasaan itu dikendalikan oleh pemilik modal, pemilik media massa, para begundal hukum dan pimpinan partai.

    Ziblatt mencontohkan, Fuji Mori, anak keturunan Jepang menjadi Presiden di Peru tahun 1990-an mengalahkan Vargas Lioasa, sastrawan Peru yang mendapatkan dukungan partai, konglomerat dan media massa setempat. Meskipun Fuji Mori sebagai presiden terpilih secara demokratis, tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Dalam tahun pertamanya, tak satupun UU dapat dihasilkan.

     

    Bahkan kebijakan apun yang disampaikan, dimentahkan oleh Mahkamah Agung karena telah dikuasai oleh para begundal hukum. Fuji Mori pernah mengatakan, “saya memerintah Peru sendirian di balik komputer (Steven,2021:56).

    Akhirnya tak lama kemudian Fuji Mori dijatuhkan oleh lawan politiknya dengan cara seolah demokratis, tetapi sesunguhnya semua aturan dapat dimanipulasi oleh para taipan, tokoh partai dan begundal hukum. Sistem demokrasi seperti itu sama halnya sekaratnya demokrasi.

    Oleh karena itu, dalam penegakan demokrasi dan hukum, Prabowo Subianto tampaknya tidak ingin seperti Fuji Mori. Ia boleh dijauhi dari para taipan, konglomerat dan media massa, tetapi rakyat dan TNI tetap kuat di belakangnya, maka akan banyak kebijakan untuk disampikan demi kepentingan rakyat dan negara. Seperti yang disebutkan, demokrasi kita bisa dikuasai pemodal.

    Menurut saya, demokrasi saat ini ada di persimpangan jalan. Apakah demokrasi kita akan di-hijack,akan disandera oleh para kurawa? “Saya sudah keliling kesemua kabupaten di Indonesia. Di tahun 2014-2019 saya berkesempatan keliling ke ratusan kota dan kabupaten.

    Di mana-mana rakyat mengaku sudah tak tahan lagi, terlalu banyak korupsi di negeri ini, banyak proyek dikorupsi, banyak orang disogok, banyak pemimpin mau dibeli dan mau disogok. Akhirnya tidak ada keadilan ekonomi.” (Prabowo,2022:89).

    Keprihatian rakyat yang dirasakan Prabowo itu bagian penting dari kerangka teori yang menggagas pemberantasan korupsi di Indonesia yang kian akut. Dengan menyuruh orang bertobat, mengembalikan hasil korupsinya, jika tak ingin harta bendanya dirampas untuk negara dan rakyat.

    Saya tahu ada orang yang tidak suka dengan konsepnya. “Saudara-saudara sekalian, yang nyinyir sama saya, silakan kau duduk saja di sebelah situ, ini belum apa-apa. Nanti, 6 bulan lagi, baru saudara boleh nilai pemerintah Prabowo Subianto,” katanya, (YouTube Sekpres, 2024)

  • Dampak Ekonomi Pariwisata, Manfaat, Tantangan, dan Cara Mengelola Potensinya

    Dampak Ekonomi Pariwisata, Manfaat, Tantangan, dan Cara Mengelola Potensinya

    PARIWISATA telah lama menjadi salah satu sektor yang memainkan peran penting dalam perekonomian global. Sektor ini memberikan berbagai manfaat ekonomi yang signifikan, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan pendapatan negara.

    Di sisi lain, pariwisata juga membawa tantangan yang tidak bisa diabaikan, yang seringkali berdampak pada stabilitas ekonomi, sosial, dan lingkungan.
    Mari kita simak lebih dalam mengenai kedua sisi dampak ekonomi pariwisata, baik positif maupun negatif, serta bagaimana sektor ini memengaruhi ekonomi daerah dan negara.

    Pariwisata dapat menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Hotel, restoran, biro perjalanan, hingga sektor transportasi adalah beberapa industri yang bergantung pada pariwisata untuk menyerap tenaga kerja. Sebagai contoh, pekerjaan sebagai pemandu wisata, staf hotel, hingga sopir taksi menjadi sangat penting di daerah yang mengandalkan wisatawan sebagai sumber utama pendapatan.

    Selain itu, sektor ini juga menciptakan peluang bagi usaha lokal untuk berkembang, mengingat wisatawan sering menghabiskan uang untuk akomodasi, makanan, serta aktivitas hiburan. Uang yang dibelanjakan oleh para wisatawan ini memperkuat ekonomi lokal dan mendukung pertumbuhan berbagai bisnis kecil yang sebelumnya mungkin tidak mendapatkan perhatian.

    Pendapatan yang dihasilkan dari sektor ini juga dapat digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur seperti jalan, bandara, hingga fasilitas publik, yang akan menguntungkan masyarakat setempat dalam jangka panjang.

    Tidak hanya itu, pariwisata juga memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan negara. Ketika banyak wisatawan asing berkunjung, negara dapat memperoleh pendapatan dalam bentuk devisa. Uang yang masuk ini memperkuat stabilitas ekonomi dan membantu mengurangi defisit neraca perdagangan.

    Selain itu, pembangunan infrastruktur yang didorong oleh sektor pariwisata, seperti peningkatan aksesibilitas ke destinasi wisata, berpotensi menggerakkan pembangunan lebih lanjut di berbagai sektor lainnya, termasuk pendidikan dan kesehatan. Infrastruktur yang lebih baik, pada akhirnya, dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah yang sebelumnya kurang berkembang.

    Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, sektor pariwisata juga memiliki dampak negatif yang perlu diperhatikan. Salah satu tantangan utama adalah ketergantungan ekonomi pada sektor ini.

    Beberapa daerah atau negara yang sangat bergantung pada pendapatan pariwisata dapat sangat rentan terhadap fluktuasi jumlah wisatawan. Sebagai contoh, selama pandemi global, banyak destinasi wisata yang mengalami penurunan jumlah pengunjung drastis, yang berdampak pada penurunan pendapatan daerah dan nasional.

    Jika ketergantungan pada sektor ini terlalu besar, maka perekonomian lokal bisa terpuruk saat terjadi krisis atau bencana alam yang mengurangi jumlah wisatawan.

    Dampak lain yang sering terlihat adalah inflasi dan kenaikan biaya hidup. Di daerah yang sangat bergantung pada pariwisata, harga barang dan jasa seringkali naik seiring dengan meningkatnya permintaan dari wisatawan.

    Hal ini bisa membuat kehidupan menjadi lebih mahal bagi penduduk lokal, terutama mereka yang bergantung pada penghasilan tetap dan tidak terlibat langsung dalam industri pariwisata. Peningkatan biaya hidup ini sering kali membuat masyarakat lokal kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka.

    Selain itu, keuntungan dari pariwisata sering kali tidak terdistribusi secara merata. Dalam banyak kasus, sebagian besar pendapatan dari sektor ini mengalir ke perusahaan besar atau investor asing, sementara bisnis kecil dan masyarakat lokal tidak merasakan manfaat yang signifikan. Ketimpangan ekonomi ini bisa semakin memperburuk kesenjangan antara mereka yang mendapat manfaat langsung dari sektor pariwisata dan mereka yang tidak.

    Hal ini dapat menambah ketidakadilan sosial yang sudah ada sebelumnya di banyak daerah wisata.

    Tidak hanya itu, sektor pariwisata musiman juga membawa dampak yang kurang menguntungkan.

    Destinasi wisata yang bergantung pada musim tertentu sering kali menghadapi masalah ketidakstabilan pekerjaan. Ketika musim wisata berakhir, banyak pekerja yang terpaksa kehilangan pekerjaan, dan hal ini membuat pendapatan mereka tidak stabil. Ketergantungan pada musim wisata yang fluktuatif membuat pekerja sulit merencanakan masa depan mereka dengan pasti.

    Meskipun demikian, sektor pariwisata masih menawarkan banyak potensi ekonomi yang besar. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan para pelaku industri untuk mengembangkan strategi yang dapat meminimalkan dampak negatif, seperti ketergantungan ekonomi yang berlebihan, ketimpangan pendapatan, serta inflasi, sambil memaksimalkan manfaat pariwisata.

    Dengan perencanaan yang baik dan pengelolaan yang hati-hati, pariwisata bisa menjadi sektor yang memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi ekonomi lokal dan negara.

    Sebagai kesimpulan, pariwisata memang memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat stabilitas finansial.

    Namun, dampak negatifnya yang meliputi ketergantungan ekonomi, ketimpangan, dan ketidakstabilan sosial harus diperhatikan dan dikelola dengan bijak agar sektor ini bisa memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat lokal dan dunia.

    Dengan pendekatan yang tepat, pariwisata dapat menjadi alat yang sangat efektif untuk meningkatkan kualitas hidup, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. (ai/has)

    Ilustrasi Foto: bing.com

  • Kolaborasi Wartawan dan Polisi dalam Kerangka Hukum dan Etika  

    Kolaborasi Wartawan dan Polisi dalam Kerangka Hukum dan Etika  

    Insiden pelarangan dua wartawan dari TVOne dan RTV oleh penyidik Polda NTB, Selasa lalu, menjadi sorotan. Kedua wartawan tersebut sedang meliput perkembangan kasus rudapaksa dengan tersangka Agus ketika mereka diminta meninggalkan lokasi oleh penyidik.

    Peristiwa ini menimbulkan diskusi tentang batasan hak wartawan dalam peliputan dan kewenangan polisi dalam menjaga integritas penyidikan.

    Dalam kasus seperti ini, ada dua perspektif utama yang harus diperhatikan: hak wartawan dalam meliput dan kewajiban polisi untuk menjaga proses hukum tetap berjalan lancar. Wartawan memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada publik.

    Namun, proses hukum yang sedang berlangsung memiliki aturan ketat, termasuk kerahasiaan informasi yang bisa merusak jalannya penyidikan jika tidak dijaga dengan baik.

    Polisi berhak melindungi area penyidikan, terutama jika ada potensi terganggunya proses pengumpulan bukti atau interogasi tersangka.

    Dalam konteks ini, penyidik mungkin beralasan bahwa kehadiran wartawan di lokasi dapat mengganggu konsentrasi atau menciptakan tekanan yang tidak perlu. Namun, dari sudut pandang wartawan, pelarangan ini dianggap sebagai bentuk pembatasan terhadap hak mereka untuk memberikan informasi kepada publik.

    Untuk menghindari insiden serupa, penting bagi kedua belah pihak untuk kembali ke prinsip dasar kerja sama mereka. Wartawan harus memahami bahwa beberapa informasi dalam penyidikan bersifat rahasia dan belum dapat dipublikasikan.

    Di sisi lain, polisi juga perlu menyadari bahwa keterbukaan informasi kepada media adalah bagian dari pelayanan publik yang dapat meningkatkan transparansi. Koordinasi melalui Divisi Humas Kepolisian bisa menjadi jalan tengah agar wartawan tetap mendapatkan informasi resmi tanpa mengganggu proses hukum.

    Kasus ini seharusnya menjadi pengingat bahwa hubungan wartawan dan polisi harus dibangun di atas dasar saling pengertian dan menghormati tugas masing-masing.

    Kolaborasi yang baik tidak hanya membantu menjaga hak masyarakat untuk tahu, tetapi juga memastikan proses hukum berjalan tanpa hambatan. Wartawan dan polisi sebenarnya memiliki tujuan yang sama: melayani kepentingan masyarakat dengan integritas. (has/*)

    Ilustrasi gambar: bing.com

  • Cara Bijak Menghadapi Wartawan: Memilah Profesional dari Abal-Abal

    Cara Bijak Menghadapi Wartawan: Memilah Profesional dari Abal-Abal

    Di era digital seperti sekarang, hampir semua orang bisa mengklaim dirinya sebagai wartawan. Tidak heran, beberapa pejabat publik seperti kepala desa, kepala dinas, atau kepala sekolah terkadang merasa ragu bahkan trauma saat berhadapan dengan wartawan. Pengalaman buruk dengan oknum yang mengatasnamakan profesi mulia ini sering menjadi penyebabnya.

    Namun, apakah Anda tahu cara membedakan wartawan yang benar-benar profesional dari yang abal-abal? Artikel ini akan membantu Anda memahami perbedaannya sekaligus memberi panduan praktis untuk menghadapi situasi seperti ini.

     

    Siapa Wartawan Profesional?

    Wartawan profesional adalah mereka yang bekerja sesuai aturan dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Menurut Abdus Syukur, seorang Ahli Pers dari Dewan Pers, ada beberapa ciri utama wartawan profesional. Mereka memiliki identitas yang jelas. Seperti kartu pers resmi dengan nama, foto, nomor identitas, serta nama media. Wartawan profesional juga bernaung di media kredibel yang memiliki reputasi baik, baik itu koran, majalah, TV, radio, atau portal berita online yang terverifikasi.

    Selain itu, wartawan profesional sudah lulus uji kompetensi yang diakui Dewan Pers. Mereka selalu mematuhi kode etik jurnalistik, dengan sikap sopan, penghormatan terhadap narasumber, serta menyampaikan berita yang faktual.

    Mengapa Wartawan Abal-Abal Berbahaya?

    Sebaliknya, wartawan abal-abal sering kali menunjukkan ciri-ciri yang meragukan. Mereka tidak memiliki kartu pers atau menggunakan kartu pers palsu. Nama media yang mereka klaim sering kali tidak dikenal atau bahkan tidak memiliki alamat serta kontak redaksi yang jelas.

    Selain itu, wartawan abal-abal biasanya tidak terdaftar di Dewan Pers dan tidak memiliki rekam jejak yang dapat diverifikasi. Sikap mereka pun cenderung kasar, memaksa, atau bahkan mengintimidasi demi keuntungan pribadi, yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai profesionalisme.

    Langkah Bijak Menghadapi Wartawan Abal-Abal

    Jika Anda merasa berhadapan dengan wartawan abal-abal, penting untuk tetap tenang dan mengambil langkah yang bijak. Periksa identitas mereka, seperti kartu pers, dan cek keasliannya melalui situs Dewan Pers. Jika perlu, hubungi langsung redaksi media yang disebutkan untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

    Jika Anda masih merasa ragu, tolak dengan sopan dan jangan memberikan informasi apa pun. Dalam situasi yang lebih serius, seperti ancaman atau tindakan di luar batas, segera laporkan kejadian tersebut kepada Dewan Pers atau pihak berwajib.

    Hak dan Tanggung Jawab Pers

    Pers memiliki hak dan kewajiban yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Sebagai masyarakat, Anda berhak memberikan koreksi terhadap berita yang dianggap merugikan. Anda juga berhak meminta klarifikasi atau perbaikan atas berita yang tidak akurat melalui hak jawab.

    Di sisi lain, wartawan memiliki hak untuk melindungi narasumber yang identitasnya dirahasiakan, demi menjaga kepercayaan dan integritas informasi yang diberikan.

    Tips Aman Menghadapi Wartawan

    Menghadapi wartawan, baik profesional maupun abal-abal, membutuhkan ketenangan dan kewaspadaan. Selalu siapkan diri Anda dengan memahami isu yang mungkin ditanyakan, serta jawaban yang relevan. Jika Anda tidak mengetahui jawabannya, jangan ragu untuk mengatakan bahwa Anda akan mencari informasi lebih lanjut.

    Jaga sikap tetap profesional. Hindari memberikan pernyataan emosional atau data yang belum pasti. Dengan sikap yang tenang dan percaya diri, Anda dapat menghadapi situasi dengan baik tanpa menimbulkan kesalahpahaman.

    Membedakan wartawan profesional dari yang abal-abal adalah langkah penting untuk menjaga kenyamanan dan keamanan Anda saat berinteraksi dengan mereka. Wartawan profesional adalah mitra masyarakat dalam menyampaikan informasi yang mendidik, sementara wartawan abal-abal hanya mencoreng profesi jurnalistik.

    Dengan memahami perbedaan ini, Anda bisa bersikap lebih bijak dan cerdas saat menghadapi mereka. Mari bersama mendukung pers yang kredibel dan bertanggung jawab!  (red)

  • Berburu Hiu Paus di Teluk Saleh, Petualangan yang Tak Terlupakan

    Berburu Hiu Paus di Teluk Saleh, Petualangan yang Tak Terlupakan

    “Sebelum pukul 02.00 Wita dini hari, bapak-ibu sudah harus bangun. Kita akan berangkat ke Teluk Saleh pukul 02.00 Wita, teng. Kalau tidak, kita akan ditinggal Hiu Paus yang kita mau lihat di Teluk Saleh, Sumbawa,” kata Nurhaedin.

    Sesuai instruksi dan takut ketinggalan bus, pukul 01.30 kami berdua (saya dan anggota BPPD Badrun), sudah terjaga. Berjalan dari kamar menuju titik kumpul di restoran hotel lalu menuju tempat parkir mini bus, Hiace.

    Menunggu sebentar di restoran, sepi, gelap. Kami minta petugas restoran menyalakan lampu. Namun sampai waktu berangkat tiba pukul 02.00, belum juga ada tanda tanda kehidupan.

    Sebanyak 31 peserta gathering promosi pariwisata Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) dan anggota asosiasi pariwisata di Sumbawa, sepertinya belum semuanya siuman.

    Sampai pukul 02.18 baru sebagian kecil peserta yang nongol. Hiace  belum penuh.

    Ketua BPPD Sahlan M Saleh dan Nurhaedin, Direktur Eksekutif yang ditunjuk sebagai koordinator datang inspeksi ke tiga Hiace, menanyakan dua peserta gathering belum ada.

    Pukul 02.23, kami belum juga berangkat dari hotel Seaside Hotel Samawa ke Teluk Saleh yang memakan waktu tidak sampai satu jam lebih. Beberapa peserta belum “bangun”.

    Sekretaris BPPD juga ikut sibuk menghubungi wakil ketua BPPD Dewantoro yang juga ditanyakan belum ada di bus.

    Hampir setengah jam lebih melakukan “pemanasan” belum juga berangkat.

    Jam menunjukkan pukul 02.30. hiace masih sabar menunggu penumpangnya yang ngaret.

    Pukul 02.35, Ketua BPPD Sahlan muncul lagi inspeksi. “Ada Agus di sini,” tanya dia lagi yang dijawab salah penumpang, tidak ada.

    “Hilang sudah ikan hiu paus kalau kita belum juga berangkat,” kata Badrun.

    Molor 40 menit. Pukul 02.40 Wita, Hiace  beranjak dari parkiran hotel Samawa Seaside.

    Setelah penumpang dinyatakan klop, pukul 02.41 mini bus baru bergeser dari tempat parkir melaju ke Teluk Saleh yang menurut Mbah Google berjarak 27,3 km dari hotel.

    Hiace  bernomor 03 yang kami tumpangi bersama Sekretaris BPPD HL Fatwir Uzali dan dua anggota Badrun dan Mustamar, terbirit birit ke tempat tujuan.

    Jalannya sudah cukup mulus namun berkelok kelok dan harus ekstra hati hati. Sesekali hewan ternak, kuda dan sapi liar main ke tengah jalan.

    Pukul 4.29, kami tiba Labuhan Jambu, Teluk Saleh. Suasana belum ramai. Hanya ada tiga bus mini kami dan dua mobil yang parkir. Beberapa di antaranya duduk duduk di Berugak. “Baru tiga vila yang terbangun,” kata Kadis Pariwisata Najamuddin Malady, yang melintas di depan hotel di Labuan Jambu.

    Pukul 04.55, rombongan menaiki 3 boat yang mengantar ke Teluk Saleh, rumah hiu paus itu. Tiap boat berisi 15 orang. Namun kami bersembilan saja. Ada Kabid Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Dispar NTB, Chandra Aprinova dan stafnya Yunan. Sekretaris BPPD, tiga anggota BPPD, saya dan Badrun, Mustamar.

    Perjalanan ke “sarang” hiu paus kata nakhoda akan menempuh waktu sekiar 1 jam lebih. “Insya Allah aman, gelombang laut kecil,” katanya menghibur.

    Boat diesel yang berisik menyusuri laut yang tenang. Untuk membuang waktu, sebagian dari sembilan penumpang bincang riang. Topiknya tak jauh jauh dari soal paket wisata. Sementara yang lain terlelap dan main hape walau sinyal tak normal. Pukul 06.00 Wita rombongan tiba di titik kumpul di hiu paus.

    Gunawan, salah satu pemandu wisatawan setempat menjelaskan  ada sekitar 60 titik Bagan di Teluk Saleh yang bisanya menjadi tempat bermain hiu paus. Tapi pagi ini baru 6 Bagan yang turun.

    Bagaimana cara mengundang si hiu paus agar mau mendekat?Gunawan yang sudah dua tahun jadi pemandu wisatawan ke obyek hiu paus menuturkan harus dipancing dengan ebi atau anak udang. “Pemilik Bagan menabur ebi ke laut dan bisanya cepat. Tapi tumben kali ini agak lama hiu paus muncul.

    Lalu pemilik bagan yang menabur umpan dapat apa? Gunawan menjelaskan kalau hiu pausnya muncul,  pemilik Bagan akan mendapat bayaran Rp 1.000.000 dari boat atau kapal. ”Kalau tidak muncul pemilik Bagan, tidak dapat apa apa,” katanya.

    Menyambut kedatangan si hiu paus, puluhan wisatawan spending time (menghabiskan waktu, Red) dengan berenang di sekitar bagan dan boat di sekitar bagan.

    Ketua BPPD Sahlan M Saleh dan Kabid Destinasi Dispar tampak ikut main air bersama bule bule  seger dengan pakaian minimnya. “Cantik ini bro,” celetuk salah satu yang ikut main air. Bule bule tampak riang menikmati air laut nan jernih.

    Masih menurut Gunawan, mulai Januari sampai September hiu paus rajin main ke Bagan. Namun entah mengapa sejak awal Oktober ini, jarang nongol lagi. “Belakangan ini saya selalu khawatir dengan kemunculan hiu paus yang tak menentu,” katanya.

    Kepala Dinas Pariwisata NTB Jamaluddin Maladi menilai wisata berburu whale shark (hiu paus) di Sumbawa membawa dampak positif bagi penduduk setempat. Seiring meningkatnya jumlah wisatawan yang tertarik dengan petualangan laut ini, banyak penduduk lokal yang mulai menyediakan layanan wisata, dari penyewaan perahu hingga penginapan ramah lingkungan yang berfokus pada pelestarian alam. “Memang belum lengkap,” kataya.

    Selain itu, pemerintah daerah setempat dan komunitas lokal juga bekerja sama untuk memastikan keberlanjutan wisata ini dengan menjaga populasi whale shark dan lingkungan perairan. Berbagai aturan diterapkan agar interaksi antara wisatawan dan hiu paus tetap dalam batas yang aman.  Seperti larangan menyentuh atau mengejar whale shark. “Tatakelolanya harus diatur,” katanya.

    Dengan perpaduan antara keindahan alam Sumbawa yang memukau dan pengalaman bertemu langsung dengan whale shark, destinasi ini pantas masuk dalam daftar perjalanan wajib bagi para pencinta laut.

    Mari berpetualang, dan rasakan sensasi mendebarkan bertemu dengan raksasa laut di Sumbawa. (abdus syukur)

    Keterangan Foto:

    Para wisatawan menunggu kedatangan hiu paus di Teluk Saleh. (has/lombokexpress.id)

  • NTB Menyambut Masa Depan Pariwisata Berkelanjutan

    NTB Menyambut Masa Depan Pariwisata Berkelanjutan

    HARI Pariwisata Dunia 2024 disambut dengan penuh antusias oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), sebagai momentum untuk merayakan pesatnya perkembangan industri pariwisata di wilayah ini.

    Pariwisata tidak hanya sebatas perjalanan untuk rekreasi, tetapi merupakan sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya, keindahan alam, dan kearifan lokal kepada masyarakat global. NTB juga mulai kesohor dengan tourism sportnya. Mulai 27-29 September akan digeber MotoGP yang menyedot perhatian dunia.

    NTB dengan lanskapnya yang luar biasa, dari pantai-pantai eksotis hingga gunung-gunung yang menantang, telah menjadi destinasi unggulan di Indonesia. Lombok dengan keindahan Pantai Kuta dan Gili Trawangan, serta Gunung Rinjani yang menakjubkan, terus menarik wisatawan dari berbagai belahan dunia. Di sisi lain, Sumbawa dan Bima menawarkan pesona tersendiri dengan tradisi budaya yang unik serta pemandangan alam yang masih sangat alami.

    Lebih dari sekedar keindahan alam, NTB juga menyuguhkan keanekaragaman budaya yang sarat dengan nilai-nilai lokal, seperti Festival Bau Nyale dan tradisi tenun songket yang khas. Semua ini menjadi bagian dari pengalaman berharga yang dapat dinikmati para wisatawan, menjadikan NTB sebagai salah satu destinasi wisata terbaik di Indonesia.

    BPPD NTB melihat pariwisata sebagai motor penggerak perekonomian lokal. Dengan semakin meningkatnya kunjungan wisatawan, sektor ini mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta mendukung keberlanjutan industri kreatif dan usaha kecil menengah (UKM) di daerah. Mulai dari sektor perhotelan, kuliner, hingga produk kerajinan tangan, semuanya ikut merasakan manfaat dari pertumbuhan pariwisata di NTB.

    Bahkan, konsep wisata halal yang digalakkan di Lombok telah sukses menarik wisatawan muslim dari berbagai negara. Menjadikan NTB sebagai destinasi wisata halal yang diakui dunia. Program ini memperkuat komitmen NTB dalam menyediakan fasilitas wisata yang ramah dan nyaman untuk semua kalangan.

    Komitmen untuk Pariwisata Berkelanjutan

    Dalam merayakan Hari Pariwisata Dunia 2024, BPPD NTB menegaskan pentingnya menjaga keindahan dan kelestarian alam serta warisan budaya sebagai bagian dari komitmen terhadap pariwisata berkelanjutan.

    Upaya untuk mempertahankan ekosistem laut, menjaga kebersihan pantai, hingga melindungi kawasan konservasi alam seperti Taman Nasional Gunung Rinjani menjadi prioritas. Program edukasi kepada masyarakat dan wisatawan juga terus digalakkan, agar semua pihak dapat turut serta dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

    Inovasi dan Kolaborasi untuk Masa Depan

    Melalui berbagai inovasi dan kolaborasi dengan pemerintah, pelaku pariwisata, serta masyarakat, BPPD NTB akan terus berupaya memajukan sektor pariwisata di wilayah ini.

    Pengembangan destinasi wisata baru, peningkatan kualitas pelayanan, hingga promosi wisata digital menjadi fokus utama. NTB siap bersaing di kancah global dengan mengedepankan pariwisata yang berkualitas, aman, dan berkelanjutan.

    BPPD NTB mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan potensi yang dimiliki demi masa depan pariwisata yang lebih cerah.

    Selamat Hari Pariwisata Dunia 2024, mari kita jadikan NTB sebagai destinasi impian bagi para wisatawan dan kebanggaan bagi Indonesia! (humas bppd ntb)

  • Restu Ibu: Kunci Sukses Mayor Jenderal TNI (Purn) Purwo Sudaryanto Menuju Pilkada Kalimantan Tengah

    Restu Ibu: Kunci Sukses Mayor Jenderal TNI (Purn) Purwo Sudaryanto Menuju Pilkada Kalimantan Tengah

    Mayor Jenderal TNI (Purn) Purwo Sudaryanto, calon wakil gubernur Kalimantan Tengah, menunjukkan dedikasi luar biasa kepada masyarakat dan keluarganya, terutama kepada ibunda tercinta.

    Dalam upaya menghormati dan menghargai jasa ibunda, Purwo Sudaryanto melakukan ritual mencuci, membasuh, dan membersihkan kaki ibundanya sebagai wujud bakti dan penghormatan yang tulus.

    Purwo Sudaryanto memperlakukan ibundanya bak seorang ratu, memastikan kenyamanan dan kesejahteraan ibundanya sebagai bentuk penghormatan mendalam.

    Dalam setiap kesempatan, Purwo selalu mendahulukan ibundanya, memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa batas. Ibunda selalu ditempatkan di posisi terhormat, layaknya seorang ratu yang dihormati dan disayangi oleh rakyatnya.

    Keberhasilan Purwo Sudaryanto dalam karier politiknya didasari pada restu dan ridho dari ibunda. Sebelum melangkah ke tahap berikutnya, Purwo selalu memohon restu dan ridho Allah SWT melalui doa ibundanya.

    Doa seorang ibu memiliki kekuatan luar biasa, menjadi penguat dan penuntun dalam setiap langkah hidupnya. Keikhlasan dan keridhaan ibunda menjadi landasan kuat bagi setiap keputusan dan langkah yang diambilnya.

    Purwo Sudaryanto meyakini bahwa kebahagiaan dan keberhasilan sejati dimulai dari rumah. Dengan menjaga keharmonisan dan kebahagiaan keluarganya, terutama dengan menghormati ibunda, ia yakin dapat membawa kebahagiaan yang sama kepada masyarakat luas.

    Sikapnya yang selalu menempatkan keluarga di prioritas utama mencerminkan kepemimpinan yang penuh kasih dan perhatian, nilai-nilai yang akan ia terapkan jika terpilih nanti.

    Komitmen Purwo Sudaryanto dalam berbakti kepada ibunda juga mencerminkan nilai-nilai luhur yang ia junjung tinggi. Nilai-nilai ini menjadi panduan dalam kehidupan pribadi dan pengabdiannya kepada masyarakat. Melalui tindakan-tindakan sederhana namun bermakna, ia mengajarkan kepada generasi muda tentang pentingnya menghormati dan memuliakan orang tua, serta menjadikan restu mereka sebagai landasan dalam meraih impian dan cita-cita.

    Dengan dedikasi dan penghormatan yang ia tunjukkan kepada ibundanya, Purwo Sudaryanto berharap dapat menjadi contoh teladan bagi masyarakat. Ia ingin menegaskan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari seberapa besar kita mampu membalas budi dan menghormati orang tua kita. Restu dan ridho mereka adalah berkah yang tak ternilai, menjadi cahaya penerang dalam setiap langkah kehidupan. (rls)