Category: Catatan HAS

  • Kisah Inspiratif Made Yuda Perdana, Piatu yang Diasuh Panti Asuhan Jadi Tentara 

    Kisah Inspiratif Made Yuda Perdana, Piatu yang Diasuh Panti Asuhan Jadi Tentara 

    PERJALANAN hidup Sersan Dua (Serda) I Made Yuda Perdana kelahiran Mataram 24 Mei 2002 sangat menginspirasi. Serda I Made Yuda Perdana anak panti Asuhan Darma Laksana Mataram. Dia berhasil menjadi anggota TNI-AD melalui seleksi Secaba jalur agama.

    Bapaknya pekerja bengkel yang berpenghasilan jauh dari kata cukup serta memiliki 6 orang saudara kandung. Ibunya meninggal sejak SD.

    Di Panti itulah dia bersama adik-adik dan kakak yang berasal dari berbagai pulau. Ada dari Maluku, Sulawesi, dan pulau Lombok. Di Panti dia dididik tentang agama, budi pekerti serta pelajaran untuk masuk sekolah ke jenjang berikutnya sampai dia tamat SMA dan menjadi seorang Tentara.

    Lahir di tengah keluarga miskin dan hidup di panti, tidak membuatnya berkecil hati.

    “Sejak kecil dia selalu bersemangat untuk menjadi anggota TNI-AD dengan rajin belajar, melatih jasmani setelah mengikuti kegiatan wajib di panti dan menjaga kesehatannya,” tutur Dewa wayan Parnaya pengasuh panti asuhan Darma Laksana Mataram.

    Hal yang sama dituturkan Ketua Panti  Asuhan Darma Laksana Ir. I Made selamet, M.M.,  pada Rabu 3 Mei 2023. Sebelum Yudha masuk ke panti  pihak yayasan sudah lama memantau keluarga Yudha yang masuk kategori sangat tidak mampu. Sewaktu kecil Yudha kadang sekolah kadang, kadang tidak. Disebabkan berebutan untuk menggunakan pakaian seragam sekolah dengan saudara saudaranya yang memang rata rata umurnya tidak terpaut jauh. Oleh pengasuh Yudha kecil terus dimotivasi agar tamat SD. Setelah tamat SD Yudha baru diambil oleh panti untuk menjadi anak panti dikarenakan aturan panti asuhan ini menerima anak anak Yatim, Piatu. Yatim piatu dan anak anak dari keluarga miskin setelah anak tersebut di usia tamat SD.

    Nilai Yudha dari SMP dan SMA sangat bagus. “Di sela sela kesibukan kegiatan panti, Yudha selalu melatih dirinya untuk mempersiapkan diri menjadi anggota TNI AD,” jelas I Made Selamet.

    Ini menjadi contoh bahwa anak dari keluarga tidak mampu serta dibesarkan di panti asuhan bisa menjadi tentara.  Asalkan ada tekad dan kemauan serta disiplin dari kecil pasti mampu mencapai cita citanya. “Tanpa uang sepeserpun hal ini dibuktikan oleh Yudha,” tutur I Made Selamet meneteskan air mata mengenang perjuangan anak asuhnya.

    Mengakhiri wawancaranya I Made Selamet mengucapkan terima kasih kepada Bapak KSAD, Bapak Pangdam IX/Udayana dan Bapak Danrem 162/WB yang telah memberi kesempatan, bimbingan dan arahan kepada anak asuhnya untuk menjadi TNI AD.

    Sebelumnya Danrem 162/WB Brigjen TNI Sudarwo Aris Nurcahyo, S.Sos., M.M menjelaskan Korem memberikan kesempatan bagi putra putri terbaik bangsa untuk menjadi Prajurit TNI AD. Terlebih terhadap anak yatim, piatu dan anak anak tidak mampu yang memiliki motivasi tinggi. “Kami memberikan prioritas, sesuai arahan dari Bapak KSAD, Pangdam IX/Udayana,” katanya.

    Karena untuk menjadi anggota TNI AD lanjut Danrem tidak dipungut biaya sepeserpun. Hal ini dibuktikan Sersan Dua I Made Yuda Perdana, yang sampai saat ini masih mengikuti Pendidikan Kejuruan Infanteri di Dodiklatpur Rindam IX/Udy Daerah Pulaki Buleleng Bali.

    “Untuk menyelesaikan Pendidikan Kejuruan Infanteri butuh waktu 16 minggu,” pungkas Brigjen Aris. (Penrem 162/WB)

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (26)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (26)

    Haji

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SESUBUH hari ini, hamba sudah tiga kali dipanggil “haji.” Pertama seketika hamba membuka pintu pagar rumah, mau berangkat sholat subuh ke mesjid, ada bebeberap tetangga yang kebetulan berjalan kaki, lewat depan rumah hamba, juga mau ke mesjid. Mereka menyapa hamba, “Pak Haji!”

    Hamba jawab,”Ya, assalamualaikum, pagi.” Lantas kami berangkat bersama-sama ke mesjid, meski saya agak di depan.

    Kedua, ketika hamba baru keluar dari dalam mesjid, setelah keluar sholat subuh di perkara mesjid mau mencari sandal, seorang jamaah yang berada dekat hamba menyapa saya,”Pak Haji Wina, apa kabar?”

    “Alhamdullilah, baik dan sehat,” jawab hamba.

    Terakhir, ketiga, pas hamba mau buka kunci pagar rumah, ada sepasang suami yang juga baru pulang sholat dari mesjid, dan berjalan pulang di belakang saya, suaminya menyapa,”Ayo dulan ya, Pak Haji!”

    “Iya ya,” jawab hamba sambil membuka kunci gembok pagar.

    Hamba diberi nikmat oleh Allah memperoleh kesempatan naik haji tahun 2002, atawa 21 tahun silam. Sejak itulah hamba sering dipanggil “Pak Haji” atau “Haji Wina.” Kadang-kadang cuma “Ji” saja.

    Pada awal-awal pulang naik haji, hamba sering tidak sadar jika ada orang memanggil “Pak Haji,” maksudnya diri hamba ini. Maklumlah sebelumnya tak terbiasa dipanggil dengan atribut “Haji.”

    Menariknya, pemakian dan penyebutan gelar haji hanya ada di Indonesia. Khas Indonesia. Tak ada di negara lain. Baik orang Timur Tengah maupun orang Barat tak ada tradisi penyebutan gelar haji, termasuk untuk mereka yang telah berkali-kali naik haji.

    Sudah lama penyebutan atau panggilan “Haji” kepada seseorang menjadi perkara. Kebetulan kini jelang beberapa bulan lagi waktu naik haji, kembali gaduh soal debat ini.

    Orang awam sekali pun, sebagian besar, sudah hafal, ada lima rukun islam : membaca dua kalimat syahadat, melaksanakan sholat, menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, membayar zakat, dan pergi haji, jika mampu.

    Secara sederhana kata haji dari bahasa Arab ‘hajj’ yang betarti pergi haji .

    Secara ringkas pula, ada beberapa teori mengapa dan sejak kapan gelar haji ini dipakai di Indonesia?

    Teori pertama, berkeyakinan, gelar haji sudah muncul dan disebut dalam kebudayaan pra-islam di kerajaan-kerajaan nusantara , dan atau pada era Hindu-Budha. Pada masa itu, telah dipakai istilah “Haji” atau “Aji “ yang berarti “Raja”.

    Dalam sejarah Nusantara pra-Islam, “Haji “ atau “Aji” juga merupakan gelar untuk penguasa. Gelar ini dianggap setara dengan raja, akan tetapi posisinya di bawah Maharaja.

    Pemakian gelar ini terutama ditemukan dalam pratasi-prastasi bahasa Melayu Kuno, Sunda, dan Jawa. Contohnya,

    legenda Jawa Aji Saka. Nama Aji Saka bermakna “Raja Permulaan”.

    Teori kedua, menerangkan gelar haji secara formal berasal dari pemerintah kolonial Belanda. Gelar itu diberikan kepada orang-orang yang baru pulang naik haji. Waktu itu pemerintah kokonial Belanda menduga orang-orang yang baru pulang naik hajilah yang menjadi pelopor nasionalisme perlawanan terhadap pemerintah penjajah Belanda.

    Jadi, untuk memudahkan pengawasan orang yang baru pulang haji, oleh penjajah disebutlah mereka Haji. Tak tanggung-tanggung , untuk itu, tahun 1916, penjajah mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji, yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar haji.

    Memang jika disimak, pada sekitar priode itu

    sejumlah tokoh Islam Indonesia selepas menunaikan ibadah haji mendirikan berbagai organisasi islam.

    Tercatat Samanhudi mendirikan Sarekat Dagang Islam usai ibadah haji pada 1905.

    Lantas ada KH Ahmad Dahlan, seusai pulang ibadah haji, mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Pada tahun yang sama Oemar Said Tjokroaminoto mendirikan Sarekat juga selepas kembali dari ibadah haji.

    Ada pula KH Hasyim Asy’ari usai ibadah haji mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926.

    Jadi, oleh pemerintah penjajah Belanda, gelar haji lebih merujuk kepada orang-orang yang telah naik haji dan patut diawasi lantaran semangat nasionalismenya.

    Teori ketita menjekaskan, dulu naik haji tidaklah sesederhana kiwari. Selain lama dan harus berpisah dengan keluarga, mereka juga seperti mempertaruhkan nyawa.

    Tak hanya berbulan -bulan, mereka sampai dua tiga tahun baru dapat kembali dari menunaikan ibadah haji. Mereka harus pula menembus gelombang ombak yang besar dan berbagai kesulitan lainnya, termasuk mengeluarkan dana yang besar.

    Banyak yang melaksanakan ibadah haji sambil belajar atau bekerja di rantau. Mereka juga berinteraksi dengan warga bangsa-bangsa lain yang kebetukan juga sedang menunaikan ibadah haji, secara intens disana.

    Kalau kemudian jika sakit dan meninggal saat melaksanakan rukun haji, beritanya waktu itu , sampai ke tanah masih simpang siur karena komunikasi masih sulit dan orang yang kembali dari haji juga lama. Tak heran, orang yang dulu naik haji, terkadang tidak pula lagi dan hilang begitu saja.

    Oleh lantaran itulah, sebelum naik haji biasanya keluarga yang mau naik haji, pada zaman dulu melaksanakan upacara selamatan. Mereka mendoakan agar segalanya berjalan lancar dan selamat.

    Maka secara sosiologis, masyarakat yang telah kembali dari menunaikan ibadah haji, diberikan penghormatan dan kedudukan yang tinggi. Mereka ditandai dengan panggilan dan sebutan “Haji.”

    Nah, tradisi ini masih terus berlangsung sampai sekarang. Orang yang sudah berhasil melaksnakan rukun islam kelima, naik haji, status sosialnya diletakan pada tempat yang tinggi. Terhormat. Manefistasinya, mereka ditandai dengan sebutan atawa panggilan “Haji.”

    Dari uraian ini dapat disimpulkan beberapa hal.

    Dari aspek keagamaan, ibadah haji merupakan rukun wajib islam kelima, bagi yang mampu melaksanakannya. Dari sudut ini, haji bukanlah gelar, karena memang tak ada gelar buat itu.

    Bagi kalangan ini, secara normatif, haji adalah pelaksanaan ibadah rukun islam kelima dan bukan gelar bagi seseorang. Tak ada ketentuan yang mengharuskan orang telah menunaikan ibadah haji, diberi gelar “Haji” atau dipanggil “Haji,” mamang.

    Apalagi pihak ini menegaskan, arti “haji” adalah orang yang menjadi tamu Allah ketika menuaikan haji. Jadi, setelah kembali ke tanah air, sudah bukan tamu Allah lagi, sehingga sebutan “Haji” tidak cocok dan tidak relevan sama sekali.

    Tak heran sebagian ulaman dan kaum intelektual keberatan dan menolak adanya panggilan atau sebutan “Haji” kepada seseorang.

    Sebaliknya dari aspek sosiologis, dari sudut pandang kebudayaan, penyebutan “Haji,” sudah berjalan lama. Penyebutan gelar “Haji” yang sempat merujuk kepada kaum nasionalisme radikal, telah berubah menjadi sebuah penghargaaan. Sebutan atau panggilan “Haji “ merupakan suatu kehormatan.

    Secara sosial dahulu begitu sulitnya menunaikan ibadah haji. Penuh perjuangan dan bahaya serta memerlukan ketabahan luar biasa. Pada saat ini pun naik haji bagi sebagia rakyat sahaya atau para kawula tetap bukan perkara mudah. Selain membutuhkan biaya yang tak sedikit dalam ukuran masyarakat kebanyakan Indoensia, juga masih harus antri panjang bertahun-tahun.

    Berdasarkan hal itu, penghargaan terhadap orang yang akhirnya berhasil naik haji, sangat beralasan. Meletakan orang yang telah menunaikan ibadah haji dalam tempat terhormat, sama sekali tidak salah.

    Dengan demikian, dari sudut ini, panggilan atau penyebutan “Haji” atau “Pak Haji” (untuk perempuan menjadi “hajjah”) memiliki dasar sejarah dan alas pembenar yang kuat. Ini penghormatan terhadap perjuangan terhadap seorang umat islam yang telah berhasil menunaikan rukun islam kelima dengan selamat. Lantas apa salahnya jika kepada mereka diberikan panggilan atau sebutan kehormatan “Haji” atau “Hajjah?” Tak ada yang salah.

    Dalam konteks penyebutan dan panggilan “Haji” makna kata “Haji” secara sosiologis sudah mengalami penambahan atau pergeseran dalam kebudayaan Indonesia. Kata “haji” tak lagi semata-mata bermakna hariah, melainkan juga sudah menjelma menjadi bagian dari penghormatan masyarakat kepada orang yang berhasil menunaikan rukun islam kelima.

    Kalau begitu mana yang benar dong? Hamba berpendapat, dua-duanya benar. Dari tinjauan perpektif agama memang tak ada dasar penyebutan dan panggilan “haji,” meskipun tak ada pula larangan penyebutan dan panggilan “Haji.”

    Dari tinjauan sosiologis dan kebudayaan, sebutan atau panggilan penghormatan “Haji” merupakan hal yang wajar. Dan yang terpenting penghormatan panggilan dan penyebutan itu tidak bertentangan dengan aqidah agama islam. Dia tidak mesekutukan Allah, bahkan menghormati Allah melalui penghormatan terhadap sesama hamba Allah yang sudah berhasil menunaikan ajaran Allah, rukun Islam kelima.

    Islam agama sangat demokratis. Para pihak yang pro kontra terkait soal ini, silakan menjalankan pendpatnya masing-masing. Bagi yang tidak setuju dan keberatan terhadap sebutan dan panggilan “Haji” di masyarakat, tentu boleh menyatakan menolak terhadap sebutan dan pengilan itu. Sebaliknya bagi mereka yang masih merasa perlu dengan simbol-simbol penyebutan dan pangilan kehormatan “Haji” dalam kehidupan dan penghidupan keseharian, juga dipersilakan melanjutkan.

    Adapun yang tidak boleh adalah, saling menghujat. Saling menghina. Merasa paling benar sendiri. Merasa pemegang otoritas tunggal dalam menafsirkan agama di masyarakat, sedangkan yang lain tidak berhak, salah dan haram hukumnya.

    T a b i k.***

     

    Bersambung…..

     

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior dan Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (25)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (25)

    Pemandangan Subuh Nan Indah

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    KALI ini kita bicara yang ringan-ringan saja. Juga singkat pula.

    Sholat subuh berjemaah di mesjid, memberikan banyak manfaat sampingan, selain tentu saja manfaat sholat subuhnya sendiri.

    Pulang jalan kaki dari mesjid ke rumah, seusai sholat subuh di mesjid, menghadirkan pemandangan yang menawan. Jika waktu pergi dari rumah ke mesjid, kita disambut udara segar, bersih, dan sehat, pulangnya kita disuguhkan pemandangan yang menakjubkan.

    Hampir setiap pulang sholat subuh berjemaah di mesjid, kecuali hari mendung atawa hujan, di langit masih terlihat ada bulan. Sering bulan masih terlihat utuh penuh kuning keemasan dikelilingi warna putih di langit yang biru. Terkadang pula warnanya kuning pucat tanpa framing warna di sekelilingnya.

    Lain waktu, kita juga masih dapat melihat bulan sabit dalam bentuknya yang sempurna. Betul-betul mirip sabit.

    Tapi itu belum seberapa. Lebih menakjubkan, sementara bulan masih bertengger di langit, bersamaan dengan itu, di arah yang berseberangan dengan bulan, matahari sudah mulai menyembul dengan “malu-malu.” Jadi, hebatnya, di subuh menjelang pagi itu, kita dapat melihat transisi malam ke subuh dan pagi. Bulan masih ada, tapi matahari sudah mau terbit. Menakjubkan.

    Nah, warna awan di kelililing emberio terbitnya matahari pada hari itu sangat indah. Warnanya dalam beberapa hari dapat berbeda-beda.

    Sekali waktu di sekeliling tempat matahari mau terbit terdapat berbagai warna garis-garis horizonal. Sepanjang mata hamba memandang, ada warna kemerahan, jingga, perak dan hitam. Juga putih dan biru.

    Pada waktu lain, berjejer warna kekuningan, putih,merah muda, agak marun dan merah.

    Jika pelangi warnanya tetap itu-itu saja, sinaran matahari yang masih lembut ini dapat berubah tiap hari.

    Hamba tidak tahu, kenapa dapat begitu. Sama halnya hamba tidak faham, apakah warnanya memang asli seperti yang terlihat, ataukah itu hanya kesan di mata kita, tetapi warna sebetulnya berlainan. Hamba bukan ahli ilmu falak atau astronomi, jadi hamba tidak faham soal fenomena apa di balik itu.

    Satu hal yang jelas, pemandangan bersamaan antara masih ada bulan dan sudah mulai ada gejala kemunculan matahari yang sudah kebelet mau terbit sehingga memancarkan komposisi warna-warni yang lebih baik dari seribu lukisan, meski pada tempat yang berseberangan, dalam waktu konsisten, begitu mempesona. Menakjubkan. Setidaknya bagi hamba.

    Buat memperoleh pemandangan itu, kita tak harus pergi jauh-jauh ke berbagai pantai wisata. Tak perlu menghamburkan banyak duit. Tidak perlu mengeluarkan banyak tenaga. Cukup tenggok saja langit setelah sholat subuh berjemaah di mesjid, kita dapat melihat pemandangan semacam itu. Tak hanya sehari dua hari ketika kita jadi pelancong, tapi dalam sepanjang tahun, selama tidak mendung atau hujan.

    Disinilah satu manfaat dan keuntungan kita sholat subuh berjemaah di mesjid. Kita diberi pemandangan di pengujung subuh nan indah.

    Kakau kita tidak sholat

    subuh berjemaah di mesjid, sulit kita memperoleh kesempatan memperoleh pemandangan demikian. Ini juga bagian dari nikmat dari Allah. Nikmat yang hanya diberikan kepada kaum jemaah subuh yang sholat subuh berjemaah di mesjid dan tidak diberikan kepada mereka yang lebih suka tidur ketimbang sholat subuh berjemaah di mesjid.

    T a b i k. ***

     

    Bersambung…..

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* _wartawan dan advokat senior, dan Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (24)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (24)

    Matematik Pahala Baca Al Quran

    – Wina Armada Sukardi –

    PAKAR kaligrafi sekaligus penulis kaligrafi profesional, Didin Sirojuddin A.R., awal bulan April ini, mengirim WA ke hamba, tetapi lantaran baru hamba baca setelah sholat subuh berjemaah di mesjid sehari kemudian. Isinya menerangkan bagaimana besarnya pahala bagi yang membaca dan menulis kembali ayat-ayat Al Quran.
    Lantaran isinya bagus buat diketahui kaum muslim, hamba pikir sangat baik kiriman WA dari Didin Sirojuddin A.R. tersebut hamba foward atau tayangkan kembali disini, segera setiba di rumah dari sholat subuh di mesjid.
    Untuk menyesuaikan dengan tayangan artikel di media online, hamba adakan editing seperlunya, tanpa mengubah secuil pun maknanya. Demikian pula hamba hanya memuat bagian yang terkait dengan pahala membaca Al Quran saja, sedangkan untuk bagian pahala terkait menulis kembali ayat-ayat Al Quran tidak hamba tayangkan dengan dua alasan. Pertama, menghindari terlampau panjang, dan kedua tulisan itu lebih dikhususkan untuk para penulis kaligrafi.
    Hamba sendiri, terus terang saja, bukanlah manusia sempurna, yang telah sanggup mengerjakan membaca Al Quran dengan fasih dan dengan intonasi atawa lafal yang tepat dan benar, padahal hamba faham benar pahalanya sedemikian besar.
    Hal ini menyadari hamba, Allah menciptakn manusia dengan beragam-ragam kemampuan dan kekurangannya masing-masing. Maafkan hamba ini, Ya Allah.
    Berikut kutipan WA dari Didin Sirojuddin AR:
    AL QURAN kitab suci yang penuh mukjizat, membacanya saja berpahala dan dianggap ibadah. Mari kita hitung jumlah pahala kebaikan dari membaca Alquran yg merupakan _way of life_ kaum muslimin dalam Hadis:
    _”Barangsiapa membaca *satu huruf * dari Kitabullah Alquran, maka ia mendapat satu kebaikan. Sedangkan satu kebaikan dibalas pahala 10 x lipat yang seumpamanya. Ingat, aku tidak bilang: Aliflammim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf.”_ (HR Hakim)
    Subhanallah, pahalanya dihitung untuk setiap huruf!
    Bila setiap huruf pahalanya 10 kebaikan, kita kalikan jumlah rata-rata:
    • 1 baris: 40 huruf x 10 pahala = 400 pahala.
    • 1 halaman: 15 baris x 400 pahala = 6.000 pahala.
    • 1 juz: 18 halaman x 6.000 pahala = 108.000 pahala
    • 30 juz: 30 x 108.000 pahala = 3.240.000 pahala kebaikan.
    Subhanallah, banyak sekali!!!
    Kita hitung dengan cara lain. Imam Syafi’i (lahir 150 H di Gaza) lebih 1.200 tahun silam, ketika dunia belum kenal komputer dan mesin kalkulator, telah mampu mendata jumlah masing-masing huruf dalam Alquran secara detail dan akurat.
    Dalam kitabnya, مجموع العلوم ومطلع النجوم dan dikutip Imam Ibnu Arabi dalam mukadimah الفتوحات الإلهية menyebutkan jumlah huruf Alquran ada 1.027.000.
    Secara rinci dihitungnya huruf ا (ALIF) 48.740, huruf ل (LAM) 33.922, huruf م (MIM) 29.922, dan seterusnya sehingga berjumlah 1.027.000 huruf.
    Bila dibaca dengan dikalikan 10, maka pahala kebaikannya 10.270.000.
    Subhanallah, fantastis. Di bulan Ramadhan, setiap amalan digandakan lagi 70 x kebaikan. Maka total pahalanya 10.270.000 x 70 = 718.900.000. سبحان الله .
    Ada juga surat-surat tertentu dengan imbalan pahala tertentu, seperti membaca Al-Fatihah = membaca ⅔ Alquran, bacaan Al-Baqarah & Ali Imran akan jadi 2 awan penaung.
    Pembaca Al-Baqarah akan dipakaikan mahkota surga.
    Membaca akhir Ali Imran di malam hari dicatat = ibadah semalam.
    Bacaan Al-Kahfi akan jadi penghalang qarinya dari api neraka.
    Adapun yang membaca Yasin saban malam akan diampuni dosanya, bila dibaca siang segala hajatnya akan terpenuhi. Surat Al-Waqiah adalah surat kekayaan.
    Membaca Qulhuw 3 x malam hari = tamat Alquran. Membaca Qulhuw 11 balik akan diganti sebuah rumah di surga.
    Ayat Kursi adalah pengusir setan. Membaca Ad-Dukhon malam hari, akan diampuni dosanya yang lalu.
    Bacaan Al-Mulk akan jadi tameng dari siksa kubur. dll. dll.
    Itu belum termasuk bila bacaan tsb dilagukan, baik dengan langgam murattal maupun mujawwad karena berefek pada nikmatnya di pendengaran yang “menggembirakan sesama saudara muslim”.
    Rasulullah menganjurkan:
    _”Hiasilah Alquran dengan suaramu (yang merdu).”_
    Pahala kebaikan akan terus bertambah bila kegiatan membaca berada dalam “proses belajar-mengajar”,
    Menuntu Ilmu atau belajar dan mengamalkan ilmu yang terlibat di dalamnya bergelar “fi sabilillah” dengan imbalan pahala terbaik surga.
    Dalam Hadis riwayat Usman dinyatakan:
    _”Sebaik-baik kamu adalah yang belajar Alquran dan mengajarkannya.”
    Hasil dari aktivitas membaca Alquran, baik yang menjadi mahir maupun yang masih terbata-bata karena kesulitan, kedua-duanya mendapat tempat yang indah seperti yang dijanjikan Rasulullah:
    _”Orang yang pandai membaca Alquran, akan memperoleh tempat di surga bersama-sama para Rasul yang mulia lagi baik-baik. Dan orang yang membaca Alquran kurang pandai, membacanya tersentak-sentak dan tampak agak berat lidahnya, ia akan memperoleh dua pahala,”_ yaitu pahala membaca dan pahala sulitnya belajar.
    Subhanallah, Allah Maha Pemurah.
    Begitulah WA Didin Sirojuddin A.R., dosen dan pendidik yang memiliki pesantren dengan kekhususan kaligrafi di Sukabumi.
    Terhadap matematik kwantitatif pahala ini, ada dua penafsiran. Pertama, yang berkeyakinan jumlah pahala tersebut leterlek persis sama dengan angka-angka yang disebut di angka-angka itu. Dalam artian, angka-angka itu merujuk pada arti kongkrit jumlah angka itu.
    Jika disebut 10 kali, ya harus dihitung 10 kali yang sebenarnya.
    Tafsir kedua berpendapat, penyebutan kwantitatif melalui angka-angka tersebut sesungguhnya merupakan simbol atawa metafor dari tingkatan-tingkatan pahala. Jadi semacam ukuran superlatif.Jadi bukan dalam artian 10 ya harus dihitung 10, tetapi kadarnya 10 kali lipat dan sebagainya.
    Misal kalau disebut jumlahnya “selangit,” tetapi berarti selangit penuh, tapi satu simbol betapa banyaknya. Begitu juga jika disebut seribu bulan, misalnya, bukan berarti tepat seribu bulan, tetapi sesuatu yang jumlahnya dahsyat.
    Biarlah para ahli di bidangnya yang menafsirkan. Bagi hamba pendapat kedua-duanya kemungkinan benar karena keduanya saling melengkapi. Satu dalam paparan angka kwantitatif matematik, yang kongkrit, satu lagi menarasikannya.
    T a b i k.***

    Bersambung..

    *WINA ARMADA SUKARDI,* _wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi._

  • Sketsa Serba-Serba Shokat Subuh (23)

    Sketsa Serba-Serba Shokat Subuh (23)

    Pilih Doa Apa?

    – Wina Armada Sukardi –

    SHOLAT Subuh berjemaah di mesjid mengandung banyak manfaatnya. Sebagian ulama mengajarkan, doa di antara azan subuh dan jelang sholat subuh, merupakan waktu yang besar kemungkinan dijabah Allah. Saat itu, bagi sebagian ulama, waktu yang makbul jika kita berdoa.

    Setelah azan subuh, kita sholat dua rakaat. Pada saat sujud terakhir di rakaat kedua, kita biasanya dapat berdoa. Makanya sujudnya agak lebih lama dibanding yang biasa.
    Setelah sholat itu, kita dapat berdoa lagi seraya menengadahkan tangan.
    Biasanya , waktu azan ke sholat subuhnya berselisih sekitar 8 – 9 menit. Azannya sendiri menghabiskan sekitar 4- 5 menit. Jadi, sholat antara azan dan sholat subuh dua rakyaat serta untuk berdoa setelahnya rata-rata hanya tersisa sekitar 3 – 5 menit.

    Nah, di antara waktu tersebutlah kita bakal berdoa, baik manakala sholat maupun setelahnya. Dalam waktu yang relatif singkat itu, kita harus memilih doa apa yang paling kita prioritaskan? Setiap jemaah pastinya berlain-lainan, tergantung situasi dan kondisi kejiwaannya serta karakter masing-masing. Tapi yang jelas harus cepat mengambil keputusan.

    Terus terang saja, pada awalnya hamba sendiri mengalami kesulitan apa yang hamba mau minta kepada Allah. Kala itu, baru satu-dua yang hamba kemukakan, waktunya telah selesai.

    Belakangan hamba punya “rumusan.” Untuk doa waktu sujud, hamba khususkan yang berkaitan dengan soal akhirat. Sedangkan untuk doa setelah shilatbitu, sebaliknya khusus untuk urusan dunuawi.

    Ada lima hal yang hampa kemukakan terkait perkara akhiran sewaktu sujud.

    Pertama, hamba berterima kasih kepada Allah atas semua yang telah diberikanya dalam bentuk apapun, seperti tetapi tak terbatas, pada nikmat, karunia, rezeki, kesehatan dan sebagainya dan sebaginya yang begitu banyak yang tiada terkirakan.

    Kedua, mohon ampunan atas semua dosa dan kesalahan hamba yang sedemikian banyak yang tak terkirakan, sengaja atau tidak sengaja, disadari atau tidak disadari, baik karena kelemahan maupun ketidaktahuan hamba. Bersamaan dengan itu hamba memohon pula untuk diberikan kemampuan untuk tidak mengulang lagi perbuatan dosa-dosa dan kesalahan hamba.

    Ketiga, hamba juga mengemukankan pernohonan ampun serupa, tetapi untuk para orang tua hamba, khususnya untuk kedua orang tua hamba, ketika mereka masih hidup. Hamba tak lupa meminta agar mereka diperkenankan masuk ke dalam pintu surga Allah.

    Berikutnya, keempat, hamba meminta dibimbing, dituntun, diberi petunjuk agar hamba dapat menjadi manusia yang berguna bagi sesama manusia.
    Kelima, hamba mohon kalaulah hamba masih ada hutang, berikanlah jalan dan kesanggupan hamba melunasi hutang-hutang tersebut, sehingga manakala hamba menghadap Allah, hamba telah bersih dari hutang-hutang.

    Sedangkan untuk doa setelah sholat, hamba umumnya meminta empat hal yang bersifat duniawi. Pertama, hamba mohon diberikan kesehatan, dan kalau ada penyakit mohon pengakit tersebut diangkat atau disembuhkan.

    Kedua, hamba mohon keselamatan buat keluarga hamba: isteri, anak-anak dan cucu-cucu hamba, termasuk pernohonan agar mereka dijadikan manusia beriman dan bertaqwa serta kami dijadikan keluarga yang bahagia saling mencintai.

    Ketiga, pernohonan untuk memecahkan persoalan atawa meminta petunjuk terhadap persoalan situasional yang kami hadapi.

    Terakhir, keempat, hamba memohon dilapangkan rejeki dan kesejahtraan keluarga hamba, khususnya diri hamba.

    Dalam praktek, lantaran keterbatasan waktu, tidak semua doa-doa tersebut dapat hamba panjatnya. Untuk itu, mungkin hanya sebagian saja yang hamba mohonkan, disesuaikan dengan waktu yang tersedia.

    Berhubung ini terkait urusan sangat personal, hamba tidak mengetahui apa yang diutarakan dalam doa-doa jemaah lain. Setiap jemaah, setiap orang, memiliki persoalan dan harapan masing-masing. Meskipun rambut dapat sama-sama hitam, tapi baik cara maupun isi doa pastilah berbeda-beda.

    Kalau sobat sendiri dalam situasi seperti itu, pilih doa apa?

    T a b i k.***

    Bersambung…..

    *WINA ARMADA SUKARDI,* _wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (22)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (22)

    Siapa ke Surga, Siapa ke Neraka?

     

    – Wina Armada Sukardi –

    Jemaah sholat subuh di mesjid dekat rumah hamba, pada umumnya “itu-itu juga.” Penambahan “jemaah baru” memang selalu ada, tapi jumlahnya tidak signifikan, dalam artian tidak banyak.

    Hamba perhatikan, jemaah sholat subuh di mesjid kami hampir datang dari semua kalangan: baik strata pendidikan, ekonomi, sosial dan budayanya. Jemaah yang beragam itu semua, di subuh hari diberikan nikmat oleh Allah untuk sholat berjemaah di mesjid. Tentu tujuan akhirnya semua sama: mengharapkan masuk surga dari Allah, dan menghindari neraka.

    Seperti juga hamba ini, para jemaah datang ke mesjid melawan rasa kantuk dan malas, dan menembus dingin untuk menyerahkan diri kepada Allah.

    Semua ingin dimasukan ke dalam surga.

    Di mesjid, kami berlomba-lomba memberikan yang terbaik kepada Allah. Sholat dengan khusuk. Berdoa dengan sepenuh batin dan berharap diberikan yang terbaik. Diberikan Surga. Amin.

    Pertanyaannya, siapa di antara kami yang bakal diberikan keberuntungan oleh Allah boleh masuk surga, dan siapa pula yang terpaksa harus masuk neraka jahannam?

    Kita, mungkin, merasa kitalah yang terbaik. Kitalah yang paking berhak masuk surga. Banyak alasan yang dapat dipakai masing-masing orang bahwa dirinya yang paling layak masuk surga, setidaknya termasuk deretan orang yang patuh masuk surga. Dari mulai bacaannya yang terlengkap dan terbaik, paling rajin sholat, selalu baca Al Quran, dan bahkan sampai katam, tata cara sholatnya merasa paling benar, berprilaku sesuai perintah dan larangan Allah dan sebagainya, dan sebagainya. Padahal, sejatinya, kita belum tentu lebih baik dari yang lain.

    Belum tentu kita masuk surga, sedangkan mereka tidak masuk surga. Sama pula belum tentunya mereka masuk surga, kita tidak. Bisa saja sama-sama masuk surga, atau sama-sama masuk neraka. Satu sama lain tidak pernah ada yang mengetahuinya. Semua rahasia Alllah.

    Tentu, selain sholat subuh di mesjid, masih banyak pertimbangan variabel lain yang dapat menggantarkan kita , berat ke timbangan kebaikan, ataukah berat ke timbangan keburukan. Apakah, misalnya, di luar sholat subuh berjemaah di mesjid, diri kita selama ini dalam kehidupan sehari-hari berperilaku sebaik dalam sholat subuh berjemaah?

    Apakah diri kita telah memberikan kemanfaatan kepada orang lain? Apakah benar kita sering membantu orang, dalam hal apapun, diketahui orang atau tidak? Apakah kita bekerja sungguh-sungguh demi Allah dan tidak semata-mata menghitung keuntunga belaka? Apakah kita yakin, sadar atau tidak, kita tidak memakan uang haram? Apakah kita selalu menjalankan amanah yang diberikan kepada kita dengan baik dan jujur.

    Kita pun perlu merenung, benarkah kita tidak pernah merugikan orang lain? Kita tidak pernah menfitnah orang? Benarkah kita tidak serakah? Tidak tamak? Benarkah kita rela berkorban demi kebaikan? Sudahkah kita berani bersikap adil dan jujur.? Apakah kita berani melawan orang kaya yang batil, ataukah kita justeru jadi kaki tangan mereka?

    Betulkah kita tidak hanya memikirkan diri sendiri? Bagaimana perhatian sikap kita kepada tetangga? Apakah cuek atau _care_ dan penuh perhatian serta bersilahturahmin dengan mereka? Dan sebagainya, dan sebagainya.

    Ada berjuta pertanyaan yang jawabannya dapat menjadi pertimbangan Allah mau menempatkan kita di surga atawa di neraka.

    Siapapun kita, kita tak dapat jumawa, kitalah yang bakal masuk surga. Semuanya otoritas tunggal dari Allah.

    Selama Allah belum memanggil pulang kita menghadapNYA, selama itu pula berbagai kemungkinan dapat menggiring kita ke surga atau neraka. Bisa saja dalam sisa hidup kita, sadar atau tidak, kita membuat blunder yang menyebabkan kita yang sebelumnya punya potensi ke surga, menjadi lebih berat condong ke neraka.

    Sebaliknya pun dapat terjadi. Dalam sisa hidup kita, ternyata kita membuat berbagai pikiran dan tidakan yang menyebabkan kita yang sebelumnya sudah condong ke arah neraka, akhirnya ditepkan masuk surga. Segalanya sesuatu masih serba mungkin.

    Kisah seorang pelacur, yang sudah hampir pasti masuk neraka, tiba-tiba menolong seekor anjing yang kehausan dengan memberikan minum dari sumur memakai sepatunya, dan kemudian disebut membawaya masuk ke surga, dalam kehidupan nyata dan versi yang berlainan dapat pula terjadi pada kita.

    Siapa sangka Umar bin Kattab, yang sebelumnya kafir penyembah berhala dan pembeci utama Nabi Muhammad sertab sudah berkali-kali berniat membunuh Nabi Muhammad, tiba-tiba setelah mendengar ayat suci Al Quran, mendapat hidayah langsung memeluk islam. Belakangan bahkan dua menjadi khalifah atau pimpinan kedua Islam sewafatnya Nabi Muhammad.

    Umar bin Kattab yang sudah di ujung neraka, terselamatkan menjadi pejuang islam.

    Kita, orang muslim, masih ada kemungkinan mendapat hidayat dalam versi lain. Barangkali hidup kita yang sebelumnya berlumur dosa, dengan hidayat itu dapat masuk surga. Siapa yang faham?

    Namun sebaliknya, kita yang kelihatan begitu alim, sholeh, taat dan tunduk kepada Allah, sholat wajib dan sunnah tak pernah terlewatkan, sebenarnya ada tindakan kita yang tercela yang tersembunyi yang menghalangi kita ke surga?

    Pada sholat subuh berjemaah di mesjid, kita tidak dapat menilai derajat seseorang di hadapan Allah dari penampilan semata. Kita tidak dapat memandang tinggi rendah orang bakal masuk surga atau neraka dari busana yang dikenakan

    masing-masin jemaah. Kalau pakiannya rada belel, butut, berarti dari kalangan ekonomi menegah bawah, kita pikir kemungkinan besar masuk neraka. Belum tentu.

    Sebaliknya yang pakiannya perlente, berarti dari golongan ekono menengah atas, bakalan masuk neraka. Juga belum tentu.

    Kaya atau miskin, semuaya belum tentu masuk surga atau masuk neraka.

    Begitu pula yang memiliki jabatan tinggib, atau beduit selangit, belum dapat dipastikan masuk surga atau neraka. Sama yang hamba sahaya, pun belum tentu masuk surga atau neraka.

    Kita tidak dapat pula menduga-duga seseorang masuk surga hanya dari semata-mata mereka rajin datang sholat subuh berjemaah di mesjid paling awal, doanya paling merdu, posisinya sebagai imam, bilal, pengurus atau rakyat sahaya. Kita tidak pernah tahu.

    Maka kita tak boleh pongah. Tak boleh memandang rendah kepada jemaah lain. Penilaian hanya ada di mata Allah.

    Sholat subuh berjemaah di mesjid, memang tak menjamin seseorang bakalan pasti masuk surga. Meski sudah begitu banyak efort atau “pengorbanan,” kita untuk setiap hari sholat subuh berjemaah di mesjid, tak menjamin jalan lapang kita ke surga.

    Kendati demikian setidaknya, sholat subuh berjemaah di mesjid, memberikan kredit point kepada kita sebagai manusia pendamba surga. Bagaimana pun melaksanakan sholat subuh berjemaah di mesjid termasuk menjalankan perintah Allah. Sejelek-jeleknya kita, dengan sholat subuh berjemaah di mesjid, setidaknga sudah menunjukkan kepada Sang Maha Kuasa, terlepas dari kelemahan yang ada, kita sudah berupaya mewujudkan perintah Allah.

    Kita harus berkeyakinan, sholat subuh berjemaah di mesjid, setidaknya dapat memberikan kita tambahan ke timbangan yang baik. Soal masuk surga dan neraka, memang sepenuhnya Alllah yang menentukan. Kita tidak dapat mengintervensi otoritas Allah.

    Kita hanya berkeyakinan, siapa yang menjelankan perintah Allah dengan sebaik-baiknya, oleh Allah bakal dibukakan pintu surga, termasuk yang menjalankan sholat subuh berjemaah di mesjid. Walaupun kita sadar sadar-sesadarnya, semuanya hak mutlak Allah.

    Nah, jika kita saja tidak dapat menentukan kita masuk surga atawa neraka, bagaimana pula kita dapat menentukan orang lain masuk surga atau neraka?

    T a b i k.***

     

    Bersabung …..

     

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* _wartawan dan advokat senior dan Dewan Pakar Pengurus Pusat Mihammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Suhuh (21)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Suhuh (21)

    Dilema Sedekah Kepada Pengemis

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SEORANG kotib, setelah sholat subuh berjemaah di mesjid, dalam ceramahnya mengatakan, kita diwajibkan untuk menolong membantu anak yatim dan fakir miskin, termasuk pengemis.

    Menurutnya, doa dari para anak yatim itu makbul, atau besar kemungkinan bakal dikabulkan Allah.

    Dia menganjurkan, kalau di lingkungan kita, atau kita tahu, ada anak yatim yang potensinya bagus, tak usah ragu-ragu untuk dijadikan anak asuh. _Gak_ perlu takut kekurangan rejeki, lantaran justeru nanti rejeki bakal datang lebih banyak.

    Kalau perlu, katanya, tidak perlu jauh-jauh mencarinya. Bantulah lebih dahulu di lingkungan keluarga atau sanak famili.

    Begitu juga dengan kaum miskin, terlebih para pengemis. Kalau ada uang, berapa aja, berikan saja. Kita tidak boleh “bermuka masem” kalau ada pengemis meminta-minta kepada kita.

    Namun kotib juga mengingatkan, sekarang ini agak susah membedakan mana “pengemis” asli dan “pengemis” palsu, atau “pengemis asli palsunya.”

    Dia mengungkapkan, realitas sosial yang sebagian orang mungkin sudah mengetahuinya: “para pengemis” kini sudah ada koordinatornya dan bekerja sistematis

    serta berjenjang pula. Misal di lampu-lampu merah lalu lintas, di semua bagianya ada pengemis. Nah, pengemis ini sudah diatur dalam manajemen yang profesional. Ada jam kerjanya. Ada shifnya.

    Di setiap sudut jalan di lampu merah itu, ada “pengawas” para pengemis. Mereka memantau kinerja para pengemis. Setelah jam kerjanya habis, mereka juga mengatur pergantian shift-nya itu.

    Para pengawas ini menyediakan pula makanan buat para pengemis yang selesai bekerja. Dan tentu saja mengambil uang hasil kerja memgemis, dan memberikan sedikit bagian buat para pengemisnya.

    Kendaraann antar jemput sudah diatur oleh “bos” atasan para pengawas.

    Jangan salah, baik para pengemis, apalagi “bosnya,” hidup mereka gak susah-susah banget, bahkan ada yang tingkat hidup ekonominya di atas rata-rata.

    Bagaimana tidak.

    Mereka di kampungnya punya rumah permanen. Dari kerangka beton. Ada yang bertingkat pula. Perabot dan dekorasinya juga bukan kaleng-kaleng. Sarana elektronik termasuk yang mutahir.

    Di garasi ada mobil. Bahkan ada yang dua sekaligus. Lebih hebat lagi, dari mereka ada yang ….punya isteri lebih dari satu.

    Tak heran, bisa saja mereka ekonominya justeru jauh lebih sejahtera ketimbang yang memberi sedekah kepada pemgemis.

    Padahal semua itu hasil dari mengemis. Ya usaha dari mengemis!

    Hasil yang luar biasa itu tak terlepas pula dari cara kerjanya mirip mafia. Rapi, penuh tipu daya, dan terkontrol. Pendeknya mereka juga manageble, atau dengan manajemen yang baik.

    Belajar dari pengalaman, mereka pun mulai mengenal pendekatan terhadap birokrasi. Jika ada pengemis yang kena rahasia dan ditangkap polisi “tibum” alias polisi ketertiban umum dari polisi pamong praja, sudah ada “petugas khusus” yang bakal melakukan lobi dan negosiasi dengan pihak Sapol PP dan pihak-pihak terkait lainnya. Jadi amanlah. Paling kalaupun tertangkap , beberapa hari saja sudah bebas lagi. Para “petugas khusus” sudah mengaturnya.

    Mereka sangat faham memanfaatkan empati dan

    dorongan masyarakat untuk menjalankan perintah agama . Walaupun tidak belajar, mereka pun nampaknya “menguasai psikologi sosial” ikhwal belas kasihan naluri kemanusiaan.

    Maka dibuatlah diri para pengemis menjadi dapat menghasilkan rasa iba.

    Ada pengemis yang wajah dan tubuhnya dibuat dekil dan seakan-akan ada luka di sana sini. Itu semua rekayasa. Bohong. Semua buatan.

    Ada pula pengemis yang membawa-bawa anak. Padahal anak itu bukan anak sendiri, tapi anak sewaan. Seharian si anak atau bahkan bayi disewa antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

    Lebih hebat, dan sekaligus sadis, anak-anak atau bayi-bayi itu sebelum “dikaryakan” diberikan sejenis obat tidur agar terus teler. Tujuannya untuk semakin membuat masyakarta iba.

    Para pengemis juga mengeksploitir kecacadan. Mereka menampilkan diri sebagai manusia dengan kaki atau tangan buntung sebelah.

    Asumsinya , semakin nampak menderita seorang pengemis, semakin bakal dikasihani oleh masyarakat, dan itu artinya cuan semakin besar.

    Padahal, sekali lagi, semua itu cuma sandiwara. Kaki dan tanganya aslinya tidak buntung sama sekali, tapi “disulap” dengan tipuan sedemikian rupa, seakan-akan memang benar buntung. Misal dilipat dengan celana berkapis-lapis sedemikian rupa, sehingga kelihatan satu kaki hilang.

    Tentu mereka tak ketinggalan belajar “akting.” Para pengemis ini “berakting” ngesot layaknya disablitas. Mereka juga belajar memakai tongkat untuk berjalan. Dan aktingnya memang menyakinkan, sehingga hati masyarakat banyak yang tersentuh dan memberika uang.

    Tidak boleh dilupakan, niat memberikan bantuan juga sering kali membahayakan diri kita sendiri. Pernah suatu ketika, sepulang dari pertemuan acara keluarga di rumah seorang kakak, hamba pulang malam bersama isteri naik mobil. Waktu itu sekitar jam 23.30. Kebetulan yang menyetir mobil isteri hamba. Sedangkan hamba sendiri duduk di kursi sebelah. Senderan kursinya hamba kebelangkangkan, sehingga dapat dipakai rebahan. Dari luar, seakan-akan dalam mobil cuma ada isteri hamba saja.

    Sesampai di lampu merah CSW, dari arah Jakan Wolter Mongunsidi-Trunojoyo, menju ke arah RSP, pas di lampu merah dan mobil berhenti, ada seorang pengemis ngesot karena kakinya “buntung.” Dia mendekati mobil kami. Begitu sampai di samping mobil kami, dia berdiri. Isteri dan hamba yang dari tadi memperhatikan ya terkejut bukan alang kepalang.

    Nampaknya si pengemis gadungan itu siap-siap bakal melakukan kejahatan kepada isteri hamba. Dia pikir, perempuan malem-malem, menyetir sendiri, menjadi makanan empuk.

    Begitu hamba menegakkan sandaran kursi, dan terlihat olehnya, balik dia yang sangat terkejut bukan alang kepalang. Dia tidak menduga di dalam mobil juga ada lelaki. Tanpa banyak cingcong dia mabur. Dia lupa kakinya tadinya “buntung.”

    Penipuan tak hanya dengan cara mengemis. Sering pula nemakai institusi sosial seperti yayasan untuk anak yatim atau buat pembangunan mesjid. Banyak “kotak amal” dari berbagai yayasan, ternyata hasilnya bukan dipakai untuk tujuan membantu kaum dhuafa atau membangun mesjid dan lain-lain, melainkan diambil untuk kepentingan pribadi. Yayasan-yayasan yang disebut sering cuma kedok, bahkan yayasannya tak ada.

    Terakhir orang memanfaatkan ketaat beragama dengan mengikuti perkembangan teknologi. Kiwari kita kalau mau mendonasikan uang kita cukup lewat proses QR dari HP. Praktis.

    Eh, belakangan, QR pun dipalsukan. Di mesjid-mesjid (antara kain mesjid Istiqal dan mesjid di Blok M), terminal, bandara dan tempat-tempat umum lain sudah terbukti terpasang QR palsu, QR yang duitnya masuk ke dompet digital pribadi para penipunya.

    Ajaran agama untuk memberikan bantuan kepada anak yatim dan fakir miskin, kini menjadi tak sederhana lagi. Niat baik dalam diri kita, belum tentu menghasilkan sesuatu yang baik sesuai keinginan kita, bahkan sebaliknya malah dapat membantu kaum komplotan yang memanipulasi para pengemis palsu.

    Sebagian dari kita mungkin ada yang berpendapat, ”_Ah, yang penting niat kita baik, selebihnya kalau mereka jahat, itu tanggung jawab mereka masing-masing. dengan Tuhan._”

    Sikap ini secara tidak langsung telah membantu kebohongan, dan tentu yang membantu kebohongan tidak dapat dikatakan lagi berniat baik serta harus mempertanggungjawkan perbuatannya. Selain itu bukankah antara kebaikan dan kebodohan sebenarnya berbeda jauh, baik niat maupun dampaknya.

    Barangkali kita perlu memikirkan kalau ingin menolong atau berardekah kepada para pengemis, di tempat-tempat umum, lebih banyak manfaatnya atau mudaratnya? Kalau memberi bantuan sembarangan kepada para pengemis di jalan, jelas lebih banyak mudaratnya. Pertama, tujuan membantu kaum miskin tidak tercapai. Kedua, kita membantu kelompok mafia pengemis. Ketiga, dapat membahayakan diri kita sendiri.

    Disinilah ada baiknya kita memberikan bantuan, sedokah, amal jariah, apapun namanya, kepada lembaga-lembaga resmi yang sudah jelas kridibilitas dan keberadaanya. Jika tidak langsung saja berikan kepada yang kita tahu benar-benar memang membutuhkan.

    Menghadapi hal seperti ini kotib sholat subuh mengingatkan,”Kalau pun kita tidak mau memberikan bantuan, kita sebaiknya diam saja. Tak usah mengumpat mereka.”

    Kita tidak boleh menyuburkan kemalasan dengan memberikan bantuan yang salah arah. Selain itu, bukankah dalam islam tangan di atas lebih baik ketimbang tangan di bawah?

    T a b i k***

     

    Bersambung…

     

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* -wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (20)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (20)

    Tausiah Minggu Subuh Dengan Hidangan Makanan Kecil

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    TELAH bertahun-tahun setelah sholat subuh di hari minggu, di mesjid kami dilanjutkan dengan ceramah atau tausiah oleh Pak Uztad Satari Mar’uf, ketua pengurus Dewan

    Mesjid kami. Setelah ritual sholat subuh, para jemaah mundur beberapa shaf, biasanya ke shaf kelima atau keenam. Sedangkan Pak Uztad kemudian duduk di kursi mimbar yang memang khusus dibuat untuk acara ini.

    Mimbar diletakan tiga shaf kosong di hadapan para jemaah. Atau shaf kedua dari depan. Mimbarnya pendek sehingga sesuai dengan tinggi badan yang duduk di kursi.

    Acara ini, menurut Pak Uztad sendiri, pertama-tama untuk silahturahmi para jemaah. Kemudian juga buat saling mengingatkan dan berbagi ilmu. Biasanya tousiah berlangsung sekitar kurang lebih 30 menitan. Para jemaah yang duduk santai menyimak dengan cermat yang dikemukakan Pak Uztad.

    Di luar materi tausihanya, ada hal yang yang juga menarik. Ketika Pak Uztad sedang menguraikan bahan pembicaraan, para jemaah dibagikan boks kertas kartun berisi kue. Biasanya isinya tiga macem. Sekali-kali, jika ada yang menyumbang, jumlah dapat menjadi enam macam.

    Selain dibagi boks panganan,kami juga disuguhi minum teh panas manis. Bagi jemaah yang tidak minum air teh manis, boleh pilih air putih.

    Selama pembagian makann dan minum, “ceramah” tetap berjalan. Tak ada yang saling mengganggu. Sekali-kali penceramah malah mengatakab,”Ayo kita minum dulu suguhanya!”

    Sebelumnya, dalam beberapa selingan tausiahnya, Pak Ustaz menjelaskan, selain urusan-urusan aqidah dan ibadah, umat Islam juga diajarkan untuk memperhatikan urusan-suruan dunia. Dan untuk urusan dunia ini, kata Pak Uztad, manusia diberikan pengetahuan apa yang baik bagi manusia itu , dan atau kelompoknya. Pembagian snack dan minuman adalah bagian dari urusan dunia agar kita juga dapat merasa senang.

    Demikianlah sudah berlangsung lama setiap minggu ba’da sholat subuh, di mesjid kami diadakan tausiah dengan juga menyajikan suguhan pangan snack. Biasanya jemaah hanya minum saja, sedangkan boksnya dibawa pulang.

    Jadi, ketika pulang sebagian besar jemaah membawa pulang “oleh-oleh.” Dari raut wajah dan gestur tubuhnya kentara para jemaah bersuka cita membawa makanan dari mesjid, termasuk hamba ini.

    Dalam kebudaayaan orang Indonesia, membawa “oleh-oleh” atawa “berkat” dari suatu acara, merupakan kebiasaan atau tradisi yang kuat. Walaupun “oleh-oleh” atau “berkat” yang dibawa sebenarnya juga dapat dibeli dengan mudah, baik kesediaan maupun harganya, tapi buah tangan itu mempunyai nilai yang khas yang menyenangkan keluarga yang menerimanya. Maka para jemaah pun membawa pulang boksnya demgan senang hati.

    Adapun minumnya ketika keluar dari mesjid, pengurus mesjid sudah menyediakan petugas yang membawa kantong plastik besar untuk tempat bekas minuman. Para jemaah membawa minumannya masing-masing waktu pulang dan nenempatkanya ke kantong plastik itu. Dengan demikian mesjid tetap bersih.

    Memang acara ini bukanlah bagian dari kewajiban atau sunah dalam sholat subuh, tapi merupakan kegiatan tersendiri yang memberikan kemanfaatan buat jemaah. Sifatnya juga sukarela dan elastis. Jika setelah sholat subuh, kita ada keperluaan lain, kita boleh tidak ikut acara ini. Bebas saja. Bahkan kalau kita tidak ikut acaranya , tapi mau bawa pulang berkatnya juga boleh….

    Oh ya, tentu ketika bulan puasa, kegiatan ibi sementara ditiadakan.

    T a b i k.***

     

    *Wina Armada Sukardi * _wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (19)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (19)

    Sulitnya Sholat Subuh Berjemaah di Hotel

    SEBELUM pandemi covid-19, hamba hampir setiap minggu keluar kota (Jakarta). Biasanya, rata-rata seminggu dua kali.

    Ada saja urusannya untuk keluar kota. Untuk pelatihan, ceramah, jadi ahli (di polisi atau pengadilan), menjadi advokat di pengadilan, rapat kerja, seminar, mengajar dan sebagainya. Ruang lingkung aktivitas hamba yang luas, membuat bidang kegiatan hamba juga beragam.

    Misalnya lantaran hamba konseptor untuk pembuatan Standar Kompetensi Wartawan, dan berbagai standar atau pedoman Dewan Pers lainnya, Pendidikan Ahli Dewan Pers, hukum pers, advokat, dosen, kebudayaan, dan sebagai dan sebagainya, sehingga memungkinkan memberikan materinya dari pelbagai bidang. Makanya hamba kala itu sangat sibuk keliling Indonesia.

    Biasanya kalau keluar kota, hamba oleh panitia diinapkan di hotel. Di tempatkan di hotel jenis apapun juga, hamba tidak pernah mengeluh.
    Persoalannya, ternyata, kalau berada di hotel, info tentang mesjid terdekat yang mengadakan sholat subuh, tak ada sama sekali. Hampir di semua hotel yang hamba tempati memang terdapat mushola, tapi ketika disambangi, sama sekali tak ada kegiatan sholat subuh disana. Informasinya pun tak ada. Juga di bulan puasa.

    Di sebagian besar hotel memang ada tanda arah kiblat, tapi tak ada informasi apapun soal sholat subuh berjemaah. Jangankan informasi dimana mesjid terdekat yang melaksanakan sholat subuh berjemaah, pukul berapa waktu setempat sholat subuh dilaksanakan pun tak tersedia (beruntung sekarang sudah banyak aplikasi yang menyediakan hal ini).

    Tak hanya di daerah, demikian pula hotel-hotel di Jakarta. Informasi soal itu nihil. Walhasil, orang dari daerah yang menginap di hotel di Jakarta pun, tentu sulit menemukan harus ke mesjid mana untuk sholat subuh berjemaah di Jakarta.

    Pernah hamba karena mendengar suara azan subuh di hotel, hamba langsung mencari-cari dimana mesjidnya. Meski agak jauh kalau berjalan kaki, tapi hamba hampiri juga mesjid itu.

    Apa yang terjadi? Ternyata di mesjid itu tak ada solat subuh berjemaah. Mesjid melompong.
    Muhazin hanya mengumandangkan azan subuh saja, tapi di mesjud itu sendiri tak ada sholat subuh berjemaah.

    Indonesia, konon, terkenal sebagi negara dengan sejuta mesjid. Indonesia juga terkenal sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di atas jagad ini. Tapi jika kita mau sholat subuh berjemaah di luar kota dari hotel, susahnya setengah mati.

    Hamba mau sekedar usul, ada baiknya di setiap hotel di Indonesia disediakan data: jam berapa waktu lokal sholat subuhnya. Diberikan pula informasi beberapa mesjid yang terdekat dari hotel yang mengadakan sholat subuh berjemaah. Di informasi itu ditambah dengan keterangan berapa lama waktu tempuh kesana.

    Perlu dijelaskan apakah memungkinkan jalan kaki, atawa harus naik kendaraan motor atau mobil.

    Pemberitahuan atau informasi seperti ini cukup ditulis di selembar kertas dan diganti sebulan sekali. Atau, lantaran kiwari sudah zaman digital, pemberitahuaan itu pun cukup melalui text digital atau tayagan video di televisi hotel bersama tayangan-tayangan keterangan hotel lainnya, seperti letak restoran, kolam renang dan sebagainya.

    Apakah kemudian informasi itu mau digunakan para tamu hotel atau tidak, terserah saja. Itu sudah bukan urusan dan tanggung jawab hotel lagi.
    Lebih “cakep” lagi jika di musholah mesjid diadakan sholat subuh berjemaah. Hotel dapat bekerja sama dengan masyarakat setempat, atau Dewan Kepengurusan Mesjid lokal, untuk menyediakan imam sholat subuh berjemaah di musholah hotel.
    Pada awalnya mungkin tak banyak yang mengikutinya. Tak apa. Dulunya juga di mall demikian. Anggapan awalnya, apa iya pengunjung mall yang rata-rata menengah ke atas, mau kalau pas waktu sholat, sholat di musholah mall. Nyatanya hari ini pada waktu-waktu sholat, musholah mall selalu penuh. Apalagi pada bulan puasa, sampai harus dibuat beberap termin.

    Demikian juga di hotel. Mungkin awalnya cuma beberapa orang. Cuma segelintir tamu yang sholat subuh berjemaah. Tidak apa. Lama-lama juga memadai.

    Penyediaan informasi ikhwal soal shokat subuh berjemaah oleh hotel bakal membuat hotel-hotel di Indonesia menjadi khas. Para tamu dari seluruh dunia bakalan faham, Indonsia dengan sejuta mesjid dan jumlah umat islam terbesar di dunia, hotel-hotelnya selalu menyedia informasi mengenai mesjid terdekat yang menyelenggarakan sholat subuh berjemaah, bahkan sebagian hotelnya sendiri menyediakan sarana tersebut.
    Itulah Indonesia. Umat non muslim pun pasti maklum dan tidak berkeberatan, sebagaimana umat muslim juga tak keberatan disebagian besar hotel di Eropa dan Amerika diwajibkan menyediakan injil. Di mana bumi dipijak, kita menghormati adat istiadat, kebiasaan dan agamanya.

    Selama ini, akhirnya, kalau ada di hote di luar kota, hamba sering menganggap diri hamba musafir, sehingga terbebas dari kewajiban sholat, termasuk sholat subuh. Kalaupun sholat subuh, ya di kamar hotel aja. Sendirian.

    T a b i k***

    Bersambung……

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (18)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (18)

    *Jujurnya Kejujuran*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SHOLAT Subuh di mesjid mengajarkan kepada kita: kejujuran pada diri sendiri. Kejujuran yang tanpa pretensi. Kejujuran tanpa pengawasan manusia. Kejujuran yang merefleksikan kebenaran.

    Betapa tidak. Subuh hari masih dingin. Masih ngantuk pula. Kita harus mengambil wudu atawa air sembayang. Meski memakai air panas, rasa males pun masih belum hilang. Apalagi kalau memakai air biasa yang terasa dingin.

    Setelah kita ambil air wudu, lantaran hari masih subuh, kini sering lantas mau buang air kecil lagi, terutama di bulan puasa. Maklumlah baru selesai sahur. Berarti harus mengambil lagi air wudu lagi.

    Selesai? Belum! Saat kita sudah selesai wudu, dan mau memakai baju, eh, terkadang tak dapat ditahan, kita buang angin, alias, maaf, kentut.

    Konsukuensinya, kita harus mengulang kembali mengambil wudu. Terkadang, setelah membuang angin pertama, di bulan puasa, kita sering kembali kentut.

    Wah, repot juga ya? Kita wajib mengulang berwudu.

    Disinilah dibutuhkan kejujuran sejati. Kita batal wudu, tidak ada yang tahu. Kalau kita langsung sholat, tidak ada yang complain. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang marah.

    Juga tak ada sanksi dari sesama manusia. Jika kita tetap berangkat sholat subuh di mesjid, sesama jemaah tetap memperlakukan kita seperti biasa. Tak ada yang mencela atau mengucilkan kita, karena memang tak ada yang faham.

    Kendati begitu, toh, kita tetap mengulang kembali seluruh prosesi mengambil air wudu.

    Kenapa? Ini lantaran kita merasa harus jujur. Jujur terhadap diri sendiri. Jujur terhadap kebenaran fakta. Jujur sebagai sebuah pola pikir dan pola sikap yang berasal dari budi luhur diri sendiri , bukan jujur agar dianggap baik oleh sesama manusia.

    Sebuah kejujuran yang hanya merefleksikan kebenaran. Kejujuran yang sejati. Sebuah kejujuran yang justeru menghormati Allah. Jika kita jujur kepada diri sendiri, berarti kita bakalan jujur pula kepada Allah. Itulah jujurnya kejujuran.

    Dari sihilah kita faham, sholat subuh di mesjid memiliki banyak dimensi. Sholat subuh selain merupakan perwujudan ketaatan kita kepada Allah, juga mengajarkan dan membentuk berbagai dimensi : disiplin waktu dan membangun kejujuran pribadi. Kejujuran sebagai sebuah nilai mulia. Kejujuran yang lahir dari sanubari dan bukan kejujuran yang merupakan tuntutan dari masyarakat. Kejujuran yang paling tinggi.

    Sepanjang kita masih mampu, tak peduli berapa kali kita batal wudu jelang sholat subuh di mesjid, sebanyak itu pula kita perlu mengulanginya kembali sampai wudu sempurna. Kejujuran yang membimbing dan menuntun kita.

    Konsepsi inilah yang kemudian melahirkan inspirasi kepada hamba ini untuk menuliis sebuah puisi sebagai berikut:

     

    *KEBENARAN TANPA SAKSI*

     

    Ini kali keempat mengulang wudu

    dalam waktu rentang sekejap

    di sebuah dingin yang sama.

     

    Membersihkan telapak dan jari-jari tangan

    dilanjutkan dengan berkumur

    selesai sempurna yang pertama

    tiba-tiba buang air kecil

    lalu wudu diulang dari awal.

     

    Rampung yang kedua

    langsung disambut buang angin yang ketiga.

     

    Jika yang keempat

    masih batal lagi

    haruskah jujur, senantiasa mengulang dari awal.

    Bukakah hanya diri sendiri yang faham

    Bukankah tidak ada orang lain yang mengetahui

    Bukankah Tuhan juga Maha Pemurah, Pengasih dan Penyayang?

     

    Ada kebenaran yang tidak perlu saksi

    terletak di nurani.

     

    Meski tak ada mata memandang

    meski tidak ada cemooh dari manusia manapun

    Kebenaran sejati

    hadir dalam hati

    yang bersih.

     

    Wudu sampai kapanpun

    tetap barus senpurna

    Kendati cuma diri pribadi yang tahu keasahanya.

     

    Kebenaran kesempurnaan wudu tak butuh pengakuan

    juga tak perlu bukti dukungan

    atau saksi penjelas.

     

    Kebenaran kesempurnaan wudu

    Pertanggungjawaban nurani

    dari seorang hamba

    kepada Allah.

     

    Jakarta, 9 Juni 2020, (_Dikutip dari buku kumpulan puisi Religi “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” karya Wina Armada Sukardi_)

     

    T a b i k.***

     

    Bersambung……

     

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar, Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.