Di tengah riuhnya dunia yang semakin bising oleh klaim kebenaran, kita sering lupa bahwa setiap tesis selalu melahirkan bayangannya sendiri. Antitesis. Ia bukan musuh, melainkan cermin—kadang retak, kadang jernih—yang memaksa kita menatap ulang keyakinan yang kita anggap pasti.
Hari ini, ruang publik kita—termasuk di Nusa Tenggara Barat—tidak lagi kekurangan suara. Yang berlimpah justru adalah kepastian yang terlalu dini. Media sosial dipenuhi pernyataan yang seolah final, seakan tidak menyisakan ruang bagi keraguan. Padahal, justru dari keraguan itulah kualitas berpikir diuji.
Kita menyaksikan bagaimana setiap isu, baik itu pariwisata, investasi, hingga kebijakan publik, hampir selalu dibelah menjadi dua kutub yang saling menegasikan. Satu pihak berdiri dengan tesisnya. Optimisme pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan daerah. Di sisi lain, antitesis hadir. Kritik terhadap dampak lingkungan, ketimpangan sosial, hingga kegelisahan akan hilangnya identitas lokal.
Sayangnya, yang sering terjadi bukanlah dialog, melainkan perlombaan saling menguatkan ego. Tesis tidak lagi membuka diri terhadap koreksi, sementara antitesis terjebak dalam sikap menolak tanpa menawarkan arah. Kita seperti terjebak dalam kebisingan yang tidak melahirkan apa-apa, selain polarisasi.
Padahal, dalam tradisi berpikir yang sehat, pertentangan bukanlah akhir. Ia adalah jalan. Tesis dan antitesis seharusnya dipertemukan dalam satu ruang yang jujur, untuk melahirkan sintesis—sebuah pemahaman yang lebih utuh, lebih dewasa, dan lebih bertanggung jawab.
Dalam konteks NTB, ini menjadi sangat relevan. Daerah ini sedang bergerak, tumbuh, dan mencari bentuknya. Tetapi pertumbuhan tanpa refleksi hanya akan melahirkan masalah baru. Sebaliknya, kritik tanpa solusi hanya akan menjadi gema yang berulang tanpa arah.
Di sinilah peran media, intelektual, dan masyarakat sipil diuji. Bukan sekadar menjadi corong tesis atau pengeras suara antitesis, tetapi menjadi jembatan yang mengolah keduanya menjadi sintesis yang bernilai.
Kita perlu lebih dari sekadar keberanian untuk berbicara. Kita butuh kerendahan hati untuk mendengar. Sebab kebenaran tidak lahir dari suara yang paling keras, melainkan dari kesediaan untuk terus menguji, meragukan, dan menyempurnakan.
Pada akhirnya, perjalanan mencari kebenaran memang tidak pernah selesai. Ia selalu bergerak—dari tesis, ke antitesis, lalu ke sintesis—dan kembali lagi. Dan mungkin, di situlah letak kemanusiaan kita. Tidak pernah benar sepenuhnya, tetapi selalu berusaha menjadi lebih benar dari sebelumnya. (has/ai)










