Category: Catatan HAS

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (17)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (17)

    *Humor di Ceramah Mesjid*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    “APA yang paling dicari selama bulan ramadan?” tanya seorang penceramah, dalan tausiah setelah sholat wajib subuh di mesjid dekat rumah kami.

    Jawaban para jemaah macem-macem, mulai dari mencari keridohaan Allah sampai mencari ampunan. Setelah itu penceramah menyela, “Jujur aja deh! Selama bulan ramadan ini yang paling dicari-cari oleh kita, cuma azan magrib!” Jemaah tertawa , dan ada yang cengar-cengir.

    “Buktinya berdasarkan survei, azan magrib selama bulan puasa menempati posisi paling tinggi yang ditonton atau didengar masyarakat!”

    Di mesjid dekat rumah kami, seusai sholat subuh, setiap hari ada tausiah atau ceramah. Bisa cuma 7 menit, tapi bisa juga sampai ada yang satu jam. Rata-rata 15 -30 menit.

    Ceramah atau tusiah di mesjid memang menyangkut masalah-masalah religius. Dari keimanan, ketaqwaan sampai manfaat puasa. Perkara ini tentu urusan serius. Oleh sebab itu sebagain besar penceramah menyampaikannya dengan serius pula.

    Kendati begitu, ada penceramah yang menyelipkan humor-hunor atau lelucon dalam ceramahnya . Nampaknya mereka faham, jemaah mungkin sudah cape dan sebagian masih atau sudah mengantuk, padahal

    pesan-pesan keagamaan harus tetap diberikan. Tapi bagaimana supaya misi itu sampai dengan efektif kepada jemaah?

    Disinilah beberapa penceramah menyelipkan humor. Meskipun hnumor ini biasanya tetap dikaitkan dengan pesan yang ingin disampaikan Sang Penceramah. Ada yang untuk menyindir, ada yang untuk memperlihatkan Keagungan Allah, atau betapa mulianya ahlak Nabi Muhammad.

    “Coba perhatikan, semua bulu di kepala kita, cepat tumbuhnya, tapi kenapa alis ya segitu-gitu saja?!” kata seorang penceramah beretorika.

    Pada bagian lain dia mengambil contoh gigi. ”Ayo kenapa setelah dewasa gigi gak tumbuh lagi? Bagaiomana kalo gigi kita tumbuh terus, kayak rambut! Bisa serem dan bahaya tuh!”!Kata seorang penceramah memancing.

    Lantas akhirnya dia “menembak” dengan “klimaks.” Si Penceramah menuturkan, Allah sudah mengatur semuanya dengan baik. “Dia menciptakan ASI buat para bayi. Dari kecil orang udah dikasih rejeki masing-masing. Apa gak hebat tuh? Hebatnya lagi, susu manusia cuma dua, dan letakannya udah diatur di sana. Coba bagaimana kalo kayak kucing atai anjing. Susunya banyak, berlerot dari atas ampe bawah,? Gimana kalo manusia seperti itu? Susunya lebih dari dua dan letaknya dimana-mana,” ujarnya

    Anggota majalis jemaah subuh di mesjid ada yang tertawa dan ada yang cuma senyam senyum saja. Relevansinya penceramah ingin memberitahu Allah dengan segala kekuasaanNYA telah membentuk manusia menjadi mahluk terbaik.

    “Masuk barang” itu. Maksudnya, denagn cara humor seperti ini memungkinkan jemaah sholat subuh di mesjid menjadi lebih mudah mencernanya, di samping menjadi tidak mengantuk.

    Penceramah lain berbeda pula. Manakala sedang serius-seriusnya membahas suatu topik, tetapi dengan tiba-tiba dia berujar,”Waduh, kok dingin bener disini!” Rupanya dari tadi dia sudah sangat kedinginan.

    Salah satu AC di mesjid tempat kami sholat subuh memang terpasang di dinding di belakang mimbar atau dengan kata lain, letaknya tepat di belakang penceramah. Rupanya dia kedinginan, tapi tak ada yang mengetahuinya.

    Jadi , waktu dia tiba-tiba bilang kedinginan, jemaah agak terkejut dan terasa lucu.

    Ikwal ada unsur humor dalam kotbah di mesjid, hamba ingat saat masih kuliah di fakultas hukum UI di Rawamangun. Sekarang kampusnya sudah dipakai oleh UNJ. Waktu itu kalo sholat Jumat, para mahasiswa sholat di mesjid dekat asrama Daksinapati itu.

    Di mesjid itu para penceramah sholat jumat kalau sedang kotbah sangat sering mengemukan materinya dengan humor. Ini dilakukan untuk mengeritik pemerintah Orde Baru waktu itu.

    Rezim di bawah pimpinan Pak Harto pemerintahnya sanga represif. Untuk mengeritiknya harus berhati-hati, termasuk di lembaga keagamaan. Humor menjadi salah sarana untuk dapat masuk memgeritik pemerintah. Kalau tidak lewat cara humor, lelucon atau tawa mungkin para khotib waktu itu sudah masuk _black list_ atau daftar hitam pemerintah. Konsukuensinya bisa dihukum atau bahkan “dihilangkan.” Tetapi melalui humor mereka tidak dianggap menghina pemerintah, tapi pesan agamaya tetap tersampaikan.

    Secara teoritus humor tidak sekedar menghasilkan tawa belaka. Humor atau kelucon berdasarkan teori-teori psikologi diinilai sebagai fenomena sosial. Dalam hal ini, tawa membawa pesan, mengampaikan misi. Di balik tawa, ada sesuatu yang ingin disampaikan dan dapat sampai pada taraf untuk mempengaruhi. Dengan begitu humor tidak sekedar menghasilkan tawa.

    Dalam bukunya “_Sense of Humor and Dimention of Personlity,_” Lefcourt dan Martin (Woshington : 1993) sudah menegaskankan, tertawa tidak selalu dipicu rasa lucu. Sebaliknya tragedi dapat menghasilkan senyum dan tawa.

    Rasa lucu, kata psikopog Elizabeth E. Hurlock, dapat mengubah persepsi kita mengenai sesuatu hal. Sedangkan menurut John Sorey dalam bukunya “_Cultural Studies and The Stydt of Populer Culture: Theoriea and Method,_” jelas ada makna di balik kelucuan

    Lebih jauh lagi, Arhur Koestler setelah melalukan penelitian panjang, dalam bukunya “_The Art of Creation_” yang terbit tahub 1989 menyimpulkan, lelucon adalah proses intelektual.

    Maka kehadiran humor pastilah memiliki alasan yang kuat. Sementara bagi Arthur Koestler humor bukan untuk merendahkan manusia, tetapi sebalinya untuk mengangkat harkat martabat manusia.

    Para penceramah atau khotib mungkin tidak membaca teori-teori humor atau lecucon yang berasal dari barat tersebut, namun beberapa dari mereka telah mmenerapkannnya secara intinktif.

    Lewat humor atau lelucon yang mereka selipkan di antara ceramah atau kotbah mereka, merupakan bagian dari dakwah untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan para pendengarnya. Di balik tawa mereka memberikan pesan dan misinya untuk menyakinkan , Allah Maha Kuasa.

    T a b i k***

     

    Bersambung…..

     

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/ opini pribadi.***

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (16)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (16)

    *Niat Ingsun*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SELAMA ini hamba hampir tidak pernah melihat dirinya ketika sholat subuh di mesjid. Rasa-rasanya dia bukanlah jemaah sholat subuh, setidaknya di mesjid dekat rumah hamba.bMakanya hamba tak dapat mengenalinya.

    Namun, alhamdullilah, belakangan ini, hamba malah selalu melihat dirinya rajin ikut sholat subuh di mesjid. Kalau hamba melihat ke arahnya, terkadang dia tersenyum ke hamba. Mau tak mau hamba pun balik tersenyum kepadanya.

    Tak hanya itu, beberapa hari kemudian dia malah sudah sholat dekat hamba. Tentu, jika ada orang yang menjadi ”anggota baru” jemaah sholat subuh di mesjid, hamba ikut senang, karena berarti tambah lagi manusia pencinta Allah, pencita sholat subuh di mesjid.

    Setelah sekitar dua minggu terus menerus sholat subuh di mesjid, sewaktu bubar sholat subuh, dan sudah di depan perkarangan mesjid mengambil sandal, seorang tetangga memperkenalkan dirinya kepada hamba. Kami pun saling bersalaman. Kami ngobrol-ngobrol sejenak sebelum pulang ke rumah.

    Tahulah hamba dia tinggal masih satu RW dengan hamba. Dia pensiunan PNS dan kini memiliki beberapa rumah kontrakan.

    Mungkin inilah salah satu gunanya sholat subuh di mesjid: memperoleh teman baru. Apalagi lebih kesini, dia juga beberapa kali jika sholat subuh di mesjid, duduk bersebelahan dengan hamba.

    Beberapa hari setelah orang yang memperkenalkannya kepada hamba, seusai sholat subuh seperti pertemuan pertama sebelumnya, menjelaskan, jemaah baru sholat subuh berjamaah di mesjid ini berminat membeli salah satu tanah milik hamba.

    Memang kebetulan manakala anak gadis hamba masih SMA, dia termasuk “Abas” alias “Anak Basket. “ Untuk latihannya kebetulan saat itu ada sebuah rumah tetangga yang letaknya sangat dekat dengan rumah hamba, mau dijual, dan pas hamba pun sedang diberikan rejeki oleh Allah.

    Singkat cerita, lantaran antara pemiliknya dengan hamba sudah saling mengenal, perundingan berjalan lancar. Sebagai sesama tetangga, waktu itu hamba memberikan harga yang memadai buat dirinya. Dalam artian, harganya sedikit di atas rata-rata nilai pasar. Memberikan rezeki ke tetangga merupakan hal yang membahagiakan hamba.

    Setelah rumah itu hamba beli, bangunanya lantas hamba hancurkan. Lantainya hamba perkuat dan pleaster dengan semen. Di ujung kiri kanan, hamba pasang ring basket. Jadi sebuah lapangan basket. Disitulah anak gadis hamba sering berlatih basket.

    Begitulah mungkin cinta seorang ayah kepada anak gadisnya. Sepanjang mampu, dan memberikan kegiatan yang positif, apapun yang diperlukan sang anak gadis, sejauh mungkin bakal dipenuhi ayahnya.

    Hal yang sama terjadi pada diri hamba. Lantaran sewaktu SMA anak gadis hamba hobby main basket, sebagai Ayah yang kebetulan saat itu diberikan kemampuan, hamba pun menyediakan lapangan basket buat anak gadisnya.

    Seiring dengan berjalannya waktu, anak gadis hamba lulus SMA dan kuliah di fakultas hukum. Dia mulai tak aktif lagi di dunia basket dan tak lagi memakai lapangan basket yang dibuat khusus ayahnya buat dia. Jadi lahan tersebut menjadi kurang bermanfaat.

    Makanya kalau memang ada orang yang berminat membelinya lahan itu, hamba dapat “memikirkannya “ untuk melepaskannya (baca: menjualnya).

    Beberapa tetangga hamba mengetahui hal ini. Disinilah kelebihan tetangga lingkungan hamba yang banyak berasal dari etnis Betawi. Urusan ketersediaan jual beli tanah mereka amat piawai. Kalau kita mau membeli tanah, di daerah manapun, pasti mereka bakal memperoleh informasi dan datanya. Begitu pula jika kita ingin menjual tanah, mereka pasti mampu mencarikan pembelinya.

    Kenapa begitu? Jika transaksi jual belinya berhasil, tentu mereka sebagai mediator memperoleh hasil juga. Umumnya 2,5% dari nilai transaksi.

    Demikian pula dengan lahan lapangan basket milik hamba. Dengan cepat mereka sudah memperoleh informasi dari hamba dan, entah dengan cara bagaimana, mereka selalu saja dapat mencari pembelinya. Termasuk jemaah sholat subuh berjemaah di mesjid yang baru ini.

    Sebagai sesama jemaah sholat subuh di mesjid, hamba berpikir, kami harus saling melengkapi. Saling menolong. Maka perundingan tak berlangsung lama.

    Hamba memberikan kepadanya harga yang relatif murah. Maklumlah sesama jemaah sholah subuh di mesjid yang sama, hamba tidak terlalu melulu berhitung untung rugi lagi. Membantu memberikan kebahagian kepada sesama jemaah sholat subuh di mesjid, merupakan sesuatu yang membahagia hamba. Apalagi tetangga satu RW.

    Di notaris semua kelengkapan dan keabsahan tanah di periksa. Tak ada masalah sama sekali. Semuanya sah. Semuanya lengkap. Oleh sebab itu transaksi berjalan mulus. Tanah pun berpindah tangan.

    Adapun yang terutama hamba sesungguhnya ingin kisahkan, bukan soal transaksi jual beli lahan lapangan basket milik hamba.

    Beberpa hari sesudah transaksi rampung, hamba masih melihat pembeli tanah hamba itu sholat subuh di mesjid, tapi duduknya sudah agak jauh dari hamba. Sesudah sekitar seminggu, hamba tidak pernah lagi melihatnya sholat subuh di mesjid.

    Hamba tanya kepada para tetangga, apakah mungkin dia sakit atau bagaimana? Ternyata dia sehat-sehat saja. Cuma sudah tidak sholat subuh berjemaah di mesjid lagi. Begitu pula, setelah pembeli tanah dari hamba, dia sudah tidak pernah berkomunikasi dengan hamba.

    Disinilah pepatah lama masih berlaku: dalamnya laut dapat diukur, hati manusia siapa yang tahu?

    Tak ada satu pun yang saling mengetahui apa niat jemaah yang sholat subuh di mesjid. Hamba yakin sebagian besar jemah sholat subuh di mesjid dekat rumah hamba, memang ingin mengabdi dan mewujudkan rasa tunduk dan patuh kepada Allah.

    Kendati begitu, barangkali selalu ada satu dua orang yang sholat subuh di mesjid hanya dengan niat ingin menerapkan strategi bisnis, atau pendekatan terhadap sesama jemaah saja. Setelah hal itu tercapai, mereka pun kembali meninggalkan sholat subuh berjemaah di mesjid.

    Kata orang, _niat ingsun,_ atau niat orang, memang siapa yang faham? Termasuk niat masing-masing sholat subuh di mesjid? Kalaulah niatnya bukan semata-mata menyerahkan diri kepada Allah, tentu meninggalkan sholat subuh di mesjid bukanlah perkara yang luar biasa bagi mereka. Jika tujuan sudah tercapai, boleh jadi mereka tak peduli lagi dengan sholat subuh di mesjid.

    Astagfirullah.

    T a b i k ***

     

    Bersambung…..

     

    WINA ARMADA SUKARDI, wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi.

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (15)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (15)

    *Berlatih Manajemen Waktu*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    SHOLAT subuh di mesjid secara tidak langsung memberikan pelatihan manajemen waktu. Kita diajarkan untuk memanfaatkan waktu secara efektif. Buat dapat sholat subuh di mesjid, kita memerlukan disiplin pengaturan waktu. Kita harus mampu mengatur menit demi menit menjelang sholat subuh di mesjid.

    Diawali dengan bangun pagi, harus ditentukan berapa menit dari sebelum azan subuh. Harus diukur dari bangun, ambil wudu, memakai baju sholat, berapa lama? Tidak boleh terlambat, tapi juga sebaiknya jangan kecepatan pula. Dengan kata lain, jam berapa kita bangun juga harus disesuaikan dengan waktu sholat subuh.

    Perlu diingat, waktu sholat subuh rata-rata setiap dua hari juga dapat berubah-ubah. Biasanya dapat bergeser ke lebih pagi atau ke lebih siang, sekitar satu atau dua menitan setiap perubahan itu. Jika perubahan ditotal dari satu putaran waktu ke putaran waktu lainnya, rata-rata dapat berselisih sampai setengah jam atawa 30 menitan.

    (Sekedar catatan: sebagian ulama berpendapat waktu sholat subuh di Indonesia, sebenarnya, terlalu cepat delapan menit. Ini karena perbedaan cara menghitung. Indonesia menerapkan mulainya waktu subuh berdasarkan matahari minus 20. Sedangkan sebagian ulama lainnya dan para ahli ilmu falak berpendapat, perhitungan seharusnya matahari minus 18. Akibat perbedaan ini terdapat perbedaan selisih delapan menit).

    Untuk menetapkan persiapan diri sendiri, kita harus mengikuti perubahan waktu sholat meski cuma beda satu dua menit,

    Lantas perlu juga dihitung berapa menit, dari siap berangkat dari rumah sampai mesjid. Ini tergantung jauh dekatnya jarak rumah ke mesjid dan naik apa kita ke mesjid.

    Jika seperti hamba ini yang rumahnya cuma “sejengkalan” dari mesjid, ya cepat. Jalan kaki saja sekitaran dua -tiga menit sudah sampai. Tapi jika agak jauh, naik motor, juga tak beda. Di subuh yang sepi hanya beberapa menit juga sudah sampai mesjid. Naik mobil yang perlu dipikirkan waktu cari parkir.

    Perhitungan yang akurat membuat kita tidak terlambat sampai mesjid. Kita sampai di mesjid, beberapa saat sebelum azan subuh atau tepat pada saat azan subuh.

    Di mesjid dekat rumah kami, azan subuh dikumandangkan sekitar sepuluh atau delapan menit sebelum sholat subuh dimulai. Azannya sendiri, hamba perhatikan, rata-rata sudah mengambil waktu empat atau lima menit.

    Setelah itu ada waktu sekitar empat atau lima menit untuk sholat sunah dua rakat dan berdoa.

    Jemaah harus mampu berhitung sendiri, sholat dan doanya berapa menit, agar jangan kepanjangan dan melebihi tibanya qomat.

    Sholat subuh di mesjid dengan begitu selain melaksanakan perintah Allah, juga ternyata merupakan pendidikan kepada jemaahnya untuk menerapkan perhitungan waktu.

    Sholat subuh di mesjid mengajarkan, kita perlu memanfaatkan waktu kita secara efektif. Sholat subuh di mesjid juga memberikan pendidikan, kita jarus dapat memilah dan memilih mana yang menjadi priotas dalam hidup kita.

    Sholat subuh di mesjid seakan bermakna, buat kaum muslim sebelum melaksanakan aktivitas apapun, prioritas pertama kita melaporkan dan menyerahkan diri lebih dahulu kepada Sang Pancipa. Kepada Allah.

    Prioritas kita pertama kita setiap hari mengutamakan bersujud menghamba kelada Allah. Ini sebagiah simbol, sebelum melakukan kegiatan apapun, setiap hari kita lebih dahulu memprioritaskan diri berjemaah menghadap, melaporkan, merendah diri, minta perlindungan dan petunjuk kepada Allah. Posisi Allah di atas segalanya.

    Dari pendidikan sholat subuh di mesjid, setidaknya ada dua pelajaran yang dapat dipetik.

    Pertama, kita wajib menata pemakaian waktu kita dengan seefektif mungkin. Dalam refleksi kehidupan sehari-hari yang lebih luas, hanya orang yang memanfaatkan waktunya dengan benar dan untuk hal-hal yang bermanfaat saja yang memiliki keunggulan.

    Berbagai studi dan riset sudah membuktikan hal ini.

    Kedua, kita perlu memberikan prioritas waktu kepada hal-hal yang urgen, yang penting dan utama. Sebagai muslim setiap hari kita memandang melaporkan diri, merendah diri, menyerahkan diri seraya minta batuan dan perlindungan kepada Allah merupakan prioritas kita.

    Dalam prepektif kehidupan nyata sehari-hari, hal ini dapat ditafsirkan kita harus pandai menentukan mana yang urgen, kemudian mana yang penting dan mana pula yang dapat kita kerjakan agak belakangan. Mengerjakan secara terbalik selain banyak membuang-buang waktu juga akan kurang menghasilkan tindakan yang berkualitas.

    Dari sinilah kita lebih mudah menyadari mengapa ajaran Islam menyebut, merugilah orang-orang yang tidak memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian kita menjadi lebih mudah memahami, mengapa sebagian ulama menegaskan sholat subuh berjemaah seperti atau sama dengan mengerjakan sholat sepanjang hari.

    T a b i k.***

     

    Bersambung….

     

    *Wina Armada Sukardi,* _ adalah wartawan dan advokat senior dan Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakilo organisasi.-

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (13)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (13)

    *Penumpang Misterius*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    BAGI hamba, membawa “penumpang misterius,” bukan perkara baru. Sudah terjadi beberapa kali. Misalnya, pernah ketika ibu hamba meninggal dunia, setelah pemakaman, hari waktu itu baru saja selesai magrib, dari rumah di Depok mau pulang ke Jakarta, hamba ini naik mobil bersama isteri dan salah satu kakak ipar perempuan. Semua duduk di belakang. Hari sudah mulai gelap.

    Sewaktu mobil mau berangkat, seorang ibu setengah baya minta ikut “numpang”mobil kami. Menurutnya, dia rumahnya searah dengan kami. Nanti tiba di jalan tujuan rumahnya, katanya, dia bakal berhenti.

    Dia duduk bangku depan di samping sopir. Kami tidak bercakap-cakap sama sekali. Selain mungkin sudah lelah, kami juga bingung ada orang yang tidak dekat dengan kami, berani minta ikut “nebeng” mobil kami. Tapi kalau -gak- kenal dekat, _kok,_ dia tahu arah pulang kami.

    Makanya kami pikir, jangan-jangan dia teman almarhum ibunda kami. Tapi kok selama ini kami tak pernah mengenalnya. Ah, tak tahulah kami.

    Dan benar saja. Sesuai pernyataannya, di tengah jalan dia minta, mobil kami stop. Berhenti. Dia lantas turun. Berjalan ke arah belakang.

    Kami melihat ke kiri kanan, tidak ada perumahan sama sekali. Di sisi kiri tanah datar tinggi ke atas. Sebelah kanan, agak jauh, memanjang riel kereta api. Depan belakang, jalan beraspal. Dimana rumah Si Ibu? Ketika mencari kemana arah si Ibu pulang, dia sudah menghilang. Jadi, kami tak dapat mengikutinnya.

    Besoknya kami balik lagi ke Depok lewat jalan yang sama. Kali ini di siang hari. Kami baru menyadari, sebelah kiri atas dari arah Depok menuju Pasar Minggu, tempat Si Ibu kemarin malam turun, bukanlah perumahan, tapi…. kuburan.

    Iya , dari sana kami menjadi faham “siapa” wanita itu dan kemana dia “pulang.”

    Sekarang kuburan yang kami lewati sudah menjadi bagian dari Universitas Indonesia.

    Meski “misterius,” namun selalu ada jawabanya terhadap para “tamu misterius” itu. Contohnya ya yang dari kuburan itu.

    Cuma yang hamba alami ini berbeda. Sampai kiwari hamba tak tahu siapa dia. Hamba tidak pernah mendapat jawaban siapa dia.

    Kisahnya nyata ini bermula dari suatu tengah malam, sudah agak berat ke subuh, hamba pulang dari rumah seorang sejawat di daerah Limo, Cinere. Kalau hamba tak salah setelah deadline, hamba ada perlu ke rumahnya. Terus terang hamba lupa ada keperluan apa kala itu.

    Waktu itu hamba pulang sendirian, menyetir sendiri. Mobilnya hamba masih ingat benar, Mitsubishi Galant berwarna silver.

    Hamba gak sedikit mengantuk, tapi masih penuh kesadaran.

    Suasana jalan amat sepi. Semua toko sudah tutup. Tak ada pedagang lagi di pinggir jalan. Hanya satu dua mobil yang melintas.

    Di sebuah halte, mata hamba melihat berdiri seorang ibu berkerudung. Buat hamba ini rada aneh. Hari begini _ngapain_ juga ibu-ibu berdiri di halte? Menunggu bis? Rasanya tak ada bis bakalan lewat semalam yang mau menjemput subuh ini. Kalaupun ada angkot pastilah tenggang waktunya menunggu lama.

    Muncul rasa ingin tahu sekaligus iba terhadap ibu itu. Reflek hamba mengarahkan mobil kepadanya dan berhenti di depannya. Dia cuma melihat hamba, hampir tanpa ekspresi.

    Kaca mobil hamba buka. Masih dari dalam mobil hamba tanya mau kemana malam-malam seperti ini.

    “Pengajian, “ jawabnya.

    “Pengajian?” tanya hamba, full heran.

    “Iya. Pengajian!” tegasnya menandakan hamba tak salah dengar.

    “Malam-malam seperti ini?”

    “Pengajiannya nanti subuh.”

    Hamba tambah penasaran dan memberondongnya dengan pertanyaan lain. “Pengajian dimana?”

    “Kwitang!” jawabnya. Memang hamba tahu di Kwitang, daerah Pasar Senen, pernah ada kiai terkenal Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi. Setelah beliau wafat diteruskan oleh keluarga dan keturunannya. Di Kwitang itu memang ada pengajian-pengajian masyur, termasuk pengajian untuk ibu-ibu.

    Masalahnya apa benar pengajian buat ibu-ibu dilaksanakan sepagi ini?

    “Iya memang ada pengajian ibu-ibu setelah sholat subuh,” kata wanita ini seakan dapat membaca pikiran hamba.

    “Jadi ibu mau kesana?” tanya saya.

    “Iya. Ke Blok M dulu, terus dari sana, baru naik bis ke Kwitang,” jelasnya.

    “Iya sudah kalau begitu, Ibu saya hantarkan ke Blok M ya?”

    Dia setuju dan naik ke mobil.

    Sebenarnya dari Cinere ke rumah hamba lebih dekat dan lebih mudah memotong jalan ke arah Karang Tengah terus ke Lebak Bulus, Pasar Jumat dan ke rumah saya.

    Kalau ke Blok M, saya harus lewat Pondok Labu terus ke arah Fatmawati, Cilandak Blok A dan ke Blok M. Dari Blok M harus ke Radio Dalam, Pondok Indah baru ke arah rumah hamba. Tapi lantaran kasihan padanya, maka hamba ajak dia. Mana tega membiarkan ibu-ibu di malam jelang subuh sendirian mau ke Kwitang.

    “Kok jauh amat sih Bu Pengajian ke Kwitang,” tanya saya di mobil.

    “Ya sudah biasa,” jawabnya.

    Begitulah akhirnya dia hamba antar sampai terminal Blok M. Kala itu terminal Blok M belum seperti sekarang. Masih semerawut.

    Setelah hamba “turunkan” dia si terminal Blok M, saya langsung pulang. Sampai rumah sekitar pukul 04.15. Masih keburu untuk sholat subuh. Setelah mencuci muka dan ganti pakian hamba sempat sholat subuh di mesjid. Datang ke mesjid pas azan.

    Berbagai kesibukan membuat sekitar seminggu hamba lupa terhadap peristiwa dengan perempuan misterius tersebut. Baru setelah sekitar seminggu hamba cek ke sobat-sobat hamba yang mengetahui, apa benar di Kwitang ada pengajian buat ibu-ibu pada subuh hari.

    Menurut berbagai keterangan yang hamba himpun, memamg benar ada pengajian ibu-ibu disana, tapi tak ada yang dilaksanakan subuh hari seperti cerita “penumpang misterius” yang ikut hamba?

    Waktu itu pengajian ibu-ibu disana katanya paling pagi jam 9an

    Pertanyaan hamba: kalau demikian, siapa perempuan ini? Siapa “penumpang misterius” ini? Sampai kiwari, sekitar 25 tahun kemudian, belum juga terjawab siapa dia. Itulah yang hamba maksud “tamu misterius” yang belum terjawab siapa dia.

    T a b i k.***

     

    Bersambung…..

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* _wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (11)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (11)

    Sholat Subuh di Hotel di Makkah

    – Wina Armada Sukardi –

    MELAKSANAKAN ibadah haji, atau lebih populer dikenal dengan istilah naik haji, tentu menjadi dambaan kaum muslim. Memang bagi mereka yang punya kesempatan dan mampu melaksanakannya, naik haji menjadi kewajiban umat Islam. Banyak cerita fantastis dan dramatis bagaimana upaya umat islam untuk dapat naik haji.

    Ada orang, mohon maaf, miskin, tapi begitu gigih menabung seperak demi seperak untuk naik haji. Alhamdullilah akhirnya uangnya cukup juga untuk ongkos haji.
    Betapa banyaknya masyarakat Indonesia yang ingin naik haji, kini terpaksa harus mengantri beberapa tahun untuk dapat kesempatan naik haji.

    Alhamdullilah hamba ini diberikan keberuntungan oleh Allah. Tahun 2002 hamba diberikan kesempatan naik haji. Tentu saja kesempatan itu tak pernah hamba sia-siakan untuk setiap hari dapat sholat di hadapan kabah, termasuk sholat subuh disana.
    Saat itu tahulah hamba bagaimana setiap subuh jemaah haji dari Indoensia berbondong-bondong sholat di mesjidil haram. Tak mudah bagi mereka untuk datang sholat subuh di depan kabah.

    Bagi yang tinggal di asrama atau tempat penginapan bertingkat, mereka sudah harus antri bergantian menanti lift sampai dapat giliran turun ke lobi.
    Ini saja terkadang sudah memakan waktu.

    Lantas jarak dari tempat menginap ke masjidil haram juga tak dekat. Sebagian jemaah bersama-sama “patungan” menyewa kendaraan kecil mirip “mikrolet,” kalau di Jakarta. Sebagian lagi menyewa bis. Sebagian lainya sudah dikoordinir oleh travel biro yang mereka gunakan jasanya.
    Para jemaah itu, menembus subuh untuk mencari keridhoaan Allah.
    Hamba kala itu kebetulan memakai jasa travel biro haji Maktour. Agak mahal memang, tapi karena waktu itu hamba belum pernah ke Makkah sama sekali, apalagi naik haji, hamba ini kala itu ingin memperoleh full kenyamanan beribadah. Maklumlah walaupun hamba pernah membantu menjadi “gost writer” mantan Menteri Kehakiman Ismail Saleh menulis buku

    “Pengalaman sebagai Amirul Hajj,” sejatinya hamba saat itu masih buta bagaimana realitas naik haji. Jadi, hamba ini, bukan sombong dan ria, memutuskan memilih biro perjalanan haji yang dapat lebih memberikan “kenyamanan.”

    Kala itu hamba pikir, gak apalah mahal sedikit, toh uang rejeki dari Allah.

    Kebetulan hamba ditempatkan di Hotel Inter Countinental. Sebuah hotel yang berseberangan langsung dari kabah. Lebih beruntung lagi, kamar hamba di hotel itu, langsung pula menghadap ke kabah. Jika tirai jendela kamar dibuka,subhanallah, langsung nampak kabah.

    Memang letak hotel itu begitu strategis. Keluar dari loby hotel sudah menyambung ke halaman komplek mesjidil haram. Nikmat mana lagi yang hamba ingkari?

    Hamba ingat, demikian strategisnya kamar ini, sampai-sampai pada saat itu tokoh agama perempuan kita, almarhum Tuty Alawiyah, sampai minta izin untuk melihat kamar ini. Begitu dia menyaksikan langsung, betapa kagumnya pemilik pesantren dan sekolah islam di Jakarta ini. Al Fatihah buat Bu Tuty Alawiyah yang sudah alamarhum ini.

    Tentu, tentu, hamba sendiri yang baru pertama datang ke Mekah, sekaligus naik haji yang pertama dan satu-satunya kali naik haji, bukan main alang kepalang takjub dan syukurnya.
    Sholat di depan kabah benar-benar cuma “selangkahan”
    dari hotel. Keluar dari loby hotel sudah nyambung dengan pekarangan mesjidil haram. Alhamdullilah.

    Waktu itu jemaah lelaki dan perempuan masih diperbolehkan shalat di tempat yang sama, belum lagi dipisah seperti sekarang. Jadi hamba ini di sana senantiasa sholat bersama dengan isteri hamba. Betapa nikmatnya.

    Setelah beberapa hari di sana, hamba mendapat informasi, di hotel tempat hamba menginap, ada sebuah ruang khusus yang menghadap ke kabah. Depan ruang itu terbuat dari full kaca tebal yang dapat melihat ke depan dan bawah. Dengan begitu, dari situ dapat langsung memandang kabah, dan para jemaah yang ada di sekitarnya.

    Hebatnya lagi, suara dari mesjid tersambung langsung ke ruangan ini melalui speaker khusus. Jadi, suara muazin dan iman terdengar jelas.
    Oleh karena itu, tempat ini dianggap sebagai bagian dari mesjidil haram. Sholat disitu dinilai sama dengan sholat di masjidil haram.

    Hamba menjadi penasaran dan ingin mencobanya seperti apa. Tak sulitnya mencarinya. Dengan cepat akhirnya hamba sampai juga di tempat tersebut, untuk sholat subuh. Kini hamba agak lupa terletak di lantai berapa ruangan ini.

    Hamba saat itu barulah faham, rupanya tempat ini menjadi ruangan sholat para “bangsawan” dan orang-orang kaya Arab. Dari pakain, keharuman dan penampilan mereka, jelas sekali mereka kaum _the have_ orang-orang Arab. Orang kaya raya. Ada juga beberapa orang Indoensia sholat di situ.

    Menurut isteri hamba, kaum hawa yang sholat di sana, mudah dikenali memakai barang-barang branded. Pakiannya pun modis. Mereka juga di depan sesama perempuan memperlihatkan penampilan yang dibalut kemewahan.

    Rupanya inilah sebuah ruang sholat yang bagi hamba sangat ekslusif. Dipenuhi jemaah yang wangi dan dikelilingi pemakian barang mewah.
    Dari pelbagai informasi yang hamba dapat, memang ruangan ini umumnya dipakai oleh kalangan kaya raya orang Arab. Tanpa mengurangi keabsahan syarat sholat, kalangan ini ini sekaligus menikmati posisi sosial mereka.

    Meski begitu ada memang yang sholat di situ karena tidak mampu sholat berjemaah di bawah. Mereka memiliki keterbatasan fisik atau disabilitas. Kendati mereka juga umumnya termasuk kaum sangat berada.

    Manakala waktu sholat subuh tiba, benar saja, suara muhazin dan imam dari mimbar mesjid terdengar langsung di ruangan ini. Dengan begitu, kami melakukan gerakan shoat yang sama dalam waktu yang sama, dengan para jemaah lain yang ada langsung di depan kabah.

    Hamba tak menyelisik lebih lanjut ikhwal tempat ini: kapan mulai ada, siapa saja yang biasa datang, dari orang kalangan mana dan atau bangsa mana aja. Juga hamba tidak menindaklanjuti lagi kenapa mereka memilih tempat ini. Perhatian dan fokus kepada ibadah ibadah haji, membuat hamba tak sempat menyelisik lebih lanjut, meski “naluri kewartawanan” hamba untuk itu tetap ada.

    Mungkin saja mereka yang sholat disana memang sudah beberapa kali naik haji atau sebagai orang Arab mereka sudah biasa melihat dan sholat langsung di depan kabah, sehingga mereka memilih sholat di sana, dan seterusnya dan seterusnya.

    Beda dengan hamba ini. Kala itu baru pertama ke Makkah. Baru pertama naik haji. Jadi, sholat di depan kabah pun menjadi sesuatu yang luar biasa. Menakjubkan. Maka setelah merasakan dua hari kami sholat di tempat khusus ini, hamba memutuskan untuk tetap sholat berjemaah di dekat kabah berbaur dengan jemaah lain.

    Secara singkat masjidil haram adalah tempat yang istimewa bagi umat Islam,di dalamnya terdapat kabah. Baitullah. Masjidil Haram juga menjadi masjid tertua di dunia yang menjadi arah kiblat semua umat muslim.

    Dalam Al-Quran masjidil haram disebut tidak kurang dari empat puluh kali. Sejak awal masjidil haram juga menjadi salah satu tempat mulia dan dihormati oleh seluruh umat Islam di dunia. Selain di dalamnya terdapat kabah, juga ada makam Ibrahim, air zamzam, dan tempat lainnya.

    Nabi Muhammad pernah berkata, rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia baitullah ini.
    Shalat di masjidil haram dipercaya lebih utama sebanyak seratus kali daripada shalat di masjid Nawawi, apalagi dibanding mesjid biasa. Sedangkan sholat di masjid Nawawi saja keutamaannya seribu kali lebih dibanding sholat di mesjid biasa.
    Nah, hamba kan sudah jauh-jauh datang dari Indonesia ke Makkah, menyaksikan langsung kabah, masak tidak mempergunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk selalu sholat (subuh) dekat kabah.

    Bagi yang sudah terbiasa datang dan melihat kabah mungkin memang dapatlah dimaklumi jika mereka memilih sholat di ruangan khusus di hotel sebagaian dari mesjidil haram. Tapi bagi hamba, pilihan terbaik memang sholat subuh dan lainnya di mesjidil haram, di depan kabah.

    Kabarnya hotel Inter Continental semula bakal dirubuhkan untuk perluasan mesjidil haram. Belakangan rencana itu ditunda atau dibatalkan sehingga sampai sekarang hotel tersebut masih berdiri di tempatnya.
    T a b i k.***

    Bersambung….

    *Wina Armada Sukardi,* _adalah wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammmadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (9)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (9)

    *Langsung Melayat*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    Dalam dua alenea terakhir puisi karya hamba berjudul “Matiku Matmu, ” yang hamba buat Novermber 2017, dan telah diterbitkan sebagai salah satu puisi di buku karya tunggal hamba, “Mata Burung Gagak Gitaris Rock,” tertulis:

     

    _Mengapa kau masih meminta hidup seribu tahun lagi_

    _walau kau tahu wafat tua atau muda tak beda._

     

    KAPAN urusan nyawa kita dipanggil oleh Pencipta sekaligus Pemiliknya, tak ada yang tahu tepat. Kita tidak faham kapan bakal mengembuskan nafas teralhir, dimana dan sedang apa. Usia bukanlah isyarat kemaitan. Tua belum tentu lebih cepat meninggal. Sebaliknya, muda bukanlah jaminan bakal hidup panjang. Banyak yang masih anak, belia, atau muda sudah meninggal. Sebaliknya tak sedikit yang sudah sepuh dan sakit-sakitan pula, tetapi masih terus hidup.

    Setiap saat, tua atau muda, dapat berpisah dengan dunia fana, dengan berjuta alasan.

    Kapan kita meninggal tetap menjadi misteri. Sama dengan dimana dan dalam keadaan

    bagaimana kita meninggal, tak dapat ditebak. Bisa saja kita meninggal secara di luar dugaan kita. Maka sesunguhnya sholat subuh di mesjid bukanlah hanya untuk orang tua saja.

    Selama ini, dalam pengamatan hamba ini, umumnya jemaah sholat di mesjid orang-orang “yang sudah meninggalkan dunia hitam,” alias rambut, kumis atau jenggot sudah tidak hitam lagi. Hampir semuanya sudah memutih alias sudah sempuh. Para jemaah yang rutin sholat di mesjid itu, dalam taksiran saya 80% memang para orang tua. Selebihbya baru yang lebih muda dan anak muda.

    Biasanya cuma tiga shaf saja, paling banter 4 shaf. Dari jumlah itu yang muda dapat dihitung dengan jari tangan.

    Kenapa kaum mudah jarang yang hadir rutin sholat subuh? Tentu banyak jawabannya. Mungkin mereka memang jika pagi hari lebih banyak kegiataan ketimbang yang tua-tua, apalagi yang pensiunan. Dengan berbagai kesibukannya, gak sempatlah jika kaum muda sholat subuh di mesjid. Waktu mereka terbatas. Kalau sholat subuh di mesjid jadwal mereka bakal terganggu. Jadilah mereka memilih sholat subuh di rumah saja.

    Boleh jadi juga memang selama ini kita belum memiliki “tradisi “ atawa “budaya” sholat subuh di mesjid. Jadi, sholat subuh di mesjid belum _internelazied_ atau belum mendarah daging dalam tradisi atau kebudayaan Indonesia. Walhasil, sholat subuh di mesjid memang belum menjadi prioritas mayarakat kita. Jangankan sholat subuh di mesjid, sholat subuh di ruma saja jangan-jangan juga jarang. Maka tak begitu mengherankan yang datang sholat subuh di mesjid sangat minim, itupun sebagian besar sudah sepuh.

    Kemungkinan lain, sebagian masih beranggapan sholat subuh di mesjid memang lebih cocok untuk mereka yang sudah tua. Alasannya, anak muda kan secara teoritis umurnya masih panjang. Masih banyak kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Lebih banyak memperoleh kesempatan melakukan aktivitas keduniawian. Mungkin nanti setelah menjadi tua dan meninggalkan “dunia hitam,” mereka baru gabung ke jemaah mesjid subuh. Sebaliknya para orang tua dipandang lebih banyakwaktu senggang sehingga sholat subuh di mesjid tak akan menggnggu aktivittas mereka. Apalagi teoritis orang-orang tua kan sering disebut “sudah bau tanah” alias mendekati ajal. Kematian telah mengintip mereka. Wajarlah kalau dipandang lebih bertaqwa dan mendekatkan diri ke Allah.

    “Apakah ada generasi milineal yang sholat subuh di mesjid?” tanya seorang rekan dari Surabaya yang kebetulan selalu mengikuti tulisan “Skesat Serba-Serbi Sholat Subuh.” Hamba jawab, sekali dua kali ada, tapi yang rutin tidak ada.

    “Waduh!” jawabnya seraya menerangkan dia khawatir generasi jemaah sholat subuh di mesjid yang akan datang bakalan lebih sulit lagi ada generasi mudanya.

    Setelah sholat subuh di mesjid prakteknya kami sering mendengar pengumuman dari pengurus mesjid, adanya warga yang wafat pada tadi malam atau pada jelang subuh. Pengumuman dilantangkan melalui pengeras suara mesjid. Kalau yang meninggal masih tetangga sekitar lingkungan kami, biasanya setelah sholat subuh di mesjid, tanpa dikomando, kami para jemaa langsung melayat ke rumah duka.

    “Kebiasaan” ini menguntungkan bagi kami yang masih memiliki banyak kegiatan. Kalau tak melayat setelah sholat subuh, mungkin kami tak sempat melayat.

    Pengalaman sebagai jemaah sholat subuh, yang meninggal tidak selalu orang yang sudah tua. Bisa juga yang masih muda yang belum pernah sholat subuh di mesjid. FaktanIni membuktikan sholat subuh di mesjid bukan cuma buat para orang tua, tapi juga semua lelaki dewasa. Sholat subuh di Mesjid tak ada hubungan dengan tua atawa muda. Inilah yang membuat saya November 2017 menulis puisi yang mengabarkan keadaan itu sebagai berikut:

     

    *Sholat Subuh di Mesjid*

     

    Sholat subuh berjemaah

    di mesjid Jakarta

    tiga shaf tak sampai

    berjajar rambut beruban dan raut wajah keriput.

    Sementara generasi melenial masih nyenyak tidur

    nanti bangun memakai wangi parfum

    berpikir jauh dari bau tanah.

     

    Siang hari setelah sholat dzahur

    pengeras suara dari mesjid mengumumkan

    _Innailahi wainailaji rojiun_

    telah wafar si fulan berusia 21 tahun

    subuh tadi.

     

    T a b i k ***

     

    Bersambung……

     

    *Wina Armada Sukardi,* _wartawan dan advokat senior serta Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiya. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi dan tidak mewakili organisasi._

  • Sketsa Serba- Serbi Sholat Subuh (8)

    Sketsa Serba- Serbi Sholat Subuh (8)

    *Lebih Takut ke Kamera Daripada Allah?*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    BERDALIH menerapkan ajaran “ambil yang baik-baik, dan tinggalkan yang buruk-biru, ” sampai saat ini di mesjid masih sering terjadi kehilangan alas kaki. Sandal atau pun sepatu. Juga pada sholat subuh. Apakah karena diambil anak-anak yang belum faham nilai-nilai baik buruk, ataukah oleh orang yang dewasa yang sengaja menukar sendal atawa sepatu mereka yang butut dengan gantinya yang bagus.

    Tentu ini sesuatu yang sangat memprihatinkan. Mesjid adalah rumah Allah. Rumah yang harus dihormati. Mesjid juga merupakan tempat siar ajaran agama islam. Dari mesjid diajarkan menerapkan akhlak yang luhur. Dari mesjid diajarkan pula untuk menghindari hal-hal yang buruk. Dengan demikian, sejati di mesjid semuanya harus sesuai ajaran Islam. Ahlak harus ditegakkan. Di rumah Allah tidak boleh ada pencurian, apapun, termasuk sandal dan sepatu, dengan alasan apa saja. Haram hukumnya mengambil milik orang lain. Ini harus menjadi “doktrin” utama dalam penerapan ajaran islam.

    Hal ini harus pula disosialisasikan kepada semua pihak, terutama anak-anak. Mesjid ialah tempat suci yang tidak boleh terjadi kejahatan apapun. Jangankan sandal dan sepatu hilang, jika ada mas berlian atau uang yang terti nggal atau jatuh di mesjid saja, pemiliknya harus dijamin bakal memperolehnya kembali.

    Semua niat buruk di mesjid harus ditanggalkan. Di mesjidlah nilai-nilai kebaikan patut diharapkan dan diterapkan. Jemaah harus dibuat nyaman di mesjid. Tak boleh ada perasaan was-was nanti sandal atau sepatu saya hilang. Barang berharga sekalipun di mesjid harus dijamin aman.

    Jika ke mesjid orang harus merasa barangnya diletakkan dimana saja, dijamin pasti bakal aman dan kembali. Selama di mesjid, barang apa saja, yang jatuh atau hilang , tak bakalan lenyap. Harus dibuat dan dilaksanakan mesjid itu lambang kejujuran.

    Dilarang keras menodai mesjid dengan sikap kriminal yang sekecil apapun, termasuk mencuri sandal dan sepatu. Tapi yang terjadi selama ini justeru sebaliknya. Di mesjidlah sering terjadi hilangnya sepatu atau sandal yang bagus.

    Jika ada “jemaah palsu,” artinya orang ke mesjid bukan untuk benar-benar sholat, tapi melakukan kriminal seperti tetapi tidak terbatas pada mencuri, harus dipastikan mereka harus dihukum seberat-beratnya, termasuk sanksinya sosialnya. Agar dia malu.

     

    Agar keluarganya malu. Dengan begitu diharapkan mesjid menjadi steril dari kejahatan. Perilaku manusia di mesjid harus dipastikan menjadi sudi tauladan.

    Tak hanya hanya sebatas sandal dan sepatu, pengalaman saya sholat subuh di mesjid pun ternyata masih sering terjadi pencurian motor. Padahal sebelum sholat, motor masih dijaga dan diwasi beberapa orang. Dan batas antara sholat dengan pengawasan beda tipis. Tapi tiba pada waktu sholat subuh, si maling secepat kilat mampu mencuri motor. Ini kan berarti dia sudah mengamati situasi mesjid pada subuh hari dengan cermat. Pastilah para maling sudah mengamati keadaan berhari-hari sebelumnya, sehingga mereka faham benar kapan momen untuk mencuri. Kejadian ini sudah beberapa kali terjadi.

    Rupanya para pencuri sudah tidak takut lagi kepada Tuhan. Tidak gentar kepada Allah. Mereka tak peduli mencuri di rumah Allah. Tak ada sebiji pun rasa sungkan mencuri di rumah Tuhan. Di Mesjid. Ketamakan dan jalan pintas mencapai materi di dunia, lebih utama bagi para penjahat itu ketimbang menyadari mencuri di rumah Tuhan merupakan perbuatan tercela yang luar biasa. Perbuatan dosa besar. Mereka gak peduli rumah Tuhan atawa bukan. Mereka sudah tidak lagi memiliki kepekaan sosial.

    Menyadari fenomena ini, akhirnya pengurus mesjid memutuskan memasang CC TV atau kamera pengintai. Beberapa kamera dipasang menghadap ke depan dan dapat memantau perkarangan dan tempat parkir mesjid. Begitu juga di dalam mesjid dipasang beberapa kamera. Setelah pemasangan kamera, di tempel striker kecil: mesjid ini diawasi oleh kamera, lengkap dengan gambar CC. Adanya kamera ini memungkinkan diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Jika ada pencurian, khususnya pencurian motor, dapat dilihat dari rekaman siapa pelakunya dan bagaimana melakukan pencurian.

    Sebenarnya, ini hanya upaya membantu saja buat mengurangi pencurian di lingkungan mesjid. Tetapi apa yang terjadi? Sejak adanya kamera, ternyata hampir tidak ada lagi pencurian motor. Untuk sandal dan sepatu cuma sekali dua kali saja, itu mungkin lantaran hanya tertukar.

    Rupanya manusia dewasa ini kini lebih takut kepada pengawasan melalui pengintaian kamera ketimbang takut kepada Tuhan. Bukti fisik di duniawi lebih ditakutkan dibandingkan bukti yang dilihat oleh Allah dan kelak diminta pertanggungjawaban “di alam sana.” Apakah jiwa para penjahat memang demikian? Ataukah justeru hal itu merefleksi rata-rata dari mentalitas kita?

    T a b i k.***

     

    *Wina Armada Sukardi, * _wartawan dan advokat senior dan juga Dewan Pakar Muhammadiyah. Tulisan ini merupakan repotase/opini pribadi dan tidak mewakili organisasi._

  • Sketsa Serba-serbi Sholat Subuh (5)

    Sketsa Serba-serbi Sholat Subuh (5)

    *Busana Sholat Subuh*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    “Pakian sholat subuh kok kayak mau ke pesta,” kata isteri saya, suatu ketika saat beberapa tahun silam saya mau sholat subuh di mesjid. Saya cuma tersenyum saja.

    Memang setiap saya sholat subuh ke mesjid, saya upayakan mengenakan busana yang serasi. Apapun macam dan corak pakian yang kenakan, sedapat mungkin saya upayakan tetap serasi. Mau memakai gamis, sarung, celana sarung, pakian “pakistan,” baju koko, sampai jas, saya upayakan selalu serasi.

     

    Kombinasi warna dipadu sedemikian rupa, sehingga relatif cocok. Mungkin hitam-hitam. Sarung atau celana sarung hitam dan pakian atas dengan atau tanpa kerah berwarna hitam. Peci hitam. Waktu era sisa covid-19 masih ada, masker pun hitam. Itu kalau serba hitam. Tapi bisa juga dikombinasikan dengan warna-warna lain yang matching.

    Mungkin saja sebaliknya warna serba putih, termasuk kopiah atau tutup kembali putih. Dapat juga atasan putih yang dapat dikombinasikan dengar warna apapun.

    Terkadang saya memakai selendang dengan berbagai ukuran panjang lebar serta pilihan aneka warna. Dalam

    hal ini termasuk yang “tradisional” dari berbagai daerah di Indonesia.

    Ingat, serasi tak berarti mewah, walaupun dapat pula memang ada yang mewah.

    Kenapa sholat subuh perlu memakai busana yang serasi? Bukakah Allah tidak membutuhkan pakian yang serasi seperti itu? Cukuplah bagi Allah keimanan dan ketaqwaan kita kepadaNYA.

    Ya, memang Allah tidak membutuhkan busana yang serasi seperti yang saya pilih. Allah tidak memerlukan apapun dari kita, apalagi sekedar memakai busana yang serasi. Betul itu, tapi perlu diingat justeru kitalah yang memerlukannya. Kita yang membutuhkannya.

    Memakai busana yang rapi dan terutama serasi, merupakan salah satu wujud pribadi ikut menghormati Allah. Menjujung tinggi Alllah. Busana serasi adalah cermin diri ingin memberikan yang terbaik buat Allah.

     

    Kita mau

    mempersembahkan keserasian sebagai wujud simbol kita menempatkan Allah benar-benar di tempat yang paling tinggi. Paling terhormat. Ketemu tokoh penting di dunia saja, kita memilih busana yang pantas, apalagi menghadapi kepada Allah di subuh hari.

    Bila sepanjang kita telah melaksanakan kewajibannya dan menghindari dari larangan Allah, barangkali sudah cukup. Allah tidak pernah menuntut lebih dari kita. Namun sebaliknya kita sebagai umatNYA, sebagai hambaNYA, secara psikologis membutuhkan rasa ingin mengabdi.Rasa ingin memberikan The best best, yang terbaik. Bukan yang asal-asalan. Membutuhkan bukti nyata.

    Berpakian yang serasi ketika sholat subuh di mesjid menjadi bagian dari itu. Setidaknya buat saya pribadi. Sebagai hambanya yang penuh kekurangan dan kelemahan, kita senantiasa ingin memperlihatkan dan memberikan yang terbaik kepada Alllah, dalam segala hal, termasuk dalam busana. Kitalah yang membutuhkan itu.

     

    Bukan Allah, sebab Allah sudah Maha Sempurna. Sedangkan kita hanyalah mahkuk yang papa yang memerluka wujud pembuktian ikhwal kecintaan kepada Allah.

    Kendati tidak ada larangan, kita tidak ingin menghadap Allah Sesembahan Segala Manusia dengan pakian ala kadarnya, apalagi yang lusuh dan compang camping. Betapa tidak tahu diri dan tidak tahu malunya kita, saat menghadap tokoh manusia, kita memakai pakaian yang baik, bahkan mungkin juga terbaik, sementara sebaliknya menghadap Allah kita berpenampilan sesuka kita.

    Penampilan diri dengan busana yang serasi ketika sholat subuh juga menambah rasa percaya diri kita. Dengan penampilan seperti itu kita yakin dan percaya sudah berupaya memberikan lahir batin yang terbaik dari diri kita kepada Allah.

    T a b i k!

    Bersambung…..

     

     

    *Wina Armada Sukardi * _adalah wartawan dan avokat senior dan anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhamadiyah. Tulisan ini merupakan opini pribadi dan tidak mewakili organisasi._

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (4)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (4)

    *Sejuta Alasan Tidak Sholat Subuh*

     

    – Wina Armada Sukardi –

     

    BUNYI alarm jam di waktu subuh itu membangunkan kita. Begitu mata terbuka, ternyata tak semudah niat tadi malam mau sholat subuh di mesjid. Rasanya, tidur malam baru saja, kok sudah subuh lagi. Mata masih terasa berat buat terbuka seluruhnya. Badan masih belum kuat untuk bangkit.

    Demikianlah, ketika kita mau atau berniat sholat subuh di mesjid, sering kali tiba-tiba ada “berjuta” alasan yang menjadi “justifikasi” atau “pembenaran” yang dapat kita pakai untuk penghalang kita ke mesjid.

    Alasan-alasan itu seakan-akan semuanya masuk akal. Alasan yang dapat kita percaya. Alasan yang dapat mengalahkan niat kita sebelumnya untuk sholat subuh di mesjid. Situasi dan kondisi yang sepintas dapat diterima. Bayangkan, hari masih subuh. Kita sedang tidur nyenyak-nyenyaknya. Tapi kita bukan saja harus bangun, melainkan juga harus ambil wudu atau air sembayang. Sudah itu masih pula harus berangkat ke mesjid. Dari mesjid juga masih harus balik lagi pulang ke rumah. Betapa malasnya untuk melakukan semua itu, meski semalam atau sebelum sudah berjanji pada diri sendiri. Sudah niat. Tiba pada kenyataan harus bangun dan berangkat sholat subuh di mesjid, rupanya bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan.

    Pada saat-saat seperti, “berjuta” alasan yang seakan menjadi “pembenar” kita jadi boleh tidak sholat subuh ke mesjid. Alasan-alasan yang membuat kita maklum, dan terhindari rasa bersalah tidak sholat subuh di mesjid.

    Pertama-tama, biasanya, kita punya alasan tubuh tengah capai. Sedang letih. Kemarin kita sudah bekerja atau pergi menguras banyak tenaga. Jadi subuh ini tubuh ini masih belum fit. Masih memerlukan tambahan istirahat atau tidur sebentar lagi saja. Jadi, sementara gak apa-apalah subuh ini gak pergi sholat ke mesjid dulu. Nanti 30 menit atau sejam lagi juga dapat sholat subuh di rumah.

    Alasan berikutnya, kita masih ngantuk. Tadi malam tidur sampai larut malam. Maka sekarang masih ngantuk. Kalo ngantuk-ngantuk ke mesjid sholat subuh disana, nanti tidak bisa konsentrasi. Sholat subuhnya nanti bakalan tidak khusuk. Belum lagi jika dipaksakan, bisa-bisa kondisi gak pribadi. Pekerjaan dapat terganggu.

    Walhasil malah pekerjaan jadi kacau. Maka hari ini percuma saja sholat subuh di mesjid. Nanti sajalah kalau badan sedang fresh, fit dan tidak ngantuk lagi sholat subuh di mesjidnya. Mungkin besok atau lusa bolehlah sholat subuh di mesjid.

    Alasan lain yang masuk akal, kita merasa badan kita agak sakit. Bisa sakit apapun. Mulai cuma sekedar pegal-pegal sampai agak flue dan kepala pusing. Jika sakit kan boleh _dong_ tidak sholat di mesjid. Cukup di rumah saja, bahkan boleh tidak sholat. Tuhan pun faham, kalau kita sedang sakit dapat pengecualiaan boleh tidak sholat, apalagi sholat subuh di mesjid.

    Kerap juga muncul alasan, kita harus menemani atau mengawasi anak dan atau cucu yang masih kecil dan saat itu sedang tidur. Kalau tidak kita temani,atau awasi, nanti jika pas anak dan atau cucu terbangun, dia dapat menangis. Bahkan bisa membahayakan kalau mengambil benda-benda tajam atau main air dan atau jatu dari tangga.

     

    Tapi kalau ada Ayahnya atau kakeknya kan dapat dijaga agar mereka tidak melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri atau orang lain. Dengan kata lain, dengan diawasi dan dijaga , mereka aman. Kan menjaga atau memgawasi anak-anak sebagai anak atau cucu juga penting. Jadi sementara tunda dulu sholat subuh di mesjid.

    Cuaca juga dapat jadi salah alasan pembenar yang kuat. Misal udara sedikit gelap atau rada mendung, langsung dijadikan alasan untuk tidak sholat subuh di mesjid. Alasannya, nanti pas di jalan kehujanan gimana? Bukan aja nanti bisa sakit, sholatnyan pun akhirnya juga gak jadi. Lebih baik sementara sholat subuh di rumah dululah. Besok, lusa kalo cuaca bagus barulah enak berangkat ke mesjid.

    Dan masih ada “berjuta” alasan lain untuk tidak berangkat sholat subuh ke mesjid. Jangankan buat yang tidak pernah atawa jarang sholat subuh di mesjid, bagi jemaah sholat subuh yang sudah jelas dan terbukti rutin sholat subuh di mesjid saja, “godaan” seperti itu masih kerap muncul dengan kuat.

    Memang untuk sholat subuh di mesjid perlu mental kuat. Perlu tekad utuh. Tak bisa kalau cuma setengah hati. Hanya mereka yang sejak awal memiliki keyakinan sholat subuh di mesjid bukan sekedar memenuhi sholat berjemaah memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding dengan sholat sendiri, tapi merupakan pembuktian terhap kecintaan kepada Allah. Juga bukti terhadap ketaatan dan kepatuhan kita terhadap Sang Maha Pencinta. Kewajiban sholat subuh di mesjid sudah mendarah daging. Sudah _internelazed _bahasa teks booknya. Dengan sholat subuh di mesjid secara tidak langsung telah menjadi simbol, sebelum melakukan kegiataan apapun, kita melapor dan minta izin kepada Allah.

     

    Posisi Allah dalam konteks ini di tempatkan sebagai prioritas utama di atas prioritas lainnya. Sebelum pada hari itu kita melaksanakan kegiataan lain, kepada Allah dahulu kita menghadap, menyerahkan diri dan mohon bimbingan serta tuntutan. Bagi jemaah sholat subuh di mesjid, Allah adalah segalanya.

    Maka segala macam “godaan” yang menghampiri para jemaah sholat subuh di mesjid pada umumnya dapat langsung ditampik. Disingkirkan.

    Sebaliknya bagi yang jarang sholat subuh di mesjid,”godaan” tersebut justeru menjadi alasan yang menggiurkan, yang masuk akal dan jadi alasan “pembenar” yang kuat. Padahal itu adalah sebuah adalah “jebakan,” yang manis dan nampak dapat diterima. Sebuah prinisip ajakan agar kita tak usah sholat subuh di mesjid.

    Kitalah yang memilih. Kitalah yang memutuskan. Tentu dengan segala resikonya.

    T a b i k. ***

     

    Bersambung….

     

    *WINA ARMADA SUKARDI,* wartawan dan advokat senior serta anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhammadiyah. Tukisan ini merupakan repotase/opini pribadi yang tidak mewakili organisasi.

  • Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (3)

    Sketsa Serba-Serbi Sholat Subuh (3)

    Satu Generasi Lewat Sudah

    – Wina Armada Sukardi –

    SUBUH hari saya membuka pintu pagar. Kala itu pintu pagar rumah kami belum diubah menjadi setinggi seperti sekarang. Setelah pintu saya tutup kembali, dan saya membalik badan, sudah ada Pak Latif di depan saya. Pak Latief merupakan tetangga satu rumah sebelah kiri depan rumah saya.

    Usia Pak Latief jauh di atas saya. Mungkin berbeda sekitar 15 tahunan. Tepatnya saya tidak tahu. Dia termasuk jemaah tetap mesjid dekat rumah kami. Tak hanya jemaah sholat subuh, melainkan juga jemaah waktu sholat-sholat lainnya.

    Waktu itu kami sama-sama menuju mesjid untuk sholat subuh. Sambil berjalan kaki, kami sempat ngobrol-ngobrol sejenak, sampai kami di mesjid. Rumah kami ke mesjid memang cuma sebatas “lembaran batu.”

    Tapi itu kejadian sekitar sepuluh tahun silam. Kini Pak Latief sudah tidak ada. Sekitar dua tahun silam almarhum wafat. Lantaran waktu itu sedang berjangkit wabah covid-19, saya bahkan tidak dapat melayat dan mengantar ke peristirahatan terakhir.
    Selama saya sholat subuh di mesjid, Pak Latief merupakan salah satu orang tua yang sering bertemu saya waktu berjalan ke mesjid atau waktu di mesjidnya sendiri. Bahkan ketika di usia senjanya, Pak Latief menderita dimensia, semacam penyakit lupa, dia masih sering terlihat berjalan menuju mesjid.

    Bersama-sama Pak Latief saya juga hampir setiap hari bersua dengan banyak “bapak-bapak” lain yang usianya di atas saya. Katakanlah satu generasi di atas saya. Para orang tua itu telah lebih dahulu dipanggil kembali oleh Sang Pencipta. Mereka satu per satu kembali ke pangkuan-NYA.

    Pak Nawawi, misalnya, mantan ketua RT dan orang yang ikut aktif salama proses pembangunan mesjid dekat rumah saya, sudah lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Lelaki yang dulu tinggal di dekat tikungan itu pernah memberikan saya pohon kurma, tapi sayang karena saat itu musim hujan lebat, pohon kurmanya walaupun sudah ditanam dengan bergerobak-gerobak pasir, akhirnya gagal tumbuh.

    Saya mendengar cerita dari banyak orang, Pak Nawawi semasa muda mampu mengatasi berbagai problem keamanan atau sengketa sosial. Oleh lantaran itu dia ketika hidup menjadi tokoh yang sangat disegani. Belakangan Pak Abbas, anaknya, meneruskan jejaknya pernah sebagai ketua RT.

    Ada juga Pak Yamin. Jurangan besi ini yang membawa saya membeli tanah di depan rumah saya seluas 1.800an meter persegi, tapi kini sudah saya jual kembali. Di bawah kepemimpinan kegiatan RW kami waktu itu sangat dinamis. Di juga salah satu jemaah yang sangat sering sholat subuh di mesjid. Dia malah sudah meninggal lebih dahulu dari generasinya.

    Ada juga Pak Sainan. Lelaki yang menjadi perantara waktu saya membeli rumah yang saya tempati sekarang, pun telah pergi selama-lamanya. Sebelumnya dia hampir selalu lalu lalang di depan rumah saya. Tetangga setelah tingkungan dalam rumah saya ini, kalo lebaran selalu pada pagi hari pertama datang lengkap dengan hampir seluruh keluarga besarnya.

    Kini tinggal anak cucunya yang masih berinteraksi dengan kami, karena isterinya pun beberapa bulan silam menyusulnya ke alam baka. Salah satu anaknya sekarang menjadi ketua RT di lingkungan kami.

    Itu cuma empat contoh tetangga yang biasa sholat subuh bersama-sama di mesjid. Semua telah pergi. Selain keempatnya, tentu, banyak lagi yang telah pergi untuk selama-lamanya. Saya perhatikan, saat ini tinggal beberapa orang tua saja generasi di atas saya yang masih hidup, ternasuk Ustad Satiri, ketua mesjid kami. Selebihnya tinggal kenangan saja. Sebuah generasi jemaah sholat subuh di masjid tanpa terasa berlalu sudah.
    Dengan begitu, dalam usia saya saat ini 64 tahun, saya telah memasuki generasi baru sebagai jemaah sholat subuh!. Posisi yang sebelumnya di tempati oleh para alhmarhum seperti Pak Latief, Pak Yanin, Pak Nawawi atau Pal Sainan, telah beralih ke generasi saya. Sekitar 25 tahun terjadi peralihan itu. Maka kini saya dan kawan-kawan segenerasi sudah dikelompokan ke generasi “bapak-bapak” yang relatif sempuh.

    Agama Islam mengajarkan agar kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Merugilah mereka yang menyia-nyiakan waktu. Dalam hal ini, bukankah ada ajaran yang terkenal: manfaatkanlah lima perkara, sebelum datang lima perkara lain:

    1. Manfaatkankah waktu mudamu, sebelum waktu tuamu tiba.

    2. Manfaatkanlah masa sehatmu, sebelum waktu sakitmu tiba.

    3. Manfaatkanlah masa kayamu, sebelum masa miskinmu tiba.

    4. Manfaatkanlah waktu luangmu, sebelum waktu sibukmu tiba.

    5. Manfaatkanlah waktu hidupmu, sebelum waktu matimu tiba.

    Sholat subuh rutin di mesjid, tanpa terasa sudah menghasilkan generasi baru. Setidaknya kami yang rutin sholat subuh di mesjid, sudah memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Pencipta kepada kami, tanpa terasa telah rutin sholat subuh di mesjid. Mungkin itulah sebabnya disebut “_sholat subuh lebih baik daripada tidur…….”

    T a b i k.****

    Bersambung….

    *Wina Armada Sukardi,* _wartawan dan advokat senior, juga anggota Dewan Pakar Pengurus Pusat Muhamadiyah. Tulisan ini merupakan opinni pribadi dan tidak mewakili organisasi._