Blog

  • PJ Gubernur NTB Koordinasikan Penanganan Banjir Bandang di Bima

    PJ Gubernur NTB Koordinasikan Penanganan Banjir Bandang di Bima

    MATARAM (LOMBOKEXPRESS.ID)-– Penjabat (PJ) Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Hassanudin, menggelar rapat koordinasi bersama stakeholder terkait untuk membahas penanganan korban banjir bandang dan longsor di Kabupaten Bima serta Kota Bima. Rapat berlangsung di Kantor Pemerintah Provinsi NTB pada Senin (3/2).

    Dalam pertemuan tersebut, Hassanudin menerima laporan terkini dari Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mengenai dampak bencana serta langkah-langkah penanganan yang telah dilakukan.

    “Pemerintah Provinsi NTB harus hadir di lokasi bencana untuk memberikan solusi nyata atas kesulitan yang dihadapi warga terdampak,” ujar Hassanudin.

    Ia menegaskan bahwa pencarian korban hilang dan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi menjadi prioritas utama. Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan dinas-dinas terkait di tingkat kabupaten dan kota guna memastikan bantuan segera tersalurkan.

    “Kita harus memastikan bahwa kebutuhan dasar warga, seperti makanan, air bersih, dan tempat tinggal sementara, dapat segera terpenuhi,” tegasnya.

    Selain itu, ia menginstruksikan Dinas Kesehatan NTB untuk memastikan layanan kesehatan di daerah terdampak tetap berjalan normal.

    “Pastikan pos layanan kesehatan di pusat-pusat pengungsian berfungsi dengan baik, termasuk ketersediaan sanitasi dan obat-obatan,” tambahnya.

    Terkait infrastruktur yang terdampak, Pemprov NTB akan membangun jalan darurat serta memperbaiki fasilitas umum seperti sekolah, jalan, dan jembatan guna memperlancar mobilitas warga. Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) NTB juga telah mengerahkan alat berat, termasuk ekskavator, untuk membersihkan material banjir yang menumpuk di beberapa lokasi.

    “Kita harus memastikan pemulihan infrastruktur berjalan cepat agar masyarakat bisa kembali beraktivitas normal,” kata Hassanudin.

    Kepala Dinas Kesehatan NTB, Lalu Hamzi Fikri, menambahkan bahwa pemerintah telah mendirikan pos layanan kesehatan di sekitar pusat pengungsian untuk memastikan dampak pascabencana dapat diminimalisir.

    “Pos-pos ini tidak hanya memberikan layanan kesehatan, tetapi juga membantu pemulihan kondisi warga terdampak,” ujarnya.

    Pemerintah Provinsi NTB berkomitmen untuk terus bersinergi dengan berbagai pihak guna memastikan penanganan bencana berjalan cepat dan efektif. (can)

    Keterangan Foto:

    RAPAT: Pj Gubernur Gelar rapat kordinasi terkait penanganan banjir bandang dan longsor di Bima, Di Pemprov NTB, Senin, 3/2. (ist)

  • Bupati Bima Pimpin Rakor Tanggap Bencana Banjir Wera-Ambalawi

    Bupati Bima Pimpin Rakor Tanggap Bencana Banjir Wera-Ambalawi

    PASCA bencana alam hidrometrologi banjir yang terjadi di kecamatan Wera dan Ambalawi Minggu (2/2) kemarin, Bupati Bima Hj Indah  Dhamayanti Putri SE.M.IP  yang tengah dalam perjalanan  menuju Bima Senin (3/2) langsung menggelar Rapat Koordinasi Virtual melalui aplikasi zoom meeting Tanggap Darurat Bencana Banjir yang diikuti Sekda Adel Linggi Ardi, SE Kadis PUPR Suwandi ST.MT, Kabid Anggaran BPKAD. Para Kabid Terkait BPBD,  Dinas Sosial, Camat Wera H. Ilham SH, Camat Ambalawi A. Muis,  S.Sos dan Kepala Puskesmas Wera.

    Mengawali arahannya Bupati Bima menyampaikan rasa duka cita yang mendalam kepada keluarga para korban banjir dan meminta agar seluruh elemen bersama-sama memberikan bantuan penanganan bencana agar masyarakat dapat kembali melaksanakan aktivitas seperti sedia kala.

    “Pencarian para korban menjadi fokus penanganan. Camat dan Kades  diminta memastikan data korban supaya Tim bisa lebih fokus dalam melakukan pencarian dan penanganan para korban terdampak bencana,” ungkap Bupati.

    Selain pencarian korban penanganan akses jalan yang terputus agar bisa segera difungsikan juga menjadi prioritas.

    Sesuai aspirasi Camat Wera, pengerahan alat berat dan penimbunan ruas jalan yang terputus bisa segera dilakukan agar infrastruktur tersebut bisa difungsikan pengerahan.
    “Untuk ini, Kepala Dinas PUPR berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai dan Balai Jalan dan Jembatan agar penanganan infrastruktur jalan dan jembatan yang tergerus banjir”. Jelasnya

    Untuk memastikan penanganan warga, Bupati juga menginstruksikan Kepala Dinas Sosial, terhitung Senin (3/2) untuk segera mendirikan dapur umum pada lokasi yang memungkinkan untuk mengantisipasi terjadinya musibah susulan.

    Kepala Puskesmas Wera diminta untuk mendirikan Pos Pelayanan Kesehatan dan konseling psikologi kepada warga terdampak

    Terkait mobilisasi bantuan pencarian korban dan penanganan bencana,  Bupati IDP meminta Sekretaris Daerah untuk segera berkoordinasi dengan Tim SAR, TNI dan Polri  dan pihak terkait lainnya agar penanganan tanggap darurat pasca bencana lebih optimal. (rls)

  • FGD Pariwisata NTB Menuju Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan 

    FGD Pariwisata NTB Menuju Pariwisata Berkualitas dan Berkelanjutan 

    Forum Group Discussion (FGD) tentang pengembangan pariwisata NTB yang digelar Forum Wartawan Ekonomi bersama UIN Mataram, Minggu (02/02) di UIN Mataram, berlangsung dengan penuh antusiasme.

    Ketua Panitia, Ahmad Yani, menekankan pentingnya forum ini sebagai wadah aspirasi guna mencapai pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan. Ia juga mengapresiasi UIN Mataram atas dukungannya dalam menyelenggarakan agenda ini dengan suasana yang hangat dan khidmat. Yani berharap diskusi ini menghasilkan catatan penting yang dapat menjadi panduan bagi pemerintah dan pemangku kepentingan dalam lima tahun ke depan.

    Rektor UIN Mataram, yang diwakili oleh Wakil Rektor III, Prof. Dr. Subhan Abdullah Acim, MA, menyoroti keberhasilan Program Studi Pariwisata Syariah yang telah meraih akreditasi unggul. Ia menegaskan bahwa kehadiran wartawan dalam forum ini menunjukkan langkah yang tepat dalam mendorong perkembangan pariwisata NTB. Didukung oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), Prof. Dr. Riduan Mas’ud, M.Ag., UIN Mataram berkomitmen untuk terus mendukung konsep halal tourism yang telah diinisiasi oleh TGB sebagai bentuk tanggung jawab akademik dalam pengembangan pariwisata berbasis syariah.

    Gubernur NTB terpilih, Lalu Muhammad Iqbal, menegaskan fokusnya pada pengembangan pariwisata berkualitas (quality tourism) dengan prinsip keberlanjutan. Ia menilai perlunya birokrasi yang lebih ramping dan efisien untuk mempercepat perbaikan di berbagai sektor, termasuk pariwisata. Salah satu langkah strategis yang akan dilakukan adalah mengatasi tumpang tindih antara BPPD dan Dinas Pariwisata dalam hal promosi dan regulasi. Iqbal juga menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan promosi dan profesionalisme di BPPD agar lebih efektif dalam menarik wisatawan.

    Selain itu, ia berencana menghidupkan kembali inisiatif MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) yang sebelumnya telah berjalan, serta mendorong sport tourism dengan berbagai event seperti triathlon dan off-road.

    Gubernur terpilih juga menyampaikan komitmennya untuk menjalin kemitraan sejajar antara pemerintah dan pelaku industri pariwisata. Ia telah melakukan diskusi dengan investor perhotelan dan akan segera mengadakan pertemuan khusus dengan General Manager hotel-hotel di NTB untuk membahas strategi pengembangan lebih lanjut.

    Dekan FEBI UIN Mataram, Prof. Dr. Riduan Mas’ud, M.Ag., menekankan perlunya percepatan dalam pengembangan pariwisata. Ia mengungkapkan bahwa diskusi dengan para wartawan telah membahas berbagai permasalahan, termasuk turunnya daya tarik Senggigi dan aksesibilitas penerbangan menuju NTB. Untuk mendukung pariwisata berkelanjutan, UIN Mataram telah mengundang akademisi yang memiliki penelitian terbit di jurnal internasional guna memberikan masukan dalam forum ini.

    Sesi Diskusi: Tantangan dan Solusi Pengembangan Pariwisata

    Diskusi panel menghadirkan berbagai pemangku kepentingan pariwisata. Martalina dari Kementerian Kelautan dan Perikanan menyoroti pentingnya keseimbangan antara konservasi dan pariwisata, khususnya di kawasan Gili Tramena. Ia mencatat bahwa pembukaan kembali pariwisata pascapandemi telah menyebabkan degradasi lingkungan yang signifikan. Oleh karena itu, konsep wisata eksklusif berbasis daya dukung lingkungan (carrying capacity) harus diterapkan untuk menjaga kelestarian ekosistem.

    Perwakilan MGPA menyoroti pencapaian sirkuit Mandalika dalam menarik puluhan ribu pengunjung setiap tahun. Namun, mereka mengakui masih ada kendala, termasuk mahalnya biaya penyelenggaraan MotoGP dan keterbatasan kapasitas penerbangan. Oleh karena itu, dukungan dari pemerintah daerah diperlukan untuk memaksimalkan potensi wisata olahraga di Mandalika.

    Dari perspektif Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Andre mengungkapkan peningkatan signifikan jumlah pendaki dari 140 ribu pada 2023 menjadi 189 ribu pada 2024. TNGR telah menerapkan kebijakan zero waste dengan mewajibkan pendaki membawa kembali sampah mereka. Selain itu, program e-ticketing yang telah berjalan sejak 2019 akan terus dikembangkan guna meningkatkan transparansi dan efisiensi pengelolaan pendakian.

    Perwakilan dari Gili Gede, Abu menyoroti pentingnya aksesibilitas langsung bagi wisatawan internasional. Ia membandingkan NTB dengan Bali, yang memiliki jalur penerbangan langsung ke berbagai negara. Dalam diskusi, Gubernur terpilih menegaskan bahwa pengembangan jalur penerbangan internasional, seperti rencana penerbangan langsung Lombok-Darwin, akan menjadi prioritas.

    Harapan dan Komitmen untuk Pariwisata NTB

    Sahlan M Saleh dari BPPD mengapresiasi keterlibatan pemerintah dalam pengembangan pariwisata. Ia menegaskan bahwa promosi pariwisata NTB di pasar internasional telah dilakukan secara aktif, termasuk di Malaysia dan Dubai. Namun, ia menggarisbawahi perlunya sinergi antara destinasi wisata dan kebijakan promosi agar dampaknya lebih maksimal.

    Sementara Ainuddin dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) NTB menyoroti peran pemandu wisata sebagai garda terdepan dalam memperkenalkan destinasi. Ia berharap ada kebijakan yang lebih berpihak pada penguatan kapasitas pemandu wisata agar mereka dapat memberikan layanan terbaik kepada wisatawan.

    Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun pariwisata NTB yang lebih berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing di tingkat global. Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, dan masyarakat, NTB dapat mewujudkan visinya sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia. (**)

  • Pelukan Terakhir di Senja Kota  

    Pelukan Terakhir di Senja Kota  

    Di sebuah sudut kota yang gemerlap, di antara gedung-gedung tinggi dan jalanan yang tak pernah sepi, seorang wanita bernama Ratna (nama rekaan) menatap dirinya di cermin. Wajahnya yang dulu cerah kini tampak kuyu. Sinar matanya redup, tak lagi memancarkan harapan. Di balik riasan tebal dan pakaian ketat yang membalut tubuhnya, ia merasa kosong. Lima tahun menjalani kehidupan sebagai wanita tunasusila telah merenggut semua kebahagiaan yang pernah ia miliki.

    Ratna tidak pernah membayangkan akan berakhir di dunia seperti ini. Ia dulu adalah gadis desa yang polos, penuh harapan, dan bercita-cita menjadi perawat. Namun, impian itu hancur ketika seorang pria yang ia cintai dan percayai tega meninggalkannya setelah menghamilinya. Keluarganya menolak kehadirannya, mengusirnya dari rumah dengan penuh hinaan. “Kamu sudah mencoreng nama keluarga! Pergi dari sini!” suara ayahnya masih terngiang di telinganya.

    Ratna pergi ke kota dengan perut membesar, berharap menemukan pekerjaan untuk bertahan hidup. Namun, kehidupan tidak seindah yang dibayangkannya. Tanpa pengalaman dan pendidikan yang cukup, ia terseret ke dalam dunia kelam. Bayinya lahir dalam kondisi lemah, dan karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit, ia harus merelakan buah hatinya diadopsi oleh keluarga lain.

    Sejak saat itu, Ratna menyerah. Ia tenggelam dalam gelapnya kehidupan malam, berpindah dari satu pelanggan ke pelanggan lain demi bertahan hidup. Tetapi semakin lama, hatinya semakin hampa. Setiap malam yang ia jalani hanya menyisakan rasa jijik pada diri sendiri.

    Malam itu, Ratna duduk termenung di kasurnya yang dingin. Bayangan masa lalu terus menghantui pikirannya. Seorang pelanggan baru saja pergi, meninggalkan selembar uang yang kini terasa lebih berat daripada batu di dadanya. “Sampai kapan aku begini?” bisiknya pada diri sendiri.

    Tiba-tiba, suara adzan Isya berkumandang dari masjid kecil di ujung jalan. Hatinya bergetar. Sudah lama ia tidak mendengar adzan dengan hati yang tenang. Biasanya, suara itu hanya berlalu begitu saja, tak berarti apa pun baginya. Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu yang menekan dadanya, seperti panggilan yang tak bisa ia abaikan.

    Air matanya mulai mengalir. “Apakah Tuhan masih mau menerimaku?” tanyanya lirih.

    Dengan tangan gemetar, ia membuka lemari kecil dan menemukan mukena yang sudah lama tersimpan. Kainnya masih bersih, meski sudah lusuh. Dengan ragu, ia menggelar sajadah, lalu berdiri dalam sholat. Begitu takbir pertama terucap, air matanya mengalir semakin deras. Dalam sujudnya, ia menangis sejadi-jadinya.

    “Ya Allah, aku kotor… Aku penuh dosa… Tapi aku ingin kembali… Aku ingin pulang…”

    Malam itu menjadi titik balik dalam hidup Ratna. Ia berjanji untuk meninggalkan dunia lamanya, apapun risikonya.

    Hari-hari berikutnya, Ratna mencoba mencari pekerjaan yang lebih baik. Tapi stigma masyarakat begitu kuat. Tak ada yang mau menerima wanita dengan masa lalu sepertinya. Berkali-kali ia ditolak, tapi ia tidak menyerah.

    Suatu hari, ia bertemu dengan seorang ibu paro baya di sebuah warung makan. Wanita itu melihat Ratna duduk termenung dengan wajah murung. “Kamu kenapa, Nak?” tanyanya lembut.

    Ratna ragu sejenak, lalu dengan hati terbuka ia menceritakan kisah hidupnya. Ia sudah siap menerima tatapan hina atau cemoohan, tapi wanita itu justru tersenyum dan menggenggam tangannya erat.

    “Allah Maha Pengampun, Nak. Jika kamu sungguh-sungguh ingin berubah, selalu ada jalan. Ayo ikut ibu ke panti asuhan, mereka butuh orang sebaik kamu,” katanya.

    Ratna hampir tidak percaya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang tidak memandangnya dengan jijik. Dengan penuh harapan, ia mengikuti wanita itu ke panti asuhan tempat anak-anak yatim diasuh dengan penuh kasih.

    Di sana, Ratna menemukan kedamaian yang selama ini ia cari. Ia mengabdikan dirinya untuk membantu anak-anak, mengajarkan mereka membaca dan merawat mereka dengan penuh cinta. Hari demi hari, ia semakin merasa hidupnya berarti.

    Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Tubuhnya mulai melemah, sering kali ia merasa pusing dan kelelahan. Setelah memeriksakan diri ke dokter, Ratna menerima kabar buruk. Penyakit yang selama ini ia abaikan telah mencapai stadium akhir.

    Ratna tidak takut menghadapi kematian. Ia justru merasa damai, karena ia tahu bahwa ia telah berusaha kembali ke jalan yang benar.

    Di hari terakhirnya, ia duduk di taman panti asuhan, menikmati senja yang indah. Seorang anak kecil bernama Aisyah berlari ke arahnya dan memeluknya erat. “Kak Ratna, jangan pergi…”

    Ratna tersenyum lemah, membelai rambut bocah itu. “Allah Maha Pengampun, Sayang. Kakak sudah menemukan jalan pulang.”

    Air mata Aisyah mengalir deras, sementara Ratna menutup matanya perlahan. Senja menyambutnya dengan kehangatan terakhir, membawa taubat dan harapannya ke hadapan Sang Maha Pengasih. (**)

    **Cerpen ini dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan.

    Ilustrasi: bing.com

  • KRI Bung Tomo-357 Singgah di Sri Lanka Menuju Latihan Multinasional AMAN-25

    KRI Bung Tomo-357 Singgah di Sri Lanka Menuju Latihan Multinasional AMAN-25

    SEBAGAI bagian dari diplomasi maritim dan penguatan kerja sama internasional, TNI Angkatan Laut mengerahkan KRI Bung Tomo-357 dalam pelayaran menuju Multinational Exercise AMAN-25 di Pakistan. Dalam perjalanannya, kapal perang tersebut singgah di Colombo, Sri Lanka, pada Jumat (31/01).

    Kedatangan KRI Bung Tomo-357 yang dipimpin Komandan Satgas Exercise AMAN-25 Kolonel Laut (P) Dedi Guawan Widyatmoko mendapat sambutan hangat dari Chargés d’affaires ad interim RI Fiki Oktanio, Atase Darat Kolonel Kav Andre Henry Masengi, serta staf Kedutaan Besar Republik Indonesia di Sri Lanka.

    Kolonel Dedi menyampaikan bahwa selama singgah di Colombo, KRI Bung Tomo-357 melakukan pengisian bahan bakar, logistik, dan air tawar untuk memastikan kesiapan penuh sebelum melanjutkan pelayaran ke Karachi, Pakistan.

    “Latihan AMAN-25 menjadi kesempatan penting bagi TNI AL untuk meningkatkan interoperabilitas dengan angkatan laut negara lain serta mempererat kerja sama pertahanan di kawasan,” ujar Kolonel Dedi, Sabtu (1/1).

    Keikutsertaan TNI AL dalam latihan multilateral ini sejalan dengan kebijakan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, yang menekankan kontribusi nyata TNI AL dalam menjaga stabilitas maritim global dan keamanan kawasan.

    Latihan AMAN-25 sendiri merupakan agenda multinasional yang melibatkan berbagai negara, bertujuan untuk memperkuat kerja sama dalam menghadapi tantangan keamanan maritim, termasuk pemberantasan pembajakan, penyelundupan, dan ancaman maritim lainnya. (red)

  • Koin, Cahaya, dan Mimpi Rina

    Koin, Cahaya, dan Mimpi Rina

    MALAM itu, Rina duduk di depan ring light kecilnya yang mulai meredup. Ponselnya bertumpu pada tripod murahan yang sudah mulai miring. Ia menghela napas panjang sebelum menekan tombol “Mulai Live”.

    “Selamat malam, teman-teman! Apa kabar semua?” katanya dengan senyum dipaksakan.

    Live streaming dimulai, tapi seperti biasa, butuh waktu sebelum penonton berdatangan. Selama beberapa menit pertama, jumlah penontonnya hanya belasan orang, sebagian besar hanya mampir sebentar dan pergi.

     

    Komentar mulai bermunculan:

    “Joget dulu, Kak!”

    “Nyanyi dong!”

    “Cantik banget, salam kenal!”

    Ia tertawa kecil, menuruti permintaan mereka. Ia menyanyikan sebuah lagu yang sedang viral, meskipun suara dan hatinya tidak seceria yang terlihat di layar.

    Notifikasi donasi muncul:

    “Seseorang mengirimi Anda Mawar.”

    “Seseorang mengirimi Anda Love.”

    Koin yang masuk sedikit demi sedikit. Ia terus berusaha menghibur penonton, berharap ada yang berbaik hati mengiriminya hadiah lebih besar—singa, jet pribadi, atau balon udara—tapi itu hanya angan-angan.

    Tiga jam berlalu. Ketika ia menutup live, total koin yang ia dapatkan hanya 12.500 koin, setara dengan Rp12.500.

    Ia menatap layar ponselnya, lalu menarik napas dalam. “Besok coba lagi,” gumamnya, mencoba menghibur diri sendiri.

    Uang hasil live itu langsung ia tarik ke e-wallet. Setelah dipotong biaya admin, yang tersisa hanya sedikit lebih dari Rp10.000.

    Ia berjalan ke warung di ujung gang, membeli sebungkus mi instan dan sebutir telur.

    “Kok cuma beli satu, Rina?” tanya pemilik warung, seorang ibu-ibu paruh baya yang sudah lama mengenalnya.

    Rina tersenyum tipis. “Lagi diet, Bu.”

    Padahal, ia hanya sedang berhemat.

    Sesampainya di rumah, ibunya sudah pulang dari kerja mencuci baju di rumah orang. Wajahnya tampak letih.

    “Live lagi tadi?” tanya sang ibu sambil duduk di kursi bambu.

    “Iya, Bu. Dapat sedikit, tapi cukup buat makan malam,” jawab Rina sambil menuang mi instan ke mangkuk. Ia sengaja membagi dua porsi untuk ibunya.

    Ibunya tersenyum, meskipun ada gurat khawatir di wajahnya. “Kamu gak capek, Nak?”

    Rina terdiam sejenak. Capek. Ia lelah harus terus tersenyum di depan kamera, berpura-pura bahagia, berharap ada penonton baik hati yang melempar hadiah besar. Tapi, ia tak punya pilihan lain.

    Pagi harinya, Rina duduk di teras rumah sambil menggulir layar ponselnya. Ia melihat live streaming seorang TikToker terkenal. Seorang perempuan dengan latar belakang kamar mewah, berbicara santai sambil minum kopi dari gelas mahal.

     

    Notifikasi terus bermunculan:

    “Seseorang mengirimi Anda Jet Pribadi!”

    “Seseorang mengirimi Anda Singa!”

    Dalam satu menit, perempuan itu mungkin sudah mendapat jutaan rupiah.

    Rina menghela napas. Apa bedanya dia dengan perempuan itu?

    Mungkin modal. Perempuan itu punya ring light besar, kamera mahal, dan latar belakang estetik. Sedangkan Rina hanya punya kamar sempit dengan cat tembok mengelupas.

    Atau mungkin bedanya adalah penonton.

    Ia menutup TikTok dan menatap cermin di kamarnya. “Mungkin aku harus mengubah cara mainku.”

    Malam itu, ia memutuskan untuk mencoba sesuatu yang baru. Tidak ada gimmick, tidak ada tarian, tidak ada suara dibuat-buat.

    Ketika live dimulai, ia hanya berkata, “Malam, teman-teman. Aku cuma mau cerita.”

    Ia bercerita tentang ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci, tentang bagaimana ia ingin membantu ekonomi keluarga, tentang mimpinya menjadi TikToker sukses yang benar-benar bisa menghasilkan uang.

    Komentar mulai berdatangan:

     

    “Kak Rina, aku juga anak buruh cuci, ngerti banget rasanya.”

    “Semangat, Kak. Aku suka cara Kakak cerita.”

    “Dulu aku juga pengais koin di TikTok. Sekarang udah kerja tetap. Kamu pasti bisa!”

    Tiba-tiba, notifikasi muncul.

    “Seseorang mengirimi Anda Topi Mahkota!”*

    Untuk pertama kalinya, ada yang mengiriminya hadiah lebih dari sekadar mawar atau love.

    Ia tersenyum. Mungkin bukan soal koin, tapi tentang mereka yang merasa terhibur.

    Malam itu, ia tidur dengan perasaan lebih tenang.

    Hari-hari berlalu, dan jumlah penontonnya mulai bertambah. Ada yang datang hanya untuk mendengar ceritanya, ada yang memberikan semangat, dan ada juga yang mulai mengiriminya hadiah virtual.

    Namun, realitas tetap menamparnya.

    Tagihan listrik belum dibayar, uang sekolah adiknya masih kurang, dan ibunya mulai sakit-sakitan.

    Ia mulai mempertimbangkan untuk berhenti dan mencari pekerjaan tetap. Tapi pekerjaan apa? Ia hanya lulusan SMA.

    Hingga suatu malam, seseorang mengiriminya pesan pribadi:

    “Kak Rina, aku suka live Kakak. Aku kerja di sebuah brand kecil, mau gak Kak Rina jadi brand ambassador produk kami?”

    Rina terkejut. Ini pertama kalinya seseorang menawarkan endorsement.

    Meskipun bayaran awalnya tidak besar, ini adalah kesempatan. Ini adalah titik awal.

    Ia menerima tawaran itu.

    Minggu-minggu berikutnya, Rina mulai sering mendapatkan kerja sama kecil. Ia mempromosikan produk sabun cuci, makanan ringan, dan skincare murah.

    Hasilnya memang belum bisa mengubah hidupnya sepenuhnya, tapi setidaknya ia bisa membantu ibunya tanpa harus menunggu koin masuk setiap malam.

    Suatu malam, ia kembali live seperti biasa.

    Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

    Notifikasi muncul:

    “Seseorang mengirimi Anda Singa!”

    Ia terdiam, tidak percaya. Seseorang baru saja mengiriminya hadiah virtual terbesar yang pernah ia terima.

    Di kolom komentar, si pengirim menulis:

     

    “Untuk perjuangan Kak Rina. Semoga sukses selalu!”

    Rina menahan air mata.

    Mungkin, mimpinya tidak mustahil. Mungkin, ini bukan sekadar permainan koin.

    Malam itu, ia tersenyum, bukan karena koin yang ia dapatkan, tapi karena ia tahu—ia sudah melangkah lebih dekat ke mimpinya. (**)

    *Cerpen ini dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan

    Ilustrasi: bing.com

  • Panitia Lokal dan Pusat Matangkan Koordinasi, HPN 2025 di Riau Siap Sambut Delegasi se-Nusantara

    Panitia Lokal dan Pusat Matangkan Koordinasi, HPN 2025 di Riau Siap Sambut Delegasi se-Nusantara

    PEKANBARU (LOMBOK EXPRESS.ID) – Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2025 di Riau terus mematangkan koordinasi di tahap akhir penyelenggaraan guna memastikan acara berjalan sukses. Persiapan yang melibatkan panitia lokal dan pusat telah mencapai 100 persen, termasuk pengaturan logistik, akomodasi, transportasi, serta penyambutan tamu undangan dari berbagai daerah di Indonesia.

    Ketua Panitia HPN 2025 Riau, Marthen Slamet Susanto, menegaskan bahwa kerja sama antara panitia lokal dan pusat menjadi faktor kunci dalam menyempurnakan persiapan di detik-detik terakhir menjelang pelaksanaan. Seluruh tim bekerja keras memastikan kelancaran teknis dan kenyamanan bagi seluruh peserta, termasuk tamu undangan VIP yang terdiri dari pejabat negara, pemimpin media nasional, serta tokoh-tokoh pers Indonesia.

    Menurut Marthen, panitia telah menyiapkan sistem penyambutan yang profesional, mulai dari kedatangan di bandara, transportasi menuju lokasi acara, hingga fasilitas akomodasi bagi para tamu penting. Sejumlah hotel berbintang di Pekanbaru telah dikonfirmasi untuk menampung para peserta dan delegasi, sementara layanan transportasi khusus telah disiapkan untuk memastikan akses yang nyaman dan efisien bagi semua pihak yang terlibat.

    Ketua Umum PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, selaku Penanggung Jawab HPN 2025, menyampaikan apresiasinya atas kerja keras panitia di Riau. Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan HPN tahun ini akan menjadi ajang strategis untuk memperkuat peran pers nasional dalam membangun integritas dan profesionalisme menuju Indonesia Emas. Dengan berbagai rangkaian agenda yang telah disiapkan, HPN 2025 di Riau diharapkan menjadi forum yang tidak hanya merayakan kebebasan pers, tetapi juga membahas berbagai tantangan dan peluang industri media di era digitalisasi.

    Peringatan HPN 2025 yang berlangsung pada 6 hingga 10 Februari 2025 akan menghadirkan sejumlah agenda penting, termasuk seminar nasional, diskusi media, serta berbagai forum yang melibatkan pemimpin redaksi, wartawan senior, akademisi, dan praktisi media. Salah satu agenda utama adalah seminar nasional yang membahas industri kelapa sawit berkelanjutan bersama GAPKI, seminar energi mengenai swasembada energi nasional, serta seminar kesehatan yang menyoroti optimalisasi program ibu dan anak dalam mendukung generasi emas Indonesia.

    Selain itu, acara HPN 2025 juga akan dihadiri oleh sejumlah pejabat sebagai narasumber, serta tokoh-tokoh pers nasional yang akan berbagi pandangan tentang masa depan industri media. Sebagai bagian dari perayaan, jalan sehat akan digelar pada 9 Februari 2025 di kawasan Car Free Day, Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, yang diharapkan dapat melibatkan partisipasi luas dari masyarakat.

    Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar, mengajak seluruh wartawan dan insan pers di Riau untuk turut serta dalam menyukseskan HPN 2025. Ia menegaskan bahwa ini adalah momentum penting bagi Riau untuk menjadi tuan rumah yang baik dan menunjukkan peran strategis pers dalam pembangunan nasional. Dengan kerja sama erat antara panitia lokal dan pusat serta dukungan dari berbagai pihak, HPN 2025 di Riau dipastikan akan menjadi perhelatan yang sukses dan membawa dampak positif bagi dunia pers serta masyarakat luas. (HUMAS)

  • HPN 2025: Ke Mana Kita Pergi? 

    HPN 2025: Ke Mana Kita Pergi? 

    PERTANYAAN ini menggelayuti pikiran banyak wartawan, baik di daerah maupun di pusat. HPN 2025 bukan sekadar perayaan Hari Pers Nasional seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini, HPN terbagi dua. Ada yang di Riau, ada juga yang di Kalimantan Selatan.

    Anehnya, kedua perayaan ini sama-sama mengklaim paling sah.

     

    Fenomena ini bukan sekadar perbedaan lokasi, tetapi mencerminkan sesuatu yang lebih besar: dualisme kepemimpinan di tubuh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

    Dua kubu kini berdiri berseberangan. Di satu sisi ada Zulmansyah Sekedang, Ketua Umum PWI hasil KLB, yang menyelenggarakan HPN di Riau. Sementara di sisi lain, ada Hendry Ch Bangun, Ketua Umum PWI hasil Kongres Bandung, yang menggelar HPN di Kalimantan Selatan.

    Dua kepemimpinan. Dua agenda. Dua perayaan HPN.

    Lalu, siapa yang benar? Dan ke mana wartawan harus pergi?

    Sejarah mencatat, PWI adalah organisasi wartawan tertua di Indonesia, berdiri sejak 1946. Sejak awal, PWI menjadi wadah utama insan pers dalam memperjuangkan kebebasan dan profesionalisme jurnalistik di Indonesia. Namun, dalam perjalanannya, organisasi ini tidak luput dari dinamika internal.

    Konflik terbaru mencuat sejak Kongres KLB PWI 2023. Kongres Luar Biasa PWI melahirkan kepemimpinan Zulmansyah Sekedang, sementara Kongres Bandung melahirkan Hendry Ch Bangun. Keduanya mengklaim sebagai kepemimpinan yang sah, dan keduanya memiliki pendukung masing-masing.

    Akibatnya, ketika tiba saatnya merayakan HPN 2025, muncul dua versi perayaan di dua lokasi berbeda.

    – HPN di Riau – Dipimpin oleh PWI versi Zulmansyah Sekedang, dengan agenda utama berupa seminar nasional, sarasehan media, dan pertemuan pemimpin redaksi.

    – HPN di Kalimantan Selatan – Digagas oleh PWI versi Hendry Ch Bangun, dengan fokus pada kegiatan sosial seperti bakti kesehatan, edukasi jurnalistik, dan program penghijauan.

    Dua lokasi ini mencerminkan dua pendekatan yang berbeda dalam merayakan HPN. Namun, di balik perbedaan ini, ada satu persoalan mendasar: apakah dualisme ini akan membawa pers Indonesia ke arah yang lebih baik, atau justru memperlemah solidaritas insan pers?

    Bagi banyak wartawan, HPN adalah momentum refleksi tentang peran dan masa depan pers Indonesia. HPN bukan hanya tentang seremoni, tetapi juga tentang bagaimana pers menghadapi tantangan zaman, menjaga independensi, dan tetap relevan di era digital.

    Namun, dengan adanya dua perayaan ini, makna HPN terasa terpecah. Bukankah seharusnya HPN menjadi ajang pemersatu insan pers?

    Sebagian wartawan memilih menghadiri HPN di Riau. Sebagian lagi berangkat ke Kalimantan Selatan. Ada pula yang memilih tidak datang ke mana pun, menunggu situasi menjadi lebih jelas.

    Namun, pertanyaan besarnya bukan lagi “HPN di mana?” melainkan “Mau dibawa ke mana pers Indonesia?”

    Menjaga Independensi di Tengah Perpecahan

    Di tengah dualisme ini, wartawan dihadapkan pada dilema: haruskah mereka berpihak pada salah satu kubu, atau tetap berdiri netral?

    Bagaimanapun, wartawan adalah pilar keempat demokrasi. Pers seharusnya menjadi garda terdepan dalam menyuarakan kebenaran, bukan justru terpecah karena kepentingan kelompok.

    Ke depan, tantangan pers Indonesia tidak hanya sebatas konflik internal di tubuh PWI. Era digital, disrupsi media, hoaks, dan tekanan politik adalah ujian nyata yang harus dihadapi bersama.

    Jika insan pers tidak bisa bersatu dalam rumahnya sendiri, bagaimana mereka bisa memperjuangkan kepentingan publik dengan maksimal?

    Maka, alih-alih hanya bertanya “HPN di mana?”, seharusnya kita semua bertanya “Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga integritas pers dan memperkuat perannya dalam membangun bangsa?”

    Sebab, pers yang kuat bukanlah pers yang terpecah, tetapi pers yang mampu bersatu dalam keberagaman untuk tujuan yang lebih besar. (has/ai)

    Ilustrasi bing.com

  • HPN 2025 di Riau Siap Digelar, Persiapan Telah Mencapai 100 Persen

    HPN 2025 di Riau Siap Digelar, Persiapan Telah Mencapai 100 Persen

    PEKANBARU (LOMBOKEXPEESS.ID– Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Riau memastikan kesiapan penuh sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional (HPN) 2025. Seluruh aspek persiapan, termasuk akomodasi, transportasi lokal, serta lokasi acara, telah rampung 100 persen.

    Ketua Umum PWI Pusat, Zulmansyah Sekedang, mengungkapkan apresiasinya terhadap PWI Riau atas kesiapan tersebut. “Alhamdulillah, terima kasih kepada PWI Riau yang telah menyiapkan segalanya dengan matang,” ujarnya di Pekanbaru, Rabu (29/01/2025), didampingi Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar.

    Zulmansyah memastikan seluruh fasilitas, seperti hotel dan transportasi lokal, telah tersedia bagi peserta dari PWI provinsi se-Indonesia dan PWI kabupaten/kota se-Riau. “Tinggal pelaksanaan saja. Akomodasi, transportasi, dan konsumsi peserta sudah kami persiapkan sepenuhnya,” tambahnya.

    HPN 2025 di Riau mengusung tema “Pers Berintegritas Menuju Indonesia Emas”, mencerminkan komitmen insan pers dalam mendukung pembangunan nasional.

    Rangkaian Kegiatan HPN 2025 di Riau

    HPN 2025 akan berlangsung pada 6-9 Februari 2025, dengan berbagai agenda menarik, antara lain:

    ✔ Silaturahmi Forum Pemred SMSI

    ✔ Diskusi Media: “Integritas dan Kekerasan terhadap Wartawan”

    ✔ Seminar Nasional Sawit bersama GAPKI: “Sosialisasi Perpres Nomor 5/2025 dan Optimalisasi Industri Kelapa Sawit Berkelanjutan”

    ✔ Sarasehan Nasional Media Massa: “Media Sustainability Pasca-Publisher Right”

    ✔ Seminar Energi: “Mewujudkan Swasembada Energi Nasional: Tantangan dan Solusi”

    ✔ Seminar Nasional Kesehatan: “Optimalisasi Program Kesehatan Ibu dan Anak untuk Generasi Emas”

    Selain itu, pada 9 Februari 2025, akan digelar jalan sehat di Car Free Day Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, yang dihadiri oleh tokoh pers nasional dan sejumlah menteri sebagai narasumber.

    Ketua PWI Riau, Raja Isyam Azwar, mengajak seluruh wartawan di Riau untuk berpartisipasi dalam acara ini. “Mari kita sukseskan dan ramaikan HPN 2025 di Riau,” ujarnya.

    Dengan kesiapan maksimal, HPN 2025 di Riau dipastikan akan menjadi perhelatan besar bagi insan pers di Indonesia. **

  • Rayakan Semarak Imlek 2025, InJourney Aviation Services Bagikan Special Gift di 4 Kota Besar

    Rayakan Semarak Imlek 2025, InJourney Aviation Services Bagikan Special Gift di 4 Kota Besar

    JAKARTA (LOMBOKEXPRESS.ID)– Menyambut Tahun Baru Imlek 2025 penuh semangat baru, dan keberuntungan baru ditahun Ular Kayu menjadi waktu yang tepat untuk mengambil langkah baru. InJourney Aviation Services (IAS) yang merupakan sub-holding InJourney berkolaborasi dengan InJourney Airport (Angkasa Pura Indonesia), merayakan momen Tahun Baru Imlek 2025 dengan menghadirkan keceriaan kepada pelanggan sebagai bentuk apresiasi dan terima kasih karena telah setia menggunakan jasa layanan IAS Group di bandara-bandara kelolaan InJourney Airport.

    Menjadi suguhan special pada event Imlek kali ini, IAS Group membagikan special gift berupa boneka teddy bear bertemakan Lunar New Year yang dilakukan di 4 (empat) kota besar yaitu Jakarta (bandara CGK), Surabaya (bandara SUB), Denpasar (bandara DPS), serta Pontianak (bandara PNK).

    Direktur Utama IAS, Bapak Dendi Danianto menyatakan, “IAS ingin menghadirkan momen yang berkesan di perayaan Imlek tahun Ular Kayu ini. Momentum untuk berinteraksi, menghibur dan menyapa pelanggan lebih dekat dengan membagikan boneka teddy bear yang bertemakan Lunar New Year agar keceriaan tahun baru Imlek bisa sampai kepada mereka. Semoga di Tahun Ular Kayu ini bisa membawa semangat baru, kebahagiaan dan keberuntungan bagi seluruh pelanggan setia layanan IAS, semoga tahun ini akan membawa banyak hal baik, Gong Xi Fa Chai,” ucapnya.

    InJourney Aviation Services mempunyai berbagai layanan diantaranya Cargo & Logistic, Lounge, Food Service, Concierge (Personal Assistant “Joumpa”), Wraping (it’s a Wrap), Ground Handling, Operation Support, dan Property yang tersedia di seluruh Indonesia.

    IAS Group terus berupaya untuk memberikan pengalaman perjalanan yang lancar dan menyenangkan bagi seluruh penumpang dengan menghadirkan pelayanan terbaik dan melayani sepenuh hati.

    Tentang InJourney Aviation Services

    PT Integrasi Aviasi Solusi atau InJourney Aviation Services (IAS) merupakan sub holding dari PT Aviasi Pariwisata Indonesia atau InJourney. InJourney Aviation Services yang resmi dibentuk pada 4 Januari 2024 merupakan konsolidasi sembilan anak usaha dibawah AP 1, APII dan Garuda yang akan fokus pada seluruh kegiatan yang berkaitan dengan layanan bandara and kargo. 5 portfolio bisnis utama IAS yaitu: Cargo & Logistics, Ground Handling, Hospitality, Operations Support, dan Property dengan memberikan 15 layanan penerbangan dan logistik yang kompeten dan kompetitif. Visi IAS menjadi penyedia jasa layanan aviasi dan logistik & kargo yang profesional dan kompeten did Indonesia dan regional. (**)