Blog

  • Gubernur NTB Pastikan Dana Nasabah Bank NTB Syariah Aman Meski Ada Gangguan IT

    Gubernur NTB Pastikan Dana Nasabah Bank NTB Syariah Aman Meski Ada Gangguan IT

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)–Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, memastikan dana nasabah Bank NTB Syariah tetap aman meskipun sempat terjadi gangguan sistem teknologi informasi (IT) pada layanan bank tersebut. Pernyataan ini disampaikan menyusul kabar beredar tentang hilangnya dana nasabah.

    “Benar, memang sempat terjadi gangguan pada sistem IT Bank NTB Syariah. Tapi saya tegaskan bahwa dana nasabah tetap aman,” ujar Gubernur Iqbal yang juga merupakan pemegang saham pengendali (PSP) Bank NTB Syariah, Sabtu (12/4).

    Gubernur NTB telah memanggil jajaran pengurus Bank NTB Syariah, termasuk direksi dan komisaris, untuk memastikan penanganan gangguan ini dilakukan secara cepat dan tepat. Ia menegaskan bahwa isu ini juga menjadi perhatian utama dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa.

    “Tidak ada dana pihak ketiga, termasuk dana nasabah, yang terdampak oleh gangguan sistem. Penanganan segera sudah dilakukan dan situasi saat ini terkendali,” tambahnya.

    Gubernur Iqbal juga mengajak masyarakat untuk tetap percaya dan bermitra dengan Bank NTB Syariah. Ia menekankan bahwa layanan bank akan terus diperbaiki untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan nasabah.

    Sebagai informasi, gangguan layanan digital Bank NTB Syariah pertama kali terjadi pada malam takbiran dan sempat memengaruhi akses layanan elektronik nasabah. (rls)

     

  • Ketua Harian PHDI NTB Gelar Resepsi Pernikahan Putra di Prime Park Hotel, Dihadiri Tokoh Penting NTB

    Ketua Harian PHDI NTB Gelar Resepsi Pernikahan Putra di Prime Park Hotel, Dihadiri Tokoh Penting NTB

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)– Suasana hangat dan penuh kebahagiaan menyelimuti resepsi pernikahan putra Ketua Harian Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Nusa Tenggara Barat, Ir. I Wayan Karioka, M.H. Acara ini berlangsung pada Rabu malam (9/4) di Ballroom Prime Park Hotel, Jalan Udayana, Kota Mataram.

    Pernikahan Sakral Putra Ketua Harian PHDI NTB

    Putra Ir. I Wayan Karioka, GANGGAS KARINDRA, S.T., resmi menikah dengan I DEWA AYU ANGGAMURTI, S.AK. Acara pernikahan ini tidak hanya mengukuhkan ikatan kedua mempelai, tetapi juga menjadi momentum silaturahmi antara tokoh-tokoh penting NTB dari berbagai kalangan.

    Kehadiran Tokoh-Tokoh Penting NTB

    Dalam perhelatan tersebut, hadir sejumlah pejabat dan tokoh penting NTB, di antaranya, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, Wali Kota Mataram, Mohan Roliskana, Bupati Lombok Timur, Ketua DPD PDI Perjuangan NTB, Rachmat Hidayat. Hadir juga Abdul Malik, Ketua DPRD Kota Mataram, IGB Arik Sudana Putra, SE; I Gde Wiska, S.Pt; dan Ir. Made Slamet, M.M.

    Selain itu, perwakilan pengusaha dan elite masyarakat turut meramaikan acara, termasuk pemilik PT Varindo, H. Farid Amir beserta rekan-rekan, serta perwakilan Puri Agung Cakranegara yang menunjukkan hubungan erat antara keluarga mempelai dan bangsawan lokal. Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB, Dr. Buya Subki Sasaki, M.H., serta Komandan Korem 162/Wira Bhakti, Brigjen TNI Moh. Syasul Arief, S.Sos., turut hadir menambah kekhidmatan acara.

    Sambutan Penuh Rasa Syukur

    Dalam sambutannya, Ir. I Wayan Karioka, M.H. mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh tamu undangan. “Kami sekeluarga besar mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak/Ibu yang telah hadir memberikan doa restu untuk putra-putri kami. Kehadiran para tokoh, sahabat, dan kerabat menjadi berkah dan kebahagiaan tersendiri bagi keluarga kami,” ujarnya.

    Momen Mempererat Persaudaraan di NTB

    Resepsi pernikahan ini tidak hanya menjadi momen sakral bagi kedua mempelai, tetapi juga sebagai ajang mempererat hubungan antar tokoh daerah. Acara ini memperkuat nilai persaudaraan dan kerukunan dalam keberagaman NTB, mendukung upaya pembangunan pariwisata dan budaya lokal. (nang)

  • Pemkot Bima Launching Gerakan BISA, Gerakan Moral dan Edukatif

    Pemkot Bima Launching Gerakan BISA, Gerakan Moral dan Edukatif

    KOTA BIMA (LOMBOKEXPRESS.ID)–Pemerintah Kota Bima meluncurkan Gerakan BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Asri). Peluncuran gerakan ini sebagai wujud ikhtiar nyata Wali Kota Bima dan Wakil Wali Kota Bima untuk menciptakan Kota Bima bermartabat, salah satunya menciptakan lingkungan yang sehat dan asri.

    Peluncuran gerakan BISA tersebut dilakukan pada puncak perayaan Hari Ulang Tahun Kota Bima Ke-23 yang ditandai dengan penekanan tombol sirine oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Hj. Indah Dhamayanti Putri, SE, M.IP, Wali Kota Bima H. A. Rahman H. Abidin, SE dan Wakil Wali Kota Bima Feri Sofiyan, SH di Halaman Kantor Wali Kota Bima, Kamis, 10 April 2025.

    Wali Kota Bima, H. A. Rahman H. Abidin, menyampaikan, gerakan BISA merupakan bentuk nyata kontribusi pemerintah dan masyarakat dalam membangun daerah, terutama di persoalan kebersihan, keindahan lingkungan, dan kesehatan masyarakat.

    Tantangan kedepan makin kompleks, terutama masalah sampah merupakan isu krusial yang harus diselesaikan secara bersama dan sistematis.

    Wali Kota Bima membeberkan, hari ini Kota Bima memproduksi sampah sekitar 150 meter kubik sampah setiap hari, namun kapasitas pelayanan hanya mampu melayani 65 persen setiap hari dari total sampah yang ada.

    “Artinya, masih ada tumpukan-tumpukan sampah dilingkungan sekitar kita yang belum tertangani dengan maksimal,” ucap Wali Kota.

    Belum lagi, sambungnya, kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Oimbo sudah over kapasitas, armada yang terbatas, personil kebersihan masih kurang dari ideal.

    “Kita tidak boleh terus menerus berada dalam situasi ini. Untuk itu, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kota Bima ke-23, pemerintah Kota Bima dengan penuh kesungguhan meluncurkan gerakan Kota Bima BISA (Bersih, Indah, Sehat dan Asri),” ujarnya.

    “Gerakan ini adalah gerakan moral, sosial, edukatif dan strategis untuk membangun budaya bersih dan sehat,” imbuhnya. (rls)

  • Kerusakan Konservasi Penyu di Pantai Mapak Capai Rp250 Juta, Yayasan Desak Pemerintah Bertindak

    Kerusakan Konservasi Penyu di Pantai Mapak Capai Rp250 Juta, Yayasan Desak Pemerintah Bertindak

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)– Kawasan konservasi penyu di Pantai Mapak, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengalami kerusakan parah akibat abrasi pantai yang berlangsung dalam dua tahun terakhir. Total kerugian ditaksir mencapai Rp250 juta, mengancam habitat alami penyu dan aktivitas ekonomi masyarakat pesisir.

    Ketua Yayasan Pencinta Penyu Mapak Indah, H. Mahendra Irawan, menyebut kerusakan terparah terjadi antara Oktober 2024 hingga Februari 2025. “Badai besar dengan angin kencang dan hujan deras merusak kolam konservasi, ruang edukasi, kolam rehabilitasi, hingga sekretariat yayasan,” ungkap Mahendra, Minggu (6/4/2025).

    Fasilitas umum seperti area parkir dan lapak UMKM yang mendukung pelestarian penyu juga mengalami kerusakan. Aktivitas penyu bertelur pun terganggu, karena hingga awal April 2025 belum ada penyu yang mendarat di Pantai Mapak—padahal biasanya musim peneluran sudah dimulai.

    Mahendra menyebut bahwa perubahan iklim dan abrasi pantai menjadi faktor utama penurunan populasi penyu yang datang untuk bertelur. Ia menilai respons pemerintah terhadap kerusakan konservasi penyu masih minim dan tidak konkret.

    “Konservasi penyu bukan hanya soal lingkungan hidup, tapi juga menyangkut ekonomi masyarakat dan masa depan pariwisata NTB,” tegasnya.

    Mahendra membandingkan keseriusan pemerintah daerah dengan Provinsi Jawa Barat yang dinilai lebih proaktif dalam mengalokasikan anggaran dan menyusun kebijakan konservasi.

    “Pertanyaannya, apakah pemerintah daerah kita serius menyelamatkan kawasan konservasi ini?” ujarnya.

    Dampak kerusakan juga memaksa sebagian warga pesisir mengungsi ke hunian sementara (huntara) yang dibangun di atas lahan milik Pemprov NTB. Saat ini, kegiatan yayasan dijalankan dari lokasi darurat di kawasan Pagutan.

    Meski dalam keterbatasan, yayasan tetap menjalankan edukasi lingkungan dan penanaman cemara laut sebagai solusi alami mengatasi abrasi. Namun, Mahendra juga menyoroti adanya penyalahgunaan nama yayasan oleh oknum tak bertanggung jawab.

    “Ada oknum dari sekolah internasional yang galang dana sebesar Rp22 juta atas nama yayasan kami, tapi dana tersebut tidak pernah disalurkan,” keluhnya.

    Mahendra berharap pemerintah pusat dan daerah segera merespons situasi ini dengan kebijakan yang mendukung konservasi dan alokasi anggaran yang memadai.

    “Menjaga alam bukan sekadar tugas aktivis. Ini investasi jangka panjang bagi generasi mendatang,” pungkas Mahendra. (nang)

    Keterangan Foto: Ketua Yayasan Pencinta Penyu Mapak Indah, H. Mahendra Irawan. (ist)

  • Lebaran Topat Sasak Lombok, Ajaran Islam atau Tradisi?

    Lebaran Topat Sasak Lombok, Ajaran Islam atau Tradisi?

    _Oleh: M. Tajir Asyjar Djr_*

    Lebaran Topat. Dua kata ini begitu akrab di telinga masyarakat Sasak di Pulau Lombok. Perayaan yang datang satu minggu setelah Idul Fitri ini menjadi momen istimewa—penuh warna, aroma ketupat, ziarah makam, dan keramaian di tempat-tempat wisata religi. Tapi pertanyaannya, *apakah Lebaran Topat merupakan ajaran Islam atau sekadar tradisi lokal?*

    Sebagai orang Sasak sekaligus bagian dari organisasi media, saya sering mendapat pertanyaan ini. Bahkan, tak sedikit yang menganggap Lebaran Topat sebagai “bid’ah” karena tak dikenal dalam syariat Islam. Namun jika kita tarik benang merah dari sejarah dan budaya, jawabannya tidak sesederhana itu.

    *Jejak Sejarah dan Kearifan Lokal*

    Menurut beberapa agamawan/budayawan, seperti almaghfurullah TGH. Faisal (almarhum) dalam diskusinya di Forum Sasak Pencerah, Lebaran Topat adalah bentuk akulturasi Islam dengan budaya lokal Sasak. Dalam tradisi Wetu Telu—ajaran Islam lokal yang berkembang di Lombok bagian utara dan tengah—ibadah puasa tak hanya dilakukan selama Ramadan, tapi juga dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal.

    Puasa ini kemudian ditutup dengan sebuah perayaan. Dan di sinilah muncul istilah “Lebaran Topat”—lebaran untuk mereka yang melanjutkan puasa sunah enam hari. Topat, atau ketupat, menjadi simbol utama dalam perayaan ini, karena menggambarkan syukur, kebersamaan, dan hasil dari perjuangan spiritual.

    *Islam dan Tradisi: Bukan Musuh, Tapi Mitra*

    Syekh Quraish Shihab pernah mengatakan bahwa selama sebuah tradisi tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar Islam, maka ia bisa menjadi bagian dari kekayaan budaya umat. Maka, Lebaran Topat bukanlah ajaran pokok dalam Islam, tapi ia *bisa menjadi ekspresi keislaman masyarakat Sasak dalam bentuk budaya*.

    Ziarah kubur, sedekah makanan, hingga doa bersama di tempat-tempat keramat seperti Batu Layar atau Loang Baloq bukanlah ritual yang melenceng, jika niat dan caranya tetap dalam koridor syariat. Bahkan, dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, _“Aku dahulu telah melarang kalian untuk berziarah kubur. Maka sekarang, berziarahlah karena ia dapat mengingatkan kalian kepada akhirat”_.

    *Momentum Mempererat Silaturahmi dan Promosi Wisata*

    Bagi saya pribadi, Lebaran Topat juga menjadi momen untuk memperkuat silaturahmi antarwarga, lintas desa, bahkan lintas suku. Perayaan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun luar daerah. Pemerintah NTB pun menjadikan Lebaran Topat sebagai agenda tahunan pariwisata.

    Namun tentu saja, esensi spiritualnya jangan sampai hilang. Kita perlu membedakan mana yang esensial (ibadah) dan mana yang seremonial (budaya). Jangan sampai Lebaran Topat hanya sekadar “ajang piknik massal” tanpa makna, apalagi disalahgunakan untuk pesta pora.

    *Penutup: Jalan Tengah untuk Semua*

    _Jadi, apakah Lebaran Topat itu ajaran Islam atau tradisi?_ Jawabannya: *_keduanya_*. _Ia lahir dari rahim Islam, tumbuh dalam pangkuan budaya Sasak_. Ia bukan ibadah wajib, tapi tradisi yang bernilai ibadah jika diniatkan dengan benar.

    Sebagai warga Sasak dan Muslim, saya melihat Lebaran Topat sebagai momentum kultural yang memperkaya wajah Islam Indonesia. Bukan Islam Arab, bukan pula *Islam yang kaku, tapi Islam Nusantara yang ramah, membumi, dan sarat makna kebersamaan*.

    Selamat Lebaran Topat. *Mangan topat, jaga silaturahmi, rawat tradisi*.

     

    *)_Penulis adalah jurnalis dan Sekretaris Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) NTB_

  • Pertama Kali Digelar di Lombok, Lomba Mesolah Canang Sari dan Story Telling Puskor Hindunesia Sukses Menyita Perhatian

    Pertama Kali Digelar di Lombok, Lomba Mesolah Canang Sari dan Story Telling Puskor Hindunesia Sukses Menyita Perhatian

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID) – Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-22, Puskor Hindunesia sukses menggelar dua lomba unik dan edukatif: Lomba Mesolah Canang Sari dan Story Telling, pada Minggu (6/4/2025) di Kampus Saraswati, Mataram. Kegiatan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Hindu di Lombok dan mendapat antusiasme tinggi dari para peserta dan pengunjung.

    Lomba Mesolah Canang Sari, yang untuk pertama kalinya digelar di Lombok, menjadi ajang penting untuk memperkenalkan dan melestarikan tradisi persembahan dalam agama Hindu. Meski baru diikuti oleh kalangan Radhar (Relawan Dharma) di wilayah Mataram dan dengan publikasi terbatas, kegiatan ini tetap berlangsung meriah. Para peserta menunjukkan kreativitas tinggi serta pemahaman mendalam mengenai makna spiritual dari Canang Sari.

    Tiga peserta terbaik berhasil meraih juara setelah dinilai oleh dewan juri yang kompeten. Panitia berharap lomba ini bisa menjadi agenda tahunan dengan cakupan peserta yang lebih luas dan promosi yang lebih maksimal di masa mendatang.

    Sementara itu, Lomba Story Telling tingkat SD dan SMP tak kalah seru. Peserta diminta membawakan cerita dalam Bahasa Inggris yang diambil dari kisah-kisah rakyat Hindu, pewayangan, hingga isi lontar. Lomba ini dibagi menjadi tiga kategori, yakni: bercerita membaca teks untuk SD dan SMP, serta bercerita tanpa teks untuk SMP.

    Dari setiap kategori, telah terpilih tiga peserta terbaik yang akan mendapatkan penghargaan pada acara puncak Hari Jadi ke-22 Puskor Hindunesia.

    Ketua Dekorwil NTB Puskor Hindunesia, Ni Komang Puspita, menegaskan bahwa esensi lomba ini adalah menggali dan membina generasi muda Hindu agar mampu berkompetisi di tingkat nasional hingga internasional.

    Senada dengan itu, Ketua Panitia Hari Jadi Puskor Hindunesia ke-22, IM. Putu Sudiartha H., S.Si, MBA, M.AP, menyampaikan bahwa data seluruh peserta telah dicatat sebagai aset pengembangan sumber daya manusia Hindu ke depan.

    “Dari peserta hingga pemenang, kami harapkan bisa terus aktif ngayah dalam berbagai kegiatan Puskor. Kami juga berkomitmen untuk mendukung mereka agar bisa tampil di ajang yang lebih tinggi,” ungkapnya dalam sambutan.

    Dengan suksesnya dua lomba ini, panitia telah menyelesaikan sebagian dari delapan rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menyemarakkan Hari Jadi ke-22 Puskor Hindunesia, sebagai bentuk nyata pelestarian budaya dan penguatan identitas keagamaan di tengah masyarakat Hindu di NTB. (nang)

  • Semarak Halal Bihalal IKSASS se-NTB di Bencingah Agung: Ajang Silaturahmi Santri, Spirit Pesantren, dan Dukungan untuk Desa

    Semarak Halal Bihalal IKSASS se-NTB di Bencingah Agung: Ajang Silaturahmi Santri, Spirit Pesantren, dan Dukungan untuk Desa

    LOBAR (LOMBOKEXPRESS.ID) — Ribuan santri dan alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo (P2S2) yang tergabung dalam Ikatan Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Rayon Nusa Tenggara Barat (NTB) memadati Bencingah Agung Kantor Bupati Lombok Barat, Ahad (6/4/2025). Mereka hadir dalam kegiatan Halal Bihalal IKSASS se-NTB yang berlangsung meriah dan penuh nuansa kekeluargaan.

    Halal Bihalal ini menjadi ajang silaturahmi akbar antaralumni P2S2 dari seluruh NTB, sekaligus memperkuat semangat ukhuwah dan kontribusi santri dalam pembangunan daerah.

    Hadir dalam kesempatan ini sejumlah tokoh penting, seperti Anggota DPD RI dapil NTB TGH. Ibnu Kholil, Kepala Kanwil Kemenag NTB H. Zamroni Aziz, Rektor UNU NTB, serta Bupati dan Wakil Bupati Lombok Barat, H. Lalu Ahmad Zaini dan Hj. Nurul Adha.

    Acara tahun ini terasa istimewa karena dihadiri langsung oleh Bupati Lombok Barat yang juga alumni sekaligus sesepuh IKSASS, H. Lalu Ahmad Zaini (LAZ). “Tahun lalu yang hadir sebagai bupati adalah Pak Fauzan Khalid. Kali ini, yang hadir bukan hanya sebagai kepala daerah, tapi juga bagian dari keluarga besar P2S2,” ujar Ahmad Tauhid Rifa’i, S.Ag., mewakili IKSASS NTB.

    Dalam sambutannya, Bupati LAZ mengungkapkan rasa syukurnya bisa berkumpul bersama para santri dan alumni P2S2. Ia menegaskan dukungannya terhadap seluruh kegiatan IKSASS. “Saya ini santri Sukorejo. Insya Allah, semua program IKSASS akan kami dukung. Melalui program unggulan kami, ‘Sejahtera dari Desa’, kami ingin membangun dari bawah, sebagaimana semangat pesantren yang membumi,” ujar LAZ.

    Kepala Kanwil Kemenag NTB H. Zamroni Aziz juga memberikan sambutan hangat. Meskipun bukan alumni P2S2, ia menyatakan kedekatannya dengan IKSASS. “Banyak alumni P2S2 yang kini menempati posisi penting di Kemenag NTB, termasuk sebagai pendamping haji. Ini bentuk dukungan kami terhadap kader-kader santri dalam pembangunan,” tuturnya.

    Kemeriahan acara semakin terasa dengan penampilan Mafia Shalawat Ibrahimy, grup musik islami yang digawangi para alumni. Lantunan shalawat menggema syahdu, menyatukan semangat dan spiritualitas para peserta.

    Sebagai penutup, doa bersama dipimpin oleh tiga tuan guru kharismatik: TGH. Ibnu Kholil, TGH. Lalu Nurul Maswa Ibrahim, dan TGH. Qamarullah. Doa menjadi penyejuk batin dan penguat semangat santri untuk terus berkontribusi bagi bangsa dan daerah.

    Halal Bihalal IKSASS se-NTB bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi momentum penting menghidupkan nilai-nilai kebersamaan, keberkahan, serta pengabdian santri untuk negeri dari NTB. (red)

  • Pokja PWI Manado Gelar Rapat Perdana di Hotel Bintang Lima, Tunjukkan Semangat Profesionalisme Wartawan Muda

    Pokja PWI Manado Gelar Rapat Perdana di Hotel Bintang Lima, Tunjukkan Semangat Profesionalisme Wartawan Muda

    MANADO – Terobosan baru ditunjukkan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Manado. Meski baru terbentuk, Kelompok Kerja (Pokja) PWI Manado langsung menggelar rapat perdana di Hotel Sintesa Peninsula, salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di Sulawesi Utara, pada Sabtu, 5 April 2025.

    Langkah progresif ini menuai perhatian luas dan mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Pelaksana Tugas (Plt) Ketua PWI Sulawesi Utara, Vanny Loupatty alias Maemossa, memberikan pujian atas keberanian dan semangat para wartawan muda Manado yang ingin tampil profesional sejak awal.

    “Saya bangga. Baru dibentuk, Pokja PWI Manado sudah memperlihatkan mentalitas maju. Ini bukan sekadar soal tempat, tetapi tentang tekad untuk membawa organisasi ke level yang lebih tinggi,” ujar Loupatty dengan penuh semangat.

    Ia menekankan pentingnya membangun citra pers yang modern dan bermartabat. Menurutnya, wartawan bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga bagian dari kekuatan sosial yang membangun citra positif organisasi profesi.

    “Organisasi wartawan harus tampil percaya diri, profesional, dan berintegritas. Semangat ini harus terus dipertahankan,” tegasnya.

    Rapat tersebut dipandu oleh Ketua Bidang Pendidikan PWI Sulut, Rikson Karundeng, dan berlangsung dalam suasana hangat serta penuh semangat kebersamaan. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengurus PWI Sulut, termasuk Wakil Ketua Adrianus R. Pusungunaung, Sekretaris Ardison Kalumata, serta tokoh masyarakat dan anggota PWI Kota Manado.

    Ketua Pokja PWI Manado, Arsenius HUT Kamrin, menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan PWI Sulut. Ia menegaskan komitmen Pokja PWI Manado untuk menjadi organisasi yang kuat secara struktur, unggul dalam karya jurnalistik, serta berperan aktif dalam pengembangan profesi wartawan.

    “Kami siap menjadikan Pokja PWI Manado sebagai ruang kaderisasi wartawan yang kritis, beretika, dan mampu menjawab tantangan zaman,” ujar Arsenius.

    Ia juga mengungkapkan bahwa program kerja Pokja akan menyentuh berbagai aspek penting, mulai dari peningkatan kapasitas wartawan, kemitraan strategis, hingga kontribusi nyata dalam pembangunan daerah melalui jurnalistik yang mencerahkan.

    Langkah Pokja PWI Manado ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi PWI di kabupaten/kota lain di Sulawesi Utara untuk terus berinovasi, menjaga profesionalisme, dan memperkuat peran pers dalam pembangunan daerah. (rls)

  • Wisata Religi di Pura Sri Bandar Agung, Pantai Goa Landak, Keindahan Alam dan Spiritualitas di Sekotong

    Wisata Religi di Pura Sri Bandar Agung, Pantai Goa Landak, Keindahan Alam dan Spiritualitas di Sekotong

    LOMBOK BARAT (LOMBOKEXPRESS.ID) – Pantai Goa Landak di Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat, menjadi destinasi wisata yang menawarkan kombinasi keindahan alam dan pengalaman spiritual. Terkenal dengan pasir putihnya yang lembut serta panorama laut yang memukau, pantai ini semakin menarik dengan keberadaan Pura Sri Bandar Agung, tempat persembahyangan umat Hindu yang sarat nilai historis dan spiritual.

    Pesona Pantai Goa Landak

    Pantai Goa Landak memiliki keunikan tersendiri. Meskipun namanya mengandung kata “landak”, tidak ada hewan landak di sini. Nama tersebut merujuk pada salah satu spot berbentuk lorong sempit menyerupai gua. Selain itu, terdapat formasi bukit karang unik yang disebut sebagai “bukit ombak”, terbentuk secara alami hingga menyerupai gelombang laut, menambah daya tarik bagi para wisatawan.

    Di sekitar pantai, terdapat beberapa gili (pulau kecil) yang semakin mempercantik lanskap, seperti Gili Sudak, Gili Kedis, Gili Tangkong, dan Gili Nangu. Keasrian alamnya menjadikan kawasan ini cocok bagi wisatawan yang mencari ketenangan.

    Keberadaan Pura Sri Bandar Agung

    Salah satu daya tarik utama Pantai Goa Landak adalah Pura Sri Bandar Agung. Pura ini berlokasi di sebuah lorong sempit yang unik, menjadi tempat suci bagi umat Hindu untuk bersembahyang. Di sekitar area pura, tampak sesajen berupa canang serta bentangan kain kuning yang menjadi simbol kesakralan tempat ibadah ini.

    Keberadaan Pura Sri Bandar Agung menunjukkan kuatnya nilai toleransi dan keberagaman di Lombok, di mana berbagai keyakinan dapat hidup berdampingan dalam harmoni. Pura ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata religi yang menarik minat pengunjung dari berbagai latar belakang.

    Akses Menuju Pantai Goa Landak

    Meskipun memiliki pesona yang luar biasa, akses menuju Pantai Goa Landak masih cukup menantang. Wisatawan harus menempuh perjalanan sekitar 4 km dari jalan raya melalui jalur tanah yang belum sepenuhnya diaspal. Perjalanan darat dapat ditempuh dari Kota Mataram melalui Lembar dan Jalan Raya Sekotong, sebelum masuk ke jalan desa yang mengarah ke pantai. Alternatif lain adalah melalui jalur laut dengan perahu dari Pelabuhan Lembar atau pesisir Pantai Sekotong.

    Destinasi Wisata Religi dan Alam yang Menawan

    Pantai Goa Landak menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam sekaligus merasakan nuansa spiritual. Dengan keasriannya yang masih terjaga, pantai ini layak menjadi destinasi unggulan di Lombok Barat. Bagi pencinta wisata religi dan petualangan, mengunjungi Pura Sri Bandar Agung di Pantai Goa Landak adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan. (nang)

  • 1.148 Warga Binaan Lapas Lombok Barat Terima Remisi Khusus Nyepi dan Idul Fitri 2025

    1.148 Warga Binaan Lapas Lombok Barat Terima Remisi Khusus Nyepi dan Idul Fitri 2025

    LOMBOK BARAT (LOMBOKEXPREES.ID) – Sebanyak 1.148 narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Lombok Barat mendapatkan remisi khusus dalam rangka perayaan Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri 2025. Pengurangan masa pidana ini diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap warga binaan yang menunjukkan perilaku baik selama menjalani hukuman.

    Kepala Lapas Kelas IIA Lombok Barat, M. Fadli, mengungkapkan bahwa dari total penerima remisi, 76 narapidana beragama Hindu mendapatkan Remisi Khusus (RK) Hari Raya Nyepi, sedangkan 1.072 narapidana beragama Islam menerima Remisi Khusus (RK) Hari Raya Idul Fitri.

    “Alhamdulillah, ada dua warga binaan yang langsung bebas (RK-II), satu dari narapidana Muslim akan bebas saat Idul Fitri, dan satu lagi dari narapidana Hindu akan bebas saat Nyepi,” ujar M. Fadli usai penyerahan Surat Keputusan (SK) remisi secara simbolis pada Jumat, 28 Maret 2025.

    Rincian Remisi Warga Binaan

    Besaran remisi yang diberikan kepada warga binaan bervariasi, mulai dari:
    ✅ 15 hari: 190 orang
    ✅ 1 bulan: 832 orang
    ✅ 1 bulan 15 hari: 107 orang
    ✅ 2 bulan: 18 orang

    Fadli menegaskan bahwa remisi diberikan tanpa pengecualian, selama narapidana memenuhi syarat sesuai Undang-Undang. Proses pengusulan remisi dilakukan melalui Sistem Penilaian Pembinaan Narapidana (SPPN) dengan pemantauan dari Wali Pemasyarakatan serta asesmen risiko oleh Asesor Pemasyarakatan.

    “Remisi ini diberikan kepada warga binaan yang menunjukkan perubahan sikap positif, aktif mengikuti program pembinaan, serta memenuhi syarat administratif dan substantif,” tambahnya.

    Motivasi Bagi Warga Binaan

    Pemberian remisi diharapkan dapat menjadi motivasi bagi warga binaan untuk terus memperbaiki diri dan aktif dalam program pembinaan.

    “Kami berharap warga binaan yang kembali ke masyarakat nanti bisa lebih produktif dan berkontribusi positif,” tutup Fadli.

    Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto dalam sambutannya secara daring menegaskan bahwa meskipun penyerahan remisi dilakukan serentak, penerapannya tetap menyesuaikan dengan tanggal perayaan hari raya yang telah ditetapkan pemerintah. (rls)