Blog

  • Pengadilan Agama Giri Menang Berbagi Takjil, Tebarkan Kepedulian di Bulan Ramadhan

    Pengadilan Agama Giri Menang Berbagi Takjil, Tebarkan Kepedulian di Bulan Ramadhan

    GIRI MENANG (LOMBOKEXPRESS.ID)- – Pengadilan Agama Giri Menang kembali menggelar aksi sosial dengan membagikan takjil gratis kepada masyarakat yang melintas di sekitar halaman kantor, Jumat (14/03/2025).

    Kegiatan ini menjadi agenda rutin setiap bulan suci Ramadhan, dan pada tahun 1446 H, semangat berbagi semakin terasa di tengah antusiasme warga.

    Pembagian takjil ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi juga cerminan nilai kebersamaan yang dijunjung tinggi oleh seluruh jajaran Pengadilan Agama Giri Menang. Melalui aksi ini, mereka ingin memberikan manfaat nyata bagi masyarakat yang sedang dalam perjalanan menjelang waktu berbuka puasa.

    Kegiatan berbagi takjil juga menjadi inspirasi bagi berbagai pihak untuk turut serta dalam aksi sosial selama Ramadhan. Semangat gotong royong dan solidaritas yang terpancar dari kegiatan ini diharapkan dapat mempererat hubungan antara lembaga peradilan dan masyarakat serta menebarkan kebaikan di bulan penuh berkah.

    Dengan adanya program seperti ini, diharapkan semakin banyak pihak yang terdorong untuk berbagi dan membantu sesama, menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperkuat rasa kemanusiaan dan kebersamaan. (ak)

  • BIOGRAFI SITI WALIDAH

    BIOGRAFI SITI WALIDAH

    Oleh: Abdul Kadir*

    Siti Walidah lahir di Yogyakarta pada 3 Januari 1872 M.

    Ia berasal dari keluarga yang sangat taat beragama. Ayahnya adalah seorang penghulu kraton bernama H. Muhammad Fadlil bin Kiai Penghulu Haji Ibrahim bin Kiai Muhammad Hassan Pengkol bin Kiai Muhammad Ali Ngraden Pengkol.

    Sementara itu, sang ibu dikenal dengan nama Nyai Mas, yang juga berasal dari Kampung Kauman, Yogyakarta. Dengan latar belakang keluarganya, tidak heran apabila Siti Walidah sejak belia sudah diajari mengaji Al-Quran.

    Sejak kecil, ia juga tidak pernah menempuh pendidikan formal. Sebab, pandangan masyarakat Kauman pada saat itu menganggap bahwa sekolah di sekolah formal adalah hal yang haram. Terlebih lagi, pada masa itu, sekolah-sekolah banyak didirikan oleh Belanda. Oleh karena itu, pendidikan yang diterima Siti Walidah hanya berasal dari kedua orang tuanya.

    Sejak usia 9 tahun, Siti Walidah dipingit oleh kedua orang tuanya sampai tiba saat ia menikah dengan Muhammad Darwis atau yang lebih dikenal sebagai KH Ahmad Dahlan. KH Ahmad Dahlan menikahi Siti Walidah pada 1889 yang baru berusia 17 tahun, sedangkan Ahmad Dahlan berusia 21 tahun. Sejak menikah dengan Ahmad Dahlan, Siti Walidah lebih akrab disapa sebagai Nyai Ahmad Dahlan.

    Pemikiran Dan Kontribusi Terhadap Ksetaraan Gender Atau Ham Nyai Siti Walidah

    Berbicara tentang pendidikan di masa Nyai Ahmad Dahlan ataupun Nyai Siti Walidah, perempuan dan pendidikan adalah dua hal yang bertolak belakang. Oleh karenanya Nyai Ahmad Dahlan mencoba untuk mendekatkan keduanya.

    Menurut Nyai Ahmad Dahlan perempuan mestilah terdidik. Perempuan harus memiliki keterampilan hidup. Maka untuk itu, dengan pendidikanlah harkat seorang perempuan itu menjadi terangkat. Kemudian langkah nyata dari pemikiran Nyai Ahmad Dahlan ini beliau aplikasikan dengan membuat sebuah madarasah. Nyai Ahmad Dahlan menginisiasi kelas-kelas khusus bagi perempuan, termasuk mengajarkan agama, keterampilan hidup, dan ilmu pengetahuan dasar. Hal ini membuka kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik.

    Nyai Ahmad Dahlan mendirikan Aisyiyah pada tahun 1917, organisasi perempuan dibawah Muhammadiyah. Aisyiyah fokus pada pemberdayaan perempuan melalui pendidikan, kesehatan, dan kegiatan sosial. Melalui organisasi ini, ia mendorong perempuan untuk berpartisipasi aktif dalam masyarakat, organisasi ini khusus untuk mendidik anak perempuan.

    Dalam upaya mendidik anak-anak perempuan tersebut, Nyai Ahmad Dahlan menjadikan kedisiplinan sebagai pondasi awal dalam kesuksesan. Oleh karenanya dalam kelembagaan Ahmad Dahlan yang menjadi ciri khas terhadap binaannya itu adalah tentang kedisiplinan. Beberapa contoh kedisiplinan yang dijalankan beliau dalam madarasahnya yaitu disiplin dalam pulang belajar, salat berjamaah tepat waktu, bangun pagi dan disiplin dalam melakukan tugas lainnya.

    Tujuan dari disiplin ini adalah agar anak anak perempuan memiliki rasa tanggung jawab dalam hidup mereka terutama dalam memanfaatkan waktu sehingga masalah nya adalah bukan tentang bagaimana seseorang mengatur waktu tapi bagaimana seseorang itu bisa menempatkan skala prioritas dalam hidupnya.

    Selanjutnya tuntutan untuk disiplin tersebut juga sudah menjadi paradigma yang berakar pada diri Nyai Ahmad Dahlan. karena jika melihat pengalaman Nyai Ahmad Dahlan, beliau hidup dalam keluarga penghulu sudah jelaslah segala aturan-aturan agama yang ketat mengikat anak perempuan seperti Kyai Ahmad Dahlan. Semasa kecilnya disiplin juga Menjadi salah satu metode mengajar Nyai Ahmad Dahlan.

    Konteks Pemikiran Siti Walidah (Sosio Politik Kultural

    Pemikiran Siti Walidah atau lebih dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan dalam soal pendidikan dikenal dengan konsep “catur pusat” yakni, suatu formula pendidikan yang menyatukan empat komponen: pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di dalam lingkungan sekolah, pendidikan di dalam lingkungan masyarakat dan pendidikan di dalam lingkungan tempat ibadah.

    Catur pusat itu merupakan satu kasatuan organik, yang apabila dilakukan secara konsisten akan membentuk kepribadian yang utuh. Gagasan itu akhirnya dapat diwujudkan dalam bentuk sekolah. Mula-mula beliau mendirikan Madrasah Ibtidhaiyah Diniyah Islamiyah pada tahun 1912 dengan menggunakan sistem pembelajaran model Belanda.

    Pada awalnya terobosan ini menimbulkan pro dan konta di masyarakat dan di kalangan kaum Muslim Kelompok yang pro tehadap terobosan ini beragumen bahwa model pendidikan seperti itulah yang akan diterima oleh masyarakat, karena, ia pada hakikatnya melakukan modernisasi model pendidikan Islam dari sistem pondok pesantren dengan pendekatan tradisional menjadi modern, dengan tetap mempertahankan ciri khas pelajaran dan pendidikan Islamnya. Hal-hal yang positif dari Barat tidak harus ditolak tetapi diakomodir dengan diberi sentuhan nilai-nilai Islam.

    Untuk suatu pembiasaan, ada dua jenis pembiasaan yang ditanamkan Nyai Ahmad Dahlan dalam prosespendidikan. Pertama adalah dengan kebiasaan yang otomatis dan yang kedua adalah kebiasaan yang dilakukan dengan sadar terhadap pengertian dan kesadaran terhadap manfaat juga tujuan dari kebiasaan.

    Kedua kebiasaan inilah yang sebenarnya ingin dicapai oleh Nyai Ahmad Dahlan dalam pendidikan internalnya. Selanjutnya yang penting dalam pendidikan menurut Nyai Ahmad Dahlan adalah tentang budi pekerti.

    Dalam ilmu, pendidikan, masuk ke dalam ranah afeksi sementara pengetahuan masuk kepada kelompok kognisi dan keterampilan masuk kepada ranah psikomotorik. Itulah pentingnya budi pekerti sehingga setiap Nyai Ahmad Dahlan ceramah hal itu selalu ia sampaikan kepada para anak didiknya.

    Dengan kontribusinya, Nyai Ahmad Dahlan telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dan mengambil peran aktif dalam membangun masyarakat. Jejak perjuangannya masih terasa hingga kini, terutama dalam program-program Aisyiyah yang tetap aktif memajukan perempuan di berbagai bidang.

    Kesimpulan

    Relevansi langkah nyata dari pemikiran Siti Waidah atau Nyai Ahmad Dahlan ini bahwa beliau aplikasikan dengan membuat sebuah madarasah. Nyai Ahmad Dahlan menginisiasi kelas-kelas khusus bagi perempuan, termasuk mengajarkan agama, keterampilan hidup, dan ilmu pengetahuan dasar. Hal ini membuka kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik. Dan Siti Walidah berhasil mendirikan Organisasi yaitu Aisyiyah pada tahun 1917, organisasi perempuan di bawah Muhammadiyah. Aisyiyah fokus pada pemberdayaan perempuan melalui pendidikan,kesehatan, dan kegiatan sosial.

    Referensi

    Abidin, Zainal. “Kesetaraan Gender dan Eman Sipasi Perempuan dalam Pendidikan Islam,”

    dalam Jurnal Tarbawiyah, Vol. 12 No.1 Tahun2015

    Agustiana, Annisa. “Perspektif Patriarki dan Peran Wanita dalam Keluarga Islam,” dalam

    Jurnal Universitas Pendidikan Indonesia, Tahun 2023.

    al- Hamdani, Risalah Nikah, Jakarta: Pustaka Amani, 2002.

    Novalia, N. Ulama Perempuan dan Dedikasinya dalam Pendidikan Islam Studi Pemikiran Nyai

    Khoriyah

    Hasyim 1908-1983. (Pustaka: 2013

     

    * Mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram

     

  • Milad dan Pelantikan Pengurus BKMT Kabupaten Bima, Ketua TP PKK Ny Murni Suciyanti Beri Arahan

    Milad dan Pelantikan Pengurus BKMT Kabupaten Bima, Ketua TP PKK Ny Murni Suciyanti Beri Arahan

    BIMA (NTBNOW.CO)– Milad pertama Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kabupaten Bima yang dirangkaikan dengan pelantikan pengurus BKMT kecamatan se-Kabupaten Bima berlangsung meriah pada Sabtu (15/3) di Ruang Rapat Utama Kantor Bupati Bima.

    Acara ini dihadiri oleh Ketua TP PKK Kabupaten Bima sekaligus Pembina BKMT, Ny Murni Suciyanti, serta jajaran pejabat daerah, termasuk Bupati Bima Ady Mahyudi, Wakil Bupati dr H Irfan Zubaidy, Ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Ny Anita H Irfan, dan Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Ny Fitriani Adel Linggi Ardi.

    Dalam sambutannya, Ny Murni Suciyanti mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus DPD dan BKMT kecamatan yang telah resmi dilantik. Ia menekankan pentingnya momentum pelantikan ini sebagai ajang mempererat silaturahmi antar pengurus serta mendorong sinergi lintas organisasi dalam membangun Kabupaten Bima.

    “Ke depan, 258 majelis taklim yang tersebar di 18 kecamatan dan 191 desa di Kabupaten Bima diharapkan dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menyukseskan program keagamaan dan pembangunan lainnya. Selain itu, BKMT juga perlu memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen agar program yang telah dirancang bisa berjalan optimal guna mendukung visi Bima Bermartabat,” ungkapnya.

    Sementara itu, Ketua DPD BKMT Kabupaten Bima Ir Hj Nurma, M.Si dalam laporannya menyampaikan bahwa sejak dibentuk setahun lalu, BKMT Kabupaten Bima telah aktif dalam berbagai kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

    “Kami berharap pengurus yang baru dilantik dapat menjalankan tugasnya dengan baik serta terus berkontribusi dalam mewujudkan syariat Islam di seluruh kecamatan,” tandasnya.

    Dengan pelantikan ini, BKMT Kabupaten Bima semakin siap menjalankan perannya dalam memperkuat nilai-nilai keislaman dan membangun sinergi untuk kemajuan daerah. (rls)

  • Sinergi Lintas Kementerian/Lembaga dalam Penuntasan Tuberkulosis di Indonesia

    Sinergi Lintas Kementerian/Lembaga dalam Penuntasan Tuberkulosis di Indonesia

    JAKARTA – Pemerintah Indonesia terus mengupayakan percepatan penuntasan Tuberkulosis (TBC) melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dalam Rencana Pemerintah Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Program ini merupakan bagian dari prioritas nasional untuk menurunkan angka kasus baru TBC hingga 50% pada tahun 2029, dari 387.000 per 100.000 penduduk menjadi 190.000 per 100.000 penduduk.

    Dalam rilis yang diterima redaksi, Rabu (12/3/2025), Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi dalam penuntasan TBC meliputi Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 mengenai efisiensi belanja APBN dan APBD, serta kebijakan penghentian bantuan luar negeri dari Amerika Serikat yang selama ini mendukung program Penuntasan TBC.

    Selain itu, diperlukan revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 67 Tahun 2021 guna menyesuaikan nomenklatur Kementerian/Lembaga (K/L) dan tugas fungsinya, target, dan upaya PHTC TBC, mengingat lebih dari 50% capaian indikator dalam Perpres tersebut telah tercapai sampai dengan tahun 2024.

    Plt. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa percepatan program penuntasan TBC akan difokuskan berdasarkan indikator PHTC Penuntasan TBC yaitu Penemuan Kasus TBC, Inisiasi Pengobatan, Keberhasilan Pengobatan dan Penemuan Kasus TBC Laten, sehingga akselerasi program TBC tahun 2025 melalui Penemuan Kasus, Pengobatan, Pencegahan, Promosi Kesehatan dan Keterlibatan Multisektor.

    Pemerintah pusat telah mendukung pelaksanaan program kesehatan daerah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) pada Program Penuntasan TBC. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, realisasi DAK Penanggulangan Penyakit dan Pengendalian (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mencapai 72,84% untuk pengadaan katrid TCM dan 60,78% untuk pelatihan petugas TBC, sementara realisasi DAK P2P di Puskesmas mencapai 87,47%. Pemerintah berharap realisasi DAK ini dapat dimanfaatkan secara optimal oleh pemerintah daerah dengan pelaporan yang disiplin.

    Seluruh Kementerian/Lembaga yang hadir dalam pertemuan ini, Selasa, (11/3/2025) berkomitmen mendukung PHTC Penuntasan TBC sesuai tugas dan fungsi masing-masing, termasuk memperkuat implementasi program dengan mempertimbangkan kapasitas Kementerian/Lembaga maupun Unit Pelaksana Teknis (UPT) nya di wilayah kerja masing-masing.

    Direktur SUPD III Ditjen Bina Bangda Kementerian Dalam Negeri TB. Chaerul Dwi Sapta menambahkan bahwa Menteri Dalam Negeri telah menerbitkan Surat Edaran (SE) yang mengarahkan pemerintah daerah untuk mendukung Asta Cita dan Quick Win, juga sebagai penguatan implementasi 12 Standar Pelayanan Minimal (SPM) di Kabupaten/Kota, dengan fokus pada penuntasan TBC sebagai target prioritas. Selain itu, perlunya kesepakatan bersama mengenai pembaruan Perpres 67 Tahun 2021 agar selaras dengan dinamika dan kebutuhan program Penuntasan TBC.

    Dengan sinergi lintas sektor yang kuat, pemerintah optimis dapat mencapai target nasional dalam upaya Eliminasi TBC, sehingga meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat Indonesia secara menyeluruh.

    KETERANGAN FOTO:

    Direktur SUPD III Ditjen Bina Bangda Kementerian Dalam Negeri TB. Chaerul Dwi Sapta. (ist)

  • PWI Pusat dan IKWI Gelar Buka Puasa dan Santunan untuk Yatim Piatu

    PWI Pusat dan IKWI Gelar Buka Puasa dan Santunan untuk Yatim Piatu

    JAKARTA  (LOMBOKEXPRESS.ID)– Dalam rangka mempererat tali silaturahmi dan berbagi berkah di bulan suci Ramadhan, Pengurus PWI Pusat dan IKWI Pusat mengadakan acara berbuka puasa bersama.

    Acara ini dilengkapi dengan pembagian santunan kepada perwakilan dhuafa dan anak yatim piatu.

    Ketua Umum PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, dalam sambutannya menyampaikan terimakasih atas bantuan donasi.

    “Melalui buka puasa bersama dan donasi yang terkumpul, semoga dapat membantu meringankan beban adik-adik kita. Bagi para donatur, semoga sumbangan yang diberikan menjadi amal jariyah yang bernilai pahala. Serta terima kasih atas kehadiran para senior, jajaran pengurus PWI Pusat, dan Pengurus PWI DKI Jaya, semoga acara ini membawa berkah bagi kita semua.”

    Plt Ketua Umum IKWI Pusat, Indah Krana juga mengungkapkan rasa terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung acara ini, baik dari IKWI Pusat maupun para peserta yang hadir.

    “Donasi yang terkumpul akan disalurkan kepada tiga yayasan yatim piatu, yaitu Yayasan Al Hikmah, Yayasan Munawwarah, dan Yayasan Al Akhwat,” ujarnya.

    Acara berbuka puasa ini menjadi momen penting untuk mempererat hubungan antara pengurus PWI Pusat, IKWI Pusat, serta para peserta. Buka puasa ini dihadiri sekitar 70 peserta.

    Selain Ketum PWI Pusat, hadir pula Sekjen PWI Pusat Wina Armada Sukardi, Bendum PWI Marthen Selamet Susanto, Ketua Dewan Kehormatan Sasongko Tedjo, Sekretaris Dewan Penasehat PWI Pusat, Asro Kamal Rokan, Ketua Dewan Penasehat Ilham Bintang, Mantan Ketua Umum PWI Atal S Depari, Ketua Bidang Organisasi Mirza Zulhadi, Ketua Komisi Pendidikan Marah Sakti Siregar, Departemen Hankam/Polri Musrifah, hadir pula Ketua PWI DKI Jaya, Kesit B. Handoyo, serta puluhan wartawan senior dan pengurus PWI DKI Jaya.

    Dengan semangat kebersamaan, acara ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk memberikan manfaat bagi mereka yang membutuhkan. (rls)

  • Sidang Kasus Dugaan Kejahatan Seksual Agus Buntung, Pakar Psikologi Forensik Beri Pandangan

    Sidang Kasus Dugaan Kejahatan Seksual Agus Buntung, Pakar Psikologi Forensik Beri Pandangan

    MATARAM (LOMBOKEXPEESS.ID) – Sidang kasus dugaan kejahatan seksual dengan terdakwa penyandang disabilitas I Wayan Agus Suartama alias Agus Buntung kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Senin (10/2).

    Agenda sidang kali ini menghadirkan Pakar Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel sebagai ahli yang diminta memberikan pendapat oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

    Reza menegaskan bahwa kehadirannya dalam persidangan bukan sebagai saksi, melainkan sebagai ahli yang memberikan perspektif ilmiah dari sudut pandang psikologi forensik.

    “Saya hadir sebagai ahli, bukan untuk membela pihak tertentu, tetapi untuk memberikan perspektif ilmiah yang bermanfaat bagi proses hukum,” ujarnya setelah keluar dari ruang sidang utama PN Mataram.

    Dua Kesalahan Fatal dalam Kasus Ini

    Dalam kesaksiannya, Reza mengungkapkan bahwa terdapat dua kesalahan utama yang dilakukan dalam penanganan kasus ini:

    1. Penggunaan Istilah “Disabilitas” yang Tidak Tepat

    Reza menekankan bahwa istilah disabilitas dalam Undang-Undang sudah tidak relevan karena memiliki makna negatif, seperti ketidakmampuan, kelemahan, dan ketergantungan pada orang lain. Sebagai gantinya, ia menyarankan penggunaan istilah “difabelitas”, yang lebih menekankan pada kemampuan berbeda atau different ability.

    “Orang dengan difabelitas tetap bisa melakukan berbagai hal, termasuk tindak kejahatan, tetapi dengan cara yang berbeda. Karena itu, istilah ini lebih tepat digunakan,” jelasnya.

    2. Kesalahan dalam Penentuan Delik Hukum

    Reza juga mengkritisi penggunaan UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) dalam kasus ini. Menurutnya, tidak semua kejahatan seksual melibatkan kekerasan, sehingga lebih tepat jika UU TPKS direvisi menjadi “UU Tindak Pidana Kejahatan Seksual”.

    “Ada kejahatan seksual yang dilakukan tanpa kekerasan, tetapi hukum saat ini seolah-olah hanya mengakomodasi yang melibatkan kekerasan. Ini perlu direvisi agar mencakup semua bentuk kejahatan seksual,” tegasnya.

    Ahli: Kondisi Difabelitas Bisa Jadi Faktor Pemberat Hukuman

    Reza juga menyoroti pandangan masyarakat yang sering salah kaprah dengan menganggap bahwa penyandang difabelitas tidak mungkin melakukan tindak kejahatan. Padahal, mereka tetap memiliki kemampuan untuk melakukan berbagai tindakan, termasuk kejahatan, dengan cara yang berbeda.

    Ia menjelaskan bahwa dalam sistem hukum, kondisi kecacatan memang bisa menjadi faktor yang meringankan hukuman. Namun, jika kondisi tersebut justru digunakan sebagai instrumen kejahatan, maka bisa menjadi faktor pemberat hukuman.

    “Sayangnya, aspek ini tidak diangkat dalam persidangan. Namun, silakan tafsirkan sendiri,” imbuhnya.

    Penasehat Hukum Agus Buntung Skeptis terhadap Keterangan Ahli

    Sementara itu, kuasa hukum terdakwa, Donny A. Sheyoputra, mengaku skeptis terhadap hasil Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang disusun berdasarkan pendapat ahli. Ia menilai hasil tersebut sangat menyudutkan kliennya.

    “Kami sempat meragukan isi BAP, tetapi dalam persidangan, ahli tidak menyatakan bahwa Agus benar atau salah. Ia hanya menjelaskan apakah ada aspek kesepakatan dalam dugaan kejahatan ini,” ujar Donny.

    Ia juga menambahkan bahwa pihaknya hanya mengajukan pertanyaan dari sudut pandang ilmiah dan tidak memperdebatkan hasil BAP.

    Selama persidangan, Agus Buntung tidak memberikan tanggapan apa pun terkait pendapat ahli. Menurut Donny, hal ini disebabkan latar belakang pendidikan kliennya yang rendah, sehingga tidak memahami istilah-istilah psikologi yang disampaikan dalam persidangan.

    “Agus tidak menanggapi apa pun karena dia kesulitan memahami penjelasan yang diberikan,” pungkasnya. (can)

    Keterangan Foto:

    Terdakwa penyandang disabilitas I Wayan Agus Suartama alias Agus Buntung kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Mataram, Senin (10/2). (susan/ntbnow.co)

  • PHDI Kota Mataram Jaga Toleransi, Parade Ogoh-Ogoh Berlangsung dengan Penyesuaian di Bulan Ramadan

    PHDI Kota Mataram Jaga Toleransi, Parade Ogoh-Ogoh Berlangsung dengan Penyesuaian di Bulan Ramadan

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)– Menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1947, umat Hindu di Kota Mataram bersiap menggelar Parade Ogoh-Ogoh, sebuah tradisi tahunan yang selalu dinanti. Tahun ini, parade memiliki makna lebih mendalam karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan.

    Demi menjaga harmoni dan toleransi antarumat beragama, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Mataram memastikan parade berlangsung dengan sejumlah penyesuaian agar tidak mengganggu ibadah umat Muslim yang menjalankan puasa.

    Ketua PHDI Kota Mataram, Made Merta Arta, S.H., M.H., menegaskan parade akan diadakan dengan tetap mengutamakan nilai-nilai kebersamaan dan kerukunan.

    “Kami sangat menghormati saudara-saudara Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Oleh karena itu, pelaksanaan Parade Ogoh-Ogoh tahun ini telah disesuaikan agar tidak mengganggu jalannya ibadah Ramadan,” ujarnya.

    Parade Ogoh-Ogoh dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 28 Maret 2025, dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota Mataram melalui Surat Edaran Nomor: 100.3.4.3/1121/SETDA/II/2025. Surat edaran tersebut mengatur berbagai kegiatan yang berlangsung selama Ramadan, Hari Raya Idul Fitri, Lebaran Ketupat, serta Hari Raya Nyepi.

    Waktu Pelaksanaan – Parade akan berlangsung pukul 09.00 hingga 16.00 WITA untuk menghindari waktu berbuka puasa.

    Ukuran Ogoh-Ogoh – Tinggi maksimal 4 meter agar tidak mengganggu infrastruktur seperti kabel listrik dan komunikasi.

    Peserta – Hanya diperbolehkan dari wilayah administratif Kota Mataram.

    Perang Api – Tradisi ini harus selesai sebelum pukul 17.30 WITA.

    Keamanan – Peserta dilarang membawa senjata tajam, petasan, minuman keras, dan benda berbahaya lainnya.

    Sekolah – Tidak diperbolehkan mengeluarkan Ogoh-Ogoh untuk pawai.

    Ketua PHDI Kota Mataram, Made Merta Arta, S.H., M.H., mengucapkan selamat atas dilantiknya Wali Kota Mataram Mohan Roliskana dan Wakil Wali Kota TGH Mujiburrahman.

    “PHDI mendukung visi dan misi beliau demi kemajuan Kota Mataram. Kami berharap kebersamaan antarumat beragama semakin erat dan program-program pemerintah dapat berjalan dengan baik untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

    Made Merta Arta juga berharap parade ini tetap berjalan dengan semarak tanpa mengurangi esensi tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.

    “Kami mengajak seluruh umat Hindu di Kota Mataram untuk menjaga ketertiban dan mengikuti aturan yang telah ditetapkan, sehingga perayaan ini dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan tetap menghormati saudara-saudara kita yang sedang berpuasa,” tambahnya.

    Dengan adanya pengaturan ini, Parade Ogoh-Ogoh diharapkan tetap menjadi ajang pelestarian budaya yang mempererat kerukunan antarumat beragama di Kota Mataram. (nang)

    Keterangan Foto:

    Ketua PHDI Kota Mataram, Made Merta Arta, S.H., M.H. (ist)

  • Malala Yousafzai: Pejuang Kesetaraan Gender dan Penegakan HAM dari Pakistan

    Malala Yousafzai: Pejuang Kesetaraan Gender dan Penegakan HAM dari Pakistan

    Oleh: Hanif Danu Paksi*

    a. Biografi Tokoh

    Malala Yousafzai lahir pada 12 Juli 1997 di Mingora, Lembah Swat, Pakistan. Ia dibesarkan dalam keluarga yang menghargai pendidikan, terutama ayahnya, Ziauddin Yousafzai, seorang aktivis pendidikan dan pendiri sekolah swasta. Sejak kecil, Malala telah menunjukkan minat yang besar terhadap pembelajaran dan hak-hak pendidikan, terutama bagi anak perempuan. Namun, situasi di Lembah Swat memburuk ketika kelompok Taliban menguasai wilayah tersebut pada akhir 2000-an. Taliban melarang anak perempuan bersekolah, menghancurkan sekolah, dan menggunakan kekerasan untuk menegakkan aturan mereka.

    Pada usia 11 tahun, Malala mulai menulis blog untuk BBC Urdu dengan nama samaran, menceritakan kehidupan di bawah kekuasaan Taliban dan perjuangannya untuk tetap bersekolah. Tulisan-tulisannya menarik perhatian internasional, menjadikannya simbol perlawanan terhadap penindasan. Namun, popularitasnya juga membuatnya menjadi target. Pada 9 Oktober 2012, Malala ditembak di kepala oleh militan Taliban saat dalam perjalanan pulang dari sekolah. Serangan itu nyaris merenggut nyawanya, tetapi ia selamat setelah mendapatkan perawatan intensif di Inggris.

    b. Pemikiran dan Kontribusi terhadap Kesetaraan Gender dan Penegakan HAM

    Malala Yousafzai dikenal sebagai pejuang hak-hak pendidikan, terutama bagi anak perempuan. Ia percaya bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap manusia, tanpa memandang gender, dan bahwa pendidikan dapat menjadi alat untuk memberdayakan perempuan dan memutus siklus kemiskinan. Pemikirannya didasarkan pada keyakinan bahwa setiap anak, baik laki-laki maupun perempuan, berhak mengakses pengetahuan dan kesempatan untuk mengembangkan potensi mereka.

    Setelah pulih dari serangan Taliban, Malala semakin giat berkampanye untuk pendidikan global. Pada 2013, ia mendirikan Malala Fund, sebuah organisasi nirlaba yang bertujuan untuk memastikan setiap anak perempuan mendapatkan 12 tahun pendidikan gratis, aman, dan berkualitas. Pada tahun yang sama, ia menyampaikan pidato bersejarah di PBB, menyerukan aksi global untuk pendidikan anak perempuan.

    Pada 2014, Malala menjadi penerima termuda Penghargaan Nobel Perdamaian pada usia 17 tahun, berbagi penghargaan dengan aktivis hak anak India, Kailash Satyarthi. Penghargaan ini mengukuhkan posisinya sebagai ikon global dalam perjuangan kesetaraan gender dan penegakan HAM.

    c. Konteks Pemikiran (Sosio-Politik-Kultural)

    Pemikiran Malala tidak dapat dipisahkan dari konteks sosio-politik dan kultural di Pakistan, terutama di Lembah Swat. Wilayah ini telah lama menjadi medan konflik antara pemerintah Pakistan dan kelompok militan seperti Taliban. Taliban menerapkan interpretasi ekstrem terhadap hukum Islam, termasuk melarang perempuan bersekolah, bekerja, atau berpartisipasi dalam kehidupan publik.

    Dalam konteks ini, Malala muncul sebagai suara yang menantang status quo. Ia tidak hanya melawan Taliban tetapi juga mengkritik pemerintah Pakistan yang dianggap gagal melindungi hak-hak warganya. Perjuangannya juga mencerminkan pergeseran global dalam kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai alat untuk mencapai kesetaraan gender dan pembangunan berkelanjutan.

    Malala sering menyoroti bagaimana budaya patriarki dan interpretasi agama yang sempit digunakan untuk membenarkan diskriminasi terhadap perempuan. Ia menekankan bahwa Islam sebenarnya mendukung pendidikan dan pemberdayaan perempuan, tetapi interpretasi yang salah telah digunakan untuk menindas.

    d. Kesimpulan

    Malala Yousafzai adalah sosok inspiratif yang telah mendobrak kemapanan gender dan memperjuangkan penegakan HAM, khususnya dalam bidang pendidikan. Melalui keberanian dan keteguhannya, ia telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak-anak. Perjuangannya tidak hanya mengubah kehidupan banyak anak perempuan di Pakistan tetapi juga membawa isu pendidikan ke panggung global.

    Malala mengajarkan bahwa perubahan tidak harus menunggu usia dewasa atau kekuasaan politik. Siapa pun, di mana pun, dapat menjadi agen perubahan asalkan memiliki keberanian dan tekad yang kuat. Kisah hidupnya adalah bukti bahwa satu suara, sekalipun dari seorang anak perempuan, dapat mengguncang dunia.

    e. Referensi

    1. Yousafzai, Malala. (2013). *I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban*. Little, Brown and Company.

    2. Malala Fund. (n.d.). *About Malala*. Diakses dari https://www.malala.org

    3. BBC News. (2012). *Malala Yousafzai: Portrait of the girl blogger*. Diakses dari https://www.bbc.com

    4. Nobel Prize. (2014). *Malala Yousafzai – Facts*. Diakses dari https://www.nobelprize.org

    * Mahasiswa Pascasarjana UIN Mataram

  • Bank NTB Syariah Dorong Literasi Digital di HUT SMSI ke-8, Jawab Kekhawatiran Nasabah

    Bank NTB Syariah Dorong Literasi Digital di HUT SMSI ke-8, Jawab Kekhawatiran Nasabah

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID) – Bank NTB Syariah menegaskan komitmennya dalam meningkatkan literasi digital dan keamanan transaksi bagi nasabah, dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-8 Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) NTB.

    Acara yang digelar di Mayura Hall, Lesehan Green Asri, Kota Mataram, pada Jumat (7/3/2025), ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara dunia perbankan dan media dalam menghadapi tantangan digital.

    Alfian Irwan, perwakilan Bank NTB Syariah, mengungkapkan pihaknya telah mengembangkan ekosistem digital yang semakin mempermudah transaksi nasabah. Salah satu inovasi yang diusung adalah penggunaan QRIS, yang kini telah dimanfaatkan oleh sekitar 8.600 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Barat.

    “Kami optimis pada tahun 2025, transaksi digital akan terus bertumbuh, memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk bertransaksi secara non-tunai,” ujar Alfian.

    Namun, pesatnya perkembangan layanan digital juga meningkatkan risiko kejahatan siber. Untuk itu, Bank NTB Syariah mengimbau masyarakat agar lebih waspada terhadap berbagai modus penipuan, seperti undian palsu, phishing, dan ransomware.

    “Kami berharap media dapat berperan aktif dalam menyebarkan literasi digital agar masyarakat lebih berhati-hati dalam menjaga keamanan data dan transaksi mereka,” tambahnya.

    Keamanan Simpanan Syariah, Bank NTB Syariah Beri Kepastian

    Selain keamanan transaksi digital, Alfian juga menanggapi kekhawatiran nasabah terkait biaya administrasi dalam sistem perbankan syariah. Ia menjelaskan Bank NTB Syariah menyediakan dua skema simpanan, yaitu wadiah (titipan) dan mudharabah (bagi hasil).

    “Nasabah yang memilih skema wadiah tidak dikenakan biaya administrasi, tetapi juga tidak mendapatkan bagi hasil. Sementara skema mudharabah memungkinkan nasabah memperoleh keuntungan dari hasil pembiayaan yang dilakukan bank,” jelasnya.

    Bank NTB Syariah juga menegaskan bahwa dana nasabah tetap aman karena telah tergabung dalam Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

    “Jika terjadi kendala dalam sistem perbankan, dana nasabah tetap terjamin keamanannya,” tegas Alfian.

    Kolaborasi Media dan Perbankan, SMSI NTB Siap Edukasi Masyarakat

    Ketua SMSI NTB, HM. Abdus Syukur, menekankan pentingnya peran media dalam mengedukasi masyarakat mengenai keamanan transaksi digital.

    “SMSI NTB berkomitmen untuk terus menyebarluaskan informasi yang akurat dan edukatif, agar masyarakat semakin memahami cara menjaga keamanan data pribadi dan finansial mereka,” tandasnya.

    Kolaborasi antara Bank NTB Syariah dan SMSI NTB diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat NTB terhadap literasi digital dan perbankan syariah, sehingga mereka semakin percaya diri dalam memanfaatkan layanan perbankan digital dengan aman dan nyaman.

    Rangkaian HUT SMSI ke-8 NTB
    Peringatan HUT SMSI ke-8 di NTB yang didukung Bank NTB Syariah, PT Amman Mineral Nusa Tenggara  dan BPR NTB ini juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan diskusi strategis. Sebanyak 200 paket buka puasa dibagikan kepada pengguna jalan di tiga titik di Kota Mataram, dilanjutkan dengan buka puasa bersama dan pemotongan tumpeng.

    Selain itu, digelar diskusi bertema “Peran Perbankan dalam Pengembangan Media Digital dan Ekonomi Kreatif”, yang dihadiri oleh perwakilan Kabid Humas Polda NTB, para ketua SMSI cabang se-NTB, serta undangan dari berbagai media.

    Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan sinergi antara dunia perbankan, media, dan UMKM semakin erat dalam menghadapi era digital yang terus berkembang. (red)

  • Rose, Takdir Dalam Dua Cinta

    Rose, Takdir Dalam Dua Cinta

    “Namaku Rosa, panggil saja aku Rose,” begitu aku selalu memperkenalkan diri. Dulu, aku percaya bahwa cinta adalah tentang dua hati yang saling memiliki, hingga kenyataan menamparku dengan kehadiran seorang perempuan lain dalam hidup suamiku.

    Kini, aku harus tinggal serumah dengannya—maduku. Awalnya, setiap hari adalah pertempuran batin, penuh prasangka dan amarah yang kutahan. Tapi, waktu perlahan mengajarkanku sesuatu yang berbeda.

    Aku mulai melihatnya bukan sekadar pesaing, melainkan perempuan lain yang juga mencintai laki-laki yang sama. Perjalanan ini pahit, namun di dalamnya ada ruang untuk memahami, menerima, dan mungkin… menemukan makna baru tentang cinta.

    Hidup itu tak selalu berjalan seperti yang kita rencanakan. Kadang, ia membawa kita ke jalan yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya—seperti aku, yang kini harus berbagi atap, berbagi ruang, dan bahkan berbagi suami dengan seorang wanita lain. Bukan karena aku menginginkannya, tetapi karena takdir telah membawaku ke dalam kehidupan yang penuh ujian ini.

    Ketika pertama kali kudengar namanya disebut oleh suamiku, hatiku bergetar. Bukan karena cinta, tetapi karena ketakutan. Aku tahu bahwa ia bukan hanya akan menjadi bagian dari hidup suamiku, tetapi juga bagian dari hidupku. Bagaimana mungkin aku bisa berbagi cinta yang selama ini kupikir hanya milikku? Bagaimana mungkin aku bisa tinggal serumah dengan seorang wanita yang, dalam hatiku yang terluka, kurasa telah mencuri sesuatu dariku?

    Hari pertama aku menyambutnya di rumah, ada perasaan yang begitu campur aduk. Aku berusaha tersenyum, tapi bibirku kaku. Aku mencoba berbicara, tapi suaraku bergetar. Dan ketika aku menatap matanya, aku melihat sesuatu yang mengejutkanku: ketakutan yang sama. Ia juga merasa asing, canggung, dan mungkin sama takutnya denganku.

    Hari-hari berlalu dengan keheningan yang ganjil. Kami lebih banyak menghindari satu sama lain, seolah masing-masing menunggu siapa yang lebih dulu akan menerima kenyataan ini. Aku tahu bahwa di balik wajah tenangnya, ia juga menyimpan luka, seperti yang kusimpan dalam diamku.

    Lalu, suatu malam, ketika suamiku tak ada di rumah, kami berdua duduk di ruang tamu. Sunyi, hanya ada suara detak jam di dinding. Aku ingin berbicara, tetapi lidahku kelu. Hingga akhirnya ia berkata dengan suara lirih, “Kak, aku tidak pernah ingin menyakitimu…”

    Aku menatapnya. Matanya basah. Dan entah kenapa, kata-katanya itu menghancurkan tembok yang selama ini kubangun di hatiku. Aku menghela napas panjang. “Aku juga tidak pernah ingin membencimu,” jawabku lirih.

    Malam itu, kami bicara dari hati ke hati. Tentang bagaimana hidup membawa kami ke titik ini. Tentang bagaimana kami berdua harus belajar menerima. Tentang bagaimana kami ingin tetap memiliki kebahagiaan dalam keadaan yang tak sempurna ini.

    Tinggal serumah dengan maduku bukan hal yang mudah. Kadang, aku masih merasakan kecemburuan, kesedihan, dan kehilangan. Tapi aku belajar untuk menghadapinya dengan kesabaran. Aku belajar bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki, tetapi juga tentang memberi ruang.

    Kami bukan saingan. Kami adalah dua wanita yang mencintai orang yang sama, dan karena itulah kami harus belajar untuk saling menguatkan, bukan menjatuhkan. Kami belajar untuk menemukan kebahagiaan dalam kebersamaan yang awalnya terasa asing.

    Kini, ketika aku melihatnya, aku tidak lagi melihatnya sebagai seseorang yang merebut bahagiaku. Aku melihatnya sebagai seseorang yang juga mencari tempatnya dalam kehidupan ini—sama seperti aku. Dan mungkin, di sinilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukan dalam memiliki seseorang sepenuhnya, tetapi dalam menerima bahwa cinta bisa hadir dalam berbagai bentuk, meski kadang terasa perih.

    Dan aku? Aku masih belajar. Belajar untuk mencintai tanpa harus merasa memiliki, belajar untuk menerima tanpa harus kehilangan diriku sendiri.

    Perjalanan Hati yang Masih Terus Berjalan

    Waktu berlalu, dan hari-hari kami mulai menemukan ritmenya. Aku dan dia bukan lagi dua orang asing yang hidup dalam keheningan canggung. Kami mulai berbagi tugas rumah tangga, saling menyapa dengan lebih tulus, bahkan sesekali tertawa bersama. Namun, di balik kebersamaan yang perlahan terbentuk, ada saat-saat di mana hatiku masih diuji.

    Pernah suatu malam, aku mendengar suamiku berbicara lembut dengannya di kamar sebelah. Suaranya lirih, hampir berbisik, seperti saat dulu ia menenangkan aku ketika sedang gelisah. Aku menutup mata, menekan dadaku yang terasa nyeri. Ada rasa cemburu yang menyelinap tanpa bisa kuhindari, seolah mengingatkanku bahwa aku tidak lagi menjadi satu-satunya yang berhak atas kasih sayangnya.

    Aku menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa itu. Aku ingin marah, aku ingin menangis, tapi aku tahu bahwa semua ini adalah bagian dari jalan yang kupilih untuk tetap bertahan. Aku tidak ingin kebencian menguasai hatiku. Maka, seperti malam-malam sebelumnya, aku memilih diam dan berdoa, berharap hatiku semakin lapang.

    Namun, Tuhan selalu punya cara untuk menguatkan hamba-Nya.

    Suatu sore, saat aku sedang duduk di teras, dia datang membawa secangkir teh hangat. Aku menatapnya, sedikit heran, tapi ia hanya tersenyum. “Kak, aku tahu ini tidak mudah untukmu… tapi aku ingin Kakak tahu, aku tidak ingin menyakitimu.”

    Aku terdiam, menatapnya lama. Kata-katanya sederhana, tapi terasa begitu dalam. Aku menelan ludah, mencoba menahan air mata yang tiba-tiba menggenang. “Aku juga masih belajar menerima ini semua,” kataku pelan.

    Ia tersenyum, lalu duduk di sampingku. “Aku pun begitu, Kak…”

    Sejak hari itu, ada sesuatu yang berubah. Aku tidak lagi merasa sendirian dalam menghadapi keadaan ini. Aku menyadari bahwa dia bukan musuhku, bukan seseorang yang harus kulihat dengan kebencian. Kami berdua sama-sama berjuang, sama-sama ingin menemukan kedamaian dalam kehidupan yang telah dipilihkan untuk kami.

    Kami mulai berbagi cerita. Tentang bagaimana ia juga mengalami pergulatan batin sebelum menerima lamaran suamiku. Tentang bagaimana ia takut menyakiti perasaanku, tapi juga tak bisa menolak takdir yang telah ditetapkan. Aku mendengarkannya dengan hati yang lebih terbuka, dan untuk pertama kalinya, aku merasa benar-benar memahami apa yang ia rasakan.

    Ada saat di mana kami saling menguatkan, saling menenangkan ketika salah satu merasa terluka. Ada saat di mana kami belajar untuk berbagi, bukan hanya dalam hal-hal kecil seperti memasak atau mengurus rumah, tapi juga dalam hal yang lebih besar—seperti menerima kenyataan bahwa cinta bisa hadir dalam dua hati tanpa harus saling menyakiti.

    Tentu saja, tidak setiap hari berjalan mulus. Ada kalanya kecemburuan datang lagi, ada kalanya hati terasa lelah. Tapi kini aku tahu bahwa aku tidak sendirian. Ada seseorang yang juga berjuang di sisiku, yang juga ingin menjaga kebahagiaan keluarga ini dengan caranya sendiri.

    Dan suamiku? Ia mulai menyadari bahwa kebahagiaan kami bukan hanya tentang bagaimana ia membagi waktu atau perhatian, tetapi juga bagaimana ia bisa menjadi penghubung yang menyatukan kami, bukan memisahkan. Ia belajar untuk lebih bijaksana, lebih peka, dan lebih adil dalam segala hal.

    Kini, ketika aku menatap maduku, aku tidak lagi melihatnya sebagai bayangan yang mengancam kebahagiaanku. Aku melihatnya sebagai saudara, sebagai bagian dari perjalanan hidupku yang mengajarkan banyak hal.

    Mungkin, inilah makna sesungguhnya dari ikhlas. Bukan sekadar menerima keadaan, tapi juga menemukan keindahan di dalamnya. Bukan sekadar bertahan, tapi juga belajar untuk benar-benar memahami bahwa cinta tak selalu harus memiliki dalam bentuk yang kita inginkan.

    Dan aku? Aku masih terus belajar. Tapi setidaknya, aku tidak lagi berjalan sendirian.

    Cinta yang Menemukan Bentuknya

    Hari-hari terus berlalu, dan kami semakin terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Aku dan maduku bukan lagi dua orang asing yang hanya berbagi atap, melainkan dua wanita yang mulai memahami bahwa takdir telah mengikat kami dalam sebuah perjalanan yang unik.

    Kami belajar untuk saling mendukung, bukan hanya dalam mengurus rumah tangga, tetapi juga dalam menghadapi ujian kehidupan. Ada kalanya ia jatuh sakit, dan akulah yang merawatnya. Ada kalanya aku merasa lelah, dan ia yang menggantikan tugasku. Kami tidak lagi sekadar berbagi seorang suami, tapi juga berbagi beban, kebahagiaan, dan kesedihan.

    Namun, ujian itu tidak pernah benar-benar pergi.

    Pada suatu malam, ketika suamiku pulang lebih larut dari biasanya, aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dalam hatiku. Ia baru saja menghabiskan waktu bersama maduku, dan meskipun aku mencoba bersikap biasa, ada sesuatu yang menyesakkan dada. Aku berusaha mengabaikannya, mencoba meyakinkan diri bahwa semua baik-baik saja.

    Tapi hatiku tetap gelisah.

    Malam itu, aku duduk sendiri di kamar, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun. Aku bertanya pada diriku sendiri: Apakah aku benar-benar ikhlas? Apakah aku sudah menerima semuanya dengan sepenuh hati?

    Aku teringat hari pertama ketika aku harus menerima kehadiran maduku di rumah ini. Betapa aku merasa terkhianati, betapa aku merasa kehilangan sesuatu yang begitu berharga. Tapi kini, setelah semua yang kami lalui bersama, perasaan itu mulai bergeser menjadi sesuatu yang lain—sesuatu yang lebih tenang, lebih lapang.

    Aku bangkit, membuka pintu kamar, dan melangkah ke ruang tamu. Dan di sana, aku melihatnya duduk sendiri, seperti sedang menunggu seseorang.

    “Kau belum tidur?” tanyaku pelan.

    Ia menoleh, tersenyum kecil. “Aku hanya ingin memastikan Kakak baik-baik saja.”

    Aku terdiam sejenak. Ia memikirkan perasaanku.

    Aku duduk di sampingnya, merasakan kehangatan yang aneh—bukan dari tubuh kami, tapi dari hati yang perlahan saling memahami.

    “Kau tahu,” kataku, menatap tanganku sendiri, “dulu aku tidak pernah membayangkan bisa sampai di titik ini. Aku pikir aku akan selamanya membenci keadaan ini, selamanya merasa menjadi orang yang tersisihkan.”

    Ia menatapku dengan mata penuh pengertian. “Aku juga, Kak. Aku takut Kakak tidak akan pernah bisa menerimaku, takut kalau aku hanya akan menjadi penyebab kesedihan.”

    Aku tersenyum tipis. “Tapi lihat kita sekarang.”

    Kami tertawa kecil, bukan karena sesuatu yang lucu, tapi karena menyadari betapa jauh perjalanan ini telah membawa kami.

    Sejak saat itu, aku berhenti bertanya-tanya apakah aku benar-benar ikhlas atau hanya berpura-pura. Karena aku sadar, ikhlas bukan tentang perasaan yang hadir seketika, melainkan sesuatu yang tumbuh perlahan di dalam hati.

    Dan malam itu, aku akhirnya memahami bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki seseorang seutuhnya. Cinta adalah tentang memberi ruang, tentang memahami bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang harus dimonopoli, melainkan sesuatu yang bisa dibagi tanpa kehilangan maknanya.

    Aku menoleh ke arah maduku, dan dalam hati aku berbisik, Terima kasih telah datang ke dalam hidupku. Terima kasih telah mengajariku arti ketulusan yang sebenarnya.

    Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak pernikahan ini berubah, aku tidur dengan hati yang benar-benar tenang.

    Akhir yang Menjadi Awal

    Malam itu menjadi titik balik dalam kehidupanku. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa damai, bukan karena keadaan berubah, tapi karena hatiku telah menerimanya dengan lapang.

    Hari-hari setelah itu berjalan lebih ringan. Aku dan maduku tak lagi hanya sekadar berbagi tanggung jawab rumah tangga, tetapi juga berbagi cerita, tawa, bahkan air mata. Kami menjadi sahabat dalam perjalanan ini, sebuah hal yang dulu tidak pernah terlintas dalam benakku.

    Suamiku pun mulai menyadari perubahan yang terjadi. Ia tak lagi terlihat canggung di hadapan kami, seolah takut melukai salah satu di antara kami. Ia mulai lebih terbuka, lebih peka terhadap perasaan kami, dan lebih menghargai keberadaan kami sebagai dua wanita yang telah memilih untuk berjalan bersamanya dalam satu kehidupan.

    Namun, kehidupan tak selamanya berjalan sesuai keinginan kita.

    Suatu hari, maduku datang kepadaku dengan mata yang basah. Ia menggenggam tanganku erat, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu.

    “Kak…” suaranya bergetar. “Aku harus pergi.”

    Aku mengernyit. “Pergi? Maksudmu?”

    Ia menghela napas panjang, mencoba menahan air matanya. “Aku… memutuskan untuk meninggalkan rumah ini. Aku sudah memikirkannya lama, dan aku rasa ini yang terbaik.”

    Hatiku mencelos. Aku menatapnya lekat-lekat, mencari kepastian dalam sorot matanya yang sendu.

    “Tapi… kenapa?” tanyaku hampir berbisik.

    Ia tersenyum kecil, meski aku tahu ada kesedihan yang ia sembunyikan. “Aku sudah mendapatkan banyak hal di sini, Kak. Aku mendapatkan pelajaran, kasih sayang, dan yang paling penting… aku mendapatkan seorang saudara sepertimu. Tapi aku sadar, aku tidak bisa selamanya berada di sini. Aku ingin menemukan jalanku sendiri, menjalani hidup dengan cara yang berbeda.”

    Aku terdiam, merasakan sesuatu yang perih di dadaku. Aku ingin menahannya, ingin mengatakan bahwa ia adalah bagian dari keluarga ini, bahwa aku telah menerimanya dengan sepenuh hati. Tapi aku juga tahu, kebahagiaan tidak selalu berarti berada di tempat yang sama. Kadang, kebahagiaan adalah tentang melepaskan.

    Hari itu, kami berpelukan lama, membiarkan air mata mengalir tanpa kata. Tak ada amarah, tak ada kebencian, hanya dua wanita yang telah melalui begitu banyak hal bersama, kini harus berpisah untuk mengejar kebahagiaan masing-masing.

    Ketika ia akhirnya pergi, rumah terasa sedikit lebih sepi. Tapi anehnya, aku tidak merasa kehilangan. Aku justru merasa penuh—penuh dengan kenangan, dengan pelajaran hidup, dan dengan cinta yang telah menemukan bentuknya yang paling indah: keikhlasan.

    Dan aku? Aku tetap melanjutkan hidupku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi aku tahu satu hal—aku telah belajar untuk mencintai dengan cara yang lebih dewasa, lebih luas, dan lebih tulus.

    Kini, ketika aku menatap ke belakang, aku tidak lagi melihat luka. Aku melihat perjalanan yang penuh makna, perjalanan yang mengajarkanku bahwa cinta bukan tentang siapa yang lebih memiliki, tetapi tentang siapa yang lebih mampu memahami.

    Dan di dalam hatiku, aku selalu berdoa untuknya, untuk kebahagiaannya, seperti seorang saudara yang mendoakan saudarinya. Karena pada akhirnya, cinta bukan hanya tentang bersama. Kadang, cinta juga tentang merelakan. (**)

    *Cerita ini dibuat atas bantuan kecerdasan buatan